“Mengapa kamu tidak takut pada orang asing sepertiku?” tanya Ryan penasaran sambil berjalan keluar toko buku bersama gadis cantik di sebelahnya.
“Karena kamu tidak menakutkan,” ujar gadis itu santai. Walaupun kau ingin bermacam-macam denganku, kau yang akan menyesal, ujar Liora dalam hati.
Mereka berjalan keluar dari toko buku. “Kamu yakin mau ikut denganku?” tanya Ryan sekali lagi.
“Iya, aku mau, Ryan,” ujar gadis itu, gemas sendiri.
“Kalau orang asing lainnya, jangan mau ya,” ucap Ryan memberi peringatan. Liora mengangguk patuh, tersenyum manis.
Mereka memasuki mobil Ryan, yang bermerk biasa—tak seperti mobil-mobil limited edition milik geng Tessaron.
“Tadi kamu ke toko buku naik apa?” tanya Ryan sambil menyetir.
“Naik taksi,” jawab Liora, kali ini jujur.
“Kamu memang sendirian ke toko buku?”
“Iya. Dulu aku punya teman, tapi mereka semua ke luar negeri karena urusan keluarga,” jawab Liora, kini merasa benar-benar kesepian.
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku jadi temanmu? Aku juga nggak punya teman,” ujar Ryan semangat.
“Oke, sekarang kita berteman,” ujar Liora berpura-pura antusias. Baginya, menjadi teman Ryan akan memudahkan misi.
“Senangnya. Gimana kalau nanti setelah dari panti kita jalan-jalan? Anggap saja merayakan pertemanan kita,” saran Ryan.
“Hmm, boleh juga,” sahut Liora setuju.
Mereka pun sampai di panti asuhan. Ryan membawa tiga paperbag besar berisi buku anak. Saat ingin membawa semuanya, Liora menghentikannya.
“Biar aku bantu,” ujarnya sambil mengambil satu paperbag.
“Terima kasih,” ucap Ryan tulus. Liora sedikit goyah. Ada sesuatu yang berbeda dari pria ini.
Sampai di teras, mereka disambut wanita paruh baya, pemilik panti.
“Pak Ryan datang lagi,” sapa wanita itu hangat.
“Iya, Bu. Anak-anak kemarin pesan beberapa buku cerita,” jawab Ryan ramah. Ia memberi isyarat agar Liora ikut masuk.
Anak-anak panti langsung berhamburan menghampiri Ryan yang duduk di karpet. Ia mulai membagikan buku sesuai pesanan. Liora memperhatikan, merasa iri. Kebahagiaan mereka begitu sederhana.
“Eh, Pak Ryan bawa temannya ya?” tanya salah satu pengurus.
“Oh iya, ini Liora,” jawab Ryan. Liora mengangguk dan tersenyum.
“Sudah dapat semua, kan?” tanya Ryan.
Anak-anak mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih ya, Pak Ryan. Anak-anak jadi semangat belajar,” ujar pemilik panti.
“Saya senang kok, Bu,” jawab Ryan lirih. Kebahagiaan anak-anak itu menyentuh hatinya.
“Pak Ryan sudah banyak bantu panti ini. Wajar kalau lihat wajah-wajah bahagia mereka,” ucap ibu itu haru.
Liora memperhatikan. Apa benar dia seorang pengkhianat? pikirnya.
“Oh iya, Bu. Kami pergi dulu. Janji mau jalan-jalan,” pamit Ryan.
Setelah di mobil, Ryan bertanya, “Jadi kita mau ke mana?”
“Aku nggak tahu. Dulu, kalau sama teman-temanku seringnya ke markas,” jawab Liora.
“Oh ya? Mau bikin markas juga untuk kita?” tanya Ryan sambil nyetir.
“Kamu yakin?” tanya Liora.
“Tentu. Aku barusan jual rumah lamaku. Rencananya memang mau pindah ke apartemen. Sekalian aja jadi markas kita,” ujar Ryan bersemangat.
“Kalau kamu keberatan biayanya, bilang saja, aku bantu,” ucap Liora.
Ryan tertawa. “Jangankan apartemen, hotel juga bisa aku beli.”
“Kalau begitu, lakukan sesukamu,” ujar Liora kesal.
“Kamu marah?” tanya Ryan dengan senyum jahil.
“Enggak, kok,” sahut Liora sambil tersenyum. Senyuman itu membuat hati Ryan bergetar.
“Oh iya, kamu dulu tinggal sendiri karena orang tuamu sibuk ya?” tebak Liora.
“Orang tuaku meninggal empat bulan lalu karena kecelakaan pesawat. Tapi dulu mereka perhatian, kok,” jawab Ryan.
“Maaf, aku mengingatkan soal mereka,” ucap Liora.
“Gak apa-apa. Mereka mewariskan semua hartanya padaku. Karena itu, aku senang membaginya dengan anak-anak panti,” ujar Ryan lembut.