Bel rumah La Vie berdentang beberapa kali, sementara ia masih sibuk memilih salah satu dari tumpukan pakaian di atas ranjang yang akan dikenakannya hari ini.
Mendadak disela lamunannya, ia jadi teringat dengan pemuda misterius yang ia jumpai semalam. Ia memintanya datang menjelang siang. Sekarang sudah pukul sepuluh pagi, ia yakin jika tamu yang baru saja memencet bel rumahnya adalah si pemuda.
Ia segera mengambil kimono mandi untuk menutup tubuhnya yang hanya terbalut selembar handuk pendek.
Begitu membuka pintu, orang yang ia dapati berada di berandanya memang si pemuda. Sedang berdiri membelakangi pintu mengamati area perumahan itu.
"Hai" panggil La Vie. Pemuda tinggi itu berbalik dengan senyum menawan sambil melambaikan tangan. "Tunggu aku, 20 menit lagi aku akan siap!"
"Cepatlah, aku bosan menunggu!" kata pemuda itu sambil menunjuk jam tangannya.
La Vie mengangguk kemudian menghilang ke balik pintu. Ia bergegas menuju kamarnya untuk memilih pakaian apapun yang dirasa cocok menemani musim gugur yang mulai terasa dingin.
**
Setelah berganti baju mengenakan mantel hitam di bawah lutut dengan menenteng tas Hermes merah, dipadu sepatu hak tinggi berwarna senada. Rambut hitamnya dibiarkan terurai alami, karena sudah tidak punya banyak waktu menata rambut.
Ia menuruni undakan tangga buru-buru, sambil menggeledah tasnya memastikan ia sudah membawa kunci mobil dan semua barang yang diperlukan.
Saat matanya mengedar mencari keberadaan pemuda itu, ia sedang berada di garasi, sibuk bercermin dari spion mobilnya sambil merapikan rambut keritingnya.
"Kau bisa membawa mobil?" tanyanya sambil mendekati pemuda berjaket kulit berwarna coklat itu.
"Tentu saja!" ia menegaskan dengan senyum penuh kebanggan pada diri sendiri.
La Vie sontak melempar melempar kunci mobil di tangannya pada pemuda itu, yang ditangkapnya dengan baik dan cekatan.
Suasana keakraban itu mendadak terganggu sejenak ketika Aileen Aldari mendekati mereka. Lelaki berperawakan tinggi dengan muka galak yang tampak mengintimidasi didukung pakaian kemiliteran yang gagah itu, menatap mereka berdua bergantian.
Menyadari Aileen Aldari di sana tanpa diundang, muka pemuda itu mendadak kecut, setengah kesal. Ia melempar pandangan ke arah lain tak mau melirik apa lagi menganggap ia ada di sana. Ia bergegas menarik tangan La Vie untuk segera memasuki mobil agar tak terlibat dengan pria itu.
"Mau ke mana kalian?" Ia menahan d**a pemuda itu agar tak beranjak lebih dulu.
"Kami ada urusan pekerjaan, bisa kau menyingkir?" timpal pemuda itu ketus, kemudian menarik La Vie sekali lagi.
La Vie yang menatap keduanya hanya tertegun sejenak dengan muka bingung. Meski tak tampak akrab tapi jika diperhatikan dengan baik, mereka juga tak terlihat asing pada satu sama lain. Bahkan sikap ketus pemuda itu seolah menjelaskan mereka memang punya hubungan dekat yang cenderung aneh.
Aileen Aldari di saat bersamaan juga mendekati La Vie kemudian memegang tangannya seolah menahan ia pergi dengan pemuda itu.
La Vie tercengang melanjutkan keheranannya sebelum ini. Ia menatap kedua tangannya yang digenggam dua laki-laki di saat yang bersamaan, kemudian mengamati mereka bergantian.
"Apa yang sedang kalian lakukan sebenarnya?"
"Jangan ikut dengannya, atau kau akan menyesal" Aileen Aldari mengingatkan dengan raut muka serius yang tak bisa diabaikan.
"Bisakah kau berhenti melebih-lebihkan sesuatu dan biarkan kami pergi?" tukas pemuda itu setengah malas, tak mau mendebati.
"Dibandingkan terlibat dengannya, lebih baik kau pulang ke rumah!"
"Apa yang kalian bicarakan?" La Vie menarik tangannya dengan kasar dari kedua lelaki itu. Mukanya kesal karena merasa satu-satunya orang yang tak mengetahui apapun di antara mereka namun malah dilibatkan dalam pertikaian aneh itu.
Setelah merasa bebas dari situasi yang membuatnya tertekan, ia mengalihkan perhatian pada Aileen Aldari karena berpikir lelaki itu mungkin marah karena ia dekat dengan pria lain.
"Aku dan dia ada pekerjaan sebentar, jadi aku permisi dulu" pungkasnya memberi pengertian seadanya kemudian memasuki mobil diikuti pemuda itu dibelakangnya.
Sebelum mobil meninggalkan halaman, La Vie mengintip dari kaca mobilnya yang setengah terbuka, kemudian melambaikan tangan pada pria itu sebelum benar-benar menghilang dan tak lagi melihatnya di kejauhan.
Sambil mengendarai mobil, pemuda itu menyalakan radio. Ia sengaja menyetel saluran musik khusus rock dengan volume tinggi yang ketika La Vie mendengarnya membuat kepalanya terasa akan pecah.
"Bisa kau kecilkan suaranya?" kata gadis itu setengah mendesis, setengah berteriak menutup telinganya.
"Apa?" pemuda itu balas berteriak.
Setengah iseng setengah balas dendam, ia mendekati telinga pemuda itu kemudian berteriak kencang.
"Aku bilang kecilkan volumenya!"
Pemuda itu menghentikan laju mobil itu tiba-tiba karena terkejut kemudian menengok dengan muka cemberut.
"Kau mau telingaku meledak?"
"Siapa suruh kau menyetel musik sekencang itu" timpal La Vie acuh tak acuh tak tampak merasa bersalah.
Mobil abu-abu itu kembali melaju, kali ini ditemani dengan suara musik yang lebih menenangkan yang disukai La Vie sebaliknya dibenci pemuda itu. Namun, kali ini ia berusaha mengalah mengingat gadis itu sudah bersikap baik padanya.
Ia kemudian memilih mengalihkan perhatian pada interior mobil keluarga itu yang sebagian masih terbungkus plastik. Aroma khas tercium dari jok mobil di belakangnya.
"Kau baru membeli mobil ini, ya?" celetuk pemuda itu.
"Ya, baru datang tadi pagi"
Mata amber tembaga pemuda itu melirik penasaran, "Bukankah kau cukup kaya, kenapa hanya memilih mobil sederhana ini?"
La Vie mengangkat arah tatapannya ke atas seolah tengah berpikir. Ia bergumam kemudian menimpali.
"Walaupun aku terlihat kaya, aku juga menjalani hidup sederhana. Kurasa semua mobil sama saja, yang membedakan hanya desainnya saja. Benarkan?"
Pemuda itu menanggapi dengan anggukan. Ia tampak setuju dengan pernyataan itu.
La Vie meliriknya sepintas lalu teringat perdebatannya dengan Aileen Aldari sebelum berangkat tadi. Ia penasaran dengan hubungan mereka dan ingin bertanya padanya secara langsung meski tak yakin pemuda itu akan menjawab, karena hal ini menyangkut urusan pribadinya.
"Kau kenal Aileen Aldari?" tanyanya sembari melirik pemuda itu.
"Dia kakakku. Kami saudara beda Ibu"
Bibir berisi gadis itu membuka sejenak. Rona mukanya tampak terkejut sekaligus tak menyangka, meski memang ia pernah berpikir seperti itu ketika melihat si pemuda pertama kali.
"Aku tidak tau Aileen Aldari punya seorang adik?"
"Tidak ada seorangpun yang tau kalau dia punya adik. Dalam keluargaku aku dinggap jadi produk gagal karena tidak bisa seperti dia. Kehadirannya membuatku merasa tertekan, Ayahku berharap agar aku bisa melebihi dia padahal aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia militer"
La Vie menganggukkan kepala tampak memahami. Dilihat sekilas pun orang lain akan setuju Aileen Aldari memang tampak mendekati sempurna. Ia masih cukup muda namun sudah mengemban tugas penting sebagai jenderal Flander-Belgium yang pastinya tak mudah dicapai apalagi untuk dijalani.
"Apa itu alasanmu kabur dari rumah?"
Pemuda itu tertawa, "Bukan, ayahku marah padaku karena aku tidak masuk sekolah dan pergi bermain dengan teman-temanku yang lain. Dia membekukan semua kartu kreditku dan memintaku rajin belajar untuk mendapatkannya kembali. Aku kesal dengan bagaimana caranya mengatur"
"Kau pasti menjalani kehidupan yang sulit" timpal La Vie bersimpati namun hanya ditimpali tawa.
"Sekarang aku hidup bebas dan bisa melakukan apapun yang aku mau. Itulah alasan kenapa aku senang tinggal jauh dari rumah sekalipun harus sering kelaparan"
La Vie menepuk pundak pemuda itu menunjukkan perhatian, "Datanglah ke rumahku saat kau lapar. Ada banyak makanan yang bisa kau makan di sana"
Pemuda itu tertawa kemudian menyodorkan tangan pucatnya, "Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Aloys Anja Carl de Leon"
La Vie balas menyalaminya, "La Vie En Rose"
Setelah menjabat tangan La Vie, perhatian Aloys tertuju pada jalanan lengang di hadapannya. Tempat yang ia nilai cocok untuk mengebut agar bisa sampai di tujuan dengan cepat.
"Baiklah La Vie, berpeganganlah sekuat mungkin, kita akan mengebut dengan cepat"
"Ngebut?" La Vie tertegun sebentar.
Belum sempat ia berpegang dengan erat, mobil itu sudah melaju cepat seperti lesatan peluru di tengah jalan raya yang meski lengang, membuatnya berkeringat amat banyak, berpikir ia akan mendekati kematian sebentar lagi.
Di depan gedung agensinya La Vie turun sempoyongan memegangi perutnya yang mual. Ia menyingkir ke tempat parkir yang lumayan sepi kemudian muntah di sana. Ini adalah pengalaman mengemudi yang paling gila yang pernah ia alami. Akhirmya La Vie mengerti alasan Aileen Aldari mengatakan ia akan menyesal ikut dengan Aloys.
Sebaliknya dengan Aloys, ia tampak senang dan gembira bisa menyalurkan bakat terpendamnya selama ini.
**
"Selamat pagi" sapa La Vie pada Ramirez dengan muka pucat sambil menggandeng Aloys.
Lelaki pendek, kecil itu sempat terpana dan terkejut melihat kondisi La Vie yang tampak kurang sehat.
"Kau tidak apa-apa Nona La Vie?" Ramirez menatapnya penasaran.
Gadis itu tertunduk sebentar kemudian mencengkram pundak Aloys amat kuat.
"Aku... membawa... calon model baru untukmu" setelah mengucapkan kata-kata singkat itu, La Vie segera berlari mencari kamar mandi terdekat lalu muntah sekali lagi. Sementara Aloys dan Ramirez dibiarkan saling berkenalan begitu saja.
"Mabuk darat" celetuk Aloys santai diikuti senyum lebar. Ramirez yang tak paham hanya mengangguk dengan muka bengong. Kumis tipisnya yang melengkung di ujung menyentuh sudut dalam bibirnya, membuat Aloys berusaha menahan tawa agar tak dianggap menghina.
"Kau mau menjadi model?" Ramirez bertanya sedikit penasaran sambil mengamati wajah Aloys. Ia memang memiliki paras rupawan yang kemungkinan besar akan disukai banyak wanita. Sebagai orang yang sudah berpengalaman dalam industri itu, ia punya firasat yang hampir sebagian besar tak pernah meleset.
"Ya, kudengar dari La Vie itu pekerjaan yang mudah dan bisa membuat kaya dalam waktu cepat"
Ramirez tertawa menimpali sikap terus terangnya. Ia tampak gembira mendapatkan seseorang yang akan menambah pundi-pundi keuangannya.
Ia menepuk kedua tangannya dengan keras, hingga sekertaris lelakinya, pemuda Kaukasia berusia awal 20-an, berperawakan sedang, dengan muka kurus dan rambut nyaris plontos yang tak banyak bicara segera muncul dengan membawa salinan kontrak seolah sudah terbiasa dengan kebiasaan Ramirez.
**
Setelah menandatangani kontrak kerja percobaan selama enam bulan, Aloys pulang lebih dulu. Ia sudah berpamitan pada La Vie ketika gadis itu baru keluar dari kamar mandi.
"Duduklah... duduklah" kata Ramirez menunjuk sofa di hadapannya, membiarkan tubuh gontai La Vie duduk lebih santai. "Kau dapat beberapa tawaran membintangi cerita drama dan beberapa film"
Mata hijau gadis itu membelalak dengan segera. Ia pikir pamornya sudah turun akibat pemberitaan ia di pesta berkabung kerajaan. Ia mendapat lebih banyak kebencian dibandingkan kontroversi seperti yang ia harapkan.
"Aku mendapat tawaran film dan drama?" ia masih sedikit terkejut. Bertanya untuk memastikan tidak salah mencerna ucapan pemimpin egensinya.
"Tunggu sebentar" Ramirez berdiri menuju meja kerjanya. Ia membuka laci kemudian mengeluarkan beberapa buah buku naskah yang disodorkan pada gadis itu. "Kau bisa memilih ingin membintangi drama dan film mana saja. Setelah itu aku akan membuat kontrak kesepakatan dengan rumah produksi"
La Vie mengambil 5 buah tumpukan buku skenario tebal itu.
"Kalau begitu, aku akan membawa semuanya dan menimbang hati-hati mana yang cocok denganku"
"Tentu saja kau bebas melakukan itu"
Sebelum La Vie beranjak pergi, ia ingin bertanya sesuatu pada Ramirez berharap lelaki itu akan membantu setidaknya dengan menjawab pertanyaannya.
"Kau tau kantor detektif swasta paling bagus di negara ini?"
Ramirez diam sebentar mengulum kumis kecilnya yang panjang, "Ya, ada. Sekitar 15 menit dari sini. Kau hanya perlu berjalan lurus ke arah barat. Kantor detektif swasta itu bernama Baical independent detective"
La Vie berdiri dengan muka puas, "Terima kasih atas bantuanmu. Aku akan segera mengabarimu mengenai skenario ini secepatnya"