Empat Belas

2093 Kata
Taksi menurunkan La Vie di depan gedung berlantai 4 yang berdiri megah bersisian bangunan perhotelan dan rumah makan di pinggir jalan perkotaan yang ramai dan sibuk. Ia menapakkan kakinya melewati lahan parkir sebelum memasuki pintu masuk. Ia tak menduga jika dibalik deret mobil mewah yang tengah terparkir tersembunyi puluhan wartawan yang begitu melihat ia muncul segera menyalakan lampu kamera berlomba mengambil gambar wajahnya. Kerumunan wartawan itu membuat La Vie terjebak sulit beranjak. Cahaya kamera yang sambung menyambung mengambil gambar membuat matanya silau hingga harus melindungi wajah dengan tangan. Belum surut, ia juga dipaksa menjawab puluhan pertanyaan yang terlontar padanya dengan begitu berisik tentang statusnya sebagai anggota keluarga kerajaan tak resmi yang lahir dari skandal perselingkuhan. La Vie mencoba menghindar dengan menerobos kerumunan itu, tapi  para wartawan yang seolah membentuk tembok tak membiarkannya beranjak barang seinci pun sebelum mendapatkan berita untuk mengisi rubrik majalah dan koran mereka. Kerumunan di luar gedung membuat pihak keamanan sigap. Tanpa diminta 5 orang pria berbadan besar muncul mendorong kerumunan itu sekuat tenaga hingga terpecah dan memberi La Vie celah untuk melarikan diri dan segera berlindung dalam gedung. Di depan meja resepsionis La Vie menghela napas lega meski masih merasa panik. Ia tak menduga jika paparazi negara seperti Flander-Belgium lebih kejam dan tidak berperasaan dibanding negara lain yang pernah ia kunjungi. Tapi dari sana ia jadi mengerti betapa gilanya mereka memburu berita menyangkut keluarga kerajaan. "Oh, kau sudah datang?" La Vie berpaling pada pria kurus bersetelan jas putih bermotif garis dengan rambut agak panjang menyentuh kuping, kacamata bundar dan kumis tipis menyerupai cacing setengah melengkung. Melihat pria itu membuatnya bergidik jijik. Penampilannya terlalu kuno bahkan terkesan kampungan. Namun pria yang ia perkirakan masih berusia 40 tahunan itu tak menyadari reaksinya. "Perkenalkan aku Ramirez Calvin, CEO utama NG Cut Entertainment" Mendengar pengakuan mengejutkan pria itu La Vie berusaha menghilangkan penilaian buruknya. Ia tak menduga seorang pria dengan selera fashion buruk bisa menduduki posisi tinggi dalam perusahaan. "La Vie En Rose" "Ikutlah ke ruanganku" Sekertaris pria Ramirez menyajikan segelas teh untuk La Vie. Mata gadis itu menerawang mengamati interior kantor yang cukup nyaman. Di bagian dinding belakangnya berjejer deret wajah model terkenal di negri itu. "Aku sangat terkejut kau memilih bekerja sama dengan kami" La Vie bergumam tanpa selera, ia tidak suka terlalu banyak berbasa-basi. "Aku ingin tahu berapa pembagian hasil kita?" Pria berkulit kuning dengan mata sipit yang lebih condong ke wajah Asia itu terkejut namun memaklumi sikapnya yang frontal. Ia memberi kode pada sekertaris yang berdiri tak jauh dari mereka untuk mengambil lembar kontrak di meja dan diletakkan di hadapan gadis itu. La Vie membacanya dengan seksama disertai anggukan kecil tiap membaca paragraf demi paragraf. "Aku setuju" timpalnya penuh keyakinan. Ramirez tertawa lebar lalu menyodorkan pena yang tersemat di jasnya. Setelah La Vie menandatangani kontrak ia merasa lebih lega. "Kau mendapatkan banyak tawaran pekerjaan sejak kami memasang namamu di situs web kami" kata Ramirez berusaha beramah tamah namun La Vie terlihat terlalu malas menanggapi. Ia hanya mendengarkan dengan muka bosan. "Pantas saja wartawan tau aku akan ke sini dan mengerumuniku seperti lalat" La Vie menatapnya sinis. Ramirez tertawa menyembunyikan kesalahannya. Ia berusaha mencari bahan pembicaraan lain agar gadis itu segera melupakan apa yang barusan terjadi. Pria berbadan kecil itu memperbaiki duduknya. Ia menatap La Vie dengan cerah seperti tengah menatap tambang uang, "Beberapa acara talk show memintamu hadir sebagai bintang tamu. Mereka tertarik mendengar..." La Vie memotong ucapan pria itu sebelum menyelesaikan kalimatnya,  "Aku tidak akan menghadiri talk show apapun yang mengharuskan aku membicarakan statusku sebagai anak haram raja. Aku lebih senang orang-orang tau tentang karirku" Ramirez diam. Raut mukanya yang tadi riang berubah masam, baru saja kehilangan kesempatan menebalkan pundi-pundi uangnya. Ia kembali mencoba menawarkan pekerjaan lain meski tak yakin La Vie akan menerima. "Ada tawaran dari majalah Men Desire. Kami biasa menyebutnya majalah MD. Mereka menawarkan uang 35.000 euro dengan pembayaran di muka kalau kau bersedia menerima tawaran pemotretan dari mereka" Wajah La Vie berubah antusias, "Aku terima" Ramirez sempat tercengang. Ia menatap sekertaris di belakangnya sedikit kikuk menjelaskan, "Tapi majalah itu, bukan seperti yang kau pikirkan. Mereka seperti majalah Playboy di Amerika dan kau tau..." "Oh... Maksudmu gambar telanjang 'kan?" Pria berbibir berisi itu menepuk tangannya dengan keras, "Itu maksudku" "Itu tidak masalah, aku ingin melakukan debutku di sana," jemari tangannya yang ramping meraih gelas teh lalu menyecapnya seteguk kecil, "tubuh indah yang disimpan sendiri itu adalah dosa" pungkasnya di barengi senyum. Ramirez tertawa dengan nada memaksa, heran dengan keberanian gadis itu. "Mereka pasti sudah tidak sabar bekerja denganmu" ** Aileen Aldari berusaha menfokuskan diri pada pekerjaannya. Ada beberapa dokumen penting yang mesti ia periksa salah satunya merupakan laporan rahasia dari Clandestin menyangkut buronan mereka Ernest Braun yang hingga kini belum ada kabar. Ia sudah berusaha membaca laporan itu berulang kali berharap informasi itu bisa terserap dengan baik, sayangnya semua tak lebih seperti bacaan kosong yang sama sekali tak ia mengerti. Ia mengatup laporan di tangannya dengan kasar dan tiba-tiba teringat lagi kejadian pagi tadi yang membuatnya tak berkutik. Tiap mengingatnya Aileen Aldari menggebrak meja dengan keras. Ia tak tahu kenapa bisa takluk dengan mudah, padahal ia yakin jika bersikap tegas atau mungkin sedikit kasar bisa membuat mulut gadis itu bungkam seketika. Perhatian Aileen Aldari tertuju pada kotak merah di mejanya. Ia membuka kotak itu mengamati menu makanan yang terdiri dari roti, daging, tempura udang, telur dan sayuran yang ditata menyerupai wajah lucu dirinya. Bentuk matanya yang menggunakan telur dan topinya yang dibuat dari sayuran ungu, tampak sedikit dipaksakan membuatnya tersenyum. Namun mengingat kejadian pagi tadi ia mendadak berubah pikiran hendak membuang makanan itu ke tempat sampah. Sayangnya ketukan dari arah pintu membuat ia menunda keinginannya. "Siap, selamat siang jenderal" sahut Sersan Kemal membuka pintu. "Ada apa?" "Ada tamu yang ingin bertemu Anda" "Persilakan dia masuk," sebelum pria itu melalui pintu Aileen Aldari memanggil lagi. Kemal berbalik dengan sikap hormat. "Apa ada informasi baru tentang Anello Spina atau Ernest Braun?" "Siap, belum ada jenderal" "Buat janji dengan pemimpin Clandestin. Ada yang ingin aku bicarakan" "Siap, laksanakan" Setelah Kemal menghilang, dari arah pintu muncul Rhine. Gadis itu menyapanya dengan sebaris senyum manis sambil melambaikan tangan. Memasuki ruangan Aileen Aldari adalah hal baru baginya hingga Rhine tak bisa menyembunyikan sikap kikuknya. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke sana setelah pelantikan pria itu sebagai jenderal besar Flander-Belgium di usia yang masih cukup muda. "Apa aku mengganggu?" tanya gadis itu malu-malu. Aileen Aldari berdiri menyilahkannya duduk, "Tentu saja tidak putri. Apa yang membawa anda kemari?" Rhine menimpali dengan senyum malu-malu sambil sesekali melirik Aileen Aldari yang bersikap ramah padanya. Ia agak sungkan mengutarakan niatnya ke sana, maka lebih dulu ia berusaha mengumpulkan keberanian. Ketika pandangannya mengedar tanpa sengaja ia melihat bekal makanan di atas meja. Rhine tahu mustahil Aileen Aldari membuatnya sendiri. Ia menduga seseorang membuatkan khusus untuknya namun untuk alasan apa ia tak tahu. "Makanan itu sepertinya enak" Mata amber cerah itu melirik kotak makanan yang berada beberapa senti dari jarinya. Ia menyesal tak membuangnya segera. "Ah, iya, seseorang membuatkannya untukku. Dia orang yang sulit ditolak jadi mau tidak mau aku harus menerimanya" Rhine berdiri dengan muka masam yang sedikit disembunyikan, "Aku ingin mengajak kakak untuk makan siang, tapi sepertinya kautidak bisa" Aileen Aldari berusaha menahan Rhine, "Aku bisa makan siang denganmu" Gadis itu melirik bekal di meja, "Lalu makanan itu?" "Bisa dibuang, itu tidak penting" Mendengar jawaban Aileen Aldari hati Rhine tenang. Ia merasa apapun maksud makanan itu ada di sana, ia tidak perlu cemas. Pria itu tidak menyukainya. Siang itu Aileen Aldari sengaja mengajak Rhine mengunjungi restoran di sebuah hotel mewah di pusat kota. Tak berdua saja Aileen Aldari sengaja mengajak Kemal yang jadi pengawal agar tak ada gosip tak pantas menyebar karena kedekatan mereka. Ia berusaha menjaga nama baiknya sekaligus Rhine karena tak mau menambah gosip buruk di kalangan istana mengingat pengakuan La Vie yang sudah cukup menggemparkan beberapa waktu lalu. Aileen Aldari sengaja memilih tempat duduk dekat jendela sambil mengawasi keramaian. Sebelum Rhine duduk ia menarik kursi untuknya, sementara Kemal yang bertugas sebagai pengawal duduk agak jauh dari mereka agar tak mengganggu. Rhine memesan semangkok Risotto pada pelayan sedangkan Aileen Aldari meminta bistik panggang setengah matang. Kemal sendiri sudah disodori makanan buatan La Vie yang awalnya diperintahkan untuk dibuang, namun ia menolak karena merasa makanan itu terlihat lezat. Sementara pelayan menyiapkan pesanan mereka Rhine dan Aileen Aldari berbincang. "Bagaimana di yayasan?" buka pria itu. "Menyenangkan. Aku melakukan kunjungan sosial ke rumah sakit kanker khusus anak-anak dan panti asuhan. Melihat anak-anak yang sakit membuatku merasa sedih. Aku berharap bisa menghibur mereka" "Kau melakukan tugasmu dengan baik" Aileen Aldari mengelus puncak kepala Rhine, gadis itu tersipu. Ia mengangkat pandangan perlahan mengamati wajah pria itu, ia ramah sama sama sekali tak tampak pemarah atau kasar padanya. "Kakak selalu bersikap baik padaku. Apa... Karena aku seorang putri?" Bibir tipisnya menimpali senyum, "Kau memang seorang putri, tapi terlepas dari itu aku merasa senang saat bersamamu. Kau berbeda dengan gadis yang lain" "Gadis yang lain?" kening Rhine mengernyit penasaran. "Gadis gila yang suka mengejar pria. Aku tidak habis pikir ada perempuan seperti itu, mereka rela merendahkan diri, bukankah itu memalukan?" Rhine terdiam sesaat. Jantungnya mulai berdebar kencang. Ia jarang mendapat kesempatan berdua saja dengan Aileen Aldari dan menganggap ini adalah hal langka di mana ia bisa mengutarakan perasaannya dengan bebas. "Bagaimana pendapat kakak tentangku?" "Kaumanis dan menyenangkan" "Apa kausuka gadis seperti itu?" Rhine menunggu jawaban dari bibir pria itu dengan perasaan tak karuan gugup, sayangnya sebelum Aileen Aldari menjawab La Vie sudah keburu muncul di depan meja mereka berdua. Senyum lebar di wajahnya yang berusaha ia buat ramah itu malah lebih mirip bentuk sinis tak langsung. Rhine berpaling dengan terkejut. Meski La Vie sudah membuat kericuhan di istana ia tak membencinya, hanya kurang menyukai sikapnya. Ia terlalu terus terang dengan kata-kata yang cenderung pedas tak peduli perasaan orang lain. Ibunya memberi peringatan agar tak mencoba dekat dengannya. Ia mengingat itu dengan baik. "Sebuah kejutan bertemu kalian berdua di sini. Dari jauh kalian sudah terlihat seperti sepasang kekasih" pujinya dengan tawa lebar yang membuat Aileen Aldari sedikit muak, sebaliknya Rhine senang sedikit malu-malu. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" sambung gadis itu sekedar basa-basi. "Aku ada pemotretan" Ia melirik Aileen Aldari. Pria itu sama sekali tak menanggapi kehadirannya. La Vie tak begitu kecewa, ia memang sering seperti itu. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan mencari bekal makan siang yang ia buat khusus untuknya. Seketika ia menelan kecewa melihat makanan itu ada di tangan orang lain. La Vie tak bisa berkata-kata. Ia hanya memulas senyum lalu memerhatikan pria yang memakannya dengan lahap. "Apa kausuka makanan itu?" Kemal yang sedang sibuk makan berpaling bingung. Ia hanya menimpali dengan anggukan. "Datanglah sesekali aku akan memasakkan makanan lain untukmu" Kemal dan Rhine sama-sama tercengang. Sebaliknya Aileen Aldari mulai merasa kesal. "Seperti janjiku aku akan membayar makan siang kalian karena Jenderal Aileen sudah membantuku" "Bisakah kau pergi dari sini?" timpal pria itu menggebrak meja membuat Rhine terkejut, sebaliknya La Vie tak peduli. Ia melanjutkan ocehannya. "Kau tau dia membantuku tadi pagi menuju agensiku. Kami bertetangga, datanglah kapan-kapan ke rumahku. Aku akan menunggumu" La Vie memanggil pelayan lalu mengeluarkan kartu kredit membayar pesanan mereka lalu bergegas pulang. ** La Vie meniti tangga rumah di hadapannya dengan hati-hati. Malam sudah larut menjelang dini hari. Ia pulang dalam keadaan mabuk setengah teler menaiki taksi dengan  menenteng tas kertas di tangannya. Ia berjalan sempoyongan setengah menyeret, kesulitan menyeimbangkan diri karena hak sepatu yang ia kenakan terlalu runcing  dan tinggi. Ia memutuskan duduk di salah satu tangga lalu melanjutkan langkah dengan menyeret tubuhnya hingga tiba di ambang pintu. Ia berdiri penuh usaha untuk meraih bel lalu memencetnya beberapa kali dengan tak sabar di selingi pukulan menggebrak. Tak lama pintu terbuka bersama pantulan cahaya lampu dari dalam rumah yang terlalu menyilaukan mata. Ia menutup matanya sekilas dengan tangan berusaha membiasakan diri dengan jumlah cahaya yang masuk ke pupilnya. Perlahan ia mulai bisa melihat dengan jelas tubuh Aileen Aldari yang berdiri di hadapannya. La Vie tertawa beberapa detik kemudian mendorong tubuh Aileen Aldari sembari menempelkan tas kertas kecil yang ia tenteng. "Mulai sekarang... Aku sudah tidak berhutang padamu" Pria itu menengok isi tas kertas di tangannya. Uang pecahan dua ratus euro yang terikat rapi. "Untuk apa ini?" La Vie menepuk d**a Aileen Aldari, "Uang untuk... membayar biaya rumah sakitku kemarin" Ia menyodorkan tas itu kembali pada La Vie, "Tidak perlu, aku menganggapnya sebagai pemberian" Gadis itu tertawa sinis, "Pemberian?" Setelah menyelesaikan ucapannya sekali lagi La Vie tak bisa menahan tawa beberapa saat meski berusaha menguasai diri dan emosinya yang tak menentu. Setelah bisa diam dan menyeimbangkan emosinya, ia merogoh tas kertas itu lalu mengeluarkan segepok uang di tangannya, "Kalau kau tidak bisa menerimanya kau bisa membuangnya atau menyerahkannya pada orang lain,"  La Vie membuang uang itu ke udara hingga jatuh berserakan, "bukankah itu keahlianmu yang tidak pandai menghargai kebaikan seseorang?" "Kau tersinggung karena aku memberikan masakan buatanmu pada orang lain? Apa kau tau, kau sudah memberikannya padaku, apapun yang kulakukan dengannya bukan lagi urusanmu" La Vie mengangguk, "Benar, itu bukan urusanku, kau juga tidak pernah memintaku membuatnya. Aku saja yang terlalu bersemangat berpikir kau akan menyukainya sampai aku bangun pukul 5 pagi hanya untuk membuatnya... Ah, kau benar. Terima kasih sudah mengingatkanku" La melempar tas kertas di tangannya lalu berjalan terhuyung menuruni tangga.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN