Keesokan harinya, sepulang sekolah, Liora langsung memesan taksi menuju tempat yang kini mulai terasa familiar baginya: apartemen Ryan. Rambut yang semula terikat kini ia biarkan tergerai, seragam sekolah masih membalut tubuh rampingnya.
Setibanya di sana, pintu langsung terbuka. Di baliknya, pria dengan senyum lembut yang tak pernah absen dari wajahnya menyambutnya hangat.
“Mau makan siang dulu?” tanya Ryan sambil mempersilakan Liora masuk.
“Nanti saja, aku masih kenyang. Ayo langsung pergi ke tempat yang kamu bilang kemarin,” jawab Liora dengan senyum tipis. Dalam hatinya, ia menduga tempat itu pasti berkaitan dengan misinya.
“Baiklah. Tunggu sebentar,” ujar Ryan, lalu berjalan masuk ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil.
Mereka pun melaju bersama. Saat mobil berhenti, Liora mengernyit heran.
“Panti jompo?” tanyanya.
“Iya. Kalau sedang rindu orang tuaku, inilah tempat yang selalu kutuju,” jawab Ryan, memandang hangat ke arah para penghuni panti dari balik kaca jendela mobil.
“Kamu sedang rindu mereka sekarang?” Liora bertanya, matanya menelisik sisi pria itu yang belum dikenalnya.
“Sebetulnya, hari ini ulang tahunku. Pertama kali tanpanya. Pagi tadi aku sudah mengunjungi makam mereka. Sekarang, aku ke tempat ini... rumah bagi mereka yang tak lagi punya siapa-siapa.”
Liora menatapnya, terdiam sesaat. “Kalau begitu, setelah dari sini, kita jalan-jalan seharian. Rayakan ulang tahunmu,” ujarnya semangat, meski dalam hati bertanya-tanya mengapa ia peduli sejauh ini.
Ryan tersenyum, menatapnya. “Baiklah. Tapi kita masuk dulu, ya?”
Ia mengangguk. Di dalam, Ryan terlihat begitu akrab dengan para lansia. Ia berbicara dengan hangat, bersenda gurau, bahkan berdiskusi soal donasi dengan para pengurus. Beberapa lansia bertanya siapa Liora. Dengan ekspresi seperti anak kecil yang baru punya teman, Ryan menjawab, “Teman baruku, namanya Liora.”
Liora pun hanyut dalam suasana. Mereka berbincang, bercanda, bahkan menerima petuah layaknya anak-anak dari orang tua sendiri. Keakraban itu tak terasa mengikis waktu, hingga jam menunjukkan pukul tiga sore. Mereka pamit, meninggalkan panti dengan senyuman penuh rasa.
“Mau ke taman hiburan?” tanya Ryan sambil menyetir.
“Tentu, kedengarannya seru,” sahut Liora antusias.
Sebelum masuk ke taman hiburan, Ryan menarik tangan Liora ke sebuah kafe terdekat. “Kita makan dulu.”
Sentuhan tangannya berbeda dari genggaman laki-laki dalam misinya yang lalu—ini hangat dan tulus. Bingung dengan perasaannya sendiri, Liora segera melepaskan genggaman itu dengan berpura-pura menunjuk menu.
Setelah makan, mereka mencoba berbagai wahana. Tawa lepas mengisi sore mereka, terutama saat Liora melihat wajah pucat Ryan usai menaiki wahana yang membuat pria itu memuntahkan isi perutnya.
“Hahaha, wajahmu tadi lucu sekali, Ryan!” Liora tertawa puas.
“Kenapa kamu bisa setenang itu? Semua orang teriak ketakutan, tapi kamu malah ketawa.”
“Cuma wahana biasa. Kalau bumi berputar terlalu cepat, nah, baru deh aku takut.”
Ryan mendengus kesal, tapi senyum tetap mengembang.
Saat waktu menunjuk pukul setengah enam, Ryan berkata, “Ra, sudah sore. Mau kuantar pulang?”
“Tidak perlu. Aku pesan taksi saja.”
“Jauh banget kah rumahmu sampai dua kali kamu tolak tumpangan dariku?” gumam Ryan sinis, membuat Liora tertawa.
“Bukan begitu. Orang tuaku posesif. Mereka bakal mewawancaraimu dengan pertanyaan aneh. Aku anak tunggal, jadi mereka agak… ketat.”
Tentu saja itu bohong. Orang tuanya tak pernah ikut campur dalam urusan pertemanan Liora. Ia hanya tak ingin Ryan tahu siapa dia sebenarnya.
“Oh, begitu...” Ryan tampak sedikit kecewa, berpikir mungkin Liora malu memperkenalkannya.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Taksi-nya sebentar lagi datang,” ujar Liora sembari berdiri dan berjalan ke arah gerbang taman hiburan, diikuti Ryan.
“Ra... makasih untuk hari ini,” ucap pria itu tulus.
“Iya… sama-sama,” jawab Liora sedikit gugup sebelum naik ke taksi.
Sebelum mobil itu melaju, Liora menoleh dan berkata, “Selamat ulang tahun, Ryan.”
Kalimat sederhana itu membuat Ryan tersenyum lebar, senyum yang menyimpan banyak arti.
Sejak hari itu, mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama—setiap hari sepulang sekolah. Mulai dari mengunjungi orang-orang kurang beruntung hingga menjelajahi tempat-tempat yang mereka sukai.
Liora mulai meragukan misi yang dijalankan. Ia terus mencari tahu, mengamati kehidupan Ryan. Tapi yang ia temukan justru sebaliknya.
Ryan adalah pemilik sah seluruh warisan orang tuanya. Ia tak mengambil alih perusahaan ayahnya sebagai CEO, namun sebagai pemilik penuh. Begitu pula rumah sakit milik ibunya. Ia hanya sesekali datang untuk mengawasi. Semua terlihat biasa… dan bersih.
Terlalu bersih.
Dan itu, justru yang membuat segalanya semakin rumit di hati Liora.