Lima Belas

2864 Kata
Aileen Aldari mengunjungi istana pagi itu. Tiap pekan ia memang memiliki jadwal wajib untuk melaporkan segala hal pada raja. Namun karena Raja Cos Valentine II telah wafat, maka tanggung jawab itu berpindah pada Victor Leopold meskipun belum secara resmi di lantik. Hari itu keadaan istana tidak setenang biasanya. Ia bisa mendengar banyak bisik-bisik tiap kali melangkah. Situasi yang persis sama ketika La Vie melakukan penampilan publik pertama di depan televisi dan membuka jati diri sesungguhnya hingga membuat seluruh istana gempar berhari-hari. Kali ini ia tak tahu apa yang terjadi tapi memilih tidak peduli hal yang bukan urusannya. Ia bergegas menuju ruang kerja putra mahkota di lantai dua istana yang kebetulan hari itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Ia mengetuk pintu ruang kerja Victor Leopold yang sedang dalam keadaan setengah terbuka. Pria berambut hitam itu abai beberapa saat, ia malah mengumpat dan membanting majalah di tangannya dengan keras ke lantai tanpa alasan. Aileen Aldari bersikap biasa saja. Melihat kemarahan anggota keluarga kerajaan sudah jadi makanan sehari-hari untuknya bahkan sejak ia memulai karir sebagai sersan muda. "Selamat pagi  Yang Mulia" Victor Leopold mengalihkan perhatian ke arah lain tak mau menunjukkan wajahnya yang marah. "Aku harap kau membawa berita baik untuk membuatku lebih tenang" Belum sempat Aileen Aldari menjawab pertanyaan itu, Josephine sudah menerobos masuk lebih dulu, menenteng majalah yang sama seperti yang berada di meja sang putra mahkota -- majalah bersampul jingga keemasan dengan efek matahari tenggelam yang menampilkan siluet wanita telanjang. Josephine mencengkram majalah itu hingga tak terbentuk dan melemparnya ke arah meja. Ia memegang kepalanya berusaha menarik napas mengendalikan emosinya yang tak terbendung. "Kau melihatnya? Kau sudah melihatnya? Setelah berani menyebut dirinya sebagai anak haram ayahmu di depan semua orang, sekarang dia mempermalukan kita lagi dengan menghiasi majalah porno dengan tubuh telanjang. Apa kau tidak berpikir dia sudah melemparkan banyak kotoran ke wajah kita? Dia adalah aib yang harus disingkirkan" Victor Leopold mengatup matanya sesaat berusaha berpikir jernih dan lebih waras meski sama marahnya dengan Josephine. "Bisakah Yang Mulia lebih tenang. Apa anda tidak malu pada Aileen?" Mata coklat terang Josephine melirik pria berseragam militer di sampingnya. Wajah pria muda itu masih sama dinginnya seperti biasa seolah tak peduli pada apapun gonjang-ganjing istana, membuat Josep tak perlu merasa terbebani. "Aileen sudah tau semuanya dari awal. Bahkan bukan hanya dia tapi semua orang!" ia mengalihkan perhatian sekali lagi pada putranya. "Sebaiknya kau cari cara menyingkirkan benalu itu" "Semua orang sudah tau siapa dia. Kalau kita menyingkirkannya secara tiba-tiba orang-orang akan segera menyadari jika semua ucapan La Vie benar dan kita mencoba menyelapkannya. Selama ini kita sudah diam dan membendung opini publik sekeras yang kita bisa sehingga sebagian orang masih tidak percaya padanya. Jika kita mengambil langkah yang salah, para wartawan itu akan menemukan celah menyerang kita. Ibu adalah yang paling tau betapa berbahayanya opini publik" Josephine merenung sesaat sambil menggigit ujung telunjuknya yang menekuk. Ia tampak begitu khitmat hanyut dalam pikirannya sendiri, membuat Victor Leopold sempat bingung, tapi ia segera menyadari ibunya mungkin sedang memikirkan sebuah ide cemerlang. Dan setiap ide yang muncul darinya bukan hanya sarat keuntungan tapi bahaya. "Kau benar, opini publik adalah yang paling buruk," ia memutar pandangan bergantian baik pada Aileen Aldari maupun Victor Leopold. "Kapan acara untuk memperingati akhir masa berkabung dilakukan?" "Dua hari lagi" "Yah, kita sebaiknya memusatkan diri pada hal seperti itu dibandingkan memikirkan majalah sampah seperti ini" Josephine menginjak majalah yang terbengkalai di lantai kemudian meninggalkan mereka berdua. Perubahan sikap dan suasana hatinya yang tiba-tiba bukan hanya mengherankan bagi mereka tapi juga mengerikan. Tidak ada yang tahu apa yang sedang berkecamuk di kepalanya sampai semuanya terlanjur terjadi. Hal itulah yang membuatnya ditakuti semua orang. ** Setibanya di kantor Aileen Aldari juga mendapati suasana yang tak jauh berbeda dengan di istana. Para anak buahnya yang harusnya sibuk bekerja di departemen masing-masing malah berkumpul di sudut ruangan mengerumuni satu majalah, saling berbisik dan tertawa dengan raut muka penuh nafsu. Mereka begitu hanyut menatap gambar telanjang tubuh La Vie sampai tak menyadari kehadiran Aileen Aldari yang segera merampas majalah itu dari tangan mereka disertai tatapan nyalang. "Kalian di gaji untuk bekerja bukan membaca tabloid porno. Kembalilah bekerja! Kalau aku melihat lagi ada yang membawa tabloid ini, mereka akan diberi sanksi berat!" Ancaman Aileen Aldari membuat semua tentara muda itu kalang kabut segera bergegas menuju meja mereka masing-masing berusaha menunjukkan diri seolah sedang bekerja. Setelah suasana tenang dan terkendali seperti biasa jenderal muda itu memasuki ruangannya. Ia meletakkan majalah tadi di atas meja kemudian membuka mantel yang ia kenakan. Mendadak salah satu halaman majalah tanpa sengaja terbuka tertiup angin dari mantel yang baru saja ia gantung. Tubuh molek La Vie yang tak tertutup sehelai kain pun tengah berbaring di tengah tumpukan kelopak bunga, tampak jelas di depan matanya. Aileen Aldari mengatup rapat sepasang matanya sekilas seolah sedang mempersiapkan diri, kemudian mengambil majalah itu tanpa melihatnya dan segera menguncinya ke dalam salah satu laci. Kini baik raut mukanya dan Victor Leopold sebelumnya sama sekali tak jauh berbeda. ** Suara taksi berhenti pukul dua pagi di depan gerbang rumah La Vie. Seraya pintu membuka hak sepatu lancip menginjak tanah. Tubuhnya yang terbalut gaun hitam selutut dipadu mantel -- keluar dengan langkah terhuyung. Dia menutup pintu taksi, membuka pagar lalu berjalan lagi dengan oleng, kadang condong ke kiri, kadang ke kanan, kadang hampir jatuh tersungkur. Saat hampir jatuh La Vie akan segera duduk berjongkok di atas tanah untuk menyeimbangkan diri. Kondisinya yang tengah mabuk membuat ia sering meracau dan tertawa seperti orang gila. Pemandangan ini sama seperti malam-malam sebelumnya sejak ia mulai aktif kembali bekerja. Namun di banding malam sebelumnya ia merasa lebih pusing dan lebih mual dari biasanya hingga ia berlari ke sudut tanaman merambat yang tumbuh di pinggir rumahnya dan muntah di sana berulang kali. Setelah merasa lebih baik ia melangkah meniti tangga sambil berpegang hati-hati. Ia masih sesekali tertawa kemudian marah dan mengumpat entah pada siapa. "Kenapa... Aku membeli rumah yang membuatku harus naik turun tangga. Sialan" Luce mengintip dari tirai jendela setengah terbuka yang menghadap persis rumah La Vie. Ia melihat bagaimana gadis itu merangkak di atas tangga dan tak habis pikir dengan kelakuannya. Ia sudah seperti itu selama berhari-hari. Pulang menjelang dini hari dalam keadaan mabuk mengenakan pakaian terbuka. Siapapun yang melihatnya jelas dengan mudah memberinya cap perempuan 'nakal' tak beda jauh dengan dirinya. ** Bel rumah Aileen Aldari berdentang pukul 6 pagi tepat setiap hari. Waktu yang selalu sama sejak gadis itu tinggal dekat rumahnya dan berjanji memasak untuknya. Hanya saja satu hal yang berbeda sejak beberapa hari ini seusai mereka bertengkar, gadis itu tidak lagi mengantar makanan bikinannya. Ia hanya meletakkannya di muka pintu menunggu pria itu muncul mengambil nampan berisi makanan bermacam rupa, tapi satu hal pasti selalu ada ialah jus jeruk. Aileen Aldari sempat merasa bingung. Menu makanan yang ia dapati selalu berbeda tiap hari, tapi minuman yang ia dapat selalu segelas jus jeruk sampai membuatnya mual tiap melihatnya. Ia berjalan kembali ke dalam melihat piring dan nampan dari rumah La Vie yang menumpuk di tempat cuci piringnya. Ia berpikir untuk lekas mengembalikannya sebelum gadis itu kehabisan piring. ** La Vie berbaring di atas sofa dengan selimut tebal menutup tubuhnya dan plaster penurun  panas menempel di dahinya. Ia tampak sedikit pucat, dan sedang berusaha tertidur, tapi bunyi bel memaksa ia bangkit membuka pintu meski merasa seharusnya tak seorangpun datang ke sana. Ia tak kenal seorang pun di Flander-Belgium. Begitu menarik gagang pintu ia segera disambut wajah cantik dan senyum menawan dari Rhine. La Vie sedikit terkejut melihatnya di sana. Ia tak menduga ajakan basa-basi yang ia katakan tempo hari benar-benar disambut gadis itu. Hanya saja ia merasa Rhine muncul di waktu yang tak tepat dan berharap bisa mengusirnya jika dimungkinkan. "Apa aku boleh masuk?" La Vie menatap dua orang bodyguard berbadan besar di belakang Rhine dan akhirnya mengubur niatnya. "Silahkan masuk" ajaknya setengah terpaksa. "Apa kau baik-baik saja?" gadis bermata coklat itu menunjuk keningnya yang tertutup plaster demam. La Vie mengangguk sembari menuju dapur, "Hanya demam biasa karena musim gugur. Aku sering seperti ini saat di Rusia. Aku menyebutnya demam musim gugur" Rhine tertawa sepintas menimpali, kemudian melegakan diri dengan duduk di atas sofa putih ruang tamu. Ia mengintip ke arah tirai jendela yang sedikit terbuka menghadap bangunan rumah Aileen Aldari. Sebelum masuk ke rumah itu, ia sempat mengintip mobil yang biasa digunakan Aileen Aldari sedang terparkir di halaman. Karena hari ini hari Mingguz ia yakin pria itu sedang berada di rumah dan berharap bisa menemuinya setelah menyelesaikan urusan dengan La Vie. Dari dapur gadis bermata hijau dengan rambut bergelombang itu datang membawa kudapan dan segelas teh hangat. "Silahkan menikmati" Rhine tersenyum, meraih gelas teh dan meneguknya hati-hati. Setelah merasa cukup ia mengalihkan perhatian pada La Vie. "Aku datang ke sini karena ada sesuatu yang harus kuserahkan" ia merogoh tasnya lalu mengeluarkan undangan besar berwarna merah dengan kop kerajaan di kepala surat. "Pesta setelah masa berkabung raja akan diadakan dua hari lagi. Ibuku memintaku mengantar ini padamu" La Vie sempat tercengang, tak menyangka akan mendapat undangan penting. Ia meraih benda itu dari tangan Rhine dan melihat namanya memang tertera di sana disulam dengan tinta keemasan yang tampak mewah. "Aku akan datang" seru La Vie antusias. Rhine yang tak tahu lagi apa yang mesti dikatakan mulai mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, tampak sedikit resah. Ia merasa agak malu-malu mengutarakan niatnya tapi kemudian memberanikan diri. "Apa Jenderal Aileen tinggal di seberang?" La Vie menengok ke arah jendela panjang tertutup tirai pale cherry di belakang punggungnya. "Iya, dia tinggal di sana" Rhine memegang tangan La Vie dengan antusias disertai sorot mata berbinar cerah. "Temani aku ke sana" Raut muka gadis itu tampak sedikit ragu. La Vie menggaruk keningnya dengan telunjuk tangan. "Aku tidak yakin kalau dia mau melihatku di sana. Kurasa jika kau mau bertemu dengannya kau bisa ke sana langsung. Dia akan senang melihatmu" Rhine tampak memelas, "Aku malu datang ke sana, lagipula kau tidak perlu bicara apapun, biar aku saja yang melakukannya," La Vie tetap diam membuat Rhine makin memaksa, "Aku mohon!" Melihat keseriusan dan kesungguhan gadis itu La Vie akhirnya menyerah. Ia menanggalkan selendang yang melilit tubuhnya seperti orang sakit tapi membiarkan plaster penurun panas tetap menempel di keningnya. Setengah enggan La Vie memasuki halaman rumah pria itu lalu berdiri di beranda menunggunya membuka pintu rumah. Meski datang ke sana bersama Rhine, ia tetap merasa tak siap bertemu lagi dengannya setelah pertengkaran mereka beberapa malam sebelumnya. Ketika pintu rumah pria itu terbuka dan Aileen Aldari berdiri di hadapan mereka, La Vie menyingkir ke belakang Rhine sambil memiringkan tubuh tak mau berhadapan pria itu. "Putri?" Aileen Aldari melihatnya sedikit terkejut. "Boleh kami masuk?" "Silahkan" ucapnya setah sempat berpikir. Rhine yang amat bersemangat menyambar tangan La Vie, menariknya masuk untuk duduk di sofa ruang tamu bersamanya. "Saya tidak tau kalau putri akan datang. Kalau saya tau saya bisa menyiapkan sesuatu" buka pria itu sekedar basa basi karena memang tak biasa menerima tamu dan tak tahu cara menjamu dengan baik. Rhine mengintip dapur di belakang Aileen Aldari yang tampak bersih dan rapi, lalu sesekali menatap pria itu berharap jika ia akan menyajikan sesuatu padanya, tapi Aileen Aldari hanya diam di tempatnya duduk, membiarkan mereka menunggu. La Vie yang bisa menangkap keengganan Aileen Aldari yang sepertinya tak cakap dalam hal dapur memilih menggantikan posisinya meski tahu akan merepotkan dirinya sendiri. "Aku akan menyiapkan sesuatu, sementara kalian bisa berbincang" Rhine mengangguk. Ia senang mendapat kesempatan berdua dengan pria itu meski belum tahu apa yang akan dibicarakannya. La Vie membuka lemari makan bagian atas untuk mencari teh atau kopi yang bisa ia buat sementara dirinya merebus air. Sayangnya ia tak menemukan apapun selain lemari berdebu. Ia membuka lemari bawah dan hasilnya pun sama saja. Ia lalu melirik lemari es sebagai harapan terakhir untuk mendapat sesuatu yang bisa disajikan, sayangnya isi kulkas besar dua pintu itu hanya botol air minum. Beberapa ada yang berisi tapi sebagian hanya botol kosong yang dibiarkan begitu saja. La Vie membuang napas. Ini adalah pengalaman buruk pertama baginya. Ia tak menemukan apapun di dapur pria itu. Ia tak tahu entah Aileen Aldari terlalu malas menyiapkannya atau memang ia jarang memberi makan dirinya sendiri. Setelah mematikan kompor ia kembali ke tempat Rhine dan Aileen Aldari berada. "Kau tidak menemukan apapun 'kan?" pria itu mendongak padanya tapi La Vie sama sekali tak balas melirik. Ia sepenuhnya memusatkan perhatian pada Rhine. "Aku akan pergi sebentar mengambil makanan" 15 menit berselang La Vie muncul membawa teh dan kue-kue kering. Ia meniti tangga dengan napas tersengal dan tubuh berkeringat karena demamnya. Ia berharap saat itu bisa beristirahat, namun karena Aileen Aldari ia harus rela bolak-balik hanya untuk menyajikan kudapan untuk seseorang yang bahkan bukan tamunya. Tiba di ruang tamu La Vie kecewa tak mendapati Rhine di sana. Meski sedikit enggan akhirnya ia memutuskan bertanya pada Aileen Aldari sekalipun tak begitu yakin pria itu mau diajak bicara. "Di mana Rhine?" "Ke kamar mandi" Mendengar jawaban itu La Vie lega. Ia meletakkan nampan di meja dengan tangan yang sedikit bergetar. Setelah duduk ia memijat tangannya yang sedikit sakit. Padahal ia yakin jika dalam keadaan sehat ia tak mungkin merasa lelah demikian cepat. Selama beberapa saat mereka sama-sama diam. La Vie tak mau lagi menegur Aileen Aldari lebih dulu karena hampir sebagian besar usahanya ketika mengajak pria itu bicara hanya ditimpali keketusan yang berujung tak menyenangkan. Ia mengalihkan perhatian dengan menatap ke arah jendela, sedikit menyesal tak membawa ponsel untuk pura-pura dimainkan agar tak perlu terlibat dalam suasana canggung. "Kau sepertinya sering mabuk-mabukan dan pulang pagi buta" La Vie segera menengok. Ia bahkan tak menegurnya tapi pria itu tetap bicara dengan nada pedas yang membuatnya agak jengkel, "Mabuk-mabukan? Apa aku bertampang pemabuk?". "Kau punya alasan disebut seperti itu" La Vie tertawa kecut, "Ya, aku selalu pulang di pagi buta dalam keadaan mabuk, tapi itu karena aku bekerja," Aileen Aldari melempar tatapan penuh curiga padanya, "Kenapa, kau mengira aku minum dengan pria lalu tidur dengan mereka?" "Aku tidak bilang begitu" elaknya, membuat La Vie sedikit muak. Ia merasa pria itu punya kebiasaan memandang rendah dirinya hanya karena penampilan dan sikapnya selama ini. "Aku minum dan berpesta dengan banyak klienku tiap malam setelah kami menyelesaikan proyek runway atau pemotretan. Profesiku mengharuskanku membangun jaringan dan mengenal banyak orang. Orang-orang sepertiku tidak bisa bertahan di industri ini hanya mengandalkan wajah cantik dan tubuh yang indah, sementara tiap tahun puluhan agensi model menemukan ratusan wanita muda yang menunggu untuk terkenal dan di promosikan," suara La Vie bergetar, seraya matanya mulai berkaca-kaca, "Semakin aku menua aku kehilangan semakin banyak kesempatan untuk menghasilkan uang, jadi aku harus berusaha memanfaatkan sekecil apapun kesempatan untuk memastikan aku tidak akan hidup miskin dan berakhir di jalanan. Ini bukan pekerjaan yang kuinginkan tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Aku tidak sama sepertimu ataupun Rhine. Kalian sudah memiliki segalanya jauh sebelum kalian berharap memilikinya" La Vie berdiri menghapus setetes air matanya yang jatuh, "Aku memang tidak terhormat seperti kalian tapi bukan berarti kau bebas memandang rendah diriku" Rhine yang baru saja kembali dari kamar mandi menatap mereka berdua dari kejauhan dengan heran. Ia tak mengerti apa yang sedang mereka ributkan sampai membuat La Vie menangis. Segera setelah kembali ke rumahnya La Vie mencari kotak obat dan mengambil satu pil obat penurun panas yang mengandung obat tidur. Ia juga mengganti plaster demamnya dengan plaster baru kemudian kembali ke sofa, menarik selimut mencoba tertidur meski air matanya yang tumpah membuat wajah dan tubuhnya serasa kian panas. ** Bel yang berdentang berulang kali penuh berisik memaksa La Vie bangkit dari tidur lalu berjalan menuju pintu. Dirinya yang dalam kondisi setengah kantuk ketika membiarkan pintu terbuka sempat mengira Aileen Aldari yang berdiri di hadapannya hanya mimpi. Ia tertawa samar padanya sebelum kembali ke sofa untuk berbaring sembari membiarkan pintu terbuka, hingga pria itu mengira ia dibiarkan masuk begitu saja. "Aku datang untuk mengembalikan semua piringmu" kata Aileen Aldari sedikit mengangkat deret piring dan nampan yang ia bawa. "Letakkan di sana saja" La Vie menunjuk sembarang arah tapi mengarah tepat ke dapur. Pria itu menurut saja. Ia meletakkan piring yang ia bawa di dekat wastafel tempat cuci piring kemudian mengambil dua buah map yang tersembunyi di bawahnya sementara selebihnya membiarkan La Vie membereskannya sendiri. Setelah menyelesaikan pekerjaan itu ia mendekati tempat La Vie berbaring. Ia meletakkan telunjuknya di jidat gadis itu kemudian mendorong kepalanya berulang kali agar ia tersadar. "Kenapa tidur di sini?" La Vie yang setengah sadar tertawa sebentar kemudian bergumam, "Aku... Ingin di sini saja..." "Kau sudah minum obat?" gadis itu mengangguk. Aileen menyambung dengan menunjukkan map di tangannya, "Kau pernah menawarkan padaku untuk membuat kontrak. Kita sebut saja itu kontrak asmara sebatas untuk hubungan ranjang. Aku sudah membuatnya dengan memasukkan beberapa pasal penting untuk dipatuhi. Apa kau setuju?" La Vie bangkit dengan semangat masih mengira tengah bermimpi, "Kau sungguh membuatnya? Ini mimpi yang indah" ia tertawa riang dengan mata setengah terbuka. "Bacalah" Aileen menawarkan map itu padanya, namun La Vie merampas kemudian memeluknya. "Kita tanda tangani saja sebelum kau berubah pikiran dan mimpi ini berakhir?" ia tertawa sekali lagi. Aileen Aldari menatapnya sekilas. Ia merasa gadis itu bertingkah jauh lebih aneh dari biasanya. Untuk memastikan kecurigaannya ia mendekatkan wajahnya pada La Vie. Mata gadis itu separuh membuka tapi tingkahnya lebih mirip orang mengigau. Ketika ia mengibaskan tangan di depan matanya La Vie tidak bereaksi. Ia berpikir sebentar kemudian tersenyum. "Aku setuju, berikan tanganmu!" gadis itu mengangkat jemarinya, sementara Aileen Aldari mengeluarkan pena dari dalam saku celananya lalu meletakkannya persis dalam genggaman gadis itu dan menunjukkan di mana ia harus menandatangani dokumen itu. "Kau harus menandatanganinya di sini" La Vie patuh. Meski dalam keadaan setengah sadar ia mengingat tanda tangan dirinya cukup baik dan membubuhkannya di atas kertas meski sedikit melenceng dari titik seharusnya. Setelah selesai Aileen Aldari menandatangani dokumen berbeda, lalu selanjutnya menukarnya sendiri berdasarkan keinginannya. "Aku akan menyimpan bagian milikmu dan kau menyimpan bagian milikku. Kontrak yang sudah ditandatangani tidak bisa diubah atau dibatalkan. Itu sudah termasuk di dalamnya, kau mengerti?" La Vie mengangguk patuh lalu jatuh kembali ke atas sofa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN