La Vie berhenti di depan sebuah gedung berlantai dua yang tampak sederhana nyaris tak terlihat seperti kantor detektif ternama. Di depan jalan menuju pintu masuk yang ditumbuhi rerumputan gajah mini di kanan dan kirinya hanya berdiri plang besi sederhana bertulis Baical Independent Detective disertai nomor telpon di bagian bawah tanpa keterangan apapun.
La Vie awalnya sempat ragu masuk ke sana, namun setelah berpikir beberapa lama karena sudah terlanjur tiba di sana, akhirnya ia memilih untuk tetap masuk sekedar untuk bertanya atau konsultasi.
Begitu mendorong pintu yang tertutup kaca gelap, ia segera disambut seorang resepsionis wanita berambut pendek yang amat ramah, segera menyambutnya dengan senyum.
"Selamat datang"
Gadis bertubuh tinggi itu segera mendekat ke meja wanita Kaukasia itu, "Aku ingin konsultasi lebih dulu"
Wanita itu mengeluarkan sebuah map berisi daftar harga yang terdiri dari sejumlah paket yang bebas dipilih, namun tidak ada yang berada di bawah harga 1.000 euro.
Wajah La Vie tercengang sesaat. Bahkan untuk sekedar konsultasi pun dikenakan biaya perjam. Ia sedikit tak yakin dengan patokan biaya yang cukup mahal akan berbanding lurus dengan pelayanan yang akan ia dapat. Tapi setelah menimbang hati-hati bahwa hanya ini satu-satunya harapan untuk bisa bertemu ibunya, ia pun menyanggupi biaya 1.000 euro untuk satu jam pertama konsultasi.
Setelah membayar setengah biaya konsultasi, ia pun dibawa ke lantai dua, di mana terdapat 5 ruangan terpisah yang berada dalam satu garis lurus, masing-masing tertutup pintu kaca dengan sebuah keterangan di atas pintu.
Bagian penyelidikan dan konsultasi pribadi terpisah dengan ruang penyelidikan khusus urusan keluarga. Melihat tiap ruangan tak ada yang kosong, rasa ragu La Vie mendadak sirna. Ia berpikir sudah datang ke tempat yang tepat.
Oleh resepsionis itu ia dibawa ke pintu paling ujung. Kebetulan saat itu seorang wanita baru saja keluar sambil menangis. La Vie sedikit bingung namun resepsionis itu mencoba meyakinkannya.
"Perusahaan kami selalu jujur dalam melayani customer sekalipun itu berarti bisa membuat mereka sedih"
Gadis berambut hitam sepanjang siku itu mengerti. Menurutnya itu terdengar masuk akal dibandingkan dengan memberi janji-janji tak masuk akal.
Wanita muda itu kemudian mendorong pintu. Tampak di hadapan mereka seorang pria kurus yang cenderung terlihat seperti orang Asia. Rambutnya jarang nyaris plontos, dengan kumis lebat, mengenakan kacamata bulat di wajahnya yang kotak dan tegas. Meski begitu ia tampak ramah dan segera menyapa La Vie, menyilahkannya duduk.
Lelaki pendek itu kemudian mendorong beberapa tumpukan berkas di hadapannya sedikit menjauh untuk memberi ruang baru guna mencatat keluhan klien barunya.
Begitu pintu menutup dan mereka diberi privasi lebih untuk membahas kasus apa saja, pria itu mengulurkan tangan lebih dulu untuk memperkenalkan diri agar suasana kepercayaan terbangun lebih dulu antara klien dan penanggung jawab konsultasi.
"Nama saya Petra Franus. Saya bertanggung jawab untuk semua hal menyangkut konsultasi klien yang bersifat pribadi. Tempat kami melayani segala jenis konsultasi, dari konsultasi hukum, penyelidikan kasus pidana, perdata, penipuan, pembunuhan, perselingkuhan, dan pelecehan yang memerlukan bukti kuat. Kami akan memaparkan segala hasil analisa kami dengan jujur, tapi kami tidak akan melayani konsultasi apabila kasus sudah berada di tangan kepolisian dan kejaksaan. Itu sudah di luar wewenang kami"
La Vie mengangguk paham, "Aku ingin berkonsultasi mengenai penyelidikan untuk menemukan ibuku" lelaki itu dengan cekatan menulis keluhan La Vie di atas selembar kertas yang tampak masih tradisional.
"Kami menggunakan kertas untuk mencatat karena semua berkas lebih mudah dimusnahkan dibandingkan dengan menulisnya di dalam komputer yang bisa saja di hack orang iseng. Kami mementingkan kerahasiaan data para klien kami," ia menjelaskan lebih dulu untuk menghilangkan salah paham kemudian melanjutkan bertanya hal yang menuju inti masalah, "Apa kau punya semacam petunjuk yang kau ingat tentangnya?"
Wajah oval panjang itu sempat termenung sesaat tampak berpikir keras. Ia tak ingat apapun tentang ibunya.
"Aku dan ibuku berpisah sejak usiaku 3 tahun. Aku hanya tau ibuku suka dengan lagu La Vie En Rose yang dinyanyikan Edit Piaf"
Pria itu mengangguk seolah mengerti, kemudian melanjutkan bertanya tanpa melepas tatapan dari buku tulis di hadapannya, "Ingat di mana dia pernah tinggal, apa pekerjaannya sebelum ini? Semua hal yang bersifat sepele bisa jadi petunjuk berharga, tapi klien kami hampir jarang memahaminya"
"Dia pernah bekerja di istana dan menjalin hubungan rahasia dengan mendiang Raja Cos Valentine II. Kurasa itu terjadi sekitar tahun 1993"
Tangan lelaki 40 tahunan itu segera berhenti mencatat. Wajahnya tampak pucat sesaat membuat La Vie bertanya-tanya adakah ucapannya yang salah.
Lelaki itu menegakkan tubuh mungilnya sambil memperbaiki letak kacamatanya. Kedua tangannya bertaut di atas meja. Wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya.
"Kasus anda bukan kasus biasa. Anda bukan hanya tidak punya petunjuk penting, tapi petunjuk itu malah tersembunyi di tempat paling berbahaya di negara ini. Kasus anda adalah hal yang sangat sulit dan memerlukan penanganan khusus"
Mata hijau gadis itu berkilat sesaat seolah melihat setitik harapan.
"Lalu apa yang bisa saya lakukan?"
Pria itu mencoba meyakinkan dengan ekspresi yang tampak serius mengikuti nada suaranya yang naik turun menekankan di beberapa bagian tertentu.
"Anda tidak perlu melakukan apapun. Kami akan mengerjakan semuanya untuk anda. Tapi seperti yang saya bilang tadi, kasus ini kasus khusus perlu penanganan tersendiri dan harganya tentu tidak murah. Kami perlu akses untuk membuka berkas rahasia istana dan itu tidak bisa dilakukan sembarang orang"
"Berapa kira-kira uang yang diperlukan?"
"50.000 euro, tapi bisa saja ada biaya tambahan khusus jika ada situasi yang terjadi di luar kendali kami"
La Vie termenung sesaat. 50.000 euro bukan jumlah yang sedikit meski ia yakin bisa mengumpulkannya dengan cepat. Ia bisa saja mengatakan setuju saat itu tapi satu sisi ia masih ragu apakah jumlah uang yang akan ia keluarkan akan sebanding dengan hasil yang ia terima?
Mendadak ia teringat Aileen Aldari. Ia berpikir untuk bertanya pada pria itu lebih dulu, karena ia juga bukan orang sembarangan dan memiliki koneksi khusus ke istana, meski tak yakin dia benar-benar bersedia membantu.
La Vie berdiri mengulurkan tangan untuk berjabat, "Akan saya pertimbangkan lebih dulu"
Pria itu kemudian mengeluarkan pamflet dari mejanya, "Kami juga menawarkan diskon khusus untuk waktu-waktu tertentu. Jika anda tertarik melanjutkan silahkan hubungi kami nanti"
La Vie mengangguk membawa pamflet itu pulang ke rumah.
**
Tiba di rumah, La Vie segera membuang tubuhnya ke atas sofa. Ia berpaling ke meja menatap 5 buah buku naskah tebal yang menunggu di baca, namun ada satu hal yang paling menarik perhatiannya. Pamflet diskon dari kantor detektif itu.
Dalam salah satu keterangan yang ia baca dalam pamflet, ia akan mendapatkan diskon khusus di bulan-bulan tertentu seperti akhir dan awal tahun, atau saat hari ulang tahun kantor itu yang akan berlangsung sebulan lagi. Jumlah potongannya pun tak banyak, hanya sekitar 10%. Ia tetap harus membayar selebihnya. Memikirkan tambahan uang untuk situasi tertentu di luar kendali tentu juga butuh uang tidak sedikit. Sampai di sini ia kembali diliputi rasa ragu.
La Vie yang berpikir terlalu keras mendadak merasa ngantuk. Matanya mulai merasa berat padahal ia merasa tidur cukup semalam.
Dalam hitungan menit tanpa bisa diantisipasi, kedua matanya mulai mengatup dan pamflet di tangannya jatuh ke lantai.
**
Suara gaduh dari arah dapur yang terdengar seperti dentuman keras membuat La Vie sontak terjaga dengan wajah terkejut dan seketika mengalihkan perhatiannya ke arah dapur yang tak jauh dari tempatnya berada.
Awalnya ia mengira ada seekor kucing liar masuk ke rumahnya, namun setelah mengamati lebih detail lagi, sebaliknya ia malah terkejut menemukan Aileen Aldari di dapurnya tengah memberantakan wajan dan panci seenaknya.
La Vie yang tak tahu bagaimana pria itu masuk ke sana segera menghampirinya, mengambil wajan yang jatuh ke lantai dengan perasaan penuh tanya.
"Kenapa kau ada di sini dan bagaimana kau bisa masuk?"
Pria tinggi itu menunjuk pintu di belakangnya.
"Kau tidak menutup pintu. Itu kebiasaan buruk. Sekarang aku sudah kelaparan tapi kau tidur seperti orang mati"
Gadis itu menggosok kepalanya, sedikit merasa bersalah. Ia mengintip keluar dari jendela, langit memang sudah gelap. Ia terkejut bisa tidur sejak sore sampai malam.
Ia mengalihkan perhatiannya sekali lagi pada pria berambut coklat keemasan itu. Ia benar-benar sangat buruk di dapur dan sepertinya hanya andal untuk memberantakan segalanya.
"Kau duduk saja, aku akan memasak untukmu. Apa yang mau makan?"
"Spaghetti"
"Oh, itu mudah"
La Vie membuka lemari pendingin di belakangnya. Mencari bawang, saus pasta, daging cincang, daun mint, dan keju mozzarella.
Ia melanjutkan membuka lemari dapur di atas kepalannya mencari bungkus pasta. Ia menata semuanya dengan rapi, sehingga mudah menemukan semua bahan. Untuk ketelitiannya itu Aileen Aldari cukup memuji dalam hati.
Merasa dapur bukan bagian keahliannya, pria itu menyingkir ke tempat lain. Awalnya ia ingin menonton televisi, tapi melihat tumpukan skenario di atas meja ia lebih tertarik mengintip hal itu.
Saat akan merebahkan punggung ke atas sofa, tanpa sengaja ia menginjak pamflet milik kantor detektif swasta yang cukup dikenal di kota itu. Ia melirik sejenak ke arah La Vie gadis yang tengah sibuk memotong bawang.
"Jadi pekerjaan apa yang kau berikan pada bocah itu?" celetuknya membuka obrolan.
"Kau seharusnya tidak memanggilnya dengan bocah. Namanya Aloys"
Aileen Aldari bergumam sedikit sentimen, "Jadi kau sudah berkenalan dengannya?"
"Dia anak yang baik dan senang bekerja keras. Aku kagum padanya, dia mengingatkanku saat aku masih muda sepertinya"
Alis tebal pria itu terangkat, "Mmm... jadi kau suka padanya?"
La Vie yang sedang sibuk dengan segala persiapan memasak mengangkat pandangannya. Mendengar ucapan Aileen Aldari ia jadi kehilangan setengah semangat.
"Apa maksudmu aku suka padanya. Aku hanya memujinya karena dia memang baik. Dia membantuku. Aku juga membantunya mendapat pekerjaan. Dia sekarang jadi model percobaan untuk enam bulan ke depan"
Lelaki itu bergumam lagi. Meski raut mukanya datar dan biasa saja tapi entah mengapa membuat La Vie sedikit sebal. Ia seolah sedang memancing perdebatan setelah masuk ke rumahnya tanpa izin.
"Kenapa, apa kau akan marah padaku karena membuat adikmu jadi seorang model yang harus bersedia menjual tubuhnya di depan kamera?"
Aileen Aldari membungkuk meletakkan dagunya di punggung sofa ditopang satu lengannya sambil mengamati La Vie, "Tidak, dia kan pria"
"Karena dia pria? Lalu karena aku wanita jadi tidak bisa melakukannya? Kau ini seksis sekali"
Lelaki berahang tegas itu tak menerima mendapat sindiran terang-terangan yang tertuju padanya.
"Hanya karena aku tidak setuju kau tidak bisa menuduhku seksis. Aku hanya konservatif untuk beberapa hal yang berlaku dalam kehidupanku. Sesuatu yang bukan urusanku aku tidak akan peduli! Kau harus bisa membedakan itu"
La Vie berdecak menarik sudut bibirnya mencibir.
"Baiklah, kau menang, aku akan mengingatnya!"
Aileen Aldari kemudian mengangkat pamflet di tangannya. Ia baru memasuki inti pertanyaan yang memang ingin ia tanyakan.
"Lalu untuk apa pamflet ini?"
La Vie yang sedang membuka kaleng pasta melirik ke tangan pria itu.
"Aku pergi berkonsultasi ke kantor mereka. Kata Petra Franus yang berkonsultasi denganku, kasusku rumit karena ada kaitannya dengan istana. Dia memintaku menyiapkan 50.000 euro ditambah uang darurat kalau ada kondisi di luar dugaan"
"Dan kau percaya?"
La Vie menjilat tangannya yang dipenuhi saos pasta, "Entahlah, 50.000 euro bukan uang yang sedikit. Kalau saja aku masih menerima tawaran foto telanjang kurasa aku bisa mendapatkannya dalam dua bulan, tapi dengan pekerjaan biasa aku mungkin perlu waktu berbulan-bulan"
Aileen Aldari membuang pamflet itu ke tempat sampah, "Mereka hanya menipumu, mengakses file atau informasi apapun soal istana adalah hal ilegal. Orang yang ketahuan bisa dipancung"
La Vie melongo mendengar hukuman yang terkesan kejam di telinganya.
"Tapi, bukankah hampir semua benua di Eropa susah menghapus hukuman mati?"
Aileen Aldari melegakan punggung kembali ke sofa kemudian membaca skenario di depannya, "Hal itu tetap berlaku di sini. Flander-Belgium adalah Pyongyang-nya Eropa"
"Negara yang kejam" cibir gadis itu sembari menuang bawang ke dalam wajan. "Lalu, apa menurutmu aku benar-benar tidak punya kesempatan lagi bertemu ibuku? Aku tidak punya informasi apapun tentang dia, tapi kalau tidak bertemu dengannya bukankah usahaku untuk pulang sia-sia saja?"
"Kau punya kesempatan kalau punya orang dalam yang bekerja di sana"
Senyum La Vie mengambang menatap ke arah pria itu, tapi belum sempat ia bertanya Aileen Aldari seolah sudah bisa membaca isi kepalanya.
"Jangan berharap padaku! Itu bukan informasi yang mudah diakses siapa saja" Wajah gadis itu sontak merengut dan suram, "Aku bilang jangan berharap padaku, tapi aku tidak bilang tidak akan mencoba"
Wajah La Vie sontak berseri disertai senyum lebar malu-malu.
"Terima kasih, kau baik padaku"
"Kalau merasa berterima kasih buat makanan lezat untukku"
"Aku akan melakukannya" timpal gadis itu dengan semangat membara.
Aileen Aldari mengangkat salah satu buku skenario di tangannya ke udara, "Jadi, kau mau membintangi semua cerita ini?"
"Apa menurutmu aku harus menerima semuanya? Aku rasa aku akan kelelahan tapi aku juga akan menghasilkan banyak uang"
"Kalau tidak ada adegan ciuman dan ranjang itu tidak masalah"
Tatapan La Vie memicing ke arah pria itu, "Kau akan mengaturku lagi?"
"Kau ingat kesepakatannya kan? Kau harus menurut apa kataku"