Charade Or Real

679 Kata
s "Jadi sekarang kita mau ke mana?" tanya gadis itu penasaran, tanpa sedikit pun rasa takut. Justru kenyamanan perlahan menjalar ke dalam hatinya. "Apartemen yang sudah kupesan beberapa hari lalu," jawab pria itu santai. "Oh, apa apartemen itu yang akan menjadi markas kita?" tanyanya dengan nada pura-pura antusias. "Tentu saja. Tapi... mungkin isinya akan lebih banyak barang-barangku," ujar Ryan sedikit tak enak hati. Menurutnya, markas pertemanan biasanya berisi barang-barang penting untuk kelompok. "Tak masalah," sahut gadis itu senang. Begitu sampai, apartemen itu sudah dipenuhi tumpukan kotak. Barang-barang milik Ryan masih terbungkus rapi. "Sudah jam lima sore. Apa orang tuamu tidak mencarimu?" tanya Ryan sambil duduk di sofa, berhadapan langsung dengan gadis itu. "Mereka sibuk sampai larut malam," jawab gadis itu sembari mengamati sekeliling ruangan. "Kalau begitu... kita makan malam di sini saja," ajaknya, nada suaranya menunjukkan ketertarikan yang mulai tumbuh. "Baiklah, tapi aku belum mandi. Apa kamu tidak keberatan kalau apartemen ini bau karenaku?" tanyanya polos, membuat Ryan tertawa lepas. "Di sini ada kamar mandi, lho. Aku juga punya beberapa baju yang mungkin bisa kamu pakai. Atau, mau kupesankan lewat olshop?" "Aku tidak terbiasa mandi di rumah orang lain, jadi tidak usah," ucapnya sambil manyun, tangan bersedekap di d**a. "Baiklah, terserah kamu," ujar Ryan, lalu berdiri. "Kamu mau ke mana, Ryan?" tanya gadis itu, mengikutinya. "Aku mau mulai beres-beres," jawab Ryan sambil membuka kotak besar. "Ooh, aku bantu!" ucap gadis itu ceria, membuat Ryan tersenyum tulus. Mereka pun mulai membereskan barang bersama. "Ryan, microwave imut ini ditaruh di mana?" tanyanya sambil mengangkat alat dapur berukuran mini. "Di meja dapur saja. Mungkin microwave itu minder karena kamu lebih imut saat kesal tadi," goda Ryan sambil mengangkat barang lain. "Ra?" tanyanya heran. "Namamu Liora, kan? Ada 'Ra'-nya. Kenapa? Salah ya?" "Baru kamu yang manggil aku begitu," sahutnya jujur. "Kalau begitu, biar jadi panggilan khusus dariku untukmu," ucap Ryan tulus. Liora terdiam, wajahnya merah merona. Ia buru-buru memalingkan pandangan dan kembali sibuk menyusun barang. Pukul tujuh malam, mereka baru selesai. Keletihan membuat mereka terduduk di lantai, berkeringat dan terengah. "Makasih ya, Ra," ucap Ryan sambil menyodorkan minuman kaleng dingin dari kulkas. "Iya, santai saja," jawab gadis itu. Dalam hati, ia menyadari—yang ia temukan sejauh ini hanyalah hal-hal biasa. Tidak ada tanda mencurigakan dari pria ini. "Aku akan masak makan malam untukmu," kata Ryan sambil tersenyum tipis. "Hah? Kamu yakin bisa masak?" Liora terdengar meremehkan. "Nanti nilai saja sendiri," tantangnya sambil menyeringai. "Baiklah," sahut gadis itu dengan nada masih menyepelekan. Ryan mulai memasak, sementara Liora duduk di meja bar menghadap dapur. Ia mengamati pria itu dalam diam. Kenapa pria yang dicurigai sebagai pengkhianat itu tampak begitu... damai? Lamunannya buyar ketika Ryan muncul di hadapannya, mengangkat alis. "Apa yang kamu lamunkan?" "Aku cuma membayangkan... apakah lambungku akan baik-baik saja setelah makan masakanmu?" cibirnya. "Kalau kamu sampai menjilat ludahmu sendiri, aku minta hadiah," kata Ryan sambil menyilangkan tangan. "Baiklah," tantangnya. Namun, begitu makanan masuk ke mulutnya, matanya membulat kagum. "Enak sekali, Ryan!" ucapnya tak percaya. Ini pertama kalinya ia harus mengakui kesalahan dengan tulus. "Sudah kubilang, kan?" sahut Ryan dengan penuh kemenangan. Mereka pun makan malam bersama dengan suasana yang lebih hangat. Selesai makan, Ryan kembali menagih. "Aku mau hadiahnya." "Sebut saja. Sepatu Gucci? Tas Hermes? Jas Dior?" "Aku gak butuh itu semua. Aku cuma mau kamu menemaniku ke suatu tempat besok." "Mau ke mana?" "Ke tempat orang-orang kurang beruntung lainnya," jawab Ryan tulus. "Baiklah," ucap Liora pelan. Ternyata, hadiahnya sesederhana itu. "Sudah hampir setengah sembilan. Mau kuantar pulang?" tawar Ryan. "Tidak perlu. Aku naik taksi saja," sahut gadis itu. Ryan menghela napas panjang—keras kepala gadis itu tak berubah, baik saat menyamar maupun dalam keseharian. Ia mengantarkannya sampai ke depan pintu, menatap kepergiannya dengan senyum tipis. Di dalam taksi, Liora justru merasa gelisah. Ada sesuatu dalam dadanya yang terasa aneh. Ini bukan sekadar misi biasa. Penyamaran ini terlalu dalam... terlalu nyata. Biasanya, misi selesai dalam tiga hari. Tapi kali ini—tanpa batas waktu. Dan bila bukti telah cukup, ia harus membunuh pria itu. Namun, kenapa hari ini terasa begitu... nyata? Apakah ini hanya sandiwara? Atau sesuatu dalam dirinya mulai goyah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN