Tiga Belas

1319 Kata
Denting bel berbunyi nyaring memecah pagi. Aileen Aldari yang masih berada di tempat tidur terpaksa bangkit setengah malas membuka pintu. Awalnya ia mengira seseorang yang berani mengganggu tidurnya adalah tamu penting namun begitu melihat wajah La Vie dengan senyum lebar membawa sarapan di atas nampan, wajahnya berubah kecut dan malas. "Selamat pagi?" sapa gadis bermata hijau itu riang namun ditimpali datar. La Vie kecut. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya dengan heran sambil menatap wajah kantuk pria itu,"Ini sudah pukul 7 pagi dan kaubelum bersiap-siap?" Aileen Aldari tak mau menjawab. Ia merebut nampan dari tangan La Vie hendak menutup pintu, namun gadis itu meloncat menggunakan tubuhnya sebagai penghalang. "Kenapa kautidak pernah mendengarkanku selesai bicara dulu lalu menutup pintu?" ia menatapnya dengan sorot mata sendu dan nada memelas yang membuat Aileen Aldari mengendurkan sedikit sikap kerasnya. "Apa yang kauinginkan?" Melihat kelengahan pria itu La Vie menerobos masuk lalu berbaring di atas sofa tanpa izin. Aileen Aldari yang tadinya berusaha bersikap baik sedikit lebih sopan menurunkan makanan di tangannya lalu menarik kerah mantel La Vie seperti memegang seekor kucing liar. "Kalau tidak punya urusan sebaiknya kau cepat menghilang" La Vie menggeliat berusaha berontak memegang tangan pria itu, "Ayolah... Jangan bersikap jahat padaku?" "Kau yang selalu membuatku harus bersikap kasar agar kau diam" Gadis itu menengok ke belakang, "Aku tidak akan melakukannya lagi... aku hanya ingin meminta bantuan padamu agar mau mengantarku ke kantor agensiku. Uangku sudah menipis. Aku janji akan mentraktirmu setelah ini... Kumohon" Aileen Aldari menurunkan tubuh gadis itu dengan kasar hingga La Vie jatuh terduduk cukup keras, namun bahan sofa yang empuk membuatnya terhindar dari rasa sakit. "Tunggu di sini dan jangan sentuh apapun!" perintahnya dengan nada tegas. Gadis itu mengangguk disertai senyum riang, kali ini ia tak pulang mendengar penolakan yang biasa didengar dari pria itu meski sikapnya belum berubah, tetap ketus dan kasar. Begitu Aileen Aldari menghilang ke balik kamarnya, ia pergi kedapur memindahkan wadah makanan yang ia bawa dan menatanya sedemikian rupa. Tak lupa ia juga membuka kotak bekal yang sengaja ia siapkan bermaksud untuk disombongkan sebagai hasil karyanya. Bekal dengan muka karakter menyerupai pria itu. Setengah jam kemudian Aileen Aldari muncul mengenakan mantel biru navi sepanjang lutut dengan deret lambang bintang jasa yang menempel di d**a, serta topi melengkapi penampilannya. Aileen Aldari yang berdiri gagah di hadapan La Vie membuatnya sempat terpana sesaat sebelum kemudian tersadar dan menyilahkannya duduk. "Aku sudah menata makanan untukmu. Duduklah" ia menyodorkan roti sandwich dan segelas jus jeruk. Tak ada perubahan sikap pada pria itu meski diperlakukan penuh perhatian. "Aku juga membuat bekal makan siang jadi kautidak perlu menghabiskan uangmu, bagaimana?" La Vie menyodorkan makanan dalam kotak merah yang ia tata demikian rapi dari berbagai jenis makanan untuk bisa menyerupai wajah ketus Aileen Aldari namun dibuat sedikit lebih lucu. Sayang, harapannya untuk mendapat pujian berakhir kekecewaan. Pria itu hanya melirik sepintas kemudian melanjutkan makannya seolah tak pernah melihat apapun. Reaksi datar yang ditunjukkan Aileen Aldari tak pelak membuat La Vie kecewa. Ia tertunduk diam, meski sesekali curi pandang mengamati tiap suapan yang masuk melewati mulut pria itu. Bibirnya yang tipis melengkung merah muda sedikit pucat membuatnya menelan ludah. Ia berangan andai bisa mengecupnya lalu mengulang kembali malam yang pernah mereka lalui bersama meski ia segera sadar semua itu hanya harapan semu. Aileen Aldari tak pernah tertarik padanya dan sampai kini ia tak tahu kenapa. "Kau juga lapar?" Lamunannya buyar mana kala pria itu menatapnya sambil menyodorkan sandwich di piring. Buru-buru La Vie menyangkal. "Tidak, aku sudah makan tadi" Pria itu kembali melanjutkan suapannya namun La Vie masih tampak penasaran akan satu hal namun ia malu mengutarakannya. Ia berpikir keras beberapa lama hingga mendekati saat Aileen Aldari menyelesaikan suapan terakhirnya ia mulai memberanikan bertanya. "Apa kau tidak berpikir untuk membuat kontrak?" Sambil menjilat ujung jemarinya tatapan amber yang berkilau itu melirik penasaran. "Kontrak untuk apa?" La Vie mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bibirnya bergerak menghirup udara sesekali terdengar seperti orang setengah meringis. "Kau tau kita bisa... Membuat kontrak untuk menjalin hubungan lebih dari teman?" Ia menatap Aileen Aldari mantap disertai senyum berharap pria itu mengerti apa yang ia maksud dan mendapat jawaban sesuai. Sebaliknya pria itu tak menanggapi serius ocehannya. "Sayangnya aku tidak tertarik padamu" Jawaban dingin yang terlontar dari mulutnya tanpa rasa bersalah sontak membuat La Vie berdiri menggebrak meja dengan kesal, "Aku juga tidak suka padamu! Aku tidak pernah tertarik padamu" La Vie berbalik punggung sambil menggerutu. Wajahnya merah karena malu. Buru-buru ia berlari menuju pintu keluar untuk mencari udara segar sekaligus menghindari pria itu. Padahal ia merasa sudah menjelaskan sebaik mungkin tapi dia sama sekali tidak mengerti. Ia merasa sudah sia-sia mengutarakan semua itu. "Kau akan tetap di sana?" Aileen Aldari menegurnya sembari mengunci pintu. La Vie berpaling dengan muka marah berharap pria itu lebih peduli dan membujuknya, tapi tingkah merengutnya diabaikan begitu saja. Pria itu melenggok pergi tanpa rasa bersalah bahkan melirik pun tidak. Ketidak pedulian yang ditunjukkan pria dingin itu membuat La Vie kesal dan frustasi setengah mati tapi hanya mampu melampiaskannya dengan menggerutu sendiri. Ia hendak membatalkan niat awalnya menumpang mobil pria itu, namun ketika melihat mobil Lexus itu melaju mendekati gerbang, ia membuang rasa segan di hatinya dan memohon ikut. "Di mana alamat agensi itu?" "Garden Hill" kata La Vie sembari memasang sabuk pengaman. Begitu mobil mulai meninggalkan kawasan perumahan ia mengeluarkan alat make-up dari dalam tas. Ia mengambil cermin kecil lalu memeriksa riasannya. Merasa warna lipstiknya belum terlalu bagus ia memulasnya sekali lagi lalu menyemprot parfum ke udara kemudian menghirupnya lalu mencium pakaiannya. La Vie tersenyum genit pada diri sendiri membuat Aileen Aldari memandangnya aneh. "Bisa kau hentikan itu?" La Vie melirik heran, "Apa?" "Parfummu mengganggu" mendengar keluhan pria itu malah membuat La Vie semakin ingin menggodanya. Ia mengarahkan moncong parfum padanya lalu menyemprotnya sambil tertawa. Aileen Aldari yang terganggu merasa perlu mengambil tindakan. Ia menghentikan laju mobilnya, menarik botol di tangan gadis itu kemudian melemparnya dan mengunci dua lengan La Vie ke belakang sampai membuat ia meringis. Tubuh mereka yang bersentuhan, dan jarak wajah Aileen Aldari yang amat dekat, hanya beberapa inci dari wajahnya sampai ia bisa merasakan hembus napasnya yang hangat membuat rasa sakit itu tak demikian terasa. Sebaliknya jantung La Vie berdetak cepat, darah di seluruh tubuhnya panas sampai wajahnya merah. "Apa kau akan melakukannya lagi?" bisik pria itu dengan nada menekan sedikit mengancam. La Vie diam bak patung, hanyut menatap wajah pria itu lekat beberapa saat. Namun mendadak dengan dorongan besar yang muncul entah dari mana ia melumat bibir Aileen Aldari dengan berani. Ciuman yang begitu tiba-tiba melemahkan pertahanan pria normal seperti Aileen Aldari hingga dengan mudah La Vie bisa meloloskan diri dari cengkramannya, mendorong tubuh pria itu kembali ke kursinya lalu bergerak melingkarkan kedua kakinya di atas paha pria itu. Napas mereka beradu cepat. La Vie tak hendak melepaskan pria itu. Ia menelan, melumat bibir Aileen Aldari menerobos masuk ke dalam mulutnya lalu memainkan lidahnya penuh hasrat sambil menggerayangi tubuh pria itu, hampir melepas kancing pakaian yang ia kenakan namun mendadak akal sehatnya seolah kembali ketika menyadari di mana mereka berada. La Vie menghentikan ciumannya lalu menarik tubuhnya agak jauh. Ia menatap Aileen Aldari seolah penuh kuasa atas tubuh pria itu. "Menyebalkan rasanya kau masih bersikap kejam padaku. Kenapa begitu mudah bagimu melupakan malam yang kita lewati bersama sementara aku terus terbakar dalam api setiap melihatmu?" Aileen Aldari tak mengatakan apapun, lebih tepatnya ia kehilangan kata-kata dan sikap angkuh setelah ditundukkan dalam satu ciuman panas. Jemari La Vie mengusap bibir Aileen Aldari menghapus jejak lipstik merah yang berantakan di sekitar bibirnya. Ia menekan buah dadanya menempel tubuh pria itu lalu menarik tangannya menyentuh bokongnya, sementara jemarinya yang lain menarik dagu Aileen Aldari mendekati wajahnya. "Aku bisa menawarkannya padamu tanpa balasan apapun," La Vie mendesah pelan menggoda di telinga pria, "Kepuasan tiap malam di atas ranjang. Aku tau kau juga menginginkannya, bukankah begitu?" La Vie menggodanya sekali lagi. Ia melumat telinga pria itu lalu menjilat turun leher dan tulang selangkanya hingga suara desahan meluncur keluar dari bibir pria itu. Gadis itu merapikan rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan, lalu kembali ke kursinya untuk memungut tas yang jatuh di kolong mobil. Ia memilih tak melanjutkan perjalanan dengan Aileen Aldari karena tahu suasananya tak memungkinkan lagi. Ia memilih memanggil taksi yang kebetulan berhenti di belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN