Saat semua orang sedang panik, La Vie hanya diam termenung sembari mengepalkan tinju di sisi tubuhnya tak berani membayangkan apa yang dialami Rhine saat ini. Meski ia berusaha seolah tak terjadi apapun. Jauh dalam lubuk hatinya tetap memendam sedikit rasa bersalah. Dan jika benar, perempuan muda itu meninggal karena bunuh diri, ia merasa telah jadi pembunuh tak langsung. Meski bukan hal tersebut yang diharapkannya terjadi. "Nona! Nona!" Esme memanggil La Vie berulang kali, namun ia seolah tak mendengar. Ia lalu menepuk pundaknya hingga membangunkan gadis itu dari lamunan. "Anda tidak apa-apa?" La Vie mengangguk. Raut mukanya tampak pucat. Ia meraih bunga yang ditenteng Esme lalu memintanya melakukan hal lain. Yang menurutnya mungkin juga diinginkan gadis itu saat ini. "Bagaimana kalau

