Tujuh Belas

2341 Kata
La Vie menatap isi lemari dengan muka kecut dan perasaan hampa. Semua pakaian yang ada di sana sekarang adalah pilihan dari Aileen Aldari. Pria itu memang tak memiliki selera fashion buruk, tapi bertolak belakang dengannya. Ia cenderung menyukai pakaian berpotongan elegan dan tertutup. Batas pakaian terbuka yang ia maksudkan hanya menunjukkan pundak, leher, sedikit belahan d**a. Belahan rok juga hanya seadanya, nyaris tak bisa menunjukkan kaki jenjang yang dimiliki gadis itu. Malam itu La Vie akhirnya memilih mengenakan gaun midi dress off shoulder berwarna merah yang menunjukkan bahunya yang indah. Untuk rambut ia tidak bekerja terlalu keras. La Vie punya rambut panjang hitam bergelombang, yang hanya perlu disemprot sedikit hair spray untuk membuatnya terlihat tahan lebih lama. Ketika melihat tampilannya di depan cermin, ia cukup puas, hanya saja pakaiannya selalu membuat ia menghela napas dengan nada berat bercampur sedikit gerutu sesekali. Untuk sekarang ia memaksakan diri mengenakan pakaian itu, karena tak punya waktu membeli gaun pesta baru mengingat acara berkabung untuk raja dihelat malam ini. Sebenarnya ia juga sempat khawatir untuk datang, mengingat Aileen Aldari sudah memberinya larangan keras. Namun, bagi La Vie tak pergi berarti menolak kesempatan menunjukkan diri pada semua orang bahwa ia memang bagian dari istana meski belum mendapatkan pengakuan secara langsung. Ia muak dituduh sebagian pihak sebagai pembohong hanya karena tak punya bukti, padahal ia bersedia saja jika pihak kerajaan menantangnya melakukan tes DNA, tapi ketenangan istana yang sama sekali tak berusaha membela diri membuatnya agak terganggu. La Vie mengambil sebuah gaun merah muda berpotongan A-line dari lemari dan dimasukkan ke dalam tas belanja coklat bermerk Burberry. Ia berencana memberikan gaun itu pada Esme, dan berharap itu akan cocok ditubuhnya yang kurus. Sebelum yakin meninggalkan rumah, La Vie mengintip dari jendela menunggu Aileen Aldari pergi lebih dulu. Ia khawatir jika pria itu melihatnya ia akan segera diseret masuk lalu dikunci hingga pesta usai. Sikap tegas Aileen Aldari yang jarang berkompromi membuatnya yakin hal itu bukan mustahil terjadi. Setelah menunggu sekitar 10 menit, pria itu keluar rumah dengan meniti tangga mengenakan tuxedo hitam yang membalut tubuh kekarnya demikian baik. Pertama kalinya melihat pria itu melepas seragam militernya setelah sekian lama, membuat La Vie sempat kagum dan terpesona. Ia tak mengerti mengapa tiap kali melihat Aileen Aldari ia bisa dengan mudah tersihir. ** La Vie tiba di halaman istana menaiki taksi. Seperti biasa kendaraan umum tak diizinkan masuk, hanya bisa mengantar hingga gerbang. Sisanya ia berjalan kaki seorang diri di antara kerumunan mobil pribadi yang terus melesak masuk melewati pemeriksaan sebelum diizinkan mengisi lahan parkir istana yang setidaknya cukup untuk 50 buah mobil. Di pintu masuk 20 orang pengawal yang terdiri dari 10 pria dan 10 wanita dengan pembawaan militer yang kaku sudah menyebar di titik-titik yang dianggap penting. Masing-masing mereka bertugas memeriksa kelengkapan undangan maupun bawaan para tamu. Sebagian pengawal lainnya menenteng alat deteksi logam untuk memastikan di tubuh para tamu tak terbawa benda-benda logam berbahaya. Setelah melewati penjagaan istana yang berlapis La Vie tak segera menuju aula pesta. Ia sempat berkeliling sebentar untuk mencari Esme, meski ia sempat tersesat beberapa kali dan harus bertanya pada pelayan lain yang hampir semuanya menatap ia dengan sinis. Ketika La Vie sedang berjalan melewati koridor menuju dapur, ia melihat Esme sedang kerepotan mengangkat kardus besar sayur-sayuran yang tampak berat. Melihat raut muka gadis itu yang tampak kepayahan, La Vie merasa sedikit iba. "Esme" Panggilnya sekali, namun gadis itu tak menengok, memaksa ia memanggil lagi dengan nada lebih ditinggikan, "Esme... Esme..." panggilnya sambil melambaikan tangan ke udara. Gadis itu yang sudah berada di pintu dapur sedang berdesak-desakan dengan pelayan lain yang hilir mudik membawa jamuan ke meja para tamu, menengok. Dengan terpaksa ia mengangkat sayuran itu ke tempat La Vie agar tak menghalangi jalan. Setelah melepaskan benda berat itu dari dua tangannya, ia baru bisa bernapas lega sambil memukul punggungnya yang tampak sakit kelelahan. "Kau tidak apa-apa?" Gadis berkepang itu segera memeluk La Vie dengan girang, "Sudah lama tidak melihatmu Nona" La Vie menepuk pundaknya kemudian memberikan tas belanjaan yang ia bawa, "Lihatlah!" "Apa ini?" mata sipit gadis itu tampak sedikit berbinar. "Buka saja!" Ia membuka tas kertas itu dengan segera. Melihat gaun mahal di tangannya mata Esme sontak berkaca-kaca. Ia menatap La Vie bergantian dengan gaun itu kemudian memeluknya. "Terima kasih, belum pernah ada yang memberiku hadiah sebagus ini" La Vie menghibur sambil menepuki pundaknya, "Aku bisa memberimu pakaian seperti ini lagi. Kadang-kadang para desainer akan menghadiahkan beberapa rancangannya pada para model yang bekerja sama dengan mereka. Oh, ya, berapa istana menggajimu setiap bulan?" "600 Euro perbulan, Nona" "Kalau begitu bekerjalah padaku, aku bisa memberimu 1000 euro perbulan. Yah, kurasa dengan upahku sekarang itu bukan hal mustahil" Esme sempat melepas pelukannya sebentar sembari menatap La Vie, "Apa anda bersungguh-sungguh?" "Tentu saja!" Tangis Esme makin membanjir dalam pelukan La Vie sampai membuat ia takut gaunnya akan basah karena air mata. Setelah menunggu gadis pelayan itu berganti pakaian di kamar yang dulu La Vie huni, kini mereka keluar berbarengan menuju aula pesta. Namun ada sedikit hal aneh hari itu yang tidak disadari semua orang. Beberapa wartawan yang mewakili media besar diizinkan masuk ke dalam membawa kamera, meski gerak-gerik mereka yang sedang mengambil gambar nyaris tak disadari seorangpun, selain Aileen Aldari yang sibuk jadi pengamat pesta di atas tangga, sedang menunggu Victor Leopold yang sedang bersiap di kamarnya. Hari itu benar-benar ramai. Aula istana ditata dengan megah, penuh buket bunga, hidangan mewah dan para tamu yang hampir semua mengenakan setelan mahal dan gaun-gaun mewah. Musik mengalun dari panggung kecil yang berdekatan dengan pintu masuk. Di sampingnya berdiri pahatan patung es berbentuk istana setinggi dua meter yang mengagumkan. La Vie mengedarkan pandangan pada para tamu yang ia terka ada seratusan orang bahkan lebih. Namun tak seorangpun di antara mereka yang ia kenal. Mendadak hatinya diselubungi perasaan asing di tengah keramaian. "Nona... Nona..." Esme menyolek pundaknya. Gadis itu menunjuk di antara kerumunan para tamu yang berada di dekat tangga menuju ruangan Victor Leopold. "Anda tau pria itu?" "Yang mana?" mata hijau La Vie memicing penasaran di antara sekumpulan pria. "Itu, yang memegang gelas white wine. Tangannya berada di dalam saku. Dia sedang menatap Putri Rhine" Tatapan La Vie terhenti pada seorang pria berambut coklat kusam. Hidungnya tinggi sedikit besar hingga lubang hidungnya nampak sedikit jelas. Mata pria itu berwarna abu-abu dengan kelopak mata agak lebar seperti kelopak mawar. Bibirnya tipis, bagian atasnya melengkung tumpul menyerupai bentuk bukit, sementara bentuk bibir bawahnya lurus, sedikit melengkung di bagian sudut. Tatapan pria itu terus tertuju pada Rhine, yang malam itu tampil cantik memakai maxi dress putih brokat dengan rambut yang disanggul dihias bunga. Dandanannya sederhana, lebih menonjolkan mata coklat terangnya yang indah sedikit lebar seperti almond. "Oh, dia cukup manis" komentar La Vie kemudian mengambil segelas wine dari seorang pelayan pria yang kebetulan sedang lewat tak jauh darinya. "Dia Count Philip Seymour Hoffman, anak dari Lady Summer, istri dari wakil pemimpin partai para bangsawan. Dia menyukai Putri Rhine, tapi putri Rhine menyukai Jenderal Aileen Aldari" bisik gadis itu di telinganya agar tak ada yang mendengar mereka bergunjing. "Ah, cinta bertepuk sebelah tangan. Buruk sekali" La Vie beranjak ke arah pria itu. Esme yang terkejut La Vie mengambil inisiatif lebih dulu mendekatinya tanpa alasan membuat gadis itu kelabakan. Apa lagi ia terlambat melarangnya ke sana. "Setelan yang bagus" pujinya pada Philip Seymour yang hanya ditimpali seringai tipis tak bersahabat. Pria itu mengalihkan perhatian ke arah lain sambil meminum wine di tangannya, seolah tak tertarik mengobrol dengan La Vie. Mengingat ia sudah mendengar berbagai kabar buruk tentang gadis itu. La Vie yang tahu tak bisa mengajak pria itu berteman dengan cara biasa mencoba menggunakan cara lain untuk menarik minatnya. "Aku cukup dekat dengan Rhine. Dia pernah datang ke rumahku sebelumnya hanya untuk mengantarkan undangan. Dia begitu manis dan baik hati, kurasa tidak seorangpun pria di Flander-Belgium tidak tertarik dan membayangkannya sebagai calon istri" Mata abu-abu Philip Seymour berpaling beserta seluruh tubuhnya. Ia mendekati La Vie dengan rona muka tampak tertarik. "Rhine orang yang sedikit pemilih dalam berteman. Dia sangat hati-hati untuk menjaga nama baik istana" "Kau juga berteman dengannya?" Philip Seymour tersenyum kecut, "Tidak, aku hanya tau tentang dia tapi tidak pernah punya kesempatan berkenalan secara pribadi" pria itu kemudian berbisik ke telinga La Vie, "Aku... juga ingin berteman dengannya, apa kau bisa membantuku?" Wajah gadis itu mendongak sepenuhnya, "Aku bahkan bisa membuatmu dan dia lebih dari itu" Tutupnya dengan senyum penuh percaya diri kemudian menarik lengan Philip Seymour ke tempat Rhine berada. Gadis itu kebetulan sedang mengobrol dengan beberapa gadis sepantaran dirinya. "Gaun yang bagus" puji La Vie sedikit basa-basi. Rhine tersenyum malu-malu. "Aku senang kau datang" La Vie kemudian melirik Philip Seymour di sampingnya yang hanya bisa berdiri mematung seolah tak pernah punya pengalaman dekat dengan wanita sebelumnya. Sikap kaku pria itu yang lebih mirip kucing ketakutan pada akhirnya memaksa La Vie harus membantunya mencari celah agar bisa berkenalan dengan Rhine. "Kenalkan, ini temanku namanya Count Philip Seymour Hoffman. Kau mungkin sudah tau dia, dia putra Lady Summer" Philip Seymour mengulurkan tangan bersalaman. Wajahnya kaku dan serius cenderung menakutkan, "Senang berkenalan dengan anda putri" Rhine balas menjabatnya, pria itu lantas segera mencium tangan Rhine membuatnya terkejut. Mencium tangan bukanlah kebiasaan asing dalam tradisi orang Eropa terutama di kalangan bangsawan. Tindakan ini bisa dimaksudkan sebagai rasa penghormatan, kekaguman maupun pujian. Tapi lambat laun, kebiasaan ini sedikit memudar. Bahkan dianggap lebih condong untuk menunjukkan perasaan pribadi. Setelah berhasil membuat mereka mengobrol La Vie memilih menghindar ke tempat lain. Ia diam di sudut tangga menunggu wine di tangannya tandas. Namun suasana yang tak mendukung cenderung membuatnya bosan. Hal ini berimbas pada keinginannya menghabiskan red wine di gelasnya. "Sudah kubilang jangan datang 'kan?" La Vie yang sedang menenggak winenya nyaris tersedak. Ia terkejut tak menyadari Aileen Aldari berada di belakangnya. "Kau harusnya jangan dekat-dekat denganku. Ini bukan jarak 5 meter" singgungnya sedikit sinis. Saat mereka sedang mengobrol sedikit berbisik, nyaris tak tampak sedang berbincang -- Victor Leopold turun tangga di samping Aileen Aldari yang memang bertugas mendampinginya. Ia tersadar akan kehadiran La Vie dan sempat menatap gadis itu beberapa saat. La Vie yang menyadari seseorang mengamatinya refleks berpaling hingga pandangan mereka bertukar tanpa sadar. Namun, kehadiran Aileen Aldari di tengah mereka seolah sedang mengawasi membuat gadis itu sedikit kikuk. Ia buru-buru melempar pandangan ke arah lain sambil menenggak winenya. Suara mik tiba-tiba menggema membuat semua orang sontak menengok ke arah panggung. Entah sejak kapan tak ada yang melihat maupun menyadari tapi Josephine sudah berdiri di antara pemusik. Ia tampak cantik dengan rambut tergulung. Poninya yang panjang di sisipkan ke bagian kiri telinganya. Karena masih masa terakhir berkabung ia  tetap mengenakan pakaian hitam berupa blazer gelap dipadu rok berpotongan A-line sepanjang lutut dengan Bros menempel di sisi kanan dadanya. "Aku senang sekaligus sedih di sini karena harus berdiri di antara kalian untuk mengenang masa berkabung suamiku, Raja Cos Valentine II yang tanpa terasa telah meninggalkan kita 10 hari ini" sambil berpura-pura menangis ia menyeka air mata di sudut matanya. Melihat tingkahnya La Vie hanya tertawa kecut. "Di tengah kepedihanku ini kalian pasti mendengar tentang pengakuan gadis bernama La Vie En Rose yang menyebut dirinya sebagai putri dari hubungan terlarang suamiku, di sini aku juga ingin menjelaskan hal itu" La Vie terdiam. Ia tampak pucat ketika jari Josephine menunjuk ke arahnya disertai tatapan tajam semua orang yang terasa bak menghujamnya. "Aku mengakui hal itu," semua orang gempar, berbisik satu sama lain terkejut dengan pengakuan itu. "Suamiku memang bukan orang yang sempurna tapi aku menerima dan memaafkan semua kesalahannya. Aku yakin sebagian dari para istri tahu jika pria pasti pernah sedikit tergoda pada perempuan lain di luar sana. Ada yang dengan mudah terpikat tapi ada juga yang berpegang teguh pada kesetiaan. Semua itu hanya bergantung pada pilihan dan kedewasaan seorang pria. Aku tak mempermasalahkannya. Aku juga menerima bahkan merangkul La Vie ketika dia datang membutuhkan pengakuan. Aku hanya sedikit terkejut dan tidak menyangka jika suamiku memiliki anak lain di luar pernikahan kami yang sah, tapi lebih daripada itu hatiku merasa teriris saat mengetahui dia menjalani kehidupan yang sangat sulit. Dia hidup tanpa tunjangan apapun di Rusia, tempat dia diasingkan agar tidak seorangpun tahu keberadaannya. Untuk bertahan hidup dia harus menjadi seorang model yang tidak sungkan memamerkan tubuhnya. Aku rasa kalian juga tahu semua itu, tapi aku mohon, jangan menghakiminya, dia menjalani hidup yang sulit sampai harus melakukan semua itu. Aku sudah menawarkan padanya kehidupan nyaman di dalam istana, dan tentu saja gaji untuk menanggung hidupnya sama seperti yang kuberikan pada putriku Rhine, ataupun Victor Leopold yang menjalankan tugas-tugas kerajaan, tapi percayalah aku tidak menuntutnya untuk bekerja. Aku hanya ingin memberinya kehidupan layak yang tidak pernah dia rasakan, tapi aku tidak mengerti dia memilih pergi begitu saja dan tampil di hadapan banyak orang seolah aku tidak peduli padanya. Ini menusuk hatiku," Josephine terisak, sebentar. Tangisnya yang palsu nampak begitu nyata sampai membuat semua orang terperdaya dan menatap La Vie seperti pengacau tak tahu malu. "Tidak... Tolong jangan menyalahkannya, dia hanya gadis muda yang mencoba mengejar impiannya. Aku juga mengerti dan tidak mau menghakiminya. Aku hanya ingin dia berhati-hati pada pergaulannya. Kehidupan model, kalian pasti tau sekalipun itu terlihat mewah dan menawarkan banyak kekayaan diperlukan banyak pengorbanan. Aku pernah mendengar cerita dari seorang mantan model yang menderita, maaf HIV-Aids. Dia tertular karena harus melayani banyak pria yang berpengaruh di industri itu. Tapi aku bersyukur wanita itu sudah lepas dari neraka yang dia alami. Kami melindunginya di bawah yayasan kerajaan yang memang bertujuan memberikan kesejahteraan pada mereka dengan mengajarkan banyak keterampilan dan modal usaha. Sekarang wanita itu sudah mandiri dan bisa membeli obat-obatan sendiri. Dia hidup dengan baik" Semua orang bertepuk tangan menganggapnya bak pahlawan tapi tak seorangpun menyadari jika apa yang dikatakan Josephine pada semua orang adalah bentuk hinaan terselubung. Josephine berupaya memperbaiki citra diri dan kerajaan dengan memutar fakta untuk membuat La Vie tersudut. Gadis itu terdiam sesaat. Tak lama ia hanya tertawa dengan getir, meski tampak jelas kemarahan besar di wajahnya. Ia hendak membalas saat itu juga dengan maju ke depan panggung menyanggah semua ucapan Josephine dan membeberkan kebenaran. Namun baru selangkah ia maju, Aileen Aldari menarik lengannya cukup kencang lalu menyembunyikan tangan mereka yang bertaut di belakang punggungnya. La Vie yang kesal menatapnya. "Lepaskan aku" "Jika kau pergi ke sana untuk membalas, kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri" Victor Leopold yang terkejut ibunya menyerang La Vie di depan banyak orang melirik ke arah gadis itu untuk mengetahui keadannya. Tanpa sengaja ia malah melihat La Vie sedang memberontak dari Aileen Aldari. Belum sempat ia memastikan penglihatannya, para wartawan yang sudah berbaur di ruangan itu segera menghampiri tempat La Vie berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN