Sembilan Belas

1721 Kata
La Vie memencet bel rumah Aileen Aldari berulang kali. Di tangannya ia membawa sekantong besar belanjaan yang terdiri dari aneka makanan, minuman, dan buah-buahan. Ia membawa segala jenis bahan makanan yang diperlukan namun tak tersedia di rumah lelaki itu. Saat pintu terbuka, Aileen Aldari muncul dengan rambut berantakan dan mata setengah kantuk. La Vie menatapnya heran, tak biasanya pria itu bangun terlambat. "Kau mau apa?" tanyanya dengan nada ketus yang membuat muka gadis itu cemberut. "Aku datang untuk membuat sarapan" Aileen Aldari menggaruk kepala sambil menguap, "Kenapa tidak membuatnya di rumahmu saja dan membawanya kemari?" La Vie mengangkat kantong belanjaannya yang penuh dan berat, "Aku membawa beberapa makanan untuk mengisi kulkasmu yang miskin" Aileen Aldari tak mendebati lagi. Ia membiarkan gadis itu menerobos masuk dengan mendorong paksa lengannya yang membentang menghalangi pintu masuk. Dengan susah payah sambil menarik bawaan berat, ia akhirnya tiba di dapur dan mulai mengeluarkan semua bawaan dalam kantung tas belanjanya untuk ditata dalam lemari pendingin. La Vie membeli sekotak telur, s**u, aneka sayuran, minuman sehat, makanan beku, dan bahan lainnya. Ia menata semuanya demikian rupa, serapih mungkin agar mudah ditemukan. Aileen Aldari yang melihat kesibukan gadis itu dari jauh hanya mengamatinya dengan heran. Ia tak tahu alasan mengapa La Vie selalu bersikap perhatian padanya bahkan untuk hal-hal yang menurutnya bukan urusannya. Kadang ia merasa gadis itu terlalu ikut campur dan membuatnya sedikit sebal. Setelah merapikan dapur La Vie mulai berpikir untuk memasak. Ia membuka pintu lemari pendingin sambil berpikir menu yang cocok untuk dibuat sarapan pagi ini. Namun, ia tertegun sejenak tak punya ide apapun di kepalanya. Ia sudah membuat banyak menu makanan seminggu ini dan tak tahu harus memasak apa lagi. Ia melirik ke arah Aileen Aldari yang sedang duduk santai di sofa sambil membaca koran. Kantuk pria itu seolah hilang dengan cepat setelah membaca. "Kau ingin makan sesuatu? Kalau ada yang mau kau makan, katakan saja padaku. Aku akan membuatnya" "Tidak ada" jawabnya abai, lebih sibuk membaca koran. Lalu tak lama mengeluarkan ponsel dari saku. Setelah terpaku beberapa detik menatap layar ponselnya, ia lantas berdiri. "Aku mau mencuci muka" kata pria itu lalu menghilang menuju lantai satu. La Vie yang bingung tak tahu apa yang mesti ia lakukan, kemudian berpikir untuk mencari resep makanan menggunakan ponsel Aileen Aldari yang kebetulan ia tinggalkan di meja, karena terlalu malas untuk kembali ke rumah dan mengambil ponselnya yang tertinggal. Ia mengendap seperti pencuri mendekati meja. Mata hijaunya melirik ke pintu berharap pria itu tak muncul sebelum waktunya. La Vie menghela napas. Ia agak ragu membuka ponsel itu awalnya karena mengira Aileen Aldari mungkin menggunakan kode untuk mengunci ponselnya. Ia yakin dia adalah tipe yang seperti itu. Namun, dugaannya meleset jauh ketika memencet tombol kunci, ponsel itu terbuka dengan mudah. Ia agak penasaran apa yang sedang pria itu buka sebelum beranjak pergi. Mata hijaunya membelalak. Wajahnya terpana begitu melihat foto dirinya dalam posisi jatuh jadi headline utama majalah online. Di bawah kolom komentar dipenuhi caci maki dan sumpah serapah. Banyak yang menjulukinya jalang pengacau istana dan membela Josephine mati-matian. La Vie tak menyangka kebencian untuknya makin menjadi, lebih besar dari sebelumnya. Jika jauh hari sebelumnya ia masih mendapat dukungan dari internet maupun orang yang ia temui secara langsung dan mempercayai ucapannya. Kini, mengingat pengalamannya saat berbelanja tadi, nyaris semua orang menatapnya sinis penuh kebencian. Ia tak tahu bagaimana harus keluar dari situasi ini. La Vie yang termenung tak menyadari kehadiran Aileen Aldari di belakangnya yang segera merampas ponsel itu dari tangannya. Ia berbalik dengan wajah murung dan bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud lancang memata-matai ponselmu. Aku hanya sedang mencoba mencari resep makanan untuk dibuat" Untuk kali ini pria itu tak mencoba marah. Ia hanya melirik ponselnya kemudian menatap wajah gadis itu. Ia jelas menemukan perbedaan. La Vie tak tampak bersemangat seperti sebelum ketika ia datang. "Kau temukan makanan yang akan kau buat?" La Vie sempat berpikir sebentar lalu mengangkat wajahnya dengan sudut bibir ditarik dipaksa tersenyum, "Mungkin, aku akan membuat omelet saja. Kau suka omelet?" "Aku tidak masalah dengan makanan apapun" La Vie mengangguk lalu bergegas ke dapur. Dia sibuk menyiapkan bahan makanan meski sebenarnya jauh dalam hati dan pikirannya terus terngiang semua komentar buruk tentangnya. Ia belum pernah menerima kebencian sebesar itu sebelumnya hingga membuat nyalinya ciut dan sedih. Saat sedang memotong daun bawang dan seledri, tanpa sengaja ia memotong kulit jari telunjuknya hingga berdarah. Ia mengaduh pelan lalu membuang pisau ke meja kemudian menatap tangannya yang terluka dengan wajah kesakitan sambil menahan tangis. Aileen Aldari yang memang mengamatinya sedari tadi segera berdiri menghampirinya sambil menyodorkan tangan untuk melihat luka gadis itu, "Coba kulihat" La Vie bergeming menyembunyikan tangannya yang terluka dibalik punggung, "Tidak apa-apa, ini hanya goresan biasa" Mata amber Aileen Aldari melihat darah jatuh terus menerus ke lantai dari belakang punggung gadis itu. Dengan paksa ia menarik tangannya lalu mengamati luka itu. Cukup dalam meski tak lebar. Ia segera menarik La Vie mencari obat merah yang tersimpan dalam kamarnya. Untuk pertama kalinya La Vie akhirnya bisa menginjakkan kakinya masuk ke kamar pria itu, bahkan duduk di atas ranjangnya secara langsung. Anehnya peristiwa besar itu sama sekali tak membuatnya merasa senang. Ia terus terpaku, tatapannya hanya tertuju pada lukanya yang terbalut plaster cokelat muda. "Kau memikirkan apa yang dikatakan orang-orang di internet itu padamu?" La Vie yang tertegun bahkan tak menyadari jika Aileen Aldari sedang bicara padanya. Sampai akhirnya pria itu menyentil dahinya dengan jari, membuatnya mendesis tipis karena kesakitan. "Ada apa?" keluhnya mengusap kening sembari menatap pria itu. "Aku mengajakmu bicara, apa kau tuli?" La Vie tertunduk dengan wajah menyesal. Ia terdiam seolah semua kata tenggelam dalam kerongkongannya. "Maafkan aku, sepertinya untuk hari ini kau bisa memesan makanan di luar. Aku sedikit tidak enak badan" Gadis itu berdiri hendak berjalan menuju pintu. "Apa kau tidak tahan dengan tekanan yang kau hadapi? Jika kau selemah itu lebih baik kau kembali saja, kau hanya akan dijatuhkan dengan mudah" Langkah gadis itu terhenti. Ia segera menengok dengan mata yang berair dirembesi air mata. Ia menatap Aileen Aldari dengan marah mengingat kejadian kemarin, "Jadi apa yang harus kulakukan? Kau harusnya tidak menghentikanku saat itu dan membiarkan semua orang mengetahui semuanya!" ia menuntut dengan nada ditinggikan. Pria berbadan tinggi besar itu berjalan menghampiri tempat La Vie menangis. "Jika kau tidak punya bukti tidak ada seorangpun yang akan mempercayaimu. Kau tidak bicara pun mereka sudah membencimu. Hentikan apapun yang kau pikirkan, hiduplah dengan tenang dan abaikan semua ucapan buruk. Kau pernah melakukannya sekali dan bisa melakukannya lagi" La Vie diam mendengarkan sembari mencerna ucapan itu baik-baik. Ia berbalik punggung dan merangkul tubuh Aileen Aldari untuk melampiaskan kesedihan, "Tidak apa-apa jika semua orang membenciku, selama ada kau aku tidak akan terlalu menderita, jadi aku mohon padamu tetaplah berada di sisiku tidak peduli semarah dan sebenci apapun dirimu. Aku akan diam dan menerimanya" Aileen Aldari melepas pelukan gadis itu. Ia menarik dagunya lalu mencium bibirnya. Kecupan perlahan kemudian menjadi lumatan lembut pada bibir atas dan bawahnya bergantian. Ia membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang. Melingkarkan kaki di atas pinggulnya, lalu melepas kaos lengan panjang yang ia kenakan dan membuangnya ke samping tempat tidur. Bibirnya kembali menelan bibir penuh gadis itu kemudian membuka kancing kemeja yang ia kenakan satu demi satu, hingga menyisakan pakaian dalam berenda berwarna putih yang serupa warna kemejanya. Ia mengecup sudut leher La Vie, menarik bra-nya ke atas hingga memunculkan kedua payudaranya yang membusung. Ia menciumi aroma belahan dadanya yang manis efek parfum yang ia kenakan, lalu menelan p****g coklatnya masuk ke dalam mulutnya. Napas La Vie menderu berat. Ia menarik tangannya ke atas membiarkan pria itu melalukan apapun pada tubuhnya dengan kepasrahan penuh. Ciuman dan lumatan Aileen Aldari berhenti sejenak. Ia menarik legging hitam yang membalut paha ramping La Vie, menurunkan celana dalam yang ia kenakan kemudian memutar tubuhnya menyamping. Lelaki itu berbaring di belakangnya, menurunkan celana kain yang ia kenakan lalu mengeluarkan ereksinya yang menegang. Ia menarik tubuh La Vie sedikit lebih tinggi, hingga paha mereka bertemu. Dari belakang ia mendorong ereksinya perlahan, sambil mengalunkan lengan di atas payudaranya dan memainkan putingnya bergantian. Gadis itu mendesah. Ia menyentuh tubuh Aileen Aldari dari belakang sambil mengusap d**a, perut hingga bagian bawah tubuhnya. Aileen Aldari dan La Vie berbaring berhadapan dalam keadaan setengah telanjang. Pria itu tampak lelap dalam tidur, membuatnya tak tahan tak menyentuh pipinya yang tampak lembut dan kokoh, namun mendadak ia terjaga dengan cepat. Kelopak matanya terbuka perlahan. Mata ambernya berkilau terkena sinar matahari dari jendela di belakang punggung La Vie. "Ada apa?" tanya pria itu menurunkan tangan gadis itu perlahan. La Vie tersenyum, "Kau terlihat sangat tampan saat tertidur" Aileen Aldari menimpali dingin pujian itu, "Aku tidak tidur, hanya menutup mata" Mendengarnya, gadis itu hanya tertawa. Ia beranjak menempelkan tubuhnya dengan mesra pada si lelaki. Kepalanya menyender d**a bidang Aileen Aldari sembari mendengarkan detak jantungnya yang rupanya sama datar dengan wajahnya, seolah tak terpengaruh akan keberadaan gadis yang tengah memeluknya. Saat mereka masih bermesraan mendadak terdengar suara mobil memasuki halaman dan bunyi pintu tergedor dari seberang rumah. La Vie segera tersadar. Ia bangkit dari tempat tidur serampangan mencari kemejanya tanpa mengenakan pakaian dalam lebih dulu membuat Aileen Aldari bingung mengamati kepanikan di wajah gadis itu. "Kau mau ke mana?" tanya Aileen Aldari bangkit dengan muka heran, yang hanya ditimpali senyum lebar. "Mobilku sudah datang!" Ia berlari turun dengan antusias menuju halaman. Dari tangga ia memang sudah melihat mobil minibus abu-abu yang terparkir di sebrang rumah, sementara sopir yang membawanya sedang kebingungan karena tak tampak seorangpun membuka pintu. "Aku di sini" ia meloncat gembira menghampiri petugas showroom berusia 50-an awal dengan kepala plontos, muka kotak dan tubuh pendek disertai bibir tipis nampak cemberut. "Anda Nona La Vie En Rose?" "Benar!" sambutnya girang. Pria itu turun tangga kemudian menyodorkan sebuah map padanya. "Silahkan tanda tangan di sini" ia menunjuk pada salah satu sudut kertas yang kosong. Setelah kepergian pria itu, ia segera memeluk mobilnya penuh perasaan senang dan bangga. Kerja kerasnya tak sia-sia. Ia bisa menghasilkan uang untuk memenuhi segala keperluan untuk dirinya sendiri meski pada awalnya ia ragu akan sukses apa lagi di tempat asing seperti Flander-Belgium. "Itu mobilmu?" Aileen Aldari menghampirinya sembari menatap mobil itu. Tak begitu bagus, bukan merek mahal, hanya mobil keluarga biasa. "Ini adalah anakku" timpalnya sembari mengusap kap mobil dengan senyum tak pernah terputus. "Dari mana kau mendapatkan uang untuk membelinya?" La Vie tersenyum genit sedikit malu-malu, "Aku mendapatkannya dari bayaranku sebagai model di majalah MD. Aku mendapat 35.000 euro. Sudah kugunakan sebagian membayar hutang dan membeli mobil ini" Aileen Aldari hanya bergumam acuh tak acuh. La Vie mendekatinya kemudian menarik ujung kaosnya, "Karena itu, apakah kau bisa menarik aturan sebelumnya agar aku bisa berfoto seperti itu lagi. Bayarannya sangat besar, sulit ditolak" Pria itu berlalu pergi, La Vie masih berusaha mengejar sembari membujuknya, "Kalau begitu setengah telanjang saja?" "Tidak!" Aileen Aldari menekankan dengan nada ditinggikan yang membuat gadis itu terdiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN