Sebelas

1926 Kata
Josephine mengawasi para pelayan yang tengah sibuk menghias meja makan, menata napkin, membawa aneka bunga, tempat lilin dari perak mengilat dan peralatan makan dari keramik mahal. Hari itu wajahnya tampak amat berseri. Ia tak sendiri, ditemani pelayannya Aida yang hampir memasuki usia senja dengan tubuh setengah membungkuk namun masih cekatan dan tegas dalam bekerja. Sesuatu yang membuatnya disukai sampai Josephine tak berpikir mengganti posisinya dengan orang baru hingga sekarang. "Hati-hati meletakkan bunga sedap malam itu di atas meja! Jangan gunakan air dingin, tapi gunakan air hangat. Potong daunnya! Jangan memotong batangnya lurus. Kau bisa membuatnya cepat layu" bentak perempuan tua itu dengan suara parau pada seorang pelayan muda yang hanya bisa berpaling dengan muka setengah bersalah. "Gantikan dia!" Aida menunjuk dengan suara lantang pada pelayan lain. Josephine yang sedang tak mau suasana hatinya terganggu mendekati Aida, menegurnya sembari tersenyum. Hal yang nyaris mustahil dilihat tiap hari kalau bukan di saat-saat tertentu seperti ini ketika suasana hatinya tengah berada dipuncak kebahagiaan. "Kau tidak perlu terlalu keras pada mereka. Mereka masih pelayan baru yang minim pengalaman" Aida menunduk patuh mengganti ucapannya dengan tatapan tajam yang membuat para pelayan diam. "Kau sudah menyampaikan pesanku untuk Nyonya Souza, Lady Waltstrow, Lady Castella, Lady Summer dan Lady Marianne untuk makan malam di sini malam ini?" "Sekertaris istana sudah melakukannya" Saat mereka tengah sibuk mengawasi pekerjaan para pelayan, dari belakang muncul Victor Leopold. Ia mengamati ruang makan yang tak biasanya ditata demikian mewah sampai-sampai peralatan mahal dari keramik yang biasanya hanya digunakan untuk momen-momen tertentu  sudah ditata rapi di atas meja. Victor Leopold yang merasa makan malam ini dibuat terlalu istimewa merasa cemas jika sampai ada yang melihat, orang luar mungkin berpikir mereka sudah menghentikan masa duka yang bisa berujung kritik pedas. "Ada apa ini? Apakah ada pesta? Kalau ada yang melihat kita, ini bisa jadi masalah" Josephine menghambur ke sisi putranya. Ia membelai lembut pundak Victor Leopold berusaha menenangkan dan menjelaskannya sebaik mungkin. "Ini bukan pesta sayang. Ini hanya makan malam biasa untuk merayakan sesuatu" Mata coklat Victor Leopold mengiring ke arah ibunya yang tengah tersenyum lebar. "Apa yang Yang Mulia rayakan. Ini masih kurang dari 3 hari sebelum masa berkabung usai" Josephine menepuknya perlahan, "Bukan, bukan itu... Gadis pengganggu itu akhirnya meninggalkan tempat ini" Mata Victor Leopold menyipit tajam. Wajahnya tampak terkejut dan heran di saat yang sama. Ia tak tahu gadis itu sudah pergi, tak seorangpun memberitahunya. "Maksud anda La Vie? Kemana dia pergi?" "Entahlah, kita tidak perlu memikirkannya. Satu hal yang patut kita ketahui sekarang adalah ini patut dirayakan. Apa kau setuju?" Pria itu memulas senyum berpura-pura terlihat senang seperti ibunya meski dalam hatinya ia heran bertanya-tanya mengapa La Vie pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya. Apakah pertemuan pagi tadi adalah kali terakhir mereka bertemu? Victor Leopold tak tahu, namun satu hal yang ia pahami gadis itu memang hampir selalu bertindak tanpa memberitahu apapun lebih dulu. Sesuatu yang mengganggu dan kadangkala berharap bisa ia kendalikan satu hari jika berhasil memberi apa yang ia inginkan. Buru-buru ia menyingkir ke ruangan lain, mengeluarkan ponsel lalu menelponnya beberapa kali, namun tak ada yang mengangkat membuatnya merasa kesal sampai menendang tembok dengan keras. Madeline yang baru datang  dari arah kamarnya bersama pelayan merasa heran apa yang membuat suaminya begitu marah dan memutuskan menegurnya. "Sayang, kautidak apa-apa?" Victor Leopold buru-buru memasukkan ponsel dalam sakunya lalu memasang senyum tipis yang tampak palsu kemudian menengok kembali ke arah gadis polos yang tak menyadarinya itu. "Kau akan ke ruang makan?" "Iya, hari ini ratu mengundang Ibu dan teman-teman yang lain untuk makan malam bersama. Kurasa ada hal penting yang ingin beliau katakan pada kita" Pria berambut hitam itu mengangguk. Ia tak punya niat mengatakan apapun lagi. Ia segera pergi begitu saja seolah enggan melanjutkan percakapan kecil mereka. Beberapa hari ini Madeline mulai menyadari sedikit tingkah aneh suaminya, tapi ia tak mau menaruh curiga. Ia mengira Victor Leopold hanya sedang gusar saja, mungkin sedikit tertekan karena akan menjadi calon raja. Apalagi ia habis bertemu perdana mentri beberapa waktu yang lalu. Watak ayahnya sangat keras, ia mungkin terlalu mendorong Victor Leopold di luar batas kemampuannya. Saat sedang dalam perjalanan menuju kantornya Victor Leopold tanpa sengaja berpapasan dengan Aileen Aldari yang tengah jalan bersama ibu tirinya Nyonya Souza. Langkah cepat pria itu terhenti lalu menengok pada mereka. Aileen Aldari memberi hormat, sementara Nyonya Souza menekuk kakinya setengah membungkuk. "Selamat malam Yang Mulia" tegur Nyonya Souza. Wanita berambut hitam berkulit kuning dengan tatapan sendu dan senyum keibuan yang tampak hangat. "Selamat malam. Kalian pasti datang karena undangan ibuku, apa benar?" Nyonya Souza mengangguk, "Anda tidak ke meja makan bersama kami" "Ada yang harus saya lakukan. Lagipula saya ingin bicara lebih dulu dengan Jenderal Aileen Aldari" Mendengarnya perempuan itu menyingkir memberi mereka ruang berbincang. Setelah wanita itu agak jauh, Victor Leopold mendekati Aileen Aldari lalu menepuk pundaknya. "Kau sudah tau kasus penembakan kemarin 'kan?" Pria itu hanya mengangguk, menunggu apa yang akan dikatakan  padanya. Namun jika tebakannya benar, Victor Leopold mungkin memintanya melakukan penyelidikan atas kasus penembakan itu. Aileen Aldari tak akan terkejut. Ia akan jujur jika situasi memaksa karena tak mau dianggap pengkhianat. "Apa anda ingin saya melakukan sesuatu?" "Aku ingin kau menyelidiki tentang ibuku" Mata amber terang pria itu melirik sedikit tak percaya, "Anda ingin saya menyelidiki ibu anda?" "Selama ini belum seorangpun berani menyentuh ibuku. Hal ini membuatnya merasa berkuasa, tapi di bawah kepemimpinanku aku tidak mau ada kekuatan bayangan lagi. Kau mengerti maksudku?" Aileen mengangguk apapun perintah yang diberikan ia mesti patuh, meski juga sempat merasa ragu. Selama menjabat ia belum pernah mendapat tugas menyelidiki keluarga kerajaan yang masih aktif. Ini membuatnya berada di posisi tersudut karena akan rentan disalahkan jika kabar ini sampai menyebar. Satu-satunya cara yang terlintas di benaknya adalah dengan menggunakan Clandestin. Menuju ruang makan ia sempat terkejut melihat Esme muncul membawa baki berisi minuman. Ia ingat belum memberi peringatan pada gadis itu padahal ia jadi saksi langsung melihat kebersamaannya dengan La Vie. Jika ia membiarkannya begitu saja tanpa peringatan, Esme bisa saja menebar rumor buruk tentangnya. "Bisa kita bicara sebentar?" Langkah Esme terhenti. Dengan muka takut ia mengangkat pandangan perlahan lalu terkejut melihat Aileen Aldari berada di hadapannya. Namun dibandingkan rasa terkejut ia lebih terlihat takut. Mereka menyingkir menuju tempat lain yang lebih tenang. Esme tertunduk hanya menatap ke arah lantai sebaliknya pria itu berada di hadapannya dengan sikap penuh intimidasi yang kuat. "Kau pernah melihatku bersama gadis itu 'kan?" "Maksud anda Nona La Vie?" "Jangan mengatakan pada siapapun tentang apa yang kaulihat. Jika kauberani mengatakannya aku tidak bisa menjamin kaubisa tetap berada di sini" Baki di tangan Esme bergetar. Ia mengangguk patuh lalu bergegas pergi dari sana. Ia tak mau berurusan dengan pria seperti Aileen Aldari. Meski hampir semua pelayan kagum padanya, Esme tak pernah sekalipun tertarik. Di matanya pria itu terlalu sombong dan kejam. Orang yang sulit didekati tidak akan berguna dalam istana. Ketika pria itu memutar tubuhnya tanpa sengaja ia melihat Rhine melambaikan tangan dengan wajah ceria dari kejauhan. Ia menimpali senyum kemudian menyapanya. Rhine menatap Aileen Aldari sedikit heran ketika pria itu berjalan bersisian dengannya. Ia tak tahu mengapa pria itu mengobrol dengan Esme; pelayan yang setahunya melayani La Vie selama ini. Meski ia sudah menanyakan langsung status hubungan mereka sebelumnya pada gadis itu, ia tetap saja merasa tak cukup tenang seolah mereka tengah menyembunyikan sesuatu yang membuatnya terganggu dan penasaran. "Kakak sudah mendengarnya?" "Apa?" pria itu melirik sepintas ketika mereka memasuki ruang makan. "La Vie sudah meninggalkan istana. Dia berkemas tadi pagi" Rhine mengamati wajah Aileen Aldari ingin mengetahui seperti apa raut wajahnya mengetahui gadis itu pergi. Ia mencoba memastikan perasaan pria itu padanya dengan cara halus. Namun sejauh ia mengamati, Aileen Aldari tampak tenang dan biasa saja. "Benarkah?" "Ya, ini juga alasan kenapa mama mengadakan makan malam meriah hari ini" Senyum Aileen Aldari padanya membuat hati Rhine sedikit lebih tenang. Dari sana ia yakin kekhawatirannya tidak lebih hanya kecemasan kosong. ** Josephine memasuki meja makan setelah berganti pakaian dengan gaun malam berwarna putih bermodel brokat. Ia duduk di samping Victor Leopold lalu memulas senyum satu persatu pada para tamu, yang hampir sebagian besar tak tahu mengapa makan malam diadakan. Ketika ia melempar senyum pada Victor Leopold, anak lelakinya itu sama sekali tak bersemangat, namun terpaksa hadir di sana sebagai formalitas karena ia merupakan kepala keluarga. Untuk menghilangkan desas-desus dan tanya di antara para tamunya malam itu, Josephine mengangkat gelas winenya untuk menunjukkan perayaan terhadap sesuatu. "Kalian pasti penasaran alasan kenapa aku mengundang kalian mendadak malam ini. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang penting, tapi aku merasa ini momen yang terlalu sempurna jika tidak dirayakan. Jadi..." belum sempat menyelesaikan kata-kata ia diinterupsi lebih dulu oleh kehadiran Aida dan Pato yang muncul tiba-tiba dengan muka panik membuat suasana mendadak aneh. Aida; wanita tua dengan muka muram itu menghampiri Josephine kemudian membisik di telinganya. Sementara Pato mendorong troli makan yang di atasnya diletakkan televisi besar yang sengaja ditaruh di tengah ruangan hingga cukup menyita perhatian "Anda harus melihat ini Yang Mulia" bisik wanita tua itu memberi aba-aba Pato menyalakan televisi. Gambar pertama yang terpampang di hadapan mereka adalah wajah La Vie yang tengah mengisi acara acara talk show live yang cukup terkenal di negara itu. Josephine tak tahu apa yang sedang terjadi dan mengapa gadis itu di sana, namun satu-satunya yang jelas perlu ia lakukan sekarang adalah diam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Satu-satunya suara yang mengisi ruang makan malam itu hanya berasal dari televisi yang menyala. Tatapan mereka semua tertuju ke arah itu namun tak ada yang tahu mengapa. Mereka hanya meniru apa yang dilakukan Josephine kala itu. ** "Saya sangat senang ditemani wanita cantik malam ini. Tapi saya belum tau siapa nama anda. Bisakah anda memperkenalkan diri lebih dulu?" pinta sang pembawa acara. Lelaki paruh baya dengan wajah menarik yang bisa dengan mudah menarik perhatian penonton. "Jika anda berkenan," La Vie menatap tepat ke arah kamera dengan senyum tipis yang menunjukkan ancaman tersirat,  "Nama saya adalah La Vie En Rose. Saya adalah anak haram Raja Cos Valentine II. Saya sempat menghadiri pemakaman ayah saya beberapa waktu yang lalu dan saya yakin saat itu semua wartawan melihat" ** Muka Josephine pucat. Jemarinya kehilangan kekuatan mencengkram hingga gelas wine yang ia pegang jatuh dengan keras ke lantai memecah kesunyian semua orang. Tamu Josephine yang hampir semuanya adalah teman dekatnya saling melirik dengan rona bingung tapi tak satupun dari mereka berani bicara. Sementara Victor Leopold, Rhine dan Madeline tak tahu apa yang mesti mereka katakan di tengah suasana genting yang menyerupai serangan tiba-tiba ini. "Matikan televisinya sekarang!" bentak Josephine setengah histeris membuat Pato buru-buru mencabut kabel televisi untuk membuatnya merasa lebih baik. Josephine tercengang tak menduga mendapat balasan yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah ia duga. Ia tak pernah mengira La Vie berani buka mulut dan melawannya. Saat gadis itu berpamitan ia mengira La Vie sungguh menyerah. Tak menyangka ia hanya dibodohi. Saat suasana masih terasa mencekam hingga tak seorangpun berani beranjak dari kursi mereka, suara letupan sepatu mendadak bergema membuat semua orang berpaling ke arah pintu. Esme muncul dengan menenteng ponsel di tangannya yang disodorkan pada Josephine dengan perasaan takut dan ragu namun mesti ia lakukan karena mendesak. "Ada yang... ingin bicara... dengan..." Josephine menyambar telpon itu dengan cepat. Tanpa dijelaskan ia sudah tahu siapa orang yang dimaksud. "Apa maksud semua ini" suara Josephine bergetar memendam kemarahan besar. "Aku tidak mau melakukan ini karena kukira kita bisa hidup bersama dalam damai tapi sepertinya kautidak berpikir hal yang sama, bukankah begitu? Kau sudah salah memilihku sebagai lawan. Aku tau kaumencoba membunuhku jadi aku melakukan ini untuk memastikan bahwa aku akan baik-baik saja. Jika kau menyingkirkanku sekarang rakyat Flander-Belgium akan tau kebusukanmu juga istana dan aku tau bukan itu yang kauingingkan. Jika aku jatuh kauakan jatuh, jika aku hancur kauhancur, jika aku mati kaujuga mati. Ini bukan penawaran tapi kesepakatan dan sekarang kau tidak punya pilihan untuk menolak" La Vie mematikan ponsel. Josephine berdiri dengan muka kesal lalu melempar ponsel di tangannya ke lantai hingga berhamburan membuat Esme meringis melihatnya tapi tak bisa melakukan apapun. Josephine akhirnya meninggalkan ruangan itu. Makan malam yang harusnya berjalan dengan baik berakhir pahit baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN