I Love You

1209 Kata
Seminggu berlalu sejak ciuman pertama mereka, namun suasana di antara Ryan dan Liora tidak menjadi canggung. Kelembutan Ryan dan sikap santai Liora membuat segalanya tetap terasa alami. Bahkan keesokan harinya setelah ciuman itu, mereka berperilaku seperti biasa—memasak bersama dan Ryan membantu Liora menyelesaikan berbagai tugas makalah dari sekolahnya. Hari ini adalah hari Senin. Ryan tiba-tiba menjemput Liora di sekolah, membuat gadis itu terkejut. “Ryan, kenapa menjemputku? Kan aku bisa naik taksi ke markas,” tanya Liora penasaran setelah masuk ke dalam mobil. “Kita sudah berteman lebih dari dua bulan, tapi aku belum pernah menjemput atau mengantarmu pulang,” jawab Ryan dengan nada sedikit kesal. “Haha, aku nggak mau merepotkanmu, Ryan,” sahut Liora sambil terkekeh pelan. “Jadi, jangan menolak lagi kalau aku ingin menjemput atau mengantarmu. Oke?” ucap pria itu, penuh tekanan namun tetap lembut. “Kalau soal diantar pulang... sebaiknya aku naik taksi saja, Ryan,” ujar Liora pelan. “Itu perintah. Nggak ada bantahan,” ucap Ryan tegas, meski wajahnya tidak semenyeramkan pria kebanyakan yang sedang bersikap keras. “Kamu nggak perlu mengantarku,” kata Liora sambil menatap lurus ke depan. “Dasar keras kepala,” gumam Ryan, terdengar kesal. Tapi baik Ryan maupun Liora tetap bersikeras pada keinginan masing-masing. Sama-sama anak tunggal, membuat pertengkaran kecil seperti ini jadi terasa lebih intens. Tak lama, Liora menyadari jalan yang mereka tempuh bukan menuju apartemen atau markas. “Ryan, ini bukan jalan ke markas. Kita mau ke mana?” tanyanya dengan rasa penasaran. Sesaat ia khawatir, membayangkan kemungkinan buruk. Tapi saat melihat senyum tulus Ryan, pikirannya kembali tenang. “Aku mau membawamu ke tempat yang dulu sering aku kunjungi bersama orang tuaku,” ucap Ryan dengan senyum lembut. Liora mengangguk, tapi rasa takut pelan-pelan menjalar saat pepohonan mulai berjejer di sisi jalan—menuju ke arah hutan. Ia takut. Bukan kepada Ryan, tapi bagaimana kalau Ryan ternyata benar seorang pengkhianat yang ingin mencelakainya di tengah hutan? Jika bersama Tessaron, terutama Nathan, Liora bisa melawan lebih dari sepuluh orang. Tapi sendirian, mungkin ia hanya bisa bertahan melawan lima. Itu sudah sangat bagus, mengingat ia masih gadis berusia delapan belas tahun. Melihat ekspresi tegang di wajah gadis itu, Ryan malah tersenyum geli. “Haha! Aku akan puas bermain denganmu hari ini,” ujar Ryan menggertak, lalu tertawa kecil. “Ry... Ryan, apa kamu sebenarnya orang jahat?” tanya Liora gugup. Ryan hanya menyunggingkan senyum misterius, membuat Liora menelan ludah dan mencoba menenangkan diri. Tenang, Liora. Dia tidak akan menyakitimu, gumamnya dalam hati. Mobil berhenti tepat di sebuah pondok di tengah hutan. Di sekitarnya ada rumah pohon, tanaman bunga, dan buah yang tertata rapi. “Ini tempat paling berharga dalam hidupku,” ujar Ryan sambil melepas sabuk pengamannya. Rasa takut Liora perlahan menghilang. “Ayo, Ra. Kita piknik di sini,” ajaknya antusias. Mereka menyajikan makanan buatan Ryan pagi tadi di atas tikar yang sudah dibentang. Liora mencicipi sepotong kue. “Kue ini enak banget, Ryan. Kamu jago masak!” pujinya, duduk berhadapan dengannya. Ryan tersenyum bangga. Ia senang melihat senyuman lebar di wajah gadis cantiknya. “Ra, ayo lihat danau,” ajaknya. Liora mengangguk antusias. Setibanya di tepi danau, mereka duduk di atas batu besar, menikmati angin sejuk dan pemandangan yang tenang. Tanpa diduga, Ryan membuka kaosnya. “Kamu mau ngapain, Ry?” tanya Liora heran. “Mau berenang. Danau ini jernih banget, menggoda,” katanya sambil tersenyum dan masuk ke air. Melihat tubuh Ryan yang telanjang d**a dan basah, membuat Liora tertegun. Pria itu memiliki tubuh berotot seperti pria-pria Eropa. “Kamu nggak mau ikut?” tanya Ryan santai sambil berenang. Liora bimbang. Ia tak tahan dingin, tapi danau itu terlalu menggoda. Ia pun memutuskan untuk ikut sebentar. “Baiklah... aku ikut,” katanya, turun dari batu besar. Tapi langkahnya terhenti. Ia lupa membawa baju ganti. “Kamu kenapa melamun?” tanya Ryan sambil menepi. “Aku nggak bawa baju ganti,” jawab Liora lesu. “Tenang, aku sudah minta asistennya siapkan perlengkapanmu. Aku tahu kamu pasti ingin ikut,” jawab Ryan, lalu duduk di sebelah Liora. Refleks, Liora memeluknya, membuat seragamnya basah. Untungnya dalaman seragamnya sewarna, jadi tak terlalu terlihat. Ia pun melepas dasi, dan dengan kemeja basah masih membalut tubuhnya, ia turun ke danau. Liora sangat pandai berenang—semua anggota Tessaron memang harus bisa berenang. Ryan menyusulnya. “Seru nggak?” tanya Ryan. “Tenang banget. Aku suka,” jawab Liora dengan senyum manis. Beberapa menit kemudian, Liora ingin naik. “Ryan, aku naik duluan ya,” pamitnya. “Cepat amat?” tanya Ryan sambil menahan tangan Liora. “Aku takut masuk angin. Sudah sore,” jawab Liora lembut, mencoba berenang ke tepi. Tapi Ryan masih menahannya. Tiba-tiba, Ryan menarik Liora ke pelukannya. Mereka berhadapan. Liora otomatis memeluk leher pria itu. Liora sedikit lebih tinggi karena berada di pelukan Ryan. Ia menunduk, heran melihat tatapan Ryan yang sayu. “Ada apa, Ry?” tanyanya gugup. Ryan tak menjawab. Ia justru mendekat, mencium bibir Liora lembut. Kali ini, ciumannya penuh tuntutan. Tangannya menggenggam tengkuk gadis itu. Awalnya Liora ragu, tapi akhirnya membalas ciuman itu. Saat mereka berpisah karena kehabisan napas, Ryan menurunkan ciumannya ke leher Liora. “Ryan... geli... lepasin,” ucap Liora tertawa gugup, mendorong bahu Ryan. Tapi tenaganya lemah. Tangan Ryan mulai bergerak ke bawah, ingin masuk ke dalam seragamnya. “Ryan... hentikan,” ucapnya lemah, berusaha menahan tangan pria itu. Ryan pun tersadar. Ia memeluk Liora dan menyandarkan kepalanya di d**a gadis itu. “Liora... I love you,” bisiknya. Jantung Liora berdebar kencang, dan Ryan pun tertawa geli. “Degup jantungmu... menggemaskan,” ujarnya sambil menatap Liora dengan senyum kecil. “Ryan, ayo naik... aku kedinginan,” ucap Liora dengan wajah memerah dan memeluk pria itu lagi. Ryan pun menggendong Liora menuju mobil. “Gantilah baju di dalam mobil. Aku akan ganti di rumah pohon,” ucap Ryan lembut. Liora mengangguk patuh. Ia mengganti pakaiannya di bagasi mobil yang luas, pintunya tertutup rapat. Baju yang disiapkan Ryan lengkap—termasuk dalaman. Ia memakai hoodie putih tebal dan celana training hitam. Tapi tetap saja, Liora merasa dingin. Ia keluar mobil, menyusul Ryan ke rumah pohon. Ryan baru saja selesai berganti baju dan kaget melihat Liora di belakangnya. “Ra, kamu ngagetin,” ucapnya terkejut. Liora tersenyum kecil, tapi wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil. “Ra, kamu kenapa?” tanya Ryan sambil memegang bahunya. “Dingin, Ry... aku nggak tahan dingin,” jawabnya pelan sebelum tubuhnya ambruk. Matanya sayu, kakinya lemas. Ryan segera menggendongnya ke atas kasur kecil, lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. “Maaf, Ra. Ini pasti karena kita berenang,” ucap Ryan merasa bersalah, duduk di samping gadis yang kini lemah terbaring. “Jam berapa kita pulang, Ry?” tanya Liora lirih. “Kita nginap di sini saja. Kondisimu nggak memungkinkan. Lagipula, tempat ini aman. Aku sering menginap di sini dulu bersama orang tuaku,” jawabnya. Liora mengangguk pelan. “Tapi masih dingin, Ry,” ucapnya menggigil. Ryan tidak punya pilihan lain. Ia membuka kaosnya kembali dan masuk ke dalam selimut, memeluk Liora erat. “Ryan...” panggil gadis itu lirih. Napasnya terasa hangat di d**a Ryan. “Tidur, Ra. Aku akan menghangatkanmu,” balas Ryan, berusaha menahan desakan perasaan yang muncul. Malam itu, di tengah dinginnya udara hutan, mereka berdua berbagi kehangatan dalam pelukan yang tulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN