Enam

1828 Kata
Kepala belakang Aileen Aldari serasa baru saja dihantam batu. Matanya mengerjap perlahan menatap sekujur penjuru ruangan yang begitu asing, lalu teringat sepintas kejadian semalam. Ia harusnya masih berada di Pub Osbourne untuk menangkap Evan dan Anello Spina, tapi mengapa ia di sana jadi misteri yang mengherankan. Ia berusaha mengangkat tubuhnya yang terasa berat seolah tertindih. Mata amber kelamnya menurunkan pandangan lalu menemukan sesosok perempuan berambut hitam membaringkan kepala di atas perutnya. Aileen Aldari heran bukan main. Ia tak tahu bagaimana bisa berakhir di kamar hotel dengan perempuan asing. Ia menarik pundak perempuan itu menjauh. Ketika dilihatnya wajah gadis itu yang tak lain adalah La Vie, ia mengernyit kening menahan gelak tawa aneh, bingung dan kesal. Ia terus bertanya bagaimana perempuan itu bisa seranjang dengannya. "Kau sudah bangun?" ujar La Vie dengan muka pucat khas bangun tidur disertai senyum manis menggoda yang membuat Aileen Aldari merinding. "Apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kita di sini?" La Vie meraih buku jemari tangan Aileen Aldari lalu mengecupnya. Ia menatap lelaki itu lekat. Meski ia berusaha tampak gembira pria itu sebaliknya. Ia jelas tampak sebal. "Kau pasti lupa apa yang terjadi. Semalam kau sangat luar biasa" Aileen Aldari yang kesal mendengar ocehan La Vie segera menyambar lehernya lalu menindih tubuhnya dengan sorot matanya yang kejam tampak ingin membunuh. "Apa kau kira aku bodoh? Kau pasti melakukan sesuatu padaku semalam" ia memekik dengan nada tinggi sementara La Vie hanya menimpali aksi kasarnya dengan tawa menyinggung. "Kau menyalahkanku atas tindakanmu? Aku merasa sedih mendengarnya" Mata amber Aileen Aldari memicing kejam dan dengki. Ia dikuasai murka luar biasa hingga kehilangan akal sehat, menekan leher La Vie dengan keras sampai pernapasan gadis itu mulai sempit dan sesak membuat wajahnya perlahan merah. La Vie tak berontak. Ia menatap mata Aileen Aldari dengan kepasrahan luar biasa untuk mati di tangannya, yang membuat hati pria itu bergetar dan melelehkan segala kemarahannya. Ia melepas cengkeramannya, berpaling memungut pakaiannya lalu masuk kamar mandi, meluapkan kekesalan dan kemarahan di sana. Sementara La Vie melungguh di sisi tempat tidur memegang lehernya dengan suara batuk keras karena cekikan yang nyaris membunuhnya. Anehnya meski nyaris mati di tangan Aileen Aldari ia sama sekali tak membenci pria itu, sebaliknya makin menyukainya. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya secepat mungkin agar tak berpapasan dengan pria pemarah itu. Situasi mungkin akan memburuk jika mereka bertemu saat ini dan bukan itu yang diharapkan La Vie. Sebelum pergi, mendadak ia teringat benda semalam yang menempel telinga lelaki itu. Ia mengambil dan menyembunyikannya untuk dipakai nanti demi tujuan tersembunyi yang ia rencanakan sebatas demi kesenangan sendiri. ** La Vie tiba di istana pukul 9 pagi. Macet di pusat kota membuatnya harus betah dalam taksi selama hampir dua jam sembari menahan lapar karena semalam tak makan, selain mengisi perut dengan dua teguk alkohol keras. Jalanan yang berisik dan taksi yang panas jadi perpaduan sempurna untuk menghancurkan perasaan hatinya yang lebih dulu sudah diremukkan sikap kasar Aileen Aldari yang mengganggu, meski tak berhasil menghilangkan rasa tertariknya. Taksi menurunkan La Vie di depan gerbang. Penjaga gerbang melarang kendaraan umum masuk halaman istana tanpa izin, memaksanya menyelesaikan sisa perjalan sambil berjalan kaki. Dari jauh ia melihat iringan mobil Victor Leopold yang sedang bersiap meluncur pergi dari istana. La Vie melangkah santai menaiki undukan tangga. Tanpa sengaja ia berpapasan Victor Leopold yang tengah mengobrol dengan Aileen Aldari di beranda istana dengan pengamanan super ketat para tentara berjumlah 10 orang membawa senjata tersemat di pinggang mereka. La Vie terkejut pria itu sampai lebih dulu padanya sementara ia menghabiskan waktu lama di jalan. Ia menebak pria itu mendapat perlakuan khusus mengingat ia merupakan jenderal besar Flander-Belgium. Victor Leopold yang melihat kemunculan La Vie dengan pakaian yang terlalu mewah untuk sekedar jalan-jalan pagi tampak heran dan menegurnya. Ia curiga gadis keluyuran dan tak pulang semalam ke istana. Tapi ke mana ia pergi dan dengan siapa menghabiskan waktu jauh lebih membuat penasaran. "Kau baru pulang?" La Vie berpaling pada pria itu. Namun, Aileen Aldari bahkan tak mau menengok padanya. Dia tampak lebih dingin dan lebih keras dari sebelumnya. "Aku pergi minum sampai mabuk dan menginap di hotel" Bibir tipis Victor Leopold melengkung turun, acuh dan tak senang di saat yang sama. Tapi ia tak bertanya lagi dan membiarkan La Vie pergi dari sana menyisakan kedua pria itu kembali dalam obrolan mereka. "Jadi baik Spina dan Ernest tidak muncul semalam?" Aileen Aldari mengangguk. Wajahnya yang biasa tegang dan kaku kini terlihat tak bersemangat, seolah ada yang menganggu pikirnya kala itu. "Sersan Kemal Levi sudah melaporkan lebih dulu. Aku terkejut ini pertama kalinya kau terlambat melaporkan sesuatu. Apa terjadi sesuatu?" Aileen Aldari memicing mata dengan wajah sesal, "Aku minta maaf. Ini tidak akan terjadi lagi Yang Mulia" Victor Leopold tersenyum lebar. Ia menepuk pundak Aileen Aldari beberapa kali untuk menghibur lalu mendekatkan diri ke telinganya sambil berbisik. "Kau tidak perlu terlalu khawatir, tidak banyak yang tahu kalau malam itu kau pergi dengan seorang wanita. Tapi aku sarankan padamu, jangan melakukan hal itu selama bekerja. Itu sangat tidak profesional" Muka Aileen Aldari pucat seolah baru saja tersambar petir. Ia tak tahu bagaimana kabar itu sampai pada Victor Leopold. Namun, baginya, jika pangeran mahkota saja mengetahuinya, ada kemungkinan berita itu akan tersebar makin luas dan merusak kredibilitasnya. Ia menatap lelaki itu dengan wajah melongo yang luar biasa kaku dan heran. "Dari mana Yang Mulia tau?" "Sersan Kemal yang memberitahuku. Dia bilang mendengar suara wanita dari alat komunikasi yang kau kenakan semalam" Jhon Pato mendekati mereka lalu membungkuk sopan, "Mobil Yang Mulia telah siap" Sebelum beranjak jauh dari sana Victor Leopold sekali lagi berusaha menunjukkan dukungannya. Ia menepuk pundak Aileen Aldari yang seperti patung tak berkutik. Setelah iringan mobil kerajaan menghilang, ia berbalik ke dalam dengan langkah tegas dan muka marah yang merah. Ia baru teringat tak mengenakan alat komunikasi itu ketika Victor Leopold menegurnya. Jika saja pria itu tak memberitahunya, ia bakal tak tahu kemana benda itu menghilang. Saat ini ia sangat yakin alat itu ada di tangan La Vie dan ia tak tahu mengapa gadis itu berani mengambil benda itu darinya. Ia bahkan berbicara dengan anggota timnya seolah berusaha menunjukkan diri jika ia sedang bersama seorang wanita. Apapun alasannya kini ia bersumpah tak akan membiarkan gadis itu bertindak lebih jauh. Setelah menyisir hampir setiap pintu kamar di lantai bawah yang menarik nyaris perhatian seluruh pelayan yang tak pernah melihatnya menggeledah istana dengan wajah marah -- ia berhenti di depan kamar berpintu coklat yang begitu terpencil dari ruangan lain. Ia mendorong dua pegangan pintu hingga membentur tembok dengan keras. Pandangannya menengok seluruh penjuru. Gaun merah tergeletak di atas ranjang membuatnya yakin memasuki kamar yang tepat. Aileen Aldari menggeledah seluruh ruangan dengan tergesa. Ia melempar bantal, selimut, dan kasur ke lantai bergiliran dengan satu kali lemparan keras yang tampak begitu mudah baginya yang bertubuh kekar berotot. Tak menemukan apapun di sana ia lanjut membongkar semua isi lemari,  pakaian tas dan sepatu semua berhamburan tak karuan memenuhi seluruh ruangan itu. Suara berisik yang sejak tadi mendentum mengganggu menarik perhatian La Vie yang tengah berendam. Ia pikir orang yang sedang menggeledah barangnya adalah Esme yang sedang mencari perhiasan baru. Merasa terlalu malas bangkit dari bathtub ia meninggikan suara sekeras mungkin dari kamar mandi. "Esme berhenti menggeledah pakaianku. Tidak ada perhiasan di sana" Mendengar suara La Vie membuat perhatian pria itu beralih. Ia membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tak terkunci dan menemukan perempuan itu tengah mandi busa menutup separuh tubuhnya dengan santai seolah tak memedulikan kesalahan yang ia buat. La Vie berbalik. Ia terkejut melihat muka Aileen Aldari di ruangannya, terlebih raut mukanya yang tampak ingin membunuh siapa saja di hadapannya membuat ia heran tapi tak mau terlalu perduli. "Apa kau begitu merindukanku padahal kita baru saja bertemu beberapa menit... Atau, apa kau masih ingin bercinta denganku jenderal?" Godaan La Vie membuat Aileen Aldari makin naik pitam. Ia mendekati La Vie menarik tubuhnya dan menekan pundaknya demikian keras membuatnya mendesis kesakitan. "Kau sengaja melakukannya 'kan? Sekarang di mana kau menaruh benda itu?" La Vie menyeringai tipis. Wajahnya puas begitu senang melihat kemarahan Aileen Aldari hingga keubun-ubun. "Alat apa maksudmu?" Mata pria itu memincing. Warna matanya tampak seperti terbakar, "Kau masih ingin pura-pura tidak tahu?" Bibir penuh La Vie berdecak menyungging senyum yang membentuk lesung pipinya yang indah. "Kurasa kita bisa menyamakan persepsi. Jika kau ingin menemukan apa yang kau cari, aku akan menunjukkannya padamu kalau kau mau tidur denganku?" Aileen Aldari menghempas kasar tubuh gadis itu dengan tatapan sinis, "Ah, rupanya kau hanya seorang p*****r yang sedang ingin bermain-main" Muka La Vie merah, tatapannya tajam, "Aku tidak tertarik mendengar pendapat dari pria yang jauh lebih murahan dariku. Jika kau berada di sini lebih lama kau hanya akan membuatku merasa malu. Semua orang dalam istana akan membicarakan tingkahmu yang memalukan. Esme masuk membawa tumpukan handuk baru untuk mengisi lemari. Melihat semua barang berserakan di lantai ia pikir baru saja pencuri masuk. Ia buru-buru mengecek keadaan La Vie dan terkejut melihat Jenderal Aileen Aldari sedang berdiri di samping bathtub gadis itu. Ia berharap tak percaya apa yang ia lihat dan menggosok matanya dengan keras berulang kali, tapi melihat tubuh pria itu tak goyah, ia yakin tak sedang mimpi. Aileen Aldari keluar dari ruangan itu tanpa rasa bersalah. Esme buru-buru berlari menghampiri La Vie untuk mengerahui apa yang sesungguhnya terjadi. "Kenapa Jenderal Aileen ada di sini?" La Vie memutar matanya tak peduli, "Entahlah, dia itu pria gila" ** Josephine mencabut rumput liar yang memenuhi sebuah nisan abu-abu di sebuah pemakaman di pinggir kota yang terpencil dan kotor. Pemakaman itu begitu buruk dan jelek, nyaris seperti tempat pembuangan sampah yang berbau menyengat dipenuhi gelandangan, tapi Josephine seolah tak terpengaruh. Ia menatap makam itu penuh cinta, lalu menyentuh nisan berukir nama Valentine Alexander penuh penghayatan, sejalan mata coklatnya yang indah mulai tampak menunjukkan bening air mata tertahan. Dengan nada bergetar karena kesedihan ia berusaha bicara. "Ini sudah lama sekali. Aku mengunjungimu terakhir kali 5 tahun yang lalu. Keadaan terlalu sulit saat itu, tapi kupikir sekarang akan lebih mudah. Aku bisa mengunjungimu lebih sering mulai sekarang. Tidakkah kau senang mendengar itu?" Josephine meletakkan mawar merah di atas rumput makam yang kering. Ia menghela napas dangkal, sesak menderanya sementara matanya terasa terbakar oleh air mata sendiri. Josephine hanyut dalam dunianya sendiri dalam sebuah pemakaman asing untuk orang-orang tak dikenal. Menyadari waktu yang sudah ia habiskan di sana cukup lama dan merasa takut kalau-kalau wartawan memergoki mereka. Wanita tua yang tak lain pelayannya mendekat lalu menepuk pundaknya lembut. "Yang Mulia ratu sudah saatnya kembali" Wanita itu berdiri perlahan setengah terpaksa dengan wajah tertunduk lesu seolah belum rela meninggalkan tempat itu. Ia menyeka air matanya kemudian mengenakan kacamata hitam agar tak ada yang sempat melihat ia barusan saja menangis. "Aku tidak pernah bisa menghentikan tangisku bahkan setelah 26 tahun. Kau tau kan Aida?" ucapnya dengan nada bergetar. Wanita tua itu menunduk dalam seolah mengerti dan memahami. "Tentu Yang Mulia" Josephine berbalik hendak menuju mobilnya yang terparkir di jalan raya lengang yang berjarak tak begitu jauh, hanya 20 langkah dari tempatnya semula. Seorang pelayan wanita berusia 20 tahunan buru-buru memayungi kepalanya agar tak terkena pecahan sinar matahari pucat. Langkah Josephine terhenti menginjaki rumput liar kering di ujung sepatunya. Ia sudah membuka setengah pintu mobil hendak masuk ke dalam ketika tiba-tiba Pelayan Aida berbisik lembut di telinganya. "Ada yang ingin saya katakan tentang penghuni baru itu" "Apa yang dilakukannya?" "Pelayan mengatakan kalau dia habis mengunjungi Pub Osbourne dan pulang pagi tadi" Josephine menatap kejauhan tanpa rasa ragu terbersit sedikitpun. "Aku akan segera menyingkirkannya. Victor Leopold terlalu lemah"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN