Delapan Belas

2298 Kata
Saat beberapa wartawan sudah berkerumun di hadapan La Vie, Aileen Aldari melepas genggamannya. Untuk sesaat gadis itu tampak kebingungan. Mereka semua bertanya dalam waktu bersamaan, menyodorkan perekam lalu mengambil beberapa gambar dengan lampu flash kamera yang begitu tajam menyilaukan yang diambil dalam jarak begitu dekat. La Vie spontan menutup wajahnya dengan tangan. Ia tak suka keadaan itu, keadaan penuh keributan yang lebih mirip sebuah serangan tak terelakkan. Mendadak ia merasa panik lalu melihat sekeliling, semuanya penuh orang membuatnya tak tahu akan lari ke mana. Ia memundurkan langkahnya beberapa kali ke belakang untuk mencari jalan keluar, tapi tanpa sengaja tersandung kaki seseorang hingga tubuhnya jatuh terduduk, namun kamera-kamera itu masih terus mengambil gambar. La Vie nyaris menangis agar orang-orang itu menjauh, namun untung saja saat itu Esme berlari dengan sigap ke arahnya lalu menarik tangannya meninggalkan tempat itu. La Vie yang susah payah berlari karena mengenakan sepatu hak tinggi tak bisa mengimbangi tubuh kecil Esme yang cekatan, membawanya bersembunyi hingga ke taman belakang. Gadis pelayan itu yakin para wartawan tak akan bisa mengejar ke sana karena orang asing tak akan dibiarkan masuk lebih jauh ke dalam. "Anda tidak apa-apa Nona?" Esme menyapu wajah La Vie yang berkeringat tertutup helai rambut yang sedikit berantakan menutup sebagian wajahnya. Napasnya memburu, ia masih tampak sedikit panik dan ketakutan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana gadis itu. "Anda tunggu di sini, saya akan memeriksa keadaan di luar agar anda bisa pergi dari sini" Mata hijau La Vie sedikit berkaca-kaca. Ia begitu berterima kasih pada Esme. Jika tak ada gadis itu ia tak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin ia akan menarik sepatunya lalu memukul kepala para wartawan itu satu persatu dengan hak sepatunya yang runcing. "Terima kasih" ucapnya sembari memeluk gadis itu. Esme tersenyum kemudian mengangguk lalu meninggalkannya seorang diri. La Vie mengedarkan pandang ke seluruh penjuru. Taman belakang yang biasanya indah di siang hari amat jauh berbeda saat malam hari. Tak ada lampu penerang, semuanya gelap gulita. Bahkan bayangan pohon di kejauhan menyerupai sosok tubuh tinggi besar yang menatap ke arahnya. La Vie bergidik. Lampu kuning pucat yang menggantung di atas kepalanya tak membantu banyak, malah semakin menambah rasa takutnya. Ia tak suka kegelapan karena takut sesuatu tiba-tiba muncul dari sana. Sama dengan rasa tak sukanya pada lampu kamera yang menyambar terlalu cepat dan kerumunan orang yang membuatnya merasa terkurung. Keduanya sama-sama bisa menimbulkan sedikit kepanikan di hatinya. Ia menelan ludah bersikap waspada pada kegelapan di hadapannya sampai membuat ia takut menengok mencari pintu keluar. Ia lebih memilih merayap dinding sambil meraba posisi pintu dengan tangan. Saat punggungnya tak lagi merasakan ada dinding penghalang di belakangnya, ia berbalik hendak berlari dari sana, namun di saat yang sama ia tak menyadari jika dari arah berlawanan muncul seorang pelayan pria tengah berlari cukup cepat ke arahnya. Akhirnya mereka bertabrakan cukup keras dan sama-sama jatuh ke lantai dengan wajah meringis memegang b****g dan pinggang masing-masing.  "Hai, kau... Apa kau tidak punya mata?" keluh pria kurus di hadapannya sambil menunjuk mukanya dengan kasar. La Vie mengangkat pandangan pada orang tersebut. Rupanya ia pelayan yang tadi menawarinya minuman. Ia terlihat masih cukup muda, La Vie menebak ia masih di awal dua puluhan. Rambutnya ikal berwarna coklat kemerahan. Hidungnya tinggi hampir berbentuk segi tiga, namun masih cukup ramping. Bibirnya panjang, berisi tak begitu montok, dengan bentuk alis cukup tebal yang melengkung di sisi depan. Dagunya agak lebar, rahangnya sedikit kotak dan tegas. Dilihat sekilas orang sudah bisa menilai ia punya pesona di atas rata-rata. Namun ada satu yang begitu menarik bagi La Vie hingga ia menatap anak muda itu cukup lama. Warna matanya tak asing, mata amber tembaga itu pernah ia lihat sebelumnya. Tanpa sadar ia balas mengangkat jari telunjuknya ke arah pria muda itu dengan heran. "Aku pernah melihat mata sepertimu sebelumnya" Dengan kasar pemuda itu menepis tangannya turun kemudian menunjukkan ke arah dirinya sendiri, "Jangan sembarangan! Warna mata sepertiku hanya ada lima persen di dunia. Kau pikir di antara milyaran penduduk bumi, berapa persen yang sudah kau jumpai?" timpalnya dengan nada ketus. Wajah La Vie sontak ragu. Ia hanya mengangguk menyahuti.  Meski pemuda itu memiliki warna mata menyerupai Aileen Aldari ia ragu mereka memiliki hubungan darah. Meski ia setuju mereka memiliki sikap yang ketus dan cenderung kasar.  Cara berpakaian pemuda itu yang membuatnya yakin mereka bukan keluarga. Pemuda itu terlihat urakan, membiarkan kaki kemejanya menjuntai keluar, sementara rompinya tak terkancing. Dasi kupu-kupu yang menghias kerah pakaiannya juga miring. Semua tampilan itu benar-benar berbanding terbalik dengan Aileen Aldari yang dari atas ke bawah tertata demikian rapi. "Kau mau ke mana?" selidik La Vie hanya coba-coba. Ia ingin mencaritahu apakah pemuda itu bisa dimintai bantuan untuk membawanya keluar dari sana. "Aku mau melarikan diri dari sini, tapi salah jalan. Para bangsawan di dalam sana berulah" La Vie memegang lengan pemuda itu, membuatnya heran dan sedikit merinding. Ia tak suka dipegang sembarang orang. "Bisakah kau juga membawaku keluar dari sini? Aku bisa memberimu uang jika kau membantuku" Pemuda itu terdiam sejenak menimbang dengan hati-hati, namun terlihat sedikit licik. "Berapapun?" La Vie mengangguk pasrah. "800 euro?" Gadis itu segera menyanggupi, "Aku bersedia, tapi aku tidak membawa uang sekarang. Kalau kau tidak percaya padaku, kau bisa ikut denganku ke rumahku" Pemuda itu mengangkat sudut bibirnya lalu mengangguk. Ia berdiri kemudian menyodorkan tangan pada La Vie membantu gadis itu menegakkan diri. ** Dengan sebuah jaket tebal yang menutup wajah dan tubuhnya pemuda itu menyelundupkan La Vie dari taman belakang melewati sisi samping istana yang tertutup rimbun pohon-pohon palem setinggi orang dewasa yang bisa membantu mereka menyelinap di antara kerumunan tanpa menyita banyak perhatian. Di ujung sudut bangunan istana mendekati pintu keluar mendadak muncul salah satu petugas pengamanan yang menangkap basah mereka berdua. La Vie terpaksa membuka penutup kepalanya lalu menatap petugas pengamanan yang rupanya seorang wanita muda. Saat ia berpikir mereka sudah tertangkap basah, pria muda itu memberinya aba-aba untuk segera lari. "Apa yang sedang orang mencurigakan seperti kalian lakukan di sini?" kata gadis itu dengan nada tegas. Pemuda itu mengangkat telunjuknya lurus. La Vie segera berlari. Saat petugas itu hendak mengejarnya, si pemuda menarik tangannya, mengunci tubuhnya lalu membantingnya dengan mudah ke atas rerumputan yang basah. Setelah mengatasi gadis itu ia bergegas menyusul La Vie yang sudah sampai di depan gerbang menunggunya. Mereka sama-sama terengah, namun La Vie takjub pada pemuda itu. Ia menepuk pundaknya beberapa kali disertai pujian atas keberaniannya. "Kau luar biasa. Siapa yang menduga pelayan sepertimu bisa beladiri" Pemuda itu tertawa tampak berbangga diri, "Di keluargaku, kami semua dididik secara militer" La Vie terpana, "Maksudmu?" Pemuda itu nampak enggan menjawab. Ia memilih mengalihkan perhatiannya pada taksi yang kebetulan melintas di depan mereka. ** Ketika memasuki rumah La Vie pemuda itu terkesima. Ia menatap seluruh penjuru ruangan penuh perasaan kagum melihat interiornya yang berkelas sekaligus unik. "Anggap saja rumah sendiri. Aku akan ke dalam mengambil uang" kata perempuan itu. Pemuda tersebut hanya mengangguk. Sorot matanya yang menerawang segera tertuju ke arah kulkas besar di sudut dapur lalu berlari ke sana seperti orang kelaparan. Sebelum La Vie menghilang ia minta izin padanya. "Boleh aku minta makananmu?" "Ya, ambil saja apapun yang kau mau" Pemuda itu tersenyum makin lebar sambil menepuk kedua tangannya. Ia segera menjelajah semua makanan di sana, mengeluarkan sebotol besar s**u berukuran satu liter, es krim, coklat, keju, seloyang besar cake vanila yang segera ia bawa ke meja dan santap dengan lahap seolah tak pernah melihat makanan itu sepanjang hidup. La Vie kembali ke tempat pemuda itu berada. Ia sedang makan dengan gesit hingga sempat tersedak dan segera membuka botol s**u kemudian meminumnya hingga nyaris setengah botol. Melihat pemuda itu ia hanya tersenyum dan merasa sedikit iba. Ia teringat ketika pertama kali ditemukan di jalan dulu oleh mantan manajernya. Ia bertingkah sama seperti itu. Makan apa saja tanpa jeda seperti sedang dikejar binatang buas. "Ini" ia menyodorkan uang pada pemuda itu, yang segera berpaling padanya. "Apa kau anak orang kaya atau putri bangsawan? Tidak semua orang bisa tinggal di kawasan mewah seperti ini" La Vie hanya tersenyum kemudian menarik kursi makan di samping pemuda itu. "Aku bukan orang kaya atau putri bangsawan. Aku bekerja sebagai seorang model" Pria itu mengangguk dengan bibir setengah terbuka sambil menganggukkan kepala tampak mengerti "Kenapa kau bekerja jadi seorang pelayan. Kau punya wajah yang tampan" Pemuda itu tertawa dengan sudut bibir belepotan penuh krim dari cake yang ia makan, "Wajah yang tampan tidak akan berguna untuk mencari uang" La Vie mengangguk setengah setuju, "Apa kau menjalani hidup yang sulit?" "Hidupku tidak sulit sebelumnya. Aku hanya sedang kabur dari rumah, jadi aku melakukan pekerjaan apapun supaya bisa makan" La Vie tersenyum lebar kemudian menepuk pundak pemuda itu. Sebuah ide terbersit dalam kepalanya. "Kau tau, kau bisa menghasilkan banyak uang dengan wajahmu" Pemuda itu sontak bersemangat dan penasaran di saat yang sama. Ia mengamati La Vie dengan mata berbinar, "Bagaimana caranya?" "Datanglah besok siang ke rumahku. Aku akan menunjukkan padamu caranya. Pekerjaan ini mudah dan menyenangkan" Mendengar penjelasan La Vie yang terdengar ambigu, alis pemuda itu bertaut diselingi tatapan sedikit curiga. "Kau tidak bermaksud menjualku pada wanita tua 'kan? Biar begini-begini aku pemuda terhormat" La Vie hanya tertawa. Sudut atas bibirnya terangkat disertai desisan tipis. "Tentu saja tidak, di dunia ini ada banyak pekerjaan yang cukup dengan menunjukkan wajah bisa membuatmu kaya" Pria itu menjulurkan tangannya menjabat gadis itu, "Baiklah, aku setuju" Setelah perutnya kenyang dan uang berada dalam genggamannya, pemuda itu akhirnya berpamitan pergi. Karena cuaca malam terasa cukup dingin ia memakai jaketnya lalu menutup kepala dengan tudung. Saat membuka pintu, di saat yang sama Aileen Aldari sedang memencet bel. Melihat lelaki itu berdiri di hadapannya, membuat ia sempat terkejut lalu menarik ujung tudung kepalanya untuk makin menyembunyikan wajahnya. Ia berjalan dengan langkah terburu sambil menundukkan wajah lalu menghilang dalam kegelapan. La Vie yang mendengar bunyi bel sempat keluar. Melihat Aileen Aldari di hadapannya mukanya berubah kecut. Ia masih dendam dengan kejadian di pesta tadi. "Siapa orang itu?" tanya lelaki itu sembari menutup pintu. La Vie sontak tertegun. Ia lupa bertanya namanya tadi. "Aku tidak tau, aku lupa bertanya tadi" "Apa kau punya kebiasaan membawa sembarang pria ke dalam rumahmu?" Melihat tatapan sinis dan ucapan tajam yang terlontar dari bibir pria itu membuat La Vie kesal dan cemberut. "Dia sudah berjasa menolongku untuk keluar istana saat tidak ada yang mau membantuku. Mereka semua menyerangku seperti binatang lapar" keluh gadis itu dengan suara bergetar. "Karena itu sudah kubilang jangan datang tapi kau tetap datang" Mata hijau La Vie mengamati pria bertuxedo dengan tubuh tinggi dan d**a bidang berotot yang tengah berdiri di ruang tamunya. "Kau sudah tau ini akan terjadi?" "Tidak, tapi aku tau dengan siapa kau sedang bermain. Kelakuanmu sama saja sedang menaiki mobil sambil menutup mata. Kau memang ingin cari mati" Aileen Aldari menekankan dengan nada sedikit tajam berharap La Vie sadar dengan tindakan sembrononya. Kelopak mata gadis itu melirik ke bawah. Sorot matanya menyendu sesaat. Ia mengerti ucapan Aileen Aldari tapi di saat yang sama juga menolak setuju. "Hanya karena aku lahir di situasi yang salah dari orangtua yang salah, dalam keadaan salah, apakah itu berarti semua adalah salahku? Aku hanya ingin kembali ke tempat kelahiranku, mencari ibuku dan hidup tenang. Aku tidak bermaksud melawan siapapun, aku hanya sedang melindungi diriku sendiri, kenapa itu semua jadi salah? Aku juga tidak pernah minta dilahirkan jika berakhir seperti ini. Aku rela mereka membunuhku saat sebelum aku lahir. Aku sangat menyesali seluruh hidupku dan alasan kenapa aku bisa tetap hidup sampai hari ini" Aileen Aldari mendadak menghampiri La Vie kemudian mencium bibirnya. Gadis itu hanya terpana sebentar tapi menikmati ciuman di bibirnya. Ia tak pernah membayangkan orang sekasar Aileen Aldari bisa begitu mengejutkan. Saat La Vie berpikir itu hanya sekedar ciuman biasa, ia dikejutkan ketika pria itu tiba-tiba sudah membuka setengah resleting di belakang punggungnya. Saat gaun merah itu sudah nyaris turun melewati dadanya, ia menahannya dengan tangan karena gugup dan heran. "Apa kita akan melakukannya sekarang?" Tangan Aileen Aldari memegang kedua lengannya, "Kau tidak boleh menolak pihak pertama saat dia menginginkannya, kau tidak lupa 'kan?" La Vie mengigit bibirnya lalu mendongak pada pria tinggi di hadapannya, "Tapi aku belum siap, aku belum mandi atau memakai parfum?" "Untuk apa mandi, kalau berkeringat lagi" La Vie hanya terdiam tak sepenuhnya setuju tapi juga tak menolak. Melihat wajah gadis itu sudah setengah pasrah, Aileen Aldari menarik tangan yang menutup separuh gaunnya yang sudah terbuka lalu menariknya turun hingga jatuh. Payudaranya yang membusung tertutup bra berenda tanpa tali yang bisa dibuka dengan mudah. Segera setelah melepas bra La Vie, p******a montok itu segera nampak di depannya. Aileen Aldari tak segera melakukan sesuatu. Ia lebih memilih melepaskan semua benda yang membalut tubuh gadis itu lalu menariknya menuju lengan sofa. Ia menekan bahu La Vie hingga ia duduk, lalu menarik dagunya kemudian mulai mencium bibirnya, sementara tangan pria itu bergerak turun menyentuh payudaranya yang bulat kemudian memerasnya sedikit gemas. La Vie merintih lalu reflek menepuk lengannya. "Tidak bisakah kau bersikap lebih lembut?" "Akan aku usahakan" timpalnya acuh tak acuh. La Vie kemudian menatap ke arah kamarnya, lalu melirik pria itu kembali. "Kenapa kita tidak melakukannya di kamar saja?" "Aku ingin melakukannya di sini" Saat Aileen Aldari akan mencium bibirnya ia menahan pundak pria itu. Lalu menatapnya dari atas ke bawah. Ia masih tampak begitu rapi, jas, kemeja dasi semua masih menempel di tubuhnya dengar rapi tak tampak bergeser sedikitpun membuatnya merengut karena hanya dia yang melepas pakaiannya. "Lalu kenapa kau tidak melepas pakaianmu?" "Aku masih harus kembali ke istana" La Vie tercengang, "Kau sudah gila, kau kembali kemarin hanya untuk melakukan..." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Aileen Aldari sudah melumat bibirnya lebih dulu. Lidahnya yang basah menerobos masuk ke dalam mulut La Vie saling beradu saling menyambut penuh hasrat hingga cairan mulut mereka saling bertukar. Aileen Aldari membuka kaki La Vie lalu menarik pinggangnya mendekati ereksinya lalu menggosokkan bagian itu perlahan di antara paha gadis itu. La Vie merasa tertantang. Ia mengelus bagian itu hingga tonjolan itu kian mengeras, membuat Aileen Aldari tak bisa menahan diri lebih lama lalu buru-buru menarik resleting celananya, mengeluarkan ereksinya yang sudah terkurung beberapa lama. Ia melepas ciumannya, memastikan tubuh gadis itu berada pada posisi yang tepat. Setelah merasa semua sudah seperti yang ia inginkan ia mendorong ereksinya perlahan hingga tenggelam sepenuhnya ke dalam tubuh gadis itu. Mereka mendesah di saat yang sama. Aileen Aldari yang merasa mengontrol semuanya menarik dagu La Vie untuk melanjutkan ciuman mereka yang sempat terputus, sambil memegang pinggulnya untuk bergerak sesuai irama yang ia inginkan, sementara La Vie harus mempertahankan keseimbangan agar tak jatuh ke belakang dengan mencengkram sofa dan punggung Aileen Aldari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN