Keesokan paginya adalah hari libur karena dua hari ke depan adalah tanggal merah. Tessaron merencanakan liburan ke pantai dan menginap di hotel sekitar sana.
"Indah sekali," ujar Mia kagum dengan mata berbinar melihat pantai. Pukul 10 pagi mereka sudah sampai di pantai yang tidak terlalu ramai. Mungkin karena harga masuk yang mahal. Tessaron santai saja soal biaya karena semuanya ditanggung oleh ayah Mia, sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keberhasilan misi mereka.
"Ayolah, Mia. Jangan kampungan," ujar Liora pedas, kesal melihat Mia berlarian sambil menendangi pasir.
Karena sudah terbiasa dengan mulut pedas Liora, Mia hanya mencengir polos. Liora menghela napas panjang, lalu pasrah saat Mia menarik tangannya untuk merasakan sejuknya air laut yang menyentuh mata kaki mereka.
"Liora, bagaimana semalam dengan David?" tanya Mia pelan agar Nathan dan David di belakang mereka tidak mendengar.
"Aku sudah tahu sejak seminggu lalu. Saat ada adik kelas menyatakan cinta pada David, dia menolaknya dengan dingin. Tapi saat melihatku, dia tersenyum cerah dan menarikku pergi. Aku merasa dia punya perasaan lebih padaku. Dan kalau diingat lagi, memang sikapnya padaku berbeda dibanding ke kamu atau perempuan lain," jelas Liora.
Mia sempat merasa senang melihat temannya mulai peka, tapi hatinya ikut sedih mendengar kelanjutan kalimat Liora.
"Tapi aku sudah jelaskan padanya kalau aku hanya menyayanginya seperti aku menyayangi kamu dan Nathan," lanjut Liora.
"Liora, dia mencintaimu. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu. Kalian serasi, dan kita tetap bisa jadi Tessaron," bujuk Mia.
"Aku tidak bisa, Mia. Aku tidak punya perasaan cinta pada pria mana pun," jawab Liora serius.
"David dan kamu adalah sahabat yang paling kusayangi. Kalau salah satu dari kalian sedih, aku juga ikut sedih. Kamu menyakiti David, artinya kamu juga menyakitiku," ujar Mia tercekat.
"Dia akan menemukan orang yang mencintainya sungguh-sungguh," kata Liora lembut sambil menatap Mia. Tapi Mia membuang muka menatap pantai.
"Semoga saja kamu tidak menyesal menolaknya," ucap Mia menatap Liora dengan ramah tapi menantang.
"Mia, terima kasih," ujar Liora tiba-tiba, membuat Mia mengernyit bingung.
"Untuk apa?" tanya Mia.
"Mau berteman denganku, padahal aku ini orang yang tidak punya perasaan itu," jawab Liora.
"Kamu hanya belum menemukan orang yang pantas menempati hatimu, sister," ujar Mia centil, membuat Liora tertawa. Keduanya pun tertawa bersama memandangi pantai.
Sementara itu, Nathan dan David duduk di atas pasir, menatap dua gadis yang mereka cintai sedang tertawa.
"Nat, Dav, kemari!" seru Mia membalikkan badan. Liora sudah menampilkan senyum misterius, tanda ada rencana dengan Mia.
Dua pria itu mendekat. Tapi tiga langkah sebelum sampai, air dari tangan Liora dan Mia menciprat ke tubuh mereka.
Keduanya tertawa puas, hendak lari, tapi belum sempat melangkah, tangan mereka ditahan Nathan dan David membalas dengan cipratan air.
Semua akhirnya basah dan tertawa, bermain air di pantai seperti anak kecil.
Siang tiba. Mereka makan siang di restoran hotel yang akan mereka tempati. Tawa dan canda masih mengisi momen makan mereka.
"Nanti kita lihat sunset ya, guys," ajak Mia.
"Ayo, aku juga suka banget sama sunset," kata David.
"Aku nggak bisa," ujar Liora tiba-tiba, merasa tidak enak.
"Kenapa, Li?" tanya David lembut.
"Aku nggak tahu. Perasaanku tiba-tiba nggak enak. Mungkin karena kelelahan. Aku ke kamar dulu ya. Bye," ujar Liora buru-buru menuju kamar yang akan ditempatinya bersama Mia.
"Biar aku susul Liora. Kalian lihat sunset berdua aja," ujar Nathan.
Mia dan David tidak keberatan. Mereka percaya satu sama lain.
Nathan pun menyusul Liora yang berjalan cepat.
"Menurutmu perasaan apa kali ini yang dirasakannya?" tanya Mia pada David sambil berjalan menuju pantai.
"Seperti biasa, mungkin tentang sampah masyarakat," jawab David.
Ya, Liora punya insting yang kuat. Ia pernah menebak misi yang belum diberitahu. Kadang juga bisa meramalkan kesulitan yang akan mereka hadapi. Bahkan, karena instingnya, dia pernah terluka demi melindungi sahabatnya. Saat itu, dia mengaku menginap di rumah Mia agar orang tuanya tak tahu. Karena kalau tahu, mereka akan menyuruhnya menjauhi teman-teman tercintanya itu. Insting Liora biasanya muncul lewat mimpi.
Di kamar...
"Li, aku masuk ya," ujar Nathan sambil membuka pintu. Ia melihat Liora menatap kosong ke jendela.
"Nat, perasaanku buruk. d**a ini terasa sesak," ujar Liora meremas dadanya.
Nathan menghampiri dan memegang bahunya seperti seorang kakak.
"Kau butuh istirahat. Tidurlah. Aku di kamar sebelah kalau butuh sesuatu," ucap Nathan lembut lalu keluar.
Liora menuruti dan tertidur.
Sementara itu, Mia buru-buru ke kamar Nathan setelah mendapat telepon penting saat bersama David. David kini duduk sendirian di pantai menunggu sunset.
"Nat! Orang tua itu ke luar negeri hari ini!" ujar Mia ngos-ngosan sampai di depan pintu.
"Astaga, Mia. Kenapa ngos-ngosan begitu?" tanya Nathan khawatir.
"Kenapa ponselmu mati?" tanyanya kesal.
"Oh, iya. Aku lupa. Maaf ya, sayang," ujar Nathan lembut.
Ucapan itu membuat Mia memerah, campuran kesal dan salting.
"Bodoh," ucap Mia sambil membuang muka.
"Oh, sudah bisa mengumpatku rupanya," kata Nathan sambil tersenyum, mengelus rambut Mia.
Tapi Mia menepis tangan itu dan hendak pergi. Nathan menahan pinggangnya dari belakang, menarik tubuh gadis itu agar bersandar di dadanya, lalu menutup pintu.
Mia menatap daun pintu di hadapannya.
"Nat, apa yang kamu lakukan?" tanyanya takut.
Tanpa menjawab, Nathan membalik tubuh Mia dan menciumnya lembut. Bola mata gadis itu membulat.
"Kalau kamu mengumpatku lagi, ciumannya bakal lebih parah, sayang," ujar Nathan jahil, lalu melepaskan pelukannya. Mia pun buru-buru pergi dengan wajah merah padam.
Nathan tersenyum sendiri di kamar. Itu ciuman pertama mereka setelah lama ia tahan karena prinsip keluarganya: seks setelah menikah.
Akhirnya, David dan Mia mengabadikan foto mereka bersama sunset indah senja itu.