Rhine menapaki lorong istana dengan muka yang amat pucat menyerupai kertas. Ia terus melangkah melewati pelayan istana satu demi satu, namun tatapannya hanya lurus tertuju ke depan, kosong tanpa harapan hidup. Membuat orang-orang yang melihat diliputi tanya. Apa yang terjadi pada gadis yang tampak selalu riang dan bersahabat itu? Di ujung lorong istana tanpa sengaja ia berpapasan dengan Josephine yang memang telah menunggunya pulang sejak tadi. "Oh, kau sudah pulang? Pengawalmu bilang kau menyuruh mereka pergi lebih dulu. Ada apa?" Rhine tak menggubris pertanyaan itu. Ia bahkan tak merasa bisa mendengar suara siapapun saat ini selain suara kesedihan yang menggema demikian kuat dalam dadanya mengetahui peristiwa penuh kemalangan yang baru menimpanya. "Rhine?" Josephine menarik lengan ga

