Tujuh Tiga

1857 Kata

Aileen Aldari datang lebih terlambat dari biasanya namun di sepanjang langkah yang ia ambil senyum tak lekang dari wajahnya. Ia menyapa para anak buahnya yang tampak sibuk di divisi mereka masing-masing hingga membuat semua orang tertegun. Apa kiranya yang bisa membuat suasana hati jenderal pemarah itu berubah demikian drastisnya hingga ia mau menunjukan senyum yang demikian langka? Pertanyaan itu pula yang bertambat di hati Kemal: ajudan setianya. Ia bangkit berdiri dengan tangan menempel kening memberi hormat. "Selamat pagi jenderal" Aileen Aldari mengangguk ke arahnya dengan sedikit senyum. "Pagi" "Ada tamu di ruangan Anda" "Siapa?" Raut muka Aileen Aldari sejenak heran. Bertanya-tanya siapa tamu yang datang sepagi itu di luar jadwal tanpa pemberitahuan. "Salah seorang dari penga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN