Josephine membuka pintu ruang kerja Victor Leopold tiba-tiba tanpa mengetuk. Kebiasaan buruk ibunya seringkali membuat ia malas karena merasa tak dihargai. Namun melakukan protes padanya adalah hal paling sia-sia untuk dilakukan maka ia memilih diam.
Ia mengelus dahinya, berusaha hanya memusatkan pikiran pada dokumen di tangannya meski di saat yang sama tatapan nyalang Josephine membuatnya bergidik. Ia yakin dengan jelas kehadiran ibunya di sana pasti untuk melakukan tuntutan tertentu dengan cara memaksa dan semena-mena, karena merasa berkuasa. Sementara Victor Leopold dipaksa patuh.
"Apa kau tidak bisa menatapku sebentar?"
Victor Leopold mengangkat arah pandang mata coklatnya pada wanita yang masih mengenakan gaun tidur satin coklat di hadapannya. Ia berupaya bersikap seolah mengkhawatirkan kemarahan ibunya, meski sebenarnya sama sekali tak peduli.
Sikap Josephine yang kadang berusaha mengendalikan Victor Leopold membuatnya tak senang.
"Apa yang membuat Ratu marah?"
Ia bertanya tanpa antusias yang menyinggung Josephine. Victor Leopold bersikap seolah tak terjadi apapun pada mereka, membuatnya tak habis pikir, mengapa putranya begitu acuh tak acuh pada keadaan saat ini.
"Kau bisa duduk di sini dengan tenang? Kau tidak melihat perempuan ular itu di sini mencoba mengacaukan keluarga kita?" ia menekankan dengan nada bergetar menggambarkan betapa muntab dirinya saat ini.
Victor Leopold menegakkan kaki, mendekati ibunya, berusaha menenangkan.
"Bisakah ibu mengabaikannya saja?"
Josephine menatap kaku, "Sudah kukatakan jangan panggil aku Ibu, tapi Yang Mulia"
Victor Leopold mengangguk masam dan kecewa. Sejak kecil ia dilarang memanggil Josephine Ibu karena harus patuh pada aturan formal istana, di mana anggot keluarga akan memanggil berdasar kedudukan dalam istana. Ia membandingkan diri dengan Rhine yang menurutnya jauh lebih beruntung. Dia disayangi baik oleh ibu dan ayahnya. Tidak sepertinya dididik keras bahkan cenderung diabaikan.
Victor Leopold berpaling membelakangi ibunya. Ia jelas kesal mengingat cara dia diperlakukan selama ini.
"Kau tidak mematuhi ucapan Ibu?"
Lelaki itu kembali duduk menarik dokumennya, tak punya minat melanjutkan obrolan.
"Aku tidak bisa mengusirnya pergi. Dia mengancam akan membocorkan siapa dirinya, jadi aku tidak punya pilihan selain membawanya ke istana"
Josephine berdecak tak puas dengan jawaban yang ia dengar, "Aku membesarkanmu untuk lebih berguna dibandingkan ini"
Ia meninggalkan tempat itu dengan ucapan menohok yang membuat Victor Leopold tak bisa menahan kesal dan melampiaskan dengan melempar semua barang di meja.
Ucapan Josephine jelas menyiratkan ia hanya lahir dan di besarkan sebagai alat untuk ibu dan penerus yang tak diakui ayahnya. Kehidupan yang seperti neraka itu menyesakkan, tapi sekaligus ia butuhkan.
**
La Vie turun dari taksi menenteng tas tangan hitam yang kontras dengan sheath dress merah ketat tak berlengan yang membalut tubuhnya dengan ketat.
Ia meniti langkah di atas trotoar dalam gelap malam sunyi mendekati pub bernama Osbourne. Pub di ujung jalan yang jauh dari keramaian jadi tempat pilihan La Vie menghabiskan waktu setelah mendapat rekomendasi Esme tentang tempat terbaik penuh alkohol yang jauh dari perhatian.
Ia memasuki pub berlantai dua bergaya rumah pertanian tradisional yang dibangun dari kayu aok, dengan 30 meja berbentuk bundar yang diisi hampir 50-an pengunjung yang tengah menikmati aneka jenis alkohol, dari yang ringan hingga yang paling berat memabukkan.
Sepatu high heels merahnya mencari tempat yang jauh dari kerumunan pria. Kursi tinggi di meja bartender segera menarik perhatiannya.
"Aku pesan wiski Bourbon" ucapnya pada bartender muda yang sepertinya masih di usia awal 20 tahunan.
Mata hijau terangnya yang indah seolah memancarkan cahaya kehidupan mengedar ke seluruh penjuru. Alunan dentang piano lembut menciptakan suasana yang lebih santai. Hal yang ia butuhkan saat ini.
La Vie perlu sedikit waktu senggang jauh dari hiruk pikuk istana yang tidak hanya menegangkan, tapi penuh tekanan.
Bartender menyodori minuman pesanannya dan semangkuk kacang. Ia meneguknya cepat. Rasa alkohol yang kuat membuat ia mengernyit kening, lalu memakan kacang untuk menetralisir rasa yang menempel di lidahnya.
Saat masih berusaha mencerna rasa minuman itu, ia menengok menyadari gelas berisi jus jeruk yang membuatnya tak bisa menahan tawa. Ia tak pernah menduga di tempat minum seperti itu mendapati seseorang memesan jus jeruk seperti anak-anak. Sesuatu yang menggelikan.
"Kau ada masalah?"
Tawanya terhenti ketika pria yang lama memunggunginya berbalik. Pria berambut coklat kemerahan di sisinya membalut tubuh kekarnya dengan kaos rajut hitam berkerah tinggi yang membuat tampilannya jauh berbeda, tak sekaku ketika mengenakan seragam militer.
"Aku hanya terkejut. Kau pergi ke pub untuk minum jus jeruk adalah hal menggelikan"
La Vie kembali tertawa membuat pandangan pria itu menyempit disertai tatapan tajam yang keras dan galak.
"Setiap orang bisa pergi ke mana saja dan memesan apa saja yang mereka sukai selama tidak merugikan orang lain. Sepertinya kau tidak tau soal itu"
La Vie berpaling, menyampirkan rambut gelapnya ke sisi lehernya hingga menampakkan pundak dan tulang selangka indahnya.
"Aku tahu kau bebas memesan apa saja yang kau suka. Tapi ini seperti... Kau pergi ke sebuah restoran mahal tapi hanya memesan kentang goreng. Bukankah itu aneh?"
Aileen Aldari tak memerhatikan sepata kata apapun dari La Vie. Pandangannya mengedar di antara pengunjung mencari sesuatu dari kejauhan. Caranya mengamati terbilang sangat berhati-hati hingga tak disadari siapapun.
"Oh, ya... Apa yang kau lakukan di sini?" sambung gadis itu, namun pria di sampingnya seolah tak mendengar. "Hai... Aku bicara padamu?" ia meninggikan sedikit suaranya membuat mata amber dalam dan kelam itu berpaling sedikit terpaksa.
"Apa kau selalu punya kebiasaan ikut campur urusan orang lain?"
La Vie menyeringai. Cara lelaki itu menjawab begitu sinis menjengkelkan sejak pertama bertemu, membuat ia tak habis pikir ada manusia seperti dia hidup di dunia ini dan malah bertemu dengannya di tempat tak terduga.
Ia menghela napas berusaha menahan jengkel yang mulai menggelayuti hati dan pikirnya, "Apakah bertanya berarti ikut campur?"
Aileen Aldari enggan menjawab tanya gadis itu bahkan terkesan tak peduli. Ia berdiri lalu dengan langkah tergesa menuju toilet.
Saat itu mendadak muncul sebuah ide di kepala La Vie, sebuah percobaan kecil untuk membuat pria itu tak lagi seangkuh dan sesinis itu padanya.
Mata hijaunya melirik seluruh penjuru dengan hati-hati bak pencuri, lalu menuangkan wiski miliknya ke dalam minuman Aileen Aldari. Saat pria itu kembali La Vie pura-pura acuh. Ia juga tak lagi bertanya meski sesekali curi pandang menunggu kapan pria itu menelan setengah gelas jus jeruknya yang tersisa.
Aileen Aldari pura-pura mengeluarkan ponsel lalu melihat pantulan bayangan semua orang dari layar ponselnya yang gelap, berusaha mencari dan sesuatu yang sayangnya belum jua terlihat.
Wajahnya yang tadinya begitu serius penuh semangat perlahan mulai datar lalu tampak kecewa. Sepertinya apa yang ia tunggu malam ini tak di sini. Sekali lagi ia gagal dan harus memberitahu hasil sia-sia itu pada putra mahkota
Ia melirik jam di tangannya sudah pukul 12 malam. Setengah jam lagi pub akan tutup tapi tak muncul lagi tamu baru. Mereka hanya pelanggan yang datang setengah jam lalu menikmati minuman alkohol sambil bercengkrama.
Ia memegang telinganya. Kedua alisnya tertarik ke bawah dengan mulut mengatup kencang seolah ada kemarahan dan kekecewaan tertahan.
Segera setelah menurunkan tangannya ke meja kayu coklat melingkar di depannya, wajahnya yang kaku mulai menunjukkan ekspresi biasa kembali. Ia meraih gelas jusnya lalu menenggaknya habis.
Melihat jangkung itu menelan semua minumannya La Vie terkejut bukan main. Ia pikir pria itu takkan menyentuh minumannya lagi, tapi sepertinya pria satu itu bukan tipe yang suka membuang sesuatu.
Ketika Aileen Aldari yang gagah berdiri, pandangannya berputar hingga hampir jatuh, membuat La Vie berlari secepat kilat menghampiri tubuh oleng pria itu. Ia benar-benar tak menduga Aileen Aldari adalah peminum payah. Ia bahkan tak sampai memasukkan dua teguk wiski bourbon-nya tapi ia sudah nampak begitu kepayahan.
"Kau tidak apa-apa?" ia melirik wajah keras pria dingin itu. Pandangannya hanya tertuju ke lantai sambil sesekali mengerjapkan mata berusaha memperjelas pandangannya yang berat dan buram.
"Aku tidak tau kepalaku pusing"
"Kau ingat di mana rumahmu? Aku bisa mengantarmu pulang?"
Aileen Aldari tak menjawab. Ia mendadak roboh ke lantai membuat La Vie kebingungan. Untung saja para pelayan dan penjaga pub sigap menolong dan memesankan taksi mengantar mereka pulang.
Karena pria itu belum sempat menjawab pertanyaan La Vie tentang tempat tinggalnya, ia memutuskan membawanya ke sebuah hotel di pusat kota. Ia berencana melanjutkan ide gila yang mendadak muncul di kepalanya di sana malam ini.
Tubuhnya yang besar, tinggi berotot membuat La Vie dan supir taksi yang membawa mereka kesulitan memapahnya, hingga harus dibantu dua orang staf hotel lainnya sementara La Vie memesan kamar.
Setibanya di depan pintu kamar yang ia pesan. La Vie memberi tip cukup tinggi pada tiga orang yang membantunya. Segera setelah mereka pergi ia menghampiri tubuh tak berdaya Aileen Aldari. Ia sedang mabuk tapi mirip orang tidur membuat ia tertawa.
La Vie duduk di antara kedua paha Aileen Aldari lalu menindihnya. Ia menyentuh tubuh pria itu dengan senyum licik.
"Pria kejam sepertimu memang harus sedikit diberi pelajaran. Aku ingin melihat besok bagaimana wajah angkuhmu itu saat aku terbangun di dekatmu. Mulai malam ini kau akan jadi budakku"
Saat La Vie sedang menanggalkan pakaian Aileen Aldari satu persatu, ia mendengar suara berisik -- suara yang terus memanggil seolah berbisik tapi entah dari mana.
Ia mendekatkan telinganya menuju asal suara yang terdengar dari kepala Aileen Aldari. Lalu suara yang terdengar aneh itu makin jelas ketika ia menempelkan kepala ke telinga pria itu.
Ada sebuah alat berwarna merah menyala dalam telinganya. Ia mengeluarkan alat berbentuk spiral itu dan dari sana ia mendengar suara seorang pria memanggil dengan nada panik.
"Anda tidak apa-apa Jenderal? Anda pergi dengan siapa? Apakah misi ini selesai? Pub-nya sudah tutup tapi Ernest dan Anello tidak terlihat"
La Vie iseng menimpali. Ia butuh saksi untuk menunjukkan Aileen Aldari sedang bersama seseorang. Ia yakin bisa menciptakan gosip panas yang akan menyebar dengan cepat. La Vie tak sabar.
"Jenderal Aileen Aldari sedang tidak bisa diganggu. Akan kukatakan padanya setelah bangun"
"Siapa ini? Kau siapa?"
La Vie meletakkan alat kecil itu di bawah bantal agar suaranya tak menggangu. Ia melanjutkan melucuti pakaian jenderal muda itu.
Begitu selesai melepas seluruh pakaiannya, La Vie dibuat kagum, bukan hanya wajah Aileen Aldari yang membuatnya terpesona, tapi tubuhnya yang dipenuhi otot kekar dan kokoh begitu mengagumkan. Ia membayangkan tidur di atas perut pria itu, tapi mengingat sikap buruknya sebelum ini, perasaan kagumnya menguap dengan cepat.
Malam ini ia hanya berniat membuat candaan untuk pria itu meski di sisi lain ia juga merasa sedikit kecewa. Kalau saja Aileen Aldari memperlakukannya cukup baik, ia mungkin bisa membuang Victor Leopold dengan cepat. Toh, baginya ia hanya menggunakan pria itu untuk memuluskan langkahnya memasuki Flander-Belgium. Hubungan itu terlalu memuakkan untuk dilanjutkan tapi ia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri segalanya.