Enchoes of Tessaron

785 Kata
Selama sembilan bulan terakhir, Liora berpisah dari anggota Tessaron. Sepanjang waktu itu, hanya sekali ia mendapat kabar—itu pun hanya beberapa menit, dan hanya dari David. Setelah itu, tidak ada komunikasi lagi di antara mereka. “Huft… apakah mereka sudah tidak menganggapku anggota Tessaron lagi?” gumam Liora pelan pada dirinya sendiri. Ia merebahkan tubuh di atas kasur dan melemparkan tasnya asal ke samping. Hari ini ia baru pulang sekolah setelah mengikuti les tambahan untuk siswa kelas tiga. Ia juga belum sempat berkunjung ke markas atau apartemen Ryan karena pria itu sedang sibuk mengurus perusahaan keluarganya. Tiba-tiba, ponsel di dalam tasnya berdering. Liora segera bangkit, membuka tas, dan mengambil ponselnya. Tertera nama sang Ketua Dewan di layar. Liora mengernyit bingung. Bukankah baru kemarin ia melaporkan misinya? Bukankah pria tua itu juga bilang akan ke luar negeri? Karena penasaran, ia segera menjawab. “Halo, Paman? Ada apa?” tanyanya sambil menempelkan ponsel ke telinga. “Hai, Liora.” Suara perempuan muda di ujung sana langsung membuat mata Liora membesar. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik. “Mia?! Kau kah itu?” tanyanya memastikan, kini terdengar antusias. Layar ponsel tiba-tiba meminta izin untuk beralih ke panggilan video. Tanpa pikir panjang, Liora menerimanya. “Hai, Liora!” sapa Nathan, kini terlihat duduk di samping Mia. Keduanya tersenyum hangat melihat Liora. “Kok bisa kalian pakai ponsel Ketua Dewan?” tanya Liora bingung, meski wajahnya memancarkan kebahagiaan. “Ponsel kami nggak aman lagi, jadi untuk sementara kami pakai ponsel Papa. Kebetulan ponsel ini ada di sini,” jelas Mia. “Oh… jadi Ketua Dewan sedang bersama kalian?” Liora mulai memahami. “Iya, tapi beliau lagi pergi rapat pemerintahan. Lagian, beliau punya banyak ponsel, jadi amanlah,” ujar Mia santai, tersenyum lebar. Nathan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Mia. Tak lama, David muncul di belakang mereka, membawa semangkuk mie di tangannya. “Liora! Apa kabar?” sapa David sambil mengunyah, kacamatanya bertengger santai di hidung. “Baik! Kalian gimana?” Liora membalas dengan senyum manis. “Ya… awalnya sih nggak baik, karena kamu nggak ada. Tapi karena sebulan lagi kita akan kembali, jadi aku senang!” ujar Mia semangat. “Sebulan lagi?” tanya Liora terkejut. “Iya. Kami udah menyelesaikan ujian akhir dan misi juga selesai. Kamu udah beresin penyebaran data penting itu, jadi semuanya clear,” jelas David sambil meletakkan mangkuknya ke meja. Liora mengangguk paham, tapi pertanyaan Nathan menyusul. “Bagaimana dengan misimu, Liora?” Gadis itu terdiam. “Oh iya, katanya Papa, kamu nggak nemuin bukti bahwa pria itu pelakunya, kan?” tanya Mia menebak. Liora menghela napas dalam. “Kamu benar. Dan aku yakin… ada kesalahpahaman dalam misi ini,” ucapnya penuh keyakinan. Selama hampir setahun ia mengenal Ryan, ia hanya melihat ketulusan dan kasih sayang. “Liora, jangan terlalu naif. Bagaimana kalau semua itu cuma pengalihan?” ujar Nathan tegas, kembali bersikap seperti pemimpin. “Entahlah, Nat. Mungkin aku yang tidak cukup baik menjalankan misi ini,” ucap Liora lesu. “Jangan sedih. Sebulan lagi kami kembali, kita cari tahu bareng-bareng,” David menyemangati. Liora tersenyum tipis. “Baiklah…” “Kamu udah dapat sertifikat kelulusan belum?” tanya Mia, kini serius. “Belum. Kata wali kelas, baru minggu depan. Kenapa, Mi?” “Kami bertiga mau daftar kuliah di universitas yang dulu pernah kita bahas, sambil tetap jalanin misi. Kamu juga harus ikut!” Mia bersikeras, bahkan membuat ekspresi memohon. Liora tertawa melihat tingkahnya. “Hahaha… Lihat nanti ya, Sis.” “Yaaah… kenapa?” keluh Mia lesu. “Kenapa, Mia?” tanya Liora lembut. “Ekspresimu tadi bilang ‘tidak’, Li…” David menimpali. Liora terdiam—hatinya tersentuh. Sahabat-sahabatnya benar-benar mengenalnya luar dalam. “Maaf ya… aku belum bisa memastikan,” ucapnya pelan. “Baiklah…” jawab Mia lesu. Nathan akhirnya angkat bicara, “Semoga kau berubah pikiran. Tapi kita harus segera mengakhiri panggilan ini sebelum ponsel ini juga kena virus.” “Baik. Jaga diri kalian. Aku akan menunggu,” ujar Liora, lalu panggilan pun berakhir. Gadis itu kembali merebahkan diri di kasur. “Apa yang harus kulakukan untuk masa depanku? Bertemu Ryan seakan membuka dunia baru yang selama ini tersembunyi dan sangat membuatku nyaman. Tapi, berbicara dengan Tessaron tadi mengingatkanku akan awal dari kehidupan yang memberiku arah setelah kecelakaan orang tua angkatku…” pikirnya dalam diam. Ia mulai memikirkan Ryan. Pria itu terlalu bersih dari segala tuduhan. Apakah informasi dalam misi itu palsu? Apakah Ryan hanya dijadikan kambing hitam? Ia terkejut sendiri karena tidak menyadari hal itu lebih awal. Tapi… siapa yang mencurigakan? Selama bersama Ryan, tidak ada orang jahat di sekitar. Mungkinkah bawahannya? Atau… musuh bisnis keluarganya? “Aku harus menanyakan ini pada Ryan,” tekad Liora dalam hati. Api semangat kembali membara dalam dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN