Dua Belas

1817 Kata
Aileen Aldari baru saja pulang menjelang sore ketika melihat di samping rumahnya yang termasuk salah satu kawasan perumahan paling elit di Flander-Belgium tampak ramai. Mobil boks putih pengangkut barang pindahan sibuk mondar-mandir memasukkan barang ke dalam rumah kosong di samping kediamannya. Ia melirik sekilas ke dalam area rumah itu. Di pintu masuk tak sengaja matanya melihat La Vie sedang sibuk memberi instruksi ke mana saja barang-barang itu perlu di letakkan. Menyadari seseorang menengok ke arahnya iris hijaunya melirik. Aileen Aldari yang kedapatan menatapnya membuat La Vie tersenyum sambil melambaikan tangan, namun seperti biasa pria itu tak menanggapi. Ia membuang muka melanjutkan menyetir kendaraan memasuki garasi mobilnya lalu menghilang ke dalam rumah. La Vie mengamati rumah di sampingnya. Model bangunan tempat tinggal mereka sama. Bergaya kontemporer dengan 3 jendela besar di lantai satu, sebuah tangga menuju lantai dua tempat ruang tamu, ruang makan dan ruang keluarga. Sementara kamar, ruang televisi, ruang kerja dan mini bar berada di lantai satu. Desain yang unik namun mewah membuat harga jualnya cukup tinggi. Belum lagi jumlah bangunan dalam satu komplek hanya tersedia untuk tiga puluh orang dengan sejumlah fasilitas yang memanjakan penghuninya. Tak heran hanya sedikit yang benar-benar mampu untuk sekedar menyewa atau membelinya. Setelah selesai mengangkut barang hampir satu jam lamanya, mobil boks itu pun perlahan meninggalkan kawasan perumahan. La Vie yang masih harus menata barang yang tersimpan dalam tumpukan kardus hanya bisa menghela napas panjang. Ia harus mengerjakan semuanya seorang diri tanpa bantuan siapapun karena belum sempat menyewa seorang pelayan. Ketika terlalu larut berpikir bagaimana cara menyelesaikan semua pekerjaan itu, ia terkejut mendengar suara mobil sport memasuki halaman rumahnya. Mobil Porsche Cayman putih itu berhenti di halaman. Mata La Vie menyipit curiga. Ia tak punya kenalan kaya di Flander-Belgium dan belum membagi alamatnya dengan siapapun sejak mengurus kepindahannya dua hari sebelumnya. Rasa penasarannya mendadak sirna begitu melihat ujung sepatu kulit mengilat yang tampak mahal menginjak halaman hijaunya. Seorang pria berambut gelap yang membalut tubuhnya dengan setelan mahal berbalik ke arahnya sambil melepas kaca mata hitam yang menutup mata coklat terangnya. La Vie hanya memalingkan wajahnya sekilas disertai seringai muak. Ia tak menduga Victor Leopold bisa menemukannya dengan mudah hanya selang sehari setelah meninggalkan istana. Namun ia tak begitu terkejut, dengan posisinya sebagai putra mahkota jadi hal lumrah baginya bisa mendapatkan apapun yang ia mau. Victor Leopold berjalan cepat meniti tangga lalu menyambar tangan La Vie di ambang pintu kemudian menariknya masuk ke dalam sambil membanting pintu. Ia menghempaskan tubuh La Vie hingga nyaris jatuh, namun dengan susah payah ia berhasil mempertahankan keseimbangan. Di tengah ruangan yang masih berantakan itu Victor Leopold menunjukkan kegeraman dan kekesalannya yang terbendung. "Apa maksudmu melakukan semua ini? Kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku bahkan membuka identitasmu di hadapan semua orang. Apa kau tidak memikirkan bagaimana kacaunya istana sekarang? Media memuat berita ini terus menerus dengan menyinggung keluarga kerajaan. Apa kau puas dengan semua ini?" Mata hijau La Vie menyorot padanya. Ia beranjak mendekati Victor Leopold kemudian meletakkan tangannya di pipi pria itu disertai sebaris senyum tipis tak berarti. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan karena aku tau tidak bisa mengharapkanmu. Kedudukanmu mungkin tinggi tapi... Kau dibatasi terlalu banyak hal dan aku tidak butuh itu lagi" Alis Victor Leopold nyaris menyatu karena heran, "Tidak butuh aku lagi, apa maksudmu?" La Vie menarik tangannya. Ia memutar tubuhnya membelakangi pria tinggi itu. "Kurasa lebih baik hubungan ini diakhiri sampai di sini. Sebentar lagi kau akan menjadi raja, jika seseorang tahu masalah ini kau bisa terlibat skandal memalukan, lagipula...," La Vie memutar tubuhnya. Sekali lagi ia menunjukkan senyum manis pada pria itu, "hubungan kita ini tidak bisa jadi apapun... Tidak ada masa depan di sana. Aku sudah merasa bosan denganmu, jadi aku melepaskanmu" Victor Leopold geram. Tangannya segera menyambar batang tenggorokan La Vie lalu mendorong tubuhnya dengan keras hingga punggungnya membentur meja. Ia jatuh di atas meja makan masih dengan cekikan di lehernya yang membuat ia tak berdaya. "Apa kau mempermainkanku? Setelah memanfaatkanku kaumembuangku begitu saja? Kaukira siapa aku?" Sebulir air mata jatuh di sudut mata La Vie yang sendu. Ia tak berontak, hanya berupaya bernapas dengan susah payah di tengah tekanan yang membekuk lehernya seolah kematian hanya tersisa beberapa senti di hadapannya. Hanya satu yang ia yakini benar saat itu, Victor Leopold tak akan sampai hati membunuhnya, karena harus menjaga nama baik. "Aku memanfaatkanmu... tapi di saat yang sama kaujuga mendapatkan... apa yang kau inginkan... Kita sama-sama... Diuntung...kan" Victor Leopold murka, masih tak mau melepasnya. Ia mencekik La Vie makin keras seolah hendak mematahkan lehernya. Kaki gadis itu mulai gemetaran, wajahnya merah, sorot matanya kesakitan disertai bulir air mata yang jatuh. Mulutnya terbuka susah payah menghirup udara sebisanya. Melihat La Vie yang tersiksa hampir mati, perasaan Victor Leopold campur aduk, antara yakin membunuh atau membiarkannya karena ucapannya benar adanya. Hubungan mereka tidak memiliki arti selain nafsu bahkan tak menyisakan apapun selain rasa malu. Perasaan kejam Victor Leopold mendadak sirna. Ia melepas cekikan di leher La Vie. Tanpa mengatakan apapun ia meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian pria itu La Vie bangkit. Langkahnya lesu, ia berjalan menuju jendela dengan muka tertunduk sambil memegang lehernya yang merah dan sakit. Ia terbatuk keras beberapa kali berusaha menghirup udara sebanyak mungkin sambil mengeratkan pegangan di kaca jendela menyeimbangkan posisi tubuhnya yang sesekali oleng seakan hampir jatuh. Perlahan air matanya menetes. Ia tak tahu mengapa bisa menangis padahal selama ini sudah terbiasa mengalami situasi sulit. Ia hanya seketika menyadari betapa ia dimusuhi keluarga kerajaan sampai berulang kali hampir mati di tangan mereka. Ia tahu akan sulit bertahan seorang diri melawan keluarga penguasa tempatnya berpijak. Ia menghapus air mata dengan punggung lengannya karena tahu air mata tak menyelesaikan apapun. Ia mengangkat pandangan perlahan berusaha kembali berfokus pada apa yang mesti dilakukannya saat ini. Namun, ia terkejut ketika melihat Aileen Aldari sedang berdiri di ambang jendela rumahnya yang berhadapan dengan tempatnya saat ini, sambil memegang segelas kopi. Wajahnya begitu dingin tak tampak bersimpati melihatnya menangis. La Vie tidak tahu apakah pria itu melihat semua kejadian itu atau tidak. Namun jika benar melihatnya ia akan merasa cukup malu. La Vie berpaling pergi. Untuk melupakan semua perasaan buruknya, ia mulai bekerja, membuka barang-barang dalam kardus yang terpaksa harus dikirim langsung dari Rusia karena ia sudah menghabiskan hampir sebagian besar tabungannya untuk membeli rumah itu. Setelah berberes La Vie terbaring di atas sofa dengan keringat mengucur dan punggung yang sakit terasa bak akan patah, karena pekerjaan berat yang tak biasa ia lakukan. Perutnya mendadak berbunyi. Ia menengok jam sudah pukul 8 malam. Ia teringat belum makan apapun sejak pagi. Ia berjalan menuju lemari pendingin, mencari bahan yang bisa dimasak. Ia menemukan buat bit dan kubis merah yang membuatnya rindu memakan sup Borscht. Setelah mandi ia mulai bergulat di dapur mengolah masakan lalu menyiapkan roti dan daging sebagai makanan pendamping. Setelah aroma masakan tercium menggoda perutnya dan kompor dimatikan ia mulai tersadar membuat terlalu banyak masakan karena amat bersemangat. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan dengan makanan sebanyak itu. Ia tak mau membuangnya karena ia ingat masa kelaparan dulu benar-benar tak menyenangkan. Ia berjalan ke jendela ruang tamu mengintip rumah Aileen Aldari. Lampu rumah pria itu masih menyala namun tak terlihat kesibukan apapun sejak sore tadi. Ia menimbang hati-hati tujuannya berkunjung ke sana untuk membagi masakan buatannya, namun ia takut berhadapan dengan pria itu dan mendengar penilaian dari mulutnya yang kejam. Ketika masih ragu-ragu, mendadak ia teringat jika Aileen Aldari tak punya penilaian apapun atas dirinya selain rasa benci yang dalam. Untuk pertama kalinya ia merasa kebencian Aileen Aldari begitu berguna dan membuat hati La Vie tenang. Buru-buru ia menghambur ke dapur mengambil piring, mangkuk dan mulai menyiapkan hidangan untuknya. Ia juga tak lupa membawa sebotol jus jeruk yang ia sukai. ** La Vie menekan bel beberapa kali menunggu kehadiran pria itu dengan jantung berdebar cepat. Ia menatap kembali penampilannya lalu menyisir rambutnya lebih rapi dengan jari. Di saat tak terduga pintu terbuka. Pantulan cahaya segera menimpa tubuh La Vie yang dibalut baju rajut lengan panjang berwarna coklat dan celana kain berwarna putih sepanjang lutut. Penampilannya jauh lebih sopan dibandingkan biasanya membuat Aileen Aldari sempat heran. "Ada perlu apa?" Seperti biasa pria itu berbicara dengan nada dingin yang cenderung ketus. La Vie yang mulai membiasakan diri dengan sikap pria itu tak lagi ingin melakukan protes. Ia mengangkat nampan di tangannya menunjukkan makanan yang dibawahnya disertai senyum lebar. "Aku membawakanmu sup borscht. Ini makanan khas Rusia. Apa kau mau memakannya?" Aileen Aldari diam sebentar. Raut wajahnya yang selalu serius seolah sedang marah membuat La Vie takut akan ditolak. "Masuklah" Gadis itu melompat samar penuh riang. Ia tersenyum lebar penuh kemenangan, tak menduga Aileen Aldari akan menerimanya dengan mudah. Ia mengikuti pria itu menuju dapur melewati ruang tamu yang disekat dinding setinggi pinggang. Sementara Aileen Aldari sibuk memindahkan makanan ke dalam piring lain, La Vie duduk di meja dapur sambil memerhatikan punggung lebar pria itu. Ia mulai teringat lagi malam yang mereka habiskan bersama dan mendadak merasa rindu. Perasaan anehnya itu membuat ia heran. Ia segera mengalihkan perhatian tak mau mengingat yang tidak-tidak. Tatapannya mengedar ke penjuru dapur yang bersih lalu terhenti ke arah makanan instan yang berada di dekat mikrowave. Melihat hal itu ia begitu penasaran untuk bertanya. "Kau makan makanan instan?" "Aku biasa membeli makanan di luar, tapi hari ini restoran langgananku tutup" La Vie terdiam lagi kemudian teringat kejadian sore tadi. Ia kembali menatap punggung Aileen Aldari dan penasaran dengan penilaian pria itu padanya. Ia khawatir pria itu mungkin benar-benar memiliki persepsi buruk tentangnya dan berpikir jika ini adalah saat yang tepat menjelaskan apa yang sungguh terjadi. Dengan perasaan campur aduk La Vie mengumpulkan keberanian. "Kau... melihat kejadian... Tadi sore?" "Iya" "Semuanya?" "Ya" pungkas pria itu tanpa beban. La Vie terdiam sejenak, menelan ludah sebelum kembali melanjutkan. "Kau... Pasti tau tentang hubunganku dengan Victor Leopold?" Aileen Aldari diam saja tak menimpali lagi, namun kebungkamannya membuat La Vie yakin akan dugaannya. "Aku yakin kau pasti mengira aku ini benar-benar perempuan jalang. Aku menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah menikah sekaligus kakak tiriku sendiri, bahkan aku mengancam supaya bisa tidur denganmu. Aku minta maaf" Aileen Aldari mengintip dari sudut matanya tanpa mengatakan apapun. "Aku... Menjalin hubungan dengan Victor Leopold karena hanya dia satu-satunya yang bisa membantuku masuk kemari. Saat ayahku berkuasa aku dilarang masuk kemari. Aku ingin pulang untuk mencari ibuku" Aileen Aldari berbalik meletakkan nampak kembali ke tangan La Vie. "Kau bisa kembali dengan tenang tapi malah membuat masalah. Sampai di sini kau hanya akan terlibat perang yang tidak akan kaumenangkan" La Vie tersenyum menatap Aileen Aldari dengan sebaris senyum penuh terima kasih. "Aku tidak punya banyak pilihan. Melawan atau mati. Kau dekat dengan mereka pasti mengetahui lebih banyak hal dibandingkan denganku" Ponsel di saku La Vie mendadak mendengung membuat pembicaraan mereka terhenti. Melihat siapa yang menelpon membuatnya lekas berdiri dengan senyum lebar. "Halo" "Kami sudah melihat semua portofoliomu. Kau model yang sangat berbakat dan terkenal. Yah, walaupun kau sedang terlibat dengan sedikit masalah kami tidak akan ragu mengontrakmu. Selamat datang di agensi kami. Datanglah besok untuk menandatangani kontrak eksklusif" La Vie meloncat dengan kegirangan lalu mematikan telpon. Ia meraih nampan di meja lalu menatap Aileen Aldari dengan wajah bersemu merah. "Aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku berjanji akan melunasi hutangku" ia berjalan menuju pintu hendak pergi namun tiba-tiba berpaling, "Kau tidak perlu membeli makanan di luar lagi. Aku akan memasak makan untukmu setiap hari. Anggap saja itu bagian dari balas budiku"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN