Seorang gadis SMA duduk sendirian di taman, pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal matanya terus mengikuti gerak-gerik seorang pria dari kejauhan.
“Kurasa ada kesalahpahaman dalam misi ini. Untuk apa seorang pengkhianat negara repot-repot mengurus gelandangan dan para orang tua di panti jompo?” batinnya penuh keraguan.
Sudah beberapa hari Liora mengawasi pria itu, dan yang ditemukannya sungguh mengejutkan. Alih-alih menyembunyikan diri atau bersikap mencurigakan seperti pengkhianat lain, pria itu malah menebar kebaikan. Ia membantu anak-anak yatim, memberi donasi ke panti jompo, dan membagikan makanan untuk tunawisma.
Wajahnya selalu dihiasi senyuman, seolah tak pernah melakukan dosa besar yang dituduhkan padanya.
Akhirnya, Liora membuat keputusan: dia harus masuk ke dalam kehidupan pria itu untuk mencari kebenaran.
“Saatnya mulai penyamaran,” ucapnya pelan, lalu bangkit meninggalkan taman.
---
Setelah seminggu bersama, yang ditemukan Liora hanyalah sosok pria yang penuh ketulusan. Ryan memperlakukannya layaknya teman sejati—membantunya mengerjakan tugas, berbagi cerita konyol, dan tertawa bersama di markas yang kini terasa seperti rumah kedua.
Pria itu begitu hangat, begitu lembut. Entah sandiwara atau kenyataan, semuanya terasa nyata di mata Liora.
Hari ini, Liora tidak datang ke markas. Ia berbohong bahwa ada pelajaran tambahan, padahal ingin mengawasi Ryan diam-diam. Tapi hasilnya tetap sama: Ryan tetap pria yang penuh kebaikan.
Di kamarnya yang mewah, Liora termenung. Tatapannya kosong menatap langit-langit, sementara secangkir kopi latte ada di sampingnya.
“Sial... apa sebenarnya yang terjadi?” gumamnya, frustasi, lalu meremas rambutnya sendiri.
Ia segera bangkit, mengambil tas, dan memutuskan untuk pergi ke rumah Ketua Dewan—yang juga paman angkatnya.
---
Di rumah besar itu, Liora diterima oleh pelayan dan diminta menunggu di ruang tamu. Tak lama, Ketua Dewan datang dengan ekspresi serius.
“Kau datang untuk membahas misi?” tanyanya sambil menyeruput teh.
“Aku bingung, Paman,” ujar Liora jujur. “Aku sudah seminggu mengawasi Ryan, dan... dia terlalu baik untuk disebut pengkhianat.”
Ketua Dewan menghela napas, lalu menatapnya dalam.
“Baru seminggu, Liora. Jangan langsung menyimpulkan. Bisa jadi semua itu hanya sandiwara. Jika kau menemukan bukti bahwa dia membahayakan negara, saat itulah kau harus bertindak.”
Liora terdiam, lalu bangkit untuk pamit. Tapi sang Paman menahannya.
“Setidaknya minum teh dulu.”
“Aku kan sudah bilang, aku gak suka teh!” keluh Liora.
“Oke oke, maaf. Lain kali kubuatkan s**u,” goda pamannya.
“Kopi, Paman! Kopi!” serunya sebal, membuat sang Paman tertawa puas.
Mereka terlihat seperti keponakan dan paman sungguhan—akrab dan penuh canda.
---
Di perjalanan pulang, Liora termenung. Di dalam mobil, pikirannya berkecamuk. Tentang misi. Tentang Tessaron yang tak ada kabar. Tentang Ryan... dan perasaannya sendiri.
Malam itu, ia duduk di lantai dekat jendela, menatap langit berbintang.
“Kurasa... aku menciptakan hubungan nyata dengannya,” bisiknya sambil menyeruput kopinya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Panggilan masuk. Nomor tak dikenal.
“Halo?”
“Li, ini aku.”
“Dav?! Kenapa nomormu beda? Dan kenapa kalian menghilang?” tanya Liora panik.
“Pengkhianat itu peretas. Aku harus menyiasati agar sambungan kita aman,” jelas David.
Kepala Liora makin penuh. Ryan? Seorang peretas juga?
“Kami baik, Li. Tapi dengarkan ini... jangan sampai kau terbawa sandiwara pria itu. Tetap waspada.”
Liora hanya mengangguk walau David tak bisa melihat.
“Baiklah,” jawabnya sebelum telepon diputus sepihak.
Tak lama, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini hanya pesan singkat.
Ryan: Li, besok ke markas ya. Kalau kamu ada tugas, bawa saja bukunya, aku bantu.
Liora terdiam. Untuk pertama kalinya, dia ragu menjawab.
Tapi akhirnya, ia membalas: “Baiklah.”
Ia meletakkan ponselnya, lalu merebahkan tubuh ke kasur, berusaha memejamkan mata.
“Semoga besok aku mendapat petunjuk.”
---
Di tempat lain Ryan duduk sendiri di kamarnya, tersenyum kecil.
“Apakah aku jatuh cinta padanya...? Baru seminggu... tapi perasaanku nyata,” ucapnya pelan.
Ia mengingat pesan orang tuanya sebelum mereka tiada:
"Bahagiakan orang yang kau cintai."
Ryan menggenggam kalung milik mendiang ibunya, lalu menatap keluar jendela.
“Kalau begitu... aku akan membuat Liora selalu bahagia.”