Keesokan harinya, Liora bangun lebih dulu. Saat membuka mata, ia merasa asing dengan langit-langit yang ditatapnya. Namun, tak butuh waktu lama sampai ingatan tadi malam menyadarkannya bahwa ia masih berada di apartemen Ryan. Pria itu memeluknya dari samping, wajahnya terlihat damai, tenang, dan polos dalam tidurnya.
Cokelat yang masih menempel di wajah pria itu membuat Liora tersenyum kecil. Ia perlahan bangkit, mengambil tisu di dekat ranjang, lalu membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum duduk di samping Ryan untuk membersihkan wajahnya juga. Saat menatap pria itu, pikirannya melayang pada kekecewaan terhadap orang tuanya. Ryan, yang hadir dan berusaha membuatnya bahagia, menyentuh sisi hatinya yang selama ini dingin.
Karena terlalu larut dalam lamunannya, Liora tidak menyadari Ryan mulai terbangun. Tiba-tiba, tangan hangat pria itu menggenggam tangannya.
"Ra, hentikan. Wajahku sudah bersih," ucapnya pelan, matanya perlahan terbuka dan menatap gadis itu dengan sayu.
"Oh, i-iya," jawab Liora gugup.
Ryan tersenyum, lalu mengecup tangan gadis itu yang masih berada dalam genggamannya. Pipi dan telinga Liora langsung memerah karena malu.
"Sekarang, mari kita bersihkan rambutmu," ujar Ryan sambil menyentuh helaian rambut Liora yang menjuntai di wajahnya.
Liora hanya mengangguk patuh sambil tersenyum tipis.
Mereka berdua menuju kamar mandi. Liora duduk di bawah wastafel sementara Ryan membasuh rambutnya dengan shower di tangan. Dengan lembut, pria itu mengeramasi rambut panjang gadis itu yang jatuh hingga punggung.
"Ry, terima kasih untuk tadi malam," ucap Liora lembut.
"Ra, itu bukan apa-apa. Jika kamu bahagia, aku juga bahagia," jawab Ryan, membuat senyum Liora makin merekah. Setelah selesai, mereka keluar dari kamar mandi.
"Ra, ganti bajumu. Aku punya kaus yang cocok untukmu," ujar Ryan, memperhatikan pakaian gadis itu yang kotor. Semalam, Liora hanya memakai kaus yang dibalut cardigan dan jeans hitam.
Saat Liora hendak menolak, Ryan sudah melemparkan tatapan tajam yang membuat gadis itu bungkam.
"Nah, pakai kaus ini," ucapnya sambil menyerahkan kaus putih polos.
"Baiklah," jawab Liora pasrah dan masuk ke kamar mandi untuk berganti.
Begitu keluar, Ryan tak bisa menahan diri menelan ludah. Rambut Liora masih basah, dan kaus kebesaran itu membuatnya tampak seksi.
"Aku kelihatan aneh?" tanya Liora, menangkap tatapan Ryan.
"Tidak kok. Sini, kubantu keringkan rambutmu," ujar Ryan dengan handuk kecil di tangan.
"Ryan, jangan terlalu baik padaku," ucap Liora sambil berjalan mendekatinya.
"Aku senang melakukannya," ucap Ryan hangat. Jarak mereka kini hanya selangkah.
Ryan mulai mengeringkan rambut Liora. Gadis itu terlalu malu untuk menatap wajahnya, jadi ia menatap d**a Ryan yang dibalut kaus putih polos, sama seperti miliknya.
"Ryan, bagaimana jika aku orang jahat yang sedang menyamar jadi orang baik di depanmu?" tanyanya tiba-tiba.
Ryan terkejut. Baginya, Liora adalah gadis baik, rajin belajar, dan menyenangkan. Mereka sudah menghabiskan waktu bersama cukup lama.
"Kamu adalah gadis terbaik yang pernah kutemui," jawab Ryan dengan yakin, menatapnya lekat-lekat.
"Kalau aku jahat, apakah kamu akan membenciku?"
"Aku akan tetap bersamamu. Seberapa buruk pun dirimu, aku akan selalu melihatmu sebagai yang terbaik di hidupku."
Liora mengangguk pelan.
"Aku akan menjauhimu jika kamu ternyata orang jahat," balas Liora dengan senyum tipis.
"Aku bukan orang jahat. Aku nggak pernah bolos sekolah, nggak pakai narkoba, nggak ikut balapan liar, nggak pernah tawuran," ucap Ryan cepat, panik.
Liora tertawa mendengar penjelasan polos itu. Wajah Ryan terlalu jujur dan lucu.
"Aku tetap akan meninggalkanmu kalau kamu melakukan hal jahat," goda Liora.
"Ra, aku punya kesalahan padamu? Kenapa kamu ingin meninggalkanku?" tanya Ryan panik, memegang kedua pipi Liora.
Liora tertawa keras. Ryan sadar dirinya sedang dikerjai dan menatap gadis itu tajam.
"Liora, kamu mempermainkanku," ucapnya dingin sambil menarik wajah Liora mendekat.
Bibir mereka bertemu. Liora terkejut dan berusaha mendorong Ryan, namun pria itu menahan punggung dan tangannya.
Ciumannya lembut. Liora bingung harus bagaimana, ini adalah ciuman pertamanya.
Ia akhirnya menarik diri dan menutup mulut dengan satu tangan. Ryan tersenyum tipis lalu menyatukan kening mereka, membiarkan hidung mereka bersentuhan.
"Apa kamu nggak suka melakukannya denganku?" bisik Ryan, suaranya terdengar berat.
"A-aku nggak tahu..." ucap Liora gugup, mengalihkan pandangan.
"Kamu belum pernah ciuman, ya?" goda Ryan sambil melepaskan tangan Liora dari mulutnya.
"Ryan, hentikan... Aku mau pulang," ucap Liora pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
Ryan langsung mundur, memegang bahu Liora.
"Maafkan aku, Ra. Jangan marah..." ujarnya panik, lalu memeluk gadis itu erat.
Liora hanya diam lalu tersenyum kecil sebelum pamit pulang.
Sesampainya di kamar, Liora menyentuh bibirnya. Rasanya aneh. Menyamar seharusnya tak melibatkan perasaan, tapi momen bersama Ryan terasa begitu nyata. Semua ini terasa seperti keinginan hatinya, bukan sekadar sandiwara.
"Apakah aku tetap akan menipunya seperti ini?" bisiknya pada diri sendiri. "Atau sebenarnya aku yang tertipu oleh pikiranku sendiri?"
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama ketua dewan muncul di layar.
"Halo, Liora. Bagaimana? Ada yang mencurigakan dari misimu?" suara berat di seberang bertanya.
"Belum, Paman. Dia tidak mencurigakan sama sekali," jawab Liora, mencoba meyakinkan sang ketua untuk berhenti mengawasi Ryan.
"Memang sekarang tidak ada hal mencurigakan di sistem pemerintahan. Tapi kamu tidak boleh lengah. Awasi dia terus. Jika kamu melihat dengan mata kepalamu bahwa dia seorang pengkhianat, kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Liora mengangguk, meski tak terlihat.
"Baik, Paman," ucapnya pelan.
Panggilan itu berakhir. Dan pagi itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.