Empat

2907 Kata
"Anda baik-baik saja Putri?" Jenderal Aileen Aldari menatap wajah Rhine yang tampak letih penuh perhatian. Mata coklat mudanya merah meski tak bengkak karena tangis. Ia menunjukkan ketabahan yang begitu baik sejak berita pertama kematian ayahnya diumumkan padahal semua orang tau betapa dekat keduanya. Rhine selalu menemani Cos Valentine II sejak ia dirawat di rumah sakit karena sejumlah komplikasi yang tak tertolong bahkan dengan alat medis berteknologi paling canggih sekalipun. Gadis itu mengangguk dengan senyum kuncup mawar yang indah nan anggun. Ia melarikan perhatiannya pada pria itu, menatapnya lekat,  "Aku tidak melihat kakak meninggalkan pemakaman? Apa kau pergi ke suatu tempat?" Aileen Aldari memulas senyum mengerucut, "Kau tau aku selalu sibuk dengan banyak hal menyangkut pengamanan" Rheine meraih tangan pria itu tanpa canggung seolah menyentuhnya sudah jadi kebiasaan, dan Aileen Aldari sama sekali tak terganggu. "Maukah kakak makan malam di sini?" Pria tinggi itu menimbang permintaannya dengan aura ragu yang kental, sementara Rhine menunggu jawaban dengan antusias tertahan dan sorot mata yang memandang seolah memohon. Dan mungkin akan sulit ditolak meski saat itu sang pria tak sedang dalam waktu bebas tugas. "Tinggalah untuk makan malam bersama kami" Keduanya sontak berpaling pada Victor Leopold yang menghampiri mereka dengan senyum lebar seolah duka tak sampai padanya. Tak ada yang protes tingkahnya. Semua tahu ia tak pernah cukup dekat dengan Cos Valentine II. Ayahnya tak pernah menganggapnya cukup cakap memerintah. Hal yang membuat Victor Leopold jengkel sepanjang waktu merasa diremehkan. Ia selalu menilai ayahnya tak lebih seperti pria serakah yang gila perempuan dan berusaha melanggengkan kekuasaan untuk bisa menarik lebih banyak wanita. Melihat kemunculan Victor Leopold, Aileen Aldari memalingkan perhatian. Wajahnya begitu kaku dan serius mengingat alasan ia di sana. "Apa kita sudah bicara sekarang?" Victor Leopold mengangguk kemudian membawanya menuju ruang kerjanya di lantai dua. Ia tak membawa Aileen Aldari ke ruang kerja raja karena ia tahu belum saatnya. Jika melakukan hal itu saat ini bisa-bisa ia dicibir penghuni kerajaan dan dikatai anak tak tahu malu yang tak sabar merebut takhta. Meski itu semua benar, ia berusaha tampil dengan sikap sebaik dan sesempurna mungkin layaknya cara ayahnya bertindak dahulu hingga menerima banyak cinta dan rasa hormat dari rakyat dan bangsawan yang dibodohi dalam waktu lama. "Aku tidak tahu alasan pasti kenapa kau ingin aku menangkap Dokter Ernest Braun" buka lelaki berseragam militer itu dengan ragu dan penasaran ketika pintu menutup rapat dan suasana tenang sudah mereka dapat. Victor Leopold menengok. Ia berusaha tampil sesantai dan semeyakinkan mungkin untuk memulai perbincangan ini guna meyakinkan Aileen Aldari agar ia tak mencaritahu lebih jauh tentang buruannya kali ini. "Dia menjual informasi rahasia tentang kondisi raja pada para bangsawan selama menjabat sebagai kepala rumah sakit istana. Kau tau tindakan itu berbahaya 'kan?" "Sudah ada bukti?" "Buktinya akan kita ketahui saat dia tertangkap" Penjelasan Victor Leopold tak begitu meyakinkan. Tapi Aileen Aldari tak mau mendebat. Sudah tugasnya mematuhi perintah kepala negara. Dan jika ucapannya benar, ia baru akan tahu kebenaran ketika pria itu tertangkap. Ernest Braun sudah buron seminggu lalu karena mendadak hilang seolah ditelan bumi semenjak Raja Cos Valentine II koma lalu tak lama meninggal. Ia disalahkan karena dianggap tak kompeten sebagai dokter, sama sekali tak menunjukkan sikap tanggung jawab untuk menjelaskan semua pengobatan yang ia berikan. Tuduhan Victor Leopold jauh berbeda dari isu yang ia dengar dalam kalangan istana. "Jadi apa yang kau ketahui?" Victor Leopold duduk santai di atas meja sembari memperbaiki letak penanya yang berserakan. "Dokter Ernest sudah lama tidak menghubungi istri dan anaknya. Setidaknya sejak raja diberitakan masuk rumah sakit. Tapi baru-baru ini dia melakukan kontak dengan seorang mafia bernama Anello Spina yang biasa menjual tiket pada buronan seperti dia. Mereka membuat janji bertemu Sabtu malam di Bar Osbourne" Victor memutar tubuh kembali ke kursinya, ia puas akan kabar yang ia dengar tapi tak menampakkannya dengan jelas. "Kalau begitu apa kau sudah menyiapkan tim khusus untuk menangkapnya?" "Timku yang berjumlah 5 orang dan 5 lainnya dari Clandestin" Clandestin merupakan lembaga mata-mata rahasia Flander-Belgium yang tak banyak diketahui keberadaannya bahkan kadang kala dianggap mitos di tengah masyarakat. Hanya orang-orang tertentu dalam kerajaan yang tahu fakta tersembunyi mereka. Kemampuan hebat para Clandestin bisa disejajarkan dengan kelompok mata-mata seperti CIA, M16 atau pun Mossad. Bibir Victor Leopold memulas senyum dengan pandangan menerawang, "Begitu aku naik takhta, aku ingin kau juga menjabat sebagai kepala mata-mata Clandestin. Yah, walaupun tidak resmi dan bisa disebut pemimpin bayangan. Kurasa itu cocok dengan kepribadianmu" Aileen Aldari mengangkat alisnya spontan menyertai ucapan pangeran mahkota. "Kau akan membuatku terkesan makin suram" Victor Leopold tertawa nyaring sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. Ia tampak begitu bersemangat dan antusias. ** "Menurut ibu susuku nyonya Dawson yang sekarang entah di mana, aku diberi nama La Vie en Rose yang jika dilafal menjadi La Vi a Ros, oleh ibuku yang menyukai lagu klasik pasca perang dunia II yang dinyanyikan Edit Piaf. Dalam bahasa Prancis, La Vie En Rose berarti hidup dalam mawar atau rasa optimisme yang indah seolah dunia hanya terdiri dari warna merah muda. Memikirkan falsafahnya membuatku bergidik dengan perasaan ironi yang dalam. Aku tak pernah merasa hidup secerah itu. Aku malah selalu berpikir sejak lahir sudah dinaungi awan gelap kesedihan. Aku hidup dalam buangan sebagai anak haram raja hampir 23 tahun lamanya. Mereka merebut apa yang seharusnya kudapat. Seorang ibu, nama baik, dan hak untuk diakui. Mereka memperlakukanku hampir seperti tidak pernah ada di dunia. Aku terkejut manusia bisa bertindak sejalang itu. Kini aku kembali setelah penantian begitu lama. Bahkan harus mengorbankan tubuhku untuk laki-laki seperti Victor Leopold. Menyedihkan, tapi tak ada pilihan lain untuk diambil. Dia satu-satunya opsi yang tersedia dan kupikir bisa melindungiku selama aku pura-pura patuh dan mencintainya. Kadang aku merasa terlalu kotor sampai benci diriku, tapi aku yakin perasaan jijik ini akan hilang tepat ketik mataku melihat kehancuran Keluarga Kerajaan Hasburg yang akan dimulai langkah demi langkah sejak malam ini" La Vie memulas makeup pada wajahnya. Sambil berkaca di depan cermin ia memikirkan banyak hal, tapi hampir sebagian besar berkaitan keluarga Hasburgh. Malam ini ia berencana mengumumkan dirinya secara resmi pada semua orang di meja makan. Ia tahu pengumuman kecil itu hanya berpengaruh pada keluarga inti, Rhine dan wanita yang jadi istri Victor Leopold. Saat ini ia tak mempermasalahkan berapa banyak orang yang mesti tahu, karena saat ini belum berencana membongkar jati dirinya di depan khalayak. Ia memilih menyimpan rahasia itu sebagai gertakan untuk keluarga kerajaan kalau-kalau mereka berusaha bertindak keras padanya. La Vie melangkah kerepotan melewati koridor panjang istana sambil menyeret gaun berekor panjang yang ia kenakan ditemani Esme yang berusaha memegang gaunnya agar ia tak jatuh. La Vie sengaja menggunakan pakaian mencolok untuk merayakan hari pertamanya memasuki istana malam ini. Sebelum memasuki meja makan keluarga kerajaan yang berada di dekat aula, ia sempat curi dengar perbincangan hangat malam itu yang akan ia hancurkan demikian rupa. Ia memerhatikan deret kursi yang sudah diisi Victor Leopold di sisi kepala meja yang menunjukkan siapa kini pemimpin kerajaan, di samping kanannya ada Josephine, kemudian Rhine. Sementara di sisi kiri duduk seorang wanita berkulit pucat dengan rambut diikat di sisi lehernya sementara satu yang paling mencuri perhatiannya adalah Aileen Aldari yang tak ia sangka kehadirannya. "Sudah lama aku tidak melihatmu berkunjung Aileen. Kurasa jabatan sebagai Jenderal muda cukup menyibukkanmu" Aileen Aldari yang tak bisa menghilangkan kesan dingin dari wajahnya meskipun tersenyum berusaha menunjukkan sikap sedikit lebih terbuka. "Ada banyak tugas pengawasan yang harus saya lakukan" "Bagaimana kabar Ayahmu?" "Beliau baik-baik saja, tapi sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah peristirahatan di Udence" Josephine memegang tangan Rhine, kemudian menatapnya bergantian Aileen Aldari dengan sebuah harapan yang bisa ditebak ke mana akan bermuara. "Datanglah lebih sering, Rhine butuh seorang pembimbing yang bisa membantunya membiasakan diri dengan tugas kerajaan. Sekarang dia baru memulai langkah pertama dengan bergabung yayasan amal kerajaan. Dia perlu banyak belajar cara menjadi pemimpin muda yang dihormati dan dikagumi" Bibir Rhine memulas senyum malu-malu. Sesekali ia curi pandang pada Aileen yang membalas senyumnya. Mereka seolah berbagi pesan lewat tatap mata. Suara batuk tertahan terdengar dari sisi Victor Leopold. Ia menengok istrinya Madeline dengan muka khawatir. Penuh kasih ia menepuk pundaknya membuat gadis itu menengok dengan gembira karena perhatian kecil yang ia terima. Jauh sebelum Madeline menikah dengan Victor Leopold ia sempat merasa khawatir hidup pernikahan mereka jauh dari bahagia karena menikah berlandas politik, bukan cinta. Namun setelah menikah ia menyadari ketakutan itu cuma rasa khawatir tak perlu. Kenyataannya Victor Leopold memperlakukannya amat baik, lembut penuh perhatian hingga dengan mudah ia luluh dan jatuh kasih padanya. Hanya satu hal yang terus mengganggu wanita berbadan mungil, dengan mata biru sebening saphir itu. Ia belum memberi keturunan pada keluarga kerajaan yang membuatnya selalu dihantui ketakutan bahwa suatu hari Victor Leopold akan berpaling pada perempuan lain demi penerus. Di tengah bincang mereka yang penuh keriangan, sementara para pelayan mulai menyaji makanan, La Vie muncul di sana dengan sepatu meletup keras ke lantai marmer pucat. Ia memulas senyum tanpa menyapa siapapun kemudian duduk tepat di sebelah Aileen Aldari. "Makan malam yang sangat menyenangkan" Ia mengambil gelas wine yang tersaji untuk Aileen Aldari. Semua orang menatapnya dengan rona muka yang sulit digambarkan. Namun Josephine jelas menunjukkan kejengkelan luar biasa sementara Madeline yang baru kali pertama melihatnya kebingungan tak tahu siapa gadis itu. Namun ia sungkan bertanya karena semua orang tampak tak siap dengan pertanyaan demikian. Josephine menatap sinis, "Apa kau sungguh berpikir bisa duduk di meja ini?" "Kupikir kau merindukanku" La Vie memulas senyum polos yang dengan cepat menaikkan tensi kemarahan ratu setengah baya itu. Mata coklat Josephine melirik Victor Leopold yang tampak terkejut tak berdaya dengan situasi ini. Josephine mafhum tak mungkin gadis itu masuk dalam istana dengan sendirinya jika tak diundang, dan dia menduga di antara mereka hanya satu yang bisa menerimanya dan ia tak tahu demi alasan konyol apa. "Bagaimana bisa dia ada di sini? Kau mengijinkan dia masuk istana? Apa yang ada di kepalamu?" Josephine setengah memekik, tak mampu menahan muntab sementara Victor Leopold hanya bisa memaling dengan tatapan menyalahkan pada La Vie yang bahkan sama sekali tak melirik. "Kenapa aku tidak boleh berada di sini, bukankah aku juga anggota keluarga inti?" La Vie menenggak winenya tanpa beban. Sementara Josephine memberi aba-aba yang membuat semua pelayan yang tengah berdiri di belakang mereka untuk melayani, menghilang pergi. Pintu ditutup lalu suasana memanas yang tak menyenangkan itu mulai menajam. Semua orang tak nyaman, terutama Aileen Aldari yang bukan bagian keluarga kerajaan dan merasa tak pantas berada di sana untuk mendengar perbincangan itu. Tapi suasana tak nyaman yang melingkupi mereka sungguh membuatnya kesulitan mencari celah berpamitan. "Siapa yang membuatmu merasa begitu percaya diri menyebut dirimu keluarga inti?" La Vie berdiri mengangkat gelas kemudian mengedarkan pandang pada semua orang. "Sebagian dari kalian mungkin belum mengenal siapa aku. Jadi aku akan memperkenalkan diri, aku La Vie En Rose, putri Raja Cos Valentine II dari seorang b***k istana. Aku harap kalian menyambut kedatanganku dengan baik" Rhine dan Madeline beku dan pucat, mereka yang tampak paling terpukul. Victor Leopold dan Aileen Aldari menunjukkan wajah seolah mereka sudah tahu kebenaran tapi tak memilih banyak berkomentar. Josephine tertawa sinis dan merana seolah kotoran baru saja terlempar tepat ke wajahnya. Rahasia yang berusaha ia pendam rapat dalam keluarganya terbongkar hanya dalam semenit singkat. Ia merasa nyaris akan menampar wajah La Vie dengan keras, tapi pada akhirnya ia merasa terlalu angkuh untuk mengotori tangannya dengan menyentuh gadis setengah b***k itu. Ia melempar napkinnya ke atas piring lalu pergi dari sana. Rhine yang merasa bertanggung jawab menenangkan ibunya menyusul tanpa sepatah kata. Ia hanya menatap La Vie sepintas dengan anggapan buruk khas orang terkhianati oleh kebenaran yang selama ini ia genggam soal keluarganya. Sementara Victor Leopold yang merasa semua berantakan karena sikap La Vie yang selalu membangkang berdiri dengan muka masam. "Kuharap kau senang karena kekacauan yang kau buat" ia berjalan pergi dari sana dengan langkah kasar. Madeline berlari mengejarnya tanpa tahu apa yang sesungguhnya terjadi, karena ia bahkan tak tahu dari mana gadis misterius itu muncul mengacaukan segalanya tepat setelah kepergian mendiang raja sebelumnya. Di ruangan besar namun sunyi itu hanya menyisa La Vie dan Aileen Aldari. Wajah mereka tak terpengaruh kekacauan dan emosi orang lain. Mereka begitu tenang dan mungkin tampak mengerikan. La Vie menarik makanan dari meja yang tadinya di tempati Josephine. Ia memotong steak di atas piring itu lalu mengunyahnya dengan wajah yang tampak begitu terkesan dan menikmati. Aileen Aldari meraih topinya lalu berdiri tanpa menyentuh apapun. "Kau tidak mau makan?" Pria itu mengintip dari sudut dalam matanya pada La Vie yang acuh tak acuh pada keadaan. Tak ada yang ingin dikatakan pria itu. Ia merasa tak pantas meladeni orang-orang dengan tingkah menyebalkan yang lebih pantas diabaikan. Aileen Aldari meletupkan sepatunya dalam sunyi. Sikap dinginnya membuat La Vie memaki dalam hati. Tapi tetap tak mampu menghilangkan rasa penasaran terpendam dalam benaknya pada pria itu. "Kau menyukai Rhine? Dia gadis yang manis, anggun dan penurut... Banyak pria pasti setengah mati mengejarnya" Lelaki kekar dengan wajah muram dan bibir menutup kencang tak ramah yang menimbulkan kesan kejam dan galak tanpa perasaan itu hanya menghentikan langkahnya tanpa sudi menengok. "Akan lebih baik jika kau gunakan mulutmu untuk mengunyah saja!" Setelah melontarkan komentar sinis itu ia meninggalkan La Vie. Gadis itu memulas senyum begitu terkesan pada sikap kejam Aileen Aldari. ** Rhine dan Madeline duduk bersama di halaman belakang menikmati teh pagi yang dihidangkan pelayan. Mereka berdua sama-sama diam tapi pikirannya seolah menyatu. Kejadian semalam seperti pukulan keras tiba-tiba yang tak bisa dihindari. Suasana istana jadi tak tenang. Josephine terus menunjukkan kekesalan sepanjang waktu yang membuat siapa saja merasa takut untuk sekedar mendekat. Rhine mengaduk gelas teh kemudian meneguknya perlahan. Ia terlihat murung, ini baru sehari setelah meninggalnya Cos Valentine II -- ayah yang sangat ia sayangi. Dan kini mendadak kerajaan ditimpa masalah pelik yang bisa saja menghancurkan kredibilitas istana jika diketahui banyak orang. Ia begitu terpukul mengetahui ayahnya-lah yang membawa situasi pelik itu untuk mereka. Rhine merasakan kecewa yang dalam. Ditambah ia terpengaruh suasana hati Josephine yang tak menentu karena kedatangan La Vie. Semua terasa sulit. Madeline yang dekat dengannya bisa memahami rasa sedihnya. Ia memegang tangan Rhine memberinya dukungan. "Kau tidak apa-apa?" Gadis itu berusaha tersenyum namun tampak suram, "Aku baik-baik saja, tapi Mama tidak" Madeline menarik napas melegakan pernapasannya yang sesak lagi. "Aku minta maaf tidak datang saat pemakaman. Aku tidak tahu dari mana gadis itu muncul. Apa yang dia katakan sungguh mengejutkan" Gelas teh mendenting, "Itu bukan kesalahanmu kakak. Kau memang perlu banyak istirahat untuk memulihkan diri," Rhine terdiam sebentar tak bisa berkata-kata. Ia terpaku menatap danau dangkal di kejauhan. "Dia muncul di pemakaman Ayah. Aku benar-benar terkejut mengetahui siapa dia tapi sepertinya kakakku tidak" Madeline yang tak tahu harus menghibur dengan cara bagaimana merangkul pundak Rhine. Ia tahu suaminya merahasiakan ini karena tak mau menyakiti Rhine. Tapi mengatakan hal itu padanya untuk menghibur akan membuatnya merasa dibohongi seolah ia tak pantas mendengar kebenaran. Saat perasaan mereka belum sepenuhnya pulih dari kesedihan dan perasaan terkhianati, La Vie muncul. Ia duduk di depan keduanya tanpa menyapa membuat mereka saling menatap bingung dan terkejut. Baik bagi Rhine maupun Madeline, gadis itu menunjukkan kesan pertama yang menjengkelkan dan sulit dipahami. Suasana pagi yang harusnya ceria dan tenang jadi canggung dan aneh. Mereka tak tahu harus menyambut La Vie bagaimana. Ingin marah mereka merasa tak bisa, ingin menyambut dan menerimanya dengan baik, caranya muncul memperkenalkan diri dalam keluarga seolah tak peduli perasaan siapapun membuatnya sulit ditoleransi. "Apa hanya ada dua gelas di sini? Aku tidak tahu kenapa tempat semegah ini selalu kekurangan piring dan gelas" Mendengar keluhannya Rhine meminta pelayan menyediakan satu gelas lagi untuknya. Setelah teh tersaji, ia memulas senyum tipis yang senang namun dengki. La Vie menatap jauh dengan perasaan puas bisa menimbulkan sedikit guncangan pada keluarga kerajaan yang bisa ia lihat hasilnya dengan nyata di depan mata. Ia kembali memutar pandangan ke meja lalu terpaku melihat foto dirinya berada di halaman depan koran pagi. Ia meraih onggokan koran di tengah meja, menatap dirinya sendiri dengan kagum berlebih. "Kenapa para wartawan itu harus menjadikan fotoku sebagai sampul. Ini sungguh menjengkelkan" Baik Rhine dan Madeline kompak menatapnya. Meski ia terdengar tak senang wajahnya jelas menunjukkan sebaliknya. Ia terlihat begitu bersenang-senang dengan semua kekacauan yang berhasil ia buat dalam semalam. La Vie memerhati keduanya. Melihat bagaimana kedua gadis itu menatapnya La Vie jelas tahu mereka tak begitu senang kehadirannya. Ia melempar kembali koran itu ke meja lalu dengan sungguh-sungguh memberi perhatian lawan bicaranya. "Sepertinya kalian tidak senang padaku, benar begitu?" Wajah Rhine cemberut. Ia terlalu kesal untuk bicara sebaliknya Madeline berusaha bersikap ramah, meski jelas tak sepenuh hati. "Kau datang terlalu tiba-tiba, kurasa kau juga harus mengerti bahwa kami sangat terkejut" La Vie mengangguk, sudut bibirnya turun menunjukkan sikap acuh dan sinis. "Kalian merasa sulit menerimaku tapi tidak tahu sesulit apa hidup yang aku jalani di luar sebagai buangan karena aku anak haram yang dianggap mempermalukan keluarga kalian. Aku dipisahkan dari ibu kandungku saat berumur 3 tahun. Di bawa ke Moskow dan dibesarkan sebagai gadis miskin. Saat berusia 15 tahun satu-satunya orang yang kuanggap keluarga diminta kembali, sementara aku harus hidup sendiri di jalanan tanpa uang... Untuk kalian yang lahir dengan kemewahan tidak akan cukup mengerti penderitaanku" La Vie menatap mereka berdua dengan seringai merendahkan, lalu berdiri menegakkan tubuh. "Yah, tapi satu hal yang patut disyukuri adalah, kalau aku tidak diusir pergi dari tanah kelahiranku dan dijauhkan dari ibuku, kalian pasti sudah menanggung rasa malu yang bisa membuat kalian ingin mati. Setidaknya sekalipun tidak bisa menerima, kalian masih bisa lebih ramah. Lagipula aku tidak ada masalah dengan kalian dan tidak berencana bermusuhan... Sampai jumpa" Pengakuan La Vie membuat mereka sama-sama terkejut. Tak menduga ia menjalani hidup yang sulit. Awalnya mereka hanya mengira ia datang untuk membuat masalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN