Beberapa bulan kemudian, ujian semester ganjil Liora dimulai pada pertengahan bulan Desember. Sekarang masih awal bulan, jadi gadis itu belajar dengan giat, terlebih lagi bersama Ryan, lelaki yang mulai membuatnya jatuh cinta.
"Ra, bagaimana materi yang ini? Apakah sulit?" tanya Ryan sambil menunjuk sebuah penjelasan di buku paket.
"Ayolah, Ry. Para penjilat di sekolah itu takkan berani membuatku mendapat nilai jelek atau menurunkan posisiku sebagai juara kelas. Pintar atau bodoh pun aku tetap sama saja di mata mereka," ujar Liora lesu. Bagaimana tidak, semuanya diatur oleh uang, padahal dengan otaknya sendiri, ia bisa bersaing secara adil.
"Haha, kamu benar juga. Kalau begitu, jangan fokus pada juara atau penjilat itu, tapi fokus pada isi otakmu," ujar Ryan sambil tertawa geli.
"Otakku sudah penuh, rasanya mau meledak," kata Liora sambil menatap Ryan dengan senyum mengejek.
"Ya sudah, lebih baik kita istirahat dulu. Ayo keluar sambil belanja, isi kulkasku cuma tinggal satu telur," ujar Ryan sambil nyengir.
"Baiklah, ayo kita pergi," ujar Liora antusias, berdiri dari kursinya. Ryan hanya tersenyum dan mengacak rambut Liora dengan gemas.
Mereka pergi ke supermarket dengan mobil Ryan. Setelah membeli berbagai keperluan, Ryan tiba-tiba ingin ke toilet dan menyuruh Liora menunggu di kursi taman dekat supermarket.
Saat menunggu, Liora melihat seorang wanita diikuti pria mencurigakan berpakaian sangat tertutup. Ternyata pria itu mengincar tas sang wanita. Sebelum kabur, Liora langsung menghampirinya dan menendang punggungnya hingga tersungkur.
Ternyata, pencopet itu membawa dua teman yang berpura-pura jadi pengunjung. Liora tersenyum misterius. Walau masih memakai seragam sekolah, ia dengan mudah mengalahkan ketiganya berkat kemampuan bela dirinya.
Untung saja ia memakai celana panjang di balik roknya, meski hanya sebatas paha. Ketiga pencopet jatuh pingsan, dan Liora mengembalikan tas kepada pemiliknya yang langsung berterima kasih. Pengunjung yang ada tak sempat merekam kejadian itu karena gerakannya begitu cepat.
Ryan yang baru keluar dari toilet terkejut melihat perkelahian itu. Saat hendak melerai, semuanya sudah selesai. Ia langsung menghampiri Liora.
"Ra, apa yang terjadi?" tanya Ryan saat melihat gadis itu mengembalikan tas ke wanita tadi.
"Mereka pencopet," jawab Liora polos sambil menyeka keringat di wajahnya.
"Lebih baik kita kembali ke markas. Sudah ada petugas keamanan yang menangani mereka," ujar Ryan sambil menggandeng tangan Liora menjauh.
Di dalam mobil, Ryan berkata, "Ra, jangan lakukan itu lagi."
Ia mengambil kotak P3K dari laci bawah, pesan dari almarhum ibunya untuk selalu sedia. Ia mengoleskan obat ke dahi Liora dan menghembusnya pelan.
"Aku baik-baik saja, Ryan," ujar Liora lembut agar Ryan tak khawatir.
"Bagaimana dengan dahimu yang memar ini?"
"Pasti karena siku pencopet itu," ujar Liora sambil tersenyum.
"Kenapa kamu malah senyum? Ini nggak sakit?" tanya Ryan bingung.
"Rasanya nggak sakit karena tertutup rasa senang atas perhatianmu," jawab Liora sambil tersenyum ceria.
"Haha, kamu bisa saja, Ra," ujar Ryan sambil mengalihkan pandangan dan menyalakan mesin mobil.
Sesampainya di markas...
"Aku kagum sama kemampuan bela dirimu, Ra. Kamu gadis tangguh ternyata," ujar Ryan penuh semangat.
"Makanya kamu harus bangga punya teman sepertiku," ujar Liora percaya diri. Ryan mengacak rambutnya dan mereka pun tertawa bersama.
Mereka kembali belajar bersama. Ryan menggantikan peran guru les privat Liora dan membantunya memahami materi ujian.
Ujian semester ganjil pun dimulai. Liora mengerjakannya dengan mudah dan menjadi siswa yang paling cepat selesai.
Setelah ujian selama seminggu selesai, Liora kembali melaporkan misinya kepada ketua dewan. Tugasnya masih sama: tetap mengawasi Ryan. Tapi kali ini, ia bahagia karena masih bisa terus bersamanya.