Aileen Aldari berdiri di ambang jendela menyaksikan pemandangan kota dari balik tirai venetian blind yang ia singkap beberapa inci. Pemandangan pagi itu hanya pemandangan biasa tapi suram. Langit mendung dan gelap, area sekitar markas militer sunyi, karena area itu bukan area publik. Hanya nampak sesekali pemandangan mobil kerajaan lalu lalang Aileen Aldari terus diam meski kepalanya tak setenang wajahnya. Ia terus terngiang ucapan Nyonya Souza kemarin malam dan sibuk berdebat apakah wanita itu benar atau salah? Kenyataannya tidak peduli berapa kali pun ia berdebat dengan dirinya sendiri, ia tetap yakin sama sekali tak mirip dengan ayahnya dan tak mau menjadi dia. Bunyi pintu berderit. Kemal masuk memberi hormat. "Selamat pagi Jenderal" Aileen Aldari berpaling. Ia baru ingat menyur

