Mama

702 Kata
Liora terbangun di sebuah padang rumput penuh bunga berwarna-warni yang bermekaran sejauh mata memandang. "Aku di mana?" tanyanya pada diri sendiri. Suasana yang sunyi meskipun indah tetap membuatnya merasa takut. Ia berjalan, mencoba mencari jalan keluar, tapi tempat itu terasa makin luas. Langit juga terlihat semakin cerah. Liora berhenti, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Setelah itu, ia mencoba menikmati udara segar dan pemandangan yang terbentang di hadapannya. “Tidak terlalu buruk,” ujarnya menilai perasaannya. Setelah memandangi sekeliling cukup lama, sesuatu bergerak aneh di kejauhan. Ia pun menghampirinya dan melihat seorang anak kecil, mungkin sekitar empat tahun, yang baru saja terbangun. Saat ingin mendekat dua langkah lagi, langkahnya tertahan oleh dinding tak kasat mata. "Hoaam... aku di mana ya?" tanya anak itu sambil menguap. Ia membelakangi Liora, yang penasaran dan mencoba menembus dinding tak terlihat itu—tapi sia-sia. “Hei, Nak. Apa kau tersesat juga di sini?” tanya Liora. Gadis kecil itu terkejut, lalu perlahan berbalik. Liora membelalakkan mata. "Wajahnya... mirip denganku," gumamnya pelan. Gadis kecil itu menatapnya lembut, lalu tersenyum. “Mama...” panggilnya, membuat jantung Liora berdegup aneh. Saat tangan mungil itu mencoba menyentuh wajahnya, perlahan semuanya memudar jadi warna putih… --- “Li, bangun! Li, sadar!” panggil Nathan. Ia sedari tadi memperhatikan tidur Liora yang mulai gelisah—kakinya menendang-nendang udara dan kepalanya bergerak tak tenang. Nathan mengguncang tubuh Liora pelan. “Li, bangun... ayo…” Akhirnya, Liora membuka mata. “Nathan…?” panggilnya pelan, heran melihat pria itu di samping ranjangnya. “Aku mengawasimu. Perasaanku juga nggak enak melihatmu begitu tadi,” kata Nathan sambil menyodorkan segelas air putih. Liora langsung meneguknya habis. “Mimpi seperti biasa ya? Apa yang kau lihat?” tanya Nathan. Namun sebelum Liora menjawab, Mia dan David masuk bersamaan. “Loh, Nathan? Ngapain di sini?” tanya David. “Biasa. Gadis ini mimpi buruk. Harus dibangunin sebelum makin parah,” jawab Nathan dengan senyum canggung. “Haa... Liora, mimpi buruk apa?” tanya Mia sambil duduk di sisi ranjang. “Yang pasti bukan tentang misi,” jawab Liora pelan, tampak berpikir keras. “Jadi mimpi apa?” tanya David yang ikut duduk. “Tidak penting kok,” ujar Liora setelah berpikir panjang. Ia memutuskan untuk menyembunyikannya. “Lalu kenapa kamu gerak-gerak waktu tidur tadi?” Nathan masih penasaran. “Aku terjebak di dunia itu, sendirian. Susah bangun, jadi ya gitu,” ujarnya sambil menggaruk kepala. Ketiga temannya hanya mengangguk mengerti. David dan Nathan pun kembali ke kamar mereka, sedangkan Mia dan Liora mengobrol sebelum tidur. Tapi Liora tidak bisa tidur lagi. Ia terus memikirkan mimpinya. "Siapa anak itu? Kenapa dia memanggilku 'Mama'? Dan... kenapa wajahnya mirip denganku? Hanya lebih kecil dan imut." "Apa ini penglihatan masa lalu? Tapi... anak itu memanggilku 'Mama'. Masa depan? Apa aku akan punya anak?" Tebakan-tebakan itu terus berputar di kepalanya. Liora memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. --- Keesokan paginya, mereka sarapan di restoran hotel. Setelah itu, mereka berencana membeli beberapa barang sebagai kenang-kenangan. “Ah, bonekanya imut banget!” ujar Mia dengan ekspresi menggemaskan. “Sama kayak kamu,” goda Nathan. Sejak ciuman pertama mereka, Nathan jadi lebih berani menggoda Mia, membuat gadis itu malu sendiri. David dan Liora hanya bisa tertawa puas. “Dav, ayo kita cari barang di tempat lain, daripada jadi nyamuk di sekitar pasangan ini,” ujar Liora sambil tersenyum jahil pada Mia. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik tangan David pergi. “Mereka bahagia banget, ya... Jadi penasaran gimana rasanya cinta itu kalau tumbuh di hatiku. Apa aku bisa sebahagia mereka?” gumam Liora sambil berjalan menyusuri kios suvenir. “Kurasa itu nggak mungkin. Pria mana yang mau dengan gadis yang bisa berubah jadi harimau kapan saja?” goda David sambil menyilangkan tangan. “Bukankah kau pria itu?” balas Liora kesal, menantang dengan senyum miring. “Aku hanya menganggapmu seperti adikku,” ucap David santai, walau sebenarnya ia sedang menggoda. Ia tahu Liora sebentar lagi akan mengamuk. “Sebelum kamu ngamuk, mending kita makan es krim dulu,” kata David cepat-cepat merangkul Liora dan menariknya ke gerobak es krim. --- Akhirnya, liburan itu berjalan menyenangkan, walau Liora masih diliputi tanda tanya soal mimpinya. Sore harinya, mereka pulang ke rumah masing-masing karena besok sudah harus kembali sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN