Play with heart

786 Kata
Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat. Meski Liora adalah seorang agen muda, dia tetaplah gadis remaja yang baru akan menginjak usia 19 tahun. Hatinya tak mampu berbohong, apalagi ini pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti itu. Sudah dua bulan mereka berteman. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Liora duduk sendiri di ruang tamu, menunggu kedua orang tuanya yang katanya akan merayakan ulang tahunnya bertiga. Liora sendiri yang memintanya, meski ia tak terlalu berharap. Berkali-kali janji mereka tak ditepati, dan ia tak ingin kembali kecewa—meski jauh di lubuk hatinya, ia tetap menanti. Satu jam berlalu. Sunyi. Lalu ponselnya berdering—ternyata dari asisten orang tuanya. Suara di ujung telepon mengatakan bahwa mereka harus berangkat ke luar negeri setengah jam yang lalu karena urusan bisnis mendadak. Mereka berjanji akan pulang dalam dua atau tiga hari. Liora tersenyum miris. Takdirnya memang gila. Tapi air mata tak lagi turun—ia sudah terlalu sering dikecewakan. Dengan hati kacau, ia memutuskan pergi ke apartemen Ryan. Ia meminta sopir untuk mengantarnya, berdalih menginap di rumah teman sekelas. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan. Tak lama, wajah Ryan yang baru bangun tidur muncul dengan ekspresi terkejut melihat gadis itu berdiri dengan tatapan kosong. “Ra, kamu kenapa?” tanya Ryan saat mereka sudah duduk di sofa. “Kamu tadi sudah tidur, ya? Maaf kalau aku ganggu,” ucap Liora dengan suara pelan dan bergetar. Ryan berlutut di hadapan Liora, tangannya mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut. “Kamu kenapa, Ra?” Akhirnya, air mata yang tertahan itu pecah. Liora menangis di pelukan Ryan—seseorang yang baru dikenalnya dua bulan lalu, tapi kini sudah menjadi tempat ternyaman untuk menumpahkan segalanya. Ryan memeluknya erat, hatinya ikut sesak melihat gadis itu menangis begitu dalam. “Aku benci mereka… orang tua sialan itu! Kenapa mereka harus jadi orang tuaku?” teriak Liora dengan suara bergetar. “Hei, jangan mengumpat seperti itu,” ucap Ryan lembut, menyeka air mata di wajah Liora. Namun, Liora menepis tangannya dan bangkit dari duduk. “Kau membela mereka? Ternyata aku salah datang ke sini. Permisi.” Ia berjalan ke arah pintu, tapi Ryan segera memeluknya dari belakang. Satu tangan melingkari lehernya, tangan lain memeluk perutnya erat. “Aku tidak membela mereka, Ra. Aku hanya… ingin tahu, apa yang bisa kulakukan agar kamu tidak sedih lagi.” Tangisan Liora kembali pecah, kali ini lebih keras. Untung apartemen itu kedap suara. “Ini… ulang tahunku yang ke-19…” ucapnya sambil menangis. Ryan tersenyum tipis. “Jangan menangis, Ra. Ayo kita rayakan ulang tahunmu… bareng.” “Ini sudah malam, Ry…” Liora menjawab dengan hidung merah dan mata berkaca-kaca. “Kalau begitu… kita bikin kue ulang tahun, yuk.” “Sudah malam, Ry. Pasti melelahkan…” “Enggak kok, pasti menyenangkan,” ucap Ryan sambil mengacak rambutnya. Akhirnya mereka ke dapur. Ryan sebenarnya menyuruh Liora duduk saja, tapi gadis keras kepala itu tetap ingin membantu. Ia terlihat sangat menikmati proses membuat kue bersama Ryan, yang ternyata sudah terbiasa memasak bersama almarhum ibunya. Tepat pukul dua belas malam, kue bolu sederhana itu selesai dibuat. Meski tanpa lilin, mereka tetap bernyanyi—kali ini khusus untuk Liora. “Maaf ya, aku enggak punya lilin. Jadi kita nyanyi aja, terus langsung makan,” ucap Ryan. “Baiklah,” jawab Liora sambil tersenyum. Mereka menyanyi bersama, dan setelah selesai, Liora menunjukkan senyum misterius. Tanpa peringatan, ia langsung mencuil kue dan memakannya tanpa sendok—meninggalkan coklat di sekitar mulutnya. Ryan tertawa keras. “Hei! Kenapa kamu makan kayak gitu!” Gadis itu malah tertawa lebih keras, lalu mencolekkan krim ke wajah Ryan. “Biar adil!” Ryan membalas, mencoret dahi dan rambut Liora dengan coklat. Mereka saling mencoret wajah, tertawa lepas, dan menyantap kue yang sudah tak berbentuk itu bersama. “Hah, capek… Ry, berhentilah mencoreti wajahku!” Liora merebahkan diri di atas karpet, mengatur napasnya. “Lagian, nggak ada ruang lagi buat nyoret. Wajahmu udah penuh coklat semua,” jawab Ryan sambil tertawa. “Coba kamu lihat kaca, wajahmu juga kayak badut,” balas Liora dengan senyum nakal. Mereka saling menatap dalam diam. Bagi Liora, ini bukan sekadar penyamaran. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar membiarkan hatinya terbuka. Dan Ryan, lelaki yang berada di hadapannya, membuatnya tenggelam dalam rasa yang asing tapi manis. Ryan perlahan menunduk, mendekat, lalu menyentuh pipi Liora dengan bibirnya. “Coklatnya enak,” bisiknya sambil menjauh sedikit. Gadis itu tak mau kalah. Ia duduk, mendekat, dan menjilat hidung Ryan yang penuh krim. Ryan membeku, matanya membelalak. Tapi Liora hanya tersenyum, lalu merebahkan diri kembali. Tanpa kata, ia pun tertidur dengan damai di samping pria yang kini memenuhi ruang hatinya. Ryan memandangi wajah tenangnya, lalu berbaring di sampingnya, menatap langit-langit dengan jantung berdebar, merasa ingin memeluknya sepanjang malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN