Different Misssion

641 Kata
Different mission 636 words Sebulan berlalu sejak pembasmian keluarga mafia. Kini, keempat remaja itu tengah menatap buku hasil ujian di markas mereka. "Seperti biasa, Liora juara satu lagi," gumam Mia, terdengar bangga namun juga sedikit bosan. Sejak SMP, Liora tak pernah tergeser dari peringkat teratas. Mereka berempat menempati posisi teratas berturut-turut: Liora di peringkat pertama, disusul Nathan, David, dan Mia. Perbedaan nilai mereka hanya terpaut di angka belakang koma. Pagi itu terasa berbeda. Ketua dewan memanggil mereka karena ada hal penting yang harus disampaikan. Kedua orang tua Mia yang sudah kembali dari luar negeri pun tengah rapat bersama pemerintah, membahas misi terbaru untuk Tessaron. "Kurasa kali ini misinya beda," ujar Nathan sambil menatap langit-langit ruangan. "Kenapa begitu?" tanya Liora penasaran. "Karena pemerintah ingin bertemu langsung dengan kita," jawab Nathan. Kalimatnya membuat ruangan hening sesaat. "Kapan?" David bertanya. "Nanti malam, jam tujuh. Di gedung perusahaan mata-mata negara. Kita akan rapat dengan pemerintah dan ketua dewan." Malam pun tiba. Tujuh orang kini berkumpul dalam ruangan rahasia di gedung perusahaan mata-mata: perwakilan pemerintah, asistennya, ketua dewan, dan anggota Tessaron. "Arsip negara kita telah bocor ke negara tetangga. Parahnya, pelakunya adalah warga negara kita sendiri," ucap salah satu perwakilan pemerintah membuka rapat. Ketua dewan melanjutkan, "Kami telah mempertimbangkan banyak hal. Kami putuskan untuk mengurus arsip tersebut sebelum disalahgunakan. Selain itu, kalian juga ditugaskan memburu sang penghianat yang kini bersembunyi di kota ini." "Apa yang harus dilakukan jika kami menemukan si penghianat?" tanya Nathan. "Tenang. Hanya Liora yang akan mengurusnya. Kalian bertiga akan menangani arsip di negara sebelah. Itu artinya, kalian akan melanjutkan kelas tiga SMA di sana," jelas ketua dewan. "Kenapa tidak dibagi dua orang per misi?" protes Mia, khawatir Liora harus sendirian. Asisten pemerintah menyela, "Liora adalah ahli penyamaran terbaik. Dia akan menyusup dan mengungkap rencana si penghianat." Liora menerima berkas dari asisten itu. Di dalamnya ada foto pria muda yang sedang merokok di sebuah bar, beserta informasi dasarnya. "Baiklah. Aku akan kerjakan ini. Dia tidak terlihat terlalu berbahaya," ucap Liora santai. "Kau yakin?" tanya David, menatap Liora khawatir. "Tenang saja, Dav. Ini mudah," jawabnya sambil tersenyum. Setelah rapat, ketiganya mulai berkemas. Perpisahan mereka di bandara berlangsung penuh haru. Meski berat, Liora meyakinkan mereka bahwa dia akan baik-baik saja. Hari-hari Liora setelah itu terasa sepi dan rutin. Pagi sekolah, siang istirahat, malam mempelajari berkas dan strategi. Ia tahu, penyamaran akan segera dimulai. Targetnya adalah Ryan, pria 24 tahun, anak tunggal dari pasangan dokter dan pemilik perusahaan bangunan. Kini ia menjabat direktur di perusahaan itu. Tapi Liora tahu, semua informasi bisa saja palsu. Ketua dewan pun sudah membicarakan hal ini pada orang tua Liora, mengalihkan les privatnya menjadi pelatihan pemerintah. Suatu siang, Liora memutuskan pergi ke toko buku sepulang sekolah. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit bergelombang di ujungnya. Tak seperti biasanya yang selalu diikat rapi. Ia harus tampil berbeda agar tidak mudah dikenali. Di toko itu, matanya menangkap sosok pria yang sedang memilih buku anak-anak bergambar. Aneh, pikirnya. Sosok itu rapi dan menarik, tak seperti foto usang di berkas. "Untuk keponakan, Om?" tanya Liora, berpura-pura lugu sambil menghampiri pria itu. Ryan menoleh, sedikit terkejut. "Oh, bukan. Saya belum menikah kok." "Lalu untuk apa buku-buku itu?" "Untuk anak-anak panti asuhan." Liora mengangguk, lalu tersenyum cerah. "Boleh aku ikut? Aku suka anak-anak panti juga." Ryan menatapnya, heran sekaligus tersentuh. Gadis itu cantik dan polos, dan tampak tulus. "Kamu nggak takut ikut orang asing?" "Aku sudah pulang sekolah, dan tadi juga sempat belajar untuk ujian akhir. Aku punya waktu sekarang." Ryan akhirnya mengulurkan tangan. "Nama saya Ryan. Panggil Ryan saja, umurku dua puluh." "Liora. Dua bulan lagi 19 tahun. Tapi masa iya aku panggil nama langsung? Nggak sopan dong. Gimana kalau aku panggil 'Kak Ryan'?" "Kamu adik saya?" balas Ryan sambil tertawa. "Oke deh, Ryan aja," jawab Liora sambil terkekeh. Mereka pun berjalan keluar toko, memulai kisah yang belum mereka tahu akan jadi jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN