La Vie tersenyum dengan wajah yang memucat. Meski mengetahui maksud Aileen Aldari ia pura-pura tak tahu demi menutupi kejahatan yang telah ia lakukan. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" "Jika kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya, aku tidak bisa membantumu. Kau harus mengatakan yang sebenarnya padaku" "Kau bekerja untuk istana, untuk apa aku percaya padamu" Mendengar jawaban sinis itu Aileen Aldari menyerah. Gontai ia melepas kedua tangannya disertai seringai samar di ujung bibirnya yang tipis. "Jika itu yang kau pikirkan" Derap sepatu merobek sunyi menjelang tengah malam yang pekat dan kantuk. Aileen Aldari berbalik pergi, meniti tangga batu pucat kembali ke rumah. Suara kunci berderak samar. Ia berdiri di ambang pintu setengah terbuka masih dengan rasa ragu yang mengganggu dan

