Liora akhirnya mendapatkan hasil ujian semester ganjil yang memuaskan, seperti sebelumnya. Meskipun ini baru semester awal, nilainya tetap penting sebagai penentu untuk masa depan, terutama untuk kuliah nanti.
“Kamu mau kuliah di mana?” tanya Ryan sambil melihat lembaran hasil ujian di tangannya.
“Aku ingin kuliah di salah satu negara Eropa,” jawab Liora dengan penuh semangat, menatap pria di hadapannya.
“Kamu pasti bisa, Ra,” ujar Ryan menyemangatinya sambil mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
Liora tersenyum. Baru kali ini ada yang benar-benar mendengarkan keinginannya. Ia tahu bahwa Tessaron mungkin tidak akan setuju dengan rencananya, terlebih karena ia pernah berjanji untuk tetap bersama mereka bahkan setelah lulus nanti. Namun, sejak bersama Ryan, Liora mulai memikirkan kehidupan yang lebih normal—hidup tanpa harus berurusan dengan urusan negara atau organisasi rahasia.
“Kalau kamu kuliah di luar negeri, aku akan ikut denganmu,” ucap Ryan tiba-tiba, menatap lembut ke arahnya.
“Kamu yakin? Bagaimana dengan perusahaan-perusahaanmu?” tanya Liora.
“Aku bisa delegasikan. Lagi pula, aku memang belum sempat kuliah. Setelah lulus sekolah, aku langsung diminta mengurus perusahaan. Jadi, ini saatnya,” jawab Ryan tenang.
“Kalau begitu, kita kuliah di tempat yang sama ya!” seru Liora antusias. Ryan pun mengangguk dengan semangat yang sama.
Namun, tiba-tiba ekspresi Ryan berubah menjadi lebih serius. “Ra, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Tapi janji dulu... jangan marah atau menjauh ya.”
Liora mengangguk penasaran.
“Menikahlah denganku setelah lulus nanti, supaya kita bisa terus bersama—ke mana pun dan di mana pun,” ucap Ryan dengan gugup. Wajahnya memerah.
“Ryan... kamu yakin ingin bersamaku seumur hidup?” tanya Liora polos.
“Kenapa tidak? Aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu,” jawabnya tulus.
Liora pun mengangguk perlahan. Dengan senyum yang merekah, ia langsung memeluk Ryan erat-erat. Ryan yang terkejut, akhirnya membalas pelukan itu dengan hangat.
“Ryan... aku juga sebenarnya mencintaimu,” bisik Liora malu-malu saat melepaskan pelukan itu.
Ryan gemas melihat wajahnya yang menunduk. “Jangan menunduk, sayang,” ucapnya lembut, membuat Liora makin malu.
“Ryan!” seru gadis itu dengan pipi memerah.
“Haha, iya, iya, aku cuma bercanda,” ucap Ryan sambil tertawa, lalu menarik Liora ke pangkuannya.
Beberapa detik kemudian, wajah mereka mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.
“Ra, kamu suka makan tomat? Soalnya wajahmu merah banget seperti tomat,” godanya dengan tawa pelan.
Liora yang mendengar itu semakin tak tahan. Ia langsung memajukan wajahnya dan mengecup bibir Ryan. Namun, ciuman itu kaku. Liora tak tahu harus berbuat apa.
Ryan tertawa pelan dan membiarkan ciuman itu terlepas.
“Ryan, kamu menyebalkan!” ucap gadis itu kesal dan hendak berdiri.
Tiba-tiba, Ryan menariknya kembali dan menciumnya—kali ini lebih dalam dan hangat. Liora membalasnya dengan ragu tapi penuh rasa, kedua tangannya melingkar di bahu Ryan. Tapi tak lama kemudian, Ryan menghentikan ciuman itu.
Wajah pria itu terlihat frustrasi.
“Ryan, kamu kenapa? Apa aku salah?” tanya Liora polos.
Ryan terdiam, mencoba menahan dirinya. Ia kemudian mengangkat Liora turun dari pangkuannya.
“Tidak kok. Tapi... kamu pulang dulu ya. Ini sudah malam,” katanya sambil menarik tangan Liora.
Namun, Liora justru menarik tangannya kembali dan menyilangkan di d**a.
“Kamu mengusirku?” tanyanya kesal.
“Bukan begitu, Ra. Aku harus ke rumah sakit... ibuku, ada berkas yang harus aku urus,” jawab Ryan—kebohongan kecil yang ia ucapkan agar gadis itu tidak bertanya lebih jauh.
Liora menghela napas panjang. “Baiklah... aku pulang.”
Ryan mengantar Liora sampai ia mendapatkan taksi. Seperti biasa, Liora menolak untuk diantar lebih jauh karena alasan pribadi yang sudah pernah ia sampaikan.
Sesampainya di rumah, Liora langsung merebahkan diri di kasur. Matanya menatap langit-langit.
“Apakah mereka akan marah kalau aku keluar dari Tessaron?” gumamnya.
Ia tak tahu apa rencana orang tuanya untuk masa depannya. Tapi selama ini mereka selalu menyetujui keputusannya—atau mungkin, tak peduli? Yang jelas, kali ini ia memilih untuk mengikuti kata hatinya.
‘Bagaimana dengan menikah dengan Ryan? Apa mereka akan setuju juga?’ pikirnya.
Tapi Liora yakin, orang tuanya pasti akan menyetujui pria seperti Ryan. Ia memiliki segalanya—cinta, kesetiaan, dan masa depan yang mapan.
Dengan pikiran itu, Liora pun tertidur, masih dengan senyuman kecil di wajahnya.