I like this

716 Kata
Keesokan siangnya, seperti biasa, Liora pulang sekolah dan langsung bergegas ke markas bersama Ryan. Ketukan di pintu apartemen membuat pria itu tersenyum lebar. Ia segera membukanya. "Eh, Ra, silakan masuk," ujarnya senang sambil mempersilakan Liora masuk. "Ryan, aku lapar. Boleh aku pinjam dapurmu?" tanya Liora sambil memegangi perutnya. Ia sedang mengidam biskuit panggang yang dulu sering dibuat bersama orang tua angkatnya. "Memangnya kamu bisa masak, Ra?" tanya Ryan heran, duduk santai di sofa sambil menyandarkan tangan di belakang kepala. "Aku mau coba," jawab Liora percaya diri. Ia yakin bisa membuat biskuit itu karena masih mengingat resep dan prosesnya. "Baiklah. Tapi aku akan mengawasi supaya dapurku yang putih bersih nggak berubah jadi lautan abu," goda Ryan, meski sebenarnya ia hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. "Terserah kamu. Tapi karena kamu sudah baik meminjamkan dapurmu, aku akan buatkan juga untukmu," ucap Liora sambil tersenyum, menahan sedikit kekesalannya. Mereka berdua pun pindah ke dapur. Liora mulai membuat adonan biskuit, sementara Ryan mengawasinya dari meja bar mini yang berhadapan langsung dengan dapur. Jarak mereka hanya sekitar satu meter, dibatasi meja. Wajah serius Liora menunjukkan tekad dan ketekunannya. Peluh di dahinya membuat Ryan tanpa sadar menatap lebih lama. Ia merasa jadi pria m***m karena memerhatikan gadis itu terlalu intens. Tapi siapa pun pasti akan terpesona: rambut Liora dicepol seadanya, memperlihatkan leher putihnya yang jenjang; gerakan ragu-ragu namun bersemangat membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Setelah 30 menit, biskuit pun matang dan tersaji di hadapan Ryan. Liora duduk di sampingnya. Biskuit itu terlihat cantik dengan warna cokelat keemasan. Tapi rasa belum tentu seindah tampilannya. "Coba kamu makan, Ry!" pinta Liora sambil tersenyum manis. "Baiklah, aku coba," ucap Ryan, mengambil satu dan menggigitnya perlahan. Dalam hati, ia hampir ingin memuntahkannya. Rasanya hambar, padat, dan membuat enek. Namun melihat wajah Liora yang penuh harap, ia tak tega mengecewakannya. "Hm, ini enak kok," katanya sambil tersenyum menahan rasa mual. "Ha! Kan sudah kubilang pasti enak!" seru Liora bangga, lalu ikut mencicipi biskuit buatannya sendiri. Baru satu gigitan, ekspresinya berubah datar. Ia meletakkan kembali biskuitnya. "Hambar," gumamnya singkat. "Eh, tapi tetap enak kok. I like this," ujar Ryan cepat sambil memakan biskuit lagi. "Padahal luarnya sempurna, tapi kenapa dalamnya nggak sesempurna itu. Ryan, berhenti memakannya!" perintah Liora lesu. Ryan tersenyum hangat, lalu memegang bahu Liora dan menatapnya lembut. "Ra, terkadang luar dan dalam itu berbeda. Tapi prosesnya sangat berharga. Kamu sudah berusaha keras," katanya tulus. Liora tersenyum tipis. "Terima kasih, Ryan. Tapi... apakah kamu benar-benar menyukai sesuatu yang sempurna dari luar tapi tidak di dalam?" tanyanya tiba-tiba, mencoba memahami pria itu lebih dalam. "Aku nggak melihat luar atau dalam. Aku melihat usaha kerasmu tadi. Buatku, aku lebih menyukai proses dan niat dibanding hasil akhirnya," jawab Ryan, kini tangannya mengacak lembut rambut Liora. Liora terdiam. Jawaban itu sangat di luar dugaannya. Ia mengira Ryan akan memilih salah satu antara penampilan luar atau isi hati, ternyata tidak. "Ra, aku nggak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi aku selalu ingin melihatmu bahagia," ucap Ryan lagi, kali ini dengan senyum hangat. Untuk pertama kalinya, jantung Liora berdebar hebat. Dulu, kata Mia, ini adalah tanda dari perasaan yang belum pernah ditemui sebelumnya. "Ryan, kamu sangat baik. Aku bersyukur berteman denganmu," ucap Liora dengan tulus. "Aku nggak tahu kalau berteman bisa seperti ini rasanya. Debaran ini... beda," ujar Ryan, tertawa pelan sambil menunduk, memegang d**a kirinya. Liora menggenggam kedua tangan pria itu, tersenyum tulus. "Ry, aku juga merasakan hal yang sama denganmu." Ryan membalas genggaman itu lebih erat. Mereka saling diam, saling menatap, namun hati mereka berisik oleh perasaan yang masih asing. Perlahan Ryan turun dari kursinya, mendekat, menempatkan kedua tangannya di sisi kursi Liora. Jarak mereka nyaris hilang. "Ry, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Liora, panik, karena kini wajah mereka hanya sejengkal. "Ra, sepertinya... kita sama-sama sedang jatuh cinta," jawab Ryan. Tangannya menyentuh pipi Liora dengan lembut. Tak ada reaksi spontan seperti biasanya. Gadis itu hanya diam, wajahnya memerah. Saat hidung mereka hampir bersentuhan, Liora menahan d**a Ryan, mengalihkan pandangan. Ryan tersenyum. Ia tahu ini terlalu cepat. "Ra, bolehkah aku memelukmu?" tanyanya pelan. Liora mengangguk ragu. Ryan pun memeluknya erat. Beberapa detik kemudian, Liora membalas pelukannya dengan hangat. "Aku akan selalu bahagia bersamamu. Maka tetaplah di sisiku, agar kamu bisa membuatku bahagia selalu," bisik Liora sambil melepaskan pelukan dan mengelus kepala Ryan dengan lembut. Ryan mengangguk pelan, dengan hati yang hangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN