Aileen Aldari menutup pintu mobil. Hujan yang turun menyerupai tumpahan air dari langit. Deras dan keras mengenai tanah yang mulai membentuk kubangan besar setinggi mata kaki, hingga ban mobilnya tenggelam ke dalam lumpur coklat. Di tengah gelap mencekam itu ia hanya mengandalkan pencahayaan dari lampu mobil dan senter besar yang ia tenteng. Tertunduk sejenak, ia melihat ban mobilnya merosot dua sentimeter ke dalam tanah. Ia tak punya waktu mengurusnya karena hendak bergegas menuju makam. Ia putuskan meninggalkan mobil itu sejenak di sana sementara ia melesat menembus tinggi dedaunan ilalang yang mengitari tempat tersebut, tenggelam dalam rimbun warna abu-abu pucat. Ranting pohon dedalu yang terkena tiupan angin keras menari hebat menimbulkan bunyi keras seperti langkah kaki yang mende

