Enam Belas

1721 Kata
La Vie membuka sepasang kelopak matanya. Sinar matahari dari jendela membuatnya dengan cepat terjaga. Ia menebarkan pandang ke sekeliling ruangan, sedikit terkejut tak berada di ruang tamu tempat awalnya lelap tidur. Ia meraba keningnya, plaster penurun panas tak lagi berguna. Ia sudah merasa lebih baik. Ia bangkit dengan tubuh segar, namun mendadak sebuah map jatuh di atas kakinya. Ia menarik isi map itu ke atas pangkuannya lalu membaca halaman pertama. Ia tampak terkejut dan girang hingga wajahnya tampak bersemu merah. Namun tak lama raut mukanya kecut dan masam seketika. Ia berlari keluar meninggalkan rumah sampai lupa mengunci pintu. Di depan rumah Aileen Aldari ia memencet bel berkali-kali sesekali memukul pintu dengan lengannya karena tak sabar. Tak berselang lama Aileen Aldari muncul di hadapannya mengenakan singlet hitam ketat yang membalut tubuh dan otot kekarnya yang tampak berkeringat sehabis berolahraga. "Apa ini?" La Vie mengangkat kertas di tangannya ke muka pria itu. "Kau bisa baca bahasa Inggris 'kan?" acuhnya melirik ke arah lain. La Vie yang kesal menerobos, sengaja lewat dengan mendorong tubuh Aileen Aldari hingga bergeser. Pria itu menutup pintu sudah bersiap menghadapi protes yang akan ia dapat. "Apa maksudmu dengan isi kontrak gila ini? Aku tidak boleh lagi tampil di majalah yang mengharuskanku tampil telanjang, aku tidak boleh memakai pakaian terbuka, tidak boleh pulang larut, di larang minum alkohol, tidak boleh mengungkap isi perjanjian ini atau kontrak batal. Di depan umum harus menjaga jarak minimal 5 meter, hal-hal yang berkaitan dengan kemesraan hanya boleh dilakukan saat bercinta. Pihak pertama bebas menentukan kapan pun saat ingin bercinta dan pihak kedua tidak boleh menolak juga dilarang memaksa. Pihak yang menyetujui kontrak harus menuruti semua perintah pihak pertama pembuat kontrak. Ketidak patuhan akan dikenakan denda 10.000 euro. Kontrak yang dibuat tidak bisa diubah atau dibatalkan. Pembatasan sepihak tanpa persetujuan pihak pertama akan terkena penalti 10.000.000 euro" La Vie tercengang, setengah bibirnya terbuka, "Kau mau membuatku jatuh miskin? Aku yakin ini kontrak p********n. Kau sengaja melakukannya padaku?" Aileen Aldari berpaling dengan sikap tenang, "Aku sudah memintamu membacanya tapi kau tidak melakukannya. Kau bilang ingin segera menandatanganinya sebelum aku berubah pikiran, jadi apa yang bisa kulakukan?" "Kapan?" serunya setengah tak percaya. "Semalam, kurasa pukul 7 atau 8 malam" "Saat itu aku tidur, aku bahkan tidak tau kau datang," mendadak gadis itu tercenung, "Jangan-jangan kau memanfaatkan aku yang sedang tidak sadar untuk menyetujui isi kontrak itu? Aku terkejut rupanya kau orang yang sepicik ini. Kau membuat perjanjian yang semuanya menguntungkanmu tapi merugikanku?" Aileen Aldari mendekati La Vie. Ia meletakkan telunjuk di atas keningnya. Saat tak mengenakan sepatu hak tinggi, tubuh gadis itu hanya sepantaran tinggi bahu pria itu. "Kau sadar atau tidak, aku mana tau. Itu bukan urusanku. Kau sudah mematuhinya dan tugasmu sekarang adalah melaksanakannya. Kau paham?" La Vie masih tidak terima, "Aku tidak percaya aku melakukan itu. Kertas ini hanya berisi tanda tanganmu bukan punyaku. Kau bisa saja merekayasanya, benar 'kan?" "Kau menantangku?" "Apa kau takut membuktikannya padaku?" Aileen Aldari menimpali tawa menyepelekan karena tahu akan menang. Ia bergegas meniti tangga turun menuju kamarnya sementara La Vie ikut di belakang. Ketika hendak memasuki kamar pria itu,  Aileen Aldari membanting pintu di depan wajahnya. Sikapnya yang masih kasar tak berubah terlalu banyak sekalipun kontrak tersebut ada. "Kau lihat ini?" kata Aileen Aldari ketika membuka separuh pintu menunjukkan kertas bertanda tangan milik La Vie. "Berikan padaku!" pintanya sedikit memaksa "Aku tau apa yang akan kau lakukan. Jangan berharap kau bisa mendapatkannya" "Memangnya apa yang akan kulakukan?" "Kau pasti akan merobeknya. Kau pikir semudah itu?" Aileen Aldari menarik kertas itu kembali kemudian menutup pintu meninggalkan La Vie yang hanya bisa meluapkan kekesalannya dengan memaki pria itu dalam hati. Kontrak tersebut benar-benar nyata dan dia membubuhkan tandatangannya di atasnya. Untuk bisa membatalkan kontrak itu setidaknya ia harus bekerja selama bertahun-tahun. Mendadak ia menyesal pernah menawarinya kontrak hanya untuk bisa bersama dengannya. Ia tak tahu jika Aileen Aldari bisa bersikap licik. Wajahnya yang tenang tampak perhitungan dan berhati-hati membuatnya terkesan jauh dari semua itu. Ketika La Vie nyaris meninggalkan tempat itu tangan Aileen Aldari menyorok keluar dari pintu menarik kerah pakaiannya dari belakang membuat gadis itu terkejut. "Apa yang kau lakukan?" Setelah melepasnya La Vie berbalik dengan muka muram. "Pergi ke supermarket dekat sini, belikan apa yang kutulis" Ia mengeluarkan 500 euro dari saku beserta sebuah catatan kecil yang diletakkan di atas tangan La Vie yang terbuka. Wajah gadis itu kembali bersungut, menderita. "Kenapa kau juga harus menyuruhku, aku kan bukan pelayan" "Kau lupa, apapun yang diperintahkan pihak pertama harus diterima pihak kedua. Kecuali kau mau membayar denda sekarang juga itu tidak masalah" La Vie mengerutkan bibir setengah jengkel setengah pasrah. Ia menggenggam uang pemberian pria itu lalu bergegas pergi karena harus bersiap untuk bekerja. Setelah melihat kepergian La Vie dari pintu sambil berjalan kaki tampak mengusap tangannya di tengah cuaca pagi yang sedikit dingin dan berkabut --  Aileen Aldari mengintip rumah di sampingnya. Menyadari pintu terbuka lebar ia merasa mendapat sebuah kesempatan. Sambil terburu-buru mengambil gunting dari kamarnya, khawatir gadis itu kembali karena jarak supermarket tak lebih hanya 100 meter dari sana, ia segera menuju rumah La Vie, meniti undakan tangga menurun menuju kamarnya lalu membuka lemari pakaian gadis itu dengan mudah. Ia mengambil setiap  pakaian yang menggantung di depannya, sambil mengamati dengan teliti. Setiap pakaian yang ia rasa tak sopan akan segera digunting sementara pakaian yang dianggap layak hanya dibiarkan tergeletak di lantai. Ia melakukannya pada hampir semua pakaian yang ada dalam lemari gadis itu. Ketika La Vie pulang membawa kantong belanjaan ia baru tersadar karena terburu-buru menjumpai Aileen Aldari, ia lupa mengunci pintu rumahnya. Ia terpikir akan menutup pintu lebih dulu lalu membawakan barang-barang pesanan pria itu. Baru sesaat melewati pintu masuk, ia juga menemukan Aileen Aldari baru saja keluar dari arah kamarnya dengan membawa gunting besar di tangannya. Mata hijau gadis itu mengamatinya sebentar, sambil bertanya-tanya alasan pria itu sedang berada di dalam rumahnya dengan membawa gunting. Sepintas cepat pikirannya mulai tertuju pada salah satu aturan kontrak sepihak yang dibuat pria itu. Ia tercenung sebentar lalu tersadar. Kantong belanjaan di tangannya ia jatuhkan lalu segera menghambur menuju kamar. Benar dugaannya, lemarinya dalam keadaan terbuka. Semua pakaiannya berserakan di lantai, sebagian utuh lainnya habis terpotong. Dengan muka pucat, wajah terkejut menahan tangis ia meraih lembaran pakaiannya. Ia menatapnya penuh kasih sayang dan penyesalan. "Apa yang terjadi pada kalian?" ucapnya lirih seraya memeluk pakaian-pakaiannya sambil menangis beberapa menit meratapi nasib mereka yang buruk. Tak lama rasa sedihnya berganti kemarahan pada pria arogan itu. Ia berencana bergegas menyusulnya untuk membuat perhitungan, namun ia mengurungkan niat ketika mendapati  Aileen Aldari malah tengah asyik duduk di sofa rumahnya sedang menikmati segelas espresso hangat sambil membaca lembar kontrak La Vie yang tertinggal di rumahnya. "Apa salah pakaian-pakaianku padamu? Kenapa kau tega menyakiti dan merusak mereka?" ucapnya seraya menyodorkan selembar gaun yang terlilit di tangannya. Gaun merah yang pernah di gunakan La Vie ketika mereka menghabiskan malam untuk pertama kalinya di hotel. Aileen Aldari dengan santai menurunkan gelasnya, "Kau tidak bisa menyebutnya pakaian. Modelnya sudah tidak layak, aku hanya sedikit menegaskan ketidak layakannya padamu agar kau sadar" La Vie beku sebentar sudah tak bisa berkata-kata. Semua ucapan buruk yang rencananya akan ia lontarkan kini berubah jadi bulir air mata yang tak bisa ia tahan lebih lama. "Aku sangat menyayangi pakaianku. Aku membelinya dengan uangku sendiri tapi kau merusaknya tanpa berpikir. Aku sudah berusaha berbesar hati menerima kontrak tidak masuk akal darimu, tapi kenapa kau begitu berlebihan padaku! Kenapa kau selalu jahat padaku?" Hampir semua pria tak menyukai melihat wanita menangis. Mereka merasa air mata diciptakan untuk memojokkan dan menyalahkan mereka, begitu pula yang dirasakan Aileen Aldari saat ini. Meski sudah sering melihatnya menangis ia tetap merasa tak suka melihatnya. Ia beranjak mendekati tempat gadis itu berada. Meski mukanya masam kali ini ia berusaha lebih ramah. "Itu satu-satunya cara agar kau bisa mendengarkan. Aku tau mengatakannya saja tidak akan membuatmu patuh. Kau sangat keras kepala dan tukang pemberontak. Lagipula itu hanya pakaian, aku bisa membelikan yang baru untukmu, tapi hanya pakaian yang aku setujui saja" La Vie tak bergeming. Mukanya masih tetap kecut dan kusut. Janji pria itu masih belum mampu menghibur perasannya. "Apa yang salah dengan mengenakan pakaian itu? Aku mengenakannya tidak setiap hari, hanya di saat-saat tertentu" "Apa kau tidak tau apa yang dipikirkan para pria melihatmu dengan pakaian itu?" La Vie terdiam sebentar, tampak berpikir sebelum memberi jawaban untuk membungkam pria itu. Ia tahu Aileen Aldari bukan orang yang bisa didebati dengan mudah. Mereka punya ciri sifat yang sama, keras kepala dan suka mendominasi. "Aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang tentangku. Aku mengenakannya karena aku suka. Apa salahnya? Jika mereka berpikir hal aneh tentangku, itu salah pikirannya sendiri" Aileen Aldari menghela napas, sembari bertolak pinggang. Ia sudah memperkirakan berbicara dan membuat aturan untuk La Vie patuhi adalah hal yang sulit. Dia selalu bisa menemukan alasan untuk membantah, menyanggah untuk memastikan pendapatnya benar dan diterima. Ia mengahadapi gadis yang sulit, mereka tipe yang sama angkuhnya. Meski ini juga memberi keuntungan lain bahwa mereka bisa saling beradaptasi dengan cepat karena sifat yang sama, tapi juga rentan terlibat dalam pertengkaran untuk hal kecil. Satu hal yang Aileen Aldari pahami, ia harus mencari jalan tengah yang bisa disepakati bersama. "Baiklah, kau boleh mengenakan pakaian terbuka tapi dengan beberapa syarat," Aileen Aldari mengangkat jemarinya untuk menegaskan, "Satu, kau hanya boleh mengenakannya untuk alasan pekerjaan, kedua saat kita menghadiri acara yang sama dan ketiga aku yang menentukan seterbuka apa pakaian yang boleh kau kenakan" La Vie diam. Ia berpikir sejenak untuk menimbang tawaran itu. "Aku akan menerimanya jika kau berjanji tidak akan bertingkah kasar dan semena-mena padaku. Kalau ada yang tidak kau sukai kau harus mengatakannya lebih dulu dan bukan langsung bertindak buruk padaku" Pria itu menyodorkan tangan untuk bersalaman sebagai tanda persetujuan, "Aku terima" La Vie tersenyum girang lalu mengalunkan tangannya di lengan Aileen Aldari, "Kalau begitu kau harus menepati janjimu untuk menemaniku membeli pakaian baru. Aku juga harus membeli sebuah gaun untuk dikenakan di pesta istana nanti" Pria itu melepaskan tangan yang mengalun di lengannya, "Siapa yang mengundangmu?" "Josephine! Rhine membawakan undangan kemarin padaku. Apa dia tidak bilang?" "Sebaiknya kau jangan datang ke sana" La Vie mengamati rona serius Aileen Aldari dan tak mengerti mengapa pria itu melarangnya. "Kenapa aku tidak boleh datang? Itu kesempatan yang langka" "Istana bukan tempat untuk mencari atau mendapatkan kesempatan. Aku tau kau belum mengerti hal itu karena kau baru di sini dan hanya melihat mereka sepintas. Mereka bukan orang yang bisa kau tantang dengan mudah. Tempat ini adalah tanah mereka dan mereka menganggap kita tidak lebih dari seekor semut yang berjalan di atasnya. Menjauhlah dari mereka, itu adalah satu-satunya cara bertahan hidup di sini" "Tapi kau sendiri sangat dekat dengan mereka?" Aileen Aldari menyeringai, "Aku punya segala sesuatu yang bisa kugunakan untuk melindungi diriku sendiri, tapi kau tidak punya. Itu yang membedakannya"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN