Catch Mafia

722 Kata
Setelah pulang sekolah, mereka langsung menaiki mobil milik anak ketua dewan, lengkap dengan sopir yang menyetirnya. Nathan duduk di samping sopir, sementara Mia, Liora, dan David duduk di kursi belakang. Sesampainya di markas— "Kali ini tanpa penyamaran. Kita akan bergerak dalam kegelapan," ujar Nathan sambil mengambil minuman dari kulkas. "Rencananya bagaimana?" tanya David sambil menjatuhkan tubuh ke sofa. "Seperti biasa. Mengurus sampah-sampah mafia," jawab Mia santai, menaruh cemilan di meja yang baru saja diambil dari lemari makan. "Orang-orang yang masuk dalam buku hitam orang tuaku itu target mereka. Kalau salah satu suruhan orang tuaku bertemu kita, bisa-bisa aku ketahuan terlibat dengan Tessaron," keluh Liora, yang sedang rebahan di karpet berbulu karena kelelahan. "Tenang saja. Orang tuamu berharap pemerintah mengurus hama menyusahkan itu, dan pemerintah menyuruh ketua dewan seperti biasa. Dan tentu saja, ketua dewan berharap pada kita yang hebat ini!" ujar Nathan bersemangat, ikut duduk di karpet. "Oh, begitu ya? Baguslah. Sekarang kita bisa bertindak bebas," ujar Liora senang. "Kebebasan memang milik kita malam ini. Tapi tetap saja, anak buah mereka nggak bisa diremehkan," timpal Mia serius, masih ngemil di sofa. "David, lebih baik kau periksa keamanan yang mereka pasang di mansion itu," perintah Nathan. David langsung mengangguk dan membuka laptopnya. “Kalian sudah dapat alamatnya?” tanya Liora, kini duduk dari posisi rebahnya. “Iya dong. Gampang banget, apalagi anaknya baru pindah sekolah. London itu cuma kedok buat nutupin identitas mereka,” jawab David, tersenyum meremehkan. “Aku pengin main sama anaknya, Nat~” ucap Liora manja. “Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku mau tidur cepat malam ini,” Nathan pasrah. “Oh iya, kalian kan cuma berdua di rumah sekarang,” celetuk Liora dengan senyum jahil, membuat kedua remaja yang saling mencintai itu tersipu malu. Ya, orang tua mereka sedang di luar negeri. “H-ha itu, kau harus nginap di sini,” kata Mia gugup, mungkin karena salting. Nathan dan David tertawa melihat Mia yang terlihat kikuk. “Kau juga, Dav. Nginaplah,” ujar Nathan santai. Sudah menjadi kebiasaan kalau orang tua Mia pergi, Liora dan David akan menginap di markas ini. “Eh, kapan ujian semester dua kita?” tanya Liora, baru ingat ini sudah bulan April. “Ketua OSIS tadi bilang dua minggu lagi,” jawab Nathan. “Ayolah Li, semua jawaban itu udah ada di otakmu yang cerdas itu. Santai aja,” goda Mia. “Aku cuma ingin cepat-cepat tamat,” keluh Liora. “Mau ke mana setelah tamat nanti?” tanya David. “Entahlah. Orang tuaku nggak pernah menyinggung soal penerus perusahaan. Mungkin aku akan tetap di Tessaron,” jawab Liora pelan. “Kau, Dav?” “Sama. Aku tetap jadi peretas Tessaron,” ujar David. “Kita berempat sudah dapat izin dari pemerintah, kan. Kita akan tetap jadi Tessaron, walau wajah kita tak akan pernah dikenal,” ujar Nathan dengan bangga. “Yuk, kita buat rencana penangkapan mafia itu sekarang!” seru David. Yang lain langsung mengangguk setuju. --- "Ada apartemen di sebelah kanan mansion. David dan Mia akan mengawasi dari sana. Aku akan masuk lewat pintu depan, Liora, kau naik dari balkon. Kau bisa manjat pohon, kan?" tanya Nathan. “Kau lupa aku juara lomba panjat pinang dulu?” sahut Liora bangga. Mereka tertawa mengingat kejadian itu. Mia pingsan, David nyaris tumbang, dan Nathan repot membawa semuanya pulang. “Kalau begitu, kau panjat pohon dekat balkon. Kita lumpuhkan penjaga dari tiap sisi. Penjaga lantai 2 dan 3, tugas Mia dan David. Brankas ada di lantai 1, tempat perlindungan mereka di lantai 4,” jelas Nathan. “Perkiraan penjaga?” tanya Liora. “Sekitar 15. Bawahan konyol,” jawab David enteng. “Berapa jumlah keluarga itu?” tanya Mia. “Ibu, ayah, dan si pirang anaknya. Dulu mereka punya anak lagi, tapi meninggal setahun lalu,” jelas David. “Berarti aku akan membunuh mereka,” ujar Liora dengan tatapan tajam. “Ingat, jangan sampai identitasmu terbongkar,” peringatan Nathan. “Tenang, kan kita pakai kostum Tessaron, mantel hitam dan masker. Hanya mata yang terlihat,” jawab Liora berapi-api. Semua berjalan sesuai rencana. Liora berhasil mengelabui si pirang dan menghabisinya tanpa banyak perlawanan. Tim Tessaron menyelesaikan misi mereka tanpa jejak. Malam pun ditutup dengan tawa mereka yang saling mengejek ketakutan Mia menonton film horor, padahal itu rekomendasi dari dia sendiri. Mereka tertidur di karpet ruang tengah, damai di balik bayang-bayang dunia gelap yang mereka jalani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN