Keesokan harinya, seperti biasa, Liora datang ke apartemen Ryan yang sejak awal tahun terakhir SMA telah menjadi markas mereka berdua. "Hai, sayang," sapa Ryan dengan senyuman manis. "Ayolah, Ry. Aku lelah mengingatkanmu bahwa aku geli dipanggil seperti itu," ujar Liora malas, meskipun rona merah tetap menghiasi pipinya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Ryan tertawa gemas melihat reaksi gadis itu. "Baiklah. Kamu mau makan siang? Aku masak ayam bakar." "Hmm, baiklah. Pas banget, aku juga lapar sekali karena nggak selera sarapan di rumah," ujar Liora sambil duduk di sofa. Ryan terkejut. "Jadi kamu nggak sarapan?" Liora hanya mengangguk lemah. "Liora, kalau kamu nggak selera makan di rumah, datanglah ke sini. Jangan biarkan perutmu kosong," ujar Ryan tegas, menunjukkan kekhawat

