Dua Dua

3130 Kata
Aileen Aldari berkunjung ke sebuah tempat pengolahan kayu hasil hutan yang berada jauh di pinggir kota yang lengang, asri menyerupai lingkungan pedesaan. Tempat yang ia tuju adalah bengkel kecil sederhana. Dindingnya ditutup seng bercat coklat, lantainya hanya terdiri dari beton yang tak diperhalus. Sementara sekeliling tempat itu ditutupi rimbun pepohonan cemara dan kastanye hijau yang baik siang maupun malam masih terdengar bunyi jangkrik dan serangga. Tempat itu amat tenang, jauh dari hingar bingar perkotaan dan merupakan salah satu tempat yang senang untuk ia kunjungi. Sembari menunggu, ia mengedarkan pandang ke belakang punggungnya. Mengamati sepuluh orang pengrajin tengah memahat kayu untuk dibuat patung dan furniture kebutuhan rumah tangga. Suara mesin pemotong terus menggema sepanjang waktu diikuti aroma khas batang pohon yang membuatnya merasa tetap menikmati suasana berisik itu. "Jenderal Aileen Aldari" Seorang lelaki berambut keemasan, bertubuh tinggi dengan kulit pucat memanggil di belakangnya. Penampilannya amat berbeda dengan kondisi bengkel kecil itu. Ia mengenakan setelan jas lengkap dengan sepatu kulit yang mengilat tak tampak berdebu maupun kotor meski debu kayu memenuhi lantai. "Sir Regen Fandano" ia mengulurkan tangan berjabat disertai senyum ramah pada lelaki di hadapannya. "Kau datang jauh sekali, pasti ada tugas khusus" "Khusus dari Yang Mulia putra mahkota" Lelaki bertubuh kurus itu memberi isyarat para pengrajin di belakangnya untuk berhenti sebentar. "Kalian bisa beristirahat, kembilah ke meja masing-masing" Kesepuluh orang itu yang bertampang tak teratur dan kusam dengan pakaian kaos sederhana yang kotor penuh debu, berdiri dari kursi mereka masing-masing. Di bawah kayu yang mereka ukir tersimpan pistol otomatis yang segera disembunyikan dibalik pakaian. Mereka beranjak menuju sudut ruangan. Menggeser sebuah lemari kayu yang menempel di dinding hingga sebuah pintu dari baja terbuka di lantai. Satu persatu dari mereka harus melewati pemeriksaan sidik jari dan iris mata sebelum kemudian bisa memasuki ruangan itu. "Clandestin pindah ke kantor yang lama?" celetuk sang jenderal. Regen Fandano hanya memulas senyum bersahaja. Meski ia sudah berusia 50 tahun, tak tampak guratan usia tua di wajahnya. Ia masih tampak terlihat begitu muda, jika orang melihatnya pertama kali akan mengira ia masih berusia 30 tahun. Regen Fandano memiliki wajah yang tak berubah banyak sejak muda. Ia punya hidung tinggi, sedikit bengkok seperti paruh burung. Kelopak matanya kecil membuat mata coklatnya tampak tenggelam. Bibirnya tipis. Alisnya tebal dan lurus. "Mari kita duduk!" Ia menunjuk satu-satunya meja kayu bundar yang kosong di dekat jendela yang di teralis besi memanjang. "Jadi apa yang diinginkan Yang Mulia?" Aileen Aldari meraih kursi tanpa lengan di belakangnya. "Beliau memintaku agar mengumpulkan informasi penting mengenai Ratu Josephine dan melaporkannya langsung pada beliau" Lelaki tua itu menatap dalam ke arah lantai selama beberapa sesaat, terlihat ragu. "Jika kau merasa ragu, kau bisa tanyakan langsung hal itu pada Yang Mulia" sambung sang jenderal. "Mata coklat lelaki itu terangkat, "Tidak, aku tidak pernah meragukan apapun perintah dari anda, tapi jujur saja kami juga tidak memegang begitu banyak informasi dari ratu yang bisa diserahkan secepatnya. Setidaknya perlu beberapa minggu bagi kami untuk mengumpulkannya karena pasti anda tahu, mengumpulkan informasi tentang anggota keluarga kerajaan termasuk hal ilegal" Lelaki bermata tembaga keperakan itu tampak mengerti. "Ya, aku tau itu sulit. Tidak ada batas waktu untuk mengumpulkan informasi ini jadi kalian bisa memberitahunya padaku kapanpun dan aku akan memberitahu pangeran" Lelaki kurus itu mengangguk, menyalami Aileen Aldari yang sudah bersiap pagi. Saat lelaki berseragam militer itu sudah berada di posisi berdiri hanya perlu melangkah pergi, mendadak ia ingat tentang permintaan tolong La Vie padanya kemarin. Ia berbalik lagi pada Regen Fandano, "Aku juga ingin meminta daftar pekerja istana yang dikeluarkan dari istana di rentang waktu 1992 dan 1993. Ada kasus baru yang harus aku investigasi" "Kami akan mengumpulkannya segera" kata pria itu tanpa ragu maupun bertanya. Ia amat mempercayai Aileen Aldari karena dianggap amat loyal pada keluarga kerajaan, bukan hanya dirinya, namun sudah dikenal dari masa nenek buyutnya. Regen Fandano juga amat berterima kasih padanya karena sudah mempromosikan namanya secara langsung sebagai pemimpin kelompok mata-mata Clandestin pada mendiang Raja Cos Valentine II. Hal yang mustahil ia gapai jika dilakukan sendiri. ** Josephine menatap cermin sembari menyisir rambut hitam legamnya yang panjang. Tubuhnya yang ramping dan kencang seolah menolak usia tua dibalut lingerie merah muda panjang selutut yang masih ditutup dengan kimono sutra warna senada. Saat ia tengah hanyut mengagumi wajah indahnya sambil menikmati mentari pagi dari jendela di sisinya, ia mendengar ketukan teratur dari pintu. Ia bergeming sesaat, biasanya para pelayannya tak akan berani mengganggunya di pagi hari, karena mereka tahu ia membutuhkan lebih banyak waktu mempersiapkan diri. Namun, ia tahu hanya satu alasan yang membuat seorang pelayan berani mengganggunya. Sesuatu yang penting dan mendesak sedang terjadi. "Masuklah!" Aida, wanita tua berwajah suram itu berjalan menuju mejanya dengan membawa sebuah amplop yang disodorkan padanya penuh rasa hormat. Setelah melaksanakan tugasnya, ia tak lantas segera pergi. Ia masih berdiri di belakang Josephine karena ia tahu biasanya wanita itu akan memerintahnya setelah itu. Josephine menurunkan sisir di tangannya lalu membuka amplop di tangannya. Alis gelapnya terangkat begitu melihat foto pertama, hingga berakhir pada lembar kelima. Ia meletakkan foto-foto La Vie yang sedang memasuki kantor detektif ke atas meja kemudian melirik dari cermin pada Aida di belakangnya. Wanita tua itu tertunduk khusyu menatap lantai. "Apa yang dia cari di sana?" Suara serak dan tajam wanita tua berbadan gemuk sedikit bungkuk itu menimpali pelan. "Dari kabar yang didapat Jhon Pato, dia berkonsultasi karena ingin mencari ibunya" Alis Josephine terangkat, bibirnya sedikit terbuka. Ia berbalik perlahan menatap wanita tua itu. "Kalau begitu, berikan saja ibunya padanya" Aida tercengang sampai tak bisa berkata-kata, "Yang Mulia?" Josephine berdiri tak mau melanjutkan maupun menjelaskan ucapannya yang terdengar menggantung membingungkan. ** La Vie tiba di agensinya dengan membawa setumpuk naskah yang sudah ia baca beberapa kali dan siap untuk memberi jawaban cerita mana yang setuju untuk ia ambil atas persetujuan Aileen Aldari. Baru saja menapak lantai tempat parkir, ia sudah terganggu dengan suara kerumunan di belakang punggungnya. Ia berpaling ke belakang, tampak puluh wartawan yang entah bagaimana sudah memenuhi setengah sisi tempat parkir sementara di pintu masuk sudah berdiri puluhan pengawal berbadan tegap mengenakan setelan jas rapi menyerupai mata-mata. Belum sempat herannya menghilang, ia mendengar bunyi sirine mendekati tempat itu. Awalnya ia mengira ambulan sedang lewat, namun suara sirine itu perlahan kian lama kian mendekat, diikuti sebuah mobil Mercedez hitam dengan bendera Flander-Belgium di mulut mobil. La Vie tak tahu siapa yang datang ke sana dan untuk alasan apa. Awalnya ia mengira jika orang itu mungkin Victor Leopold, namun dugaannya seketika runtuh ketika melihat Josephine turun dari pintu mobil yang dibuka seorang pengawalnya. Josephine yang membalut tubuhnya dengan gaun hitam selutut dipadukan blazer warna senada melambaikan tangan disertai senyum sopan, ramah penuh kelembutan yang menipu ke arah kamera wartawan yang dengan segera menyalakan lampu flash kamera berlomba mengambil gambar terbaik. Setelah selesai mencuri perhatian para wartawan, ia melirik ke arah La Vie yang memang sudah ia sadari kehadirannya sejak tadi, memerhatikan situasi itu dengan heran. Sambil melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya, ia mendekati tempat gadis itu berada. "Lama tidak bertemu" sapanya disertai senyum anggun namun bercampur keangkuhan yang tampak jelas di wajahnya. La Vie hanya menyeringai padanya kemudian melempar tatapan sinis ke arah lain. Ia benar-benar muak harus melihat Josephine di tempatnya bekerja. Saat ia masih berupaya memperbaiki suasana hati karena bertemu seseorang yang tak diharapkan, tangan Josephine menarik lengannya, memutar tubuhnya menghadap ke arah kamera. "Tersenyumlah" ia berbisik di telinganya dengan gerak bibir pelan nyaris tak terlihat, namun La Vie masih tampak dingin. "Jika kau tidak tersenyum wajahmu akan terpampang di halaman depan koran dan majalah dengan judul penuh hujatan" Setengah terpaksa ia melakukan apa yang wanita itu inginkan. Menatap ke arah kamera di hadapannya yang tak perlu waktu lama sudah membuat matanya silau dan ngilu, hingga buru-buru mengalihkan perhatian ke arah lain. "Aku harus segera masuk" ucap gadis itu, namun ditahan Josephine sekali lagi. "Sebaiknya masuk bersama agar kita terkesan akrab" La Vie menghela napas sedikit tertekan dan tak nyaman, tapi sekali lagi memilih patuh. Ia dan Josephine berjalan beriringan hingga ke dalam agensinya. La Vie yang awalnya merasa keadaan dalam agensinya akan biasa-biasa saja malah dibuat tercengang. Pintu masuk dan seluruh sudut ruangan dihias pita dan bunga. Sementara Ramirez sudah berdiri di depan pintu bersama karyawan lainnya untuk menyambut. Begitu melihat Josephine muncul ia berlari untuk menyalami tangannya seperti seekor anjing dengan tingkah dan rasa hormat berlebihan yang membuat La Vie heran setengah jijik. "Sambutan yang begitu indah membuat hatiku merasa hangat" kata Josephine disertai senyum dan rasa tersanjung yang tampak begitu tulus meski La Vie bisa mengerti betapa palsunya semua itu. "Hanya untuk anda Yang Mulia" Ramirez setengah berlutut,"Mari silahkan menuju ruangan saya" La Vie pun terpaksa harus ikut dengan Ramirez, sekertaris dan resepsionisnya memasuki lift. Sebelum membuka pintu ruang kerjanya, Ramirez meminta sekertarisnya untuk mengambil beberapa foto. Tingkahnya yang sedikit kampungan membuat La Vie mencibirnya dalam hati. Jika Ramirez tahu seburuk apa Josephine, ia tak yakin apakah masih akan memujanya atau tidak. "Anda ingin minum apa Yang Mulia" tawar pria pendek itu ketika Josephine melegakan diri di atas sofa ruang kerjanya. "Tolong tehnya" "Siapkan teh" ia setengah berteriak memberitahu sekertasirnya yang berdiri tak jauh dari mereka. "Kantor yang nyaman" celetuk Josephine sambil mengedarkan pandang ke penjuru ruangan. Bibir panjang Ramirez tersenyum malu-malu mendengar pujian itu, "Saya menyewa interior desain khusus untuk menata ruangan ini" Tak lama pria pirang tak banyak bicara yang selalu melayani Ramirez dengan baik muncul membawa tiga gelas teh hangat dan kue kering. Ramirez tampak amat bersemangat dan percaya diri jika tujuan Josephine ke sana adalah untuk bertemu dan mengobrol dengannya. Ia menyeruput tehnya dengan suara mengganggu yang membuat Josephine melempar tatapan sinis padanya, namun karena pria itu tak melihat ia tak mengetahuinya. Setelah meletakkan gelas tehnya ia baru memusatkan perhatiannya sekali lagi pada Josephine. "Belakangan saya sering melihat anda mengenakan pakaian hitam setelah masa berkabung" tanya pria itu tampak perhatian. "Masa berkabungku berlangsung seumur hidup setelah kepergian suamiku" lantunan suaranya yang merdu, dalam namun tegas terdengar amat meyakinkan, hingga bisa memperdaya siapa saja. Mendengarnya Ramirez benar-benar merasa kagum. Kini baginya Josephine bukan hanya ratu yang baik dan terkenal akan kecantikannya, tapi ia juga perempuan setia yang sangat jarang ditemukan. "Benar-benar menyentuh" pujinya. Diam-diam La Vie hanya menyeringai sinis. Baginya Ramirez sudah ditipu mentah-mentah sama seperti rakyat Flander-Belgium lainnya. Mata coklat Josephine kemudian melirik pada Ramirez. Pria itu sedikit salah tingkah berpikir sedang dikagumi oleh sang ratu, namun salah satu pengawal di belakangnya, menyolek punggungnya memberi isyarat agar ia segera keluar. Wajah bundar Ramirez tampak setengah kecewa. Ia masih ingin berada di sana agak lama, namun terpaksa keluar, diikuti pelayan Josephine lainnya menyisakan hanya dirinya dan La Vie dalam ruangan itu. Jemari lentik Josephine mengangkat gelas tehnya dengan anggun teratur diikuti tatapan setengah muak dari gadis berambut hitam di hadapannya. "Apa kau tidak merasa jijik pada dirimu sendiri yang terlalu banyak bersandiwara dan melakukan kebohongan?" Pertanyaan tajam La Vie hanya ditimpali senyum bersahaja dan tenang. "Aku tau kau mungkin masih naif dalam hal ini. Tapi jika kau membuka mata dan menyadarinya dengan baik, ada banyak kebohongan di sekitar kita. Politisi yang kau lihat di depan masyarakat, artis yang pura-pura tersenyum di depan kamera. Orang-orang yang berusaha bersikap ramah, berpura-pura baik padahal sangat menjijikkan. Kau tidak melihat mereka semua? Mereka sangat disukai dan dikagumi, itu membuktikan kalau manusia lebih mencintai kebohongan. Kejujuran adalah hal kuno yang sulit diterima" La Vie tertawa, jawabannya amat menggambarkan diri Josephine sesungguhnya. "Aku kagum, kau bisa hidup dalam kebohongan selama bertahun-tahun. Tidak semua orang mampu melakukannya, hanya orang-orang tidak tau diri dan tidak punya hati yang bisa melangkah sejauh itu" Josephine tertawa nyaring dan tajam, terdengar mengerikan seolah benar-benar menggambarkan tabiatnya sebenarnya. "Aku akan anggap itu sebuah pujian" "Aku tau kau tidak datang untuk mendengar pujian itu dariku" tukas La Vie tajam dan sinis. Josephine mengangguk sembari tersenyum, "Kau benar. Kau begitu mengerti diriku. Apa kau tidak merasa kita ini memiliki banyak kesamaan?" Bibir montok gadis itu menyeringai sinis, "Tidak, aku tidak merasa dan tidak berharap sama denganmu" "Itu menunjukkan pandanganmu. Bukankah begitu?" La Vie hanya mengangkat kedua pundaknya acuh tak acuh. "Aku datang kemari menawarkan perdamaian padamu" Kata perdamaian yang diutarakan Josephine membuat La Vie tertarik namun juga tak begitu percaya jika perdamaian yang ia maksud dan perempuan itu maksud adalah hal serupa. "Perdamaian?" "Aku akan memberimu berapapun jumlah uang yang kau inginkan tapi pergilah dari negara ini dan jangan pernah injakkan kakimu lagi di sini. Dengan begitu aku akan memberimu pengampunanku yang mulia ini" La Vie tertawa geli, sinis dan menyepelekan, "Pengampunan, aku tidak membutuhkannya termasuk semua uang yang kau tawarkan padaku bahkan sekalipun kau memberiku seluruh istana. Aku akan tetap berada di sini, melakukan apapun yang ingin kulakukan" Josephine menganggukkan kepala sembari membuang napas. Ia tak begitu terkejut mendengar pembangkangan dari gadis itu. "Kau adalah seekor singa yang begitu berani di kandang pemburu. Menunjukkan taringmu di depan sebuah senapan adalah bentuk kebodohan. Tapi aku menghargainya, dalam peperangan memang hanya orang bodoh yang mati lebih dulu" Ia berdiri meraih tas tangannya, "Tawaranku masih akan berlaku beberapa lama, datanglah sebelum aku berubah pikiran dan hidupmu di sini yang kau anggap membahagiakan berakhir dengan kehancuran" La Vie mendongak padanya, bersikap sama tenang dan angkuhnya, "Kau tau, seekor anjing selalu menggonggong lebih besar dari seekor harimau" Tatapan Josephine menajam. Ia tak menunjukkan kemarahan, tapi nampak jelas gondok dan kesal mendapat penghinaan tak langsung. Namun ia memilih menyimpannya dalam-dalam. Josephine keluar dari ruangan itu dengan muka masam sambil mengenakan kacamata agar raut mukanya sebenarnya tak disadari langsung orang banyak. Ramirez yang tak tahu apa yang terjadi tampak kebingungan. Ia masuk menarik paksa La Vie untuk mengantar kepergian Josephine dari tempat itu untuk meninggalkan kesan yang baik. Meski gadis itu tak mau, ia tahu tak bisa menolak dan patuh saja pada pria itu. Saat ia bersama karyawan lain berdiri di ambang pintu keluar mengantar kepergian perempuan itu, mendadak dari arah kerumunan yang tak disadari siapapun muncul seorang wanita setengah baya, berambut pendek mengenakan jaket tebal membawa baskom kecil di tangannya. Begitu melihat La Vie ia berteriak lantang dengan tatapan nyalang. "Dasar b***k, anak haram!!" pekiknya kemudian menyiram kepala La Vie dengan tomat dan telur busuk. Kejadian yang begitu tiba-tiba itu tak bisa diantisipasi oleh siapapun, bahkan La Vie sendiri. Josephine yang melihat kejadian itu dari jauh hanya tersenyum menikmati pertunjukan. Note : Aku bikin catatan ini karena author note nggak cukup kalau mau nulis panjang. Apa yang mau aku bilang sebenarnya cuma bacotan dan beberapa hal penting lainnya. Yang kalau mau bisa di skip. * Pertama yang mau aku sampaikan, untuk menanggapi pertanyaan kenapa La Vie itu selalu ngejar-ngejar Aileen Aldari karena ada kemungkinan nanti masih akan ada bab yang menunjukkan hal yang sama. Jadi, kenapa La Vie itu kesannya kyk ngejar Aileen adalah, karena dia itu orang yang kepribadiannya terus terang, frontal. Suka bilang suka, nggak bilang nggak. Kalau Aileen sebaliknya, dia itu tipe yang lebih senang mengamati, semua pendapat pribadi akan dia simpan kalau dia merasa nggak perlu untuk ditunjukkan. Dan itu udah keliatan dr waktu La Vie melakukan pengakuan sebagai anak haram raja sm waktu dia ngeliat Victor Leopold sm La Vie. Dia nggak bilang apapun, jd mungkin kesannya dia care less. Tp bukan berarti dia nggak bisa peduli, dia menunjukkan kepeduliannya itu cm disaat-saat tertentu yang memang menurutnya itu penting ditunjukkan. Contoh kyk waktu La Vie mau ke istana, udah dilarang karena dia tau akan ada hal buruk, tp La Vie bebal. Aileen itu nggak akan menunjukkan perhatian apapun di depan orang lain, tdk menunjukkan perhatian berlebihan juga tp dia akan melindungi dibalik layar. Dia punya porsi sendiri ketika harus menunjukkan perhatian. Cara orang menunjukkan perhatian balik ke personality masing-masing, dan aku ciptain karakternya begitu. Dia bukan orang yg bisa dibikin bucin. La Vie kebalik dia keliatan ngebucin y gara2 sikapnya yg terlalu kebuka. Satu lagi, Aileen itu sebenarnya orangnya licik, jd inget waktu La Vie nggak sadar dan di suru Aileen tanda tangan kan? Dia itu posisinya tau la Vie nggak sadar dan tau jg kalau dalam kondisi sadar pasti isi kontrak itu ditolak habis-habisan, makanya dia pake kesempatan itu buat kontraknya disetujui. Jd bukan karena la Vie bucin parah, dia cm dlm kondisi dimanfaatkan. Waktu sadar dia jg mencak2, tp diancam denda sm Aileen. Tentu aja ada masa la Vie capek ngejar Aileen karena terus diabaikan, karena dia manusia. Fase itu akan berganti perlahan-lahan, jd sabar. * Kedua, cerita ini bukan romance manis tentang La Vie atau Aileen aja. Cerita itu menyangkut latar belakang mereka berdua dan lingkungan di sekitar mereka. Karena ini ada latar politik, ada banyak konflik, intrik, akan ada pengkhianatan, akan ada saling jebak menjebak, akan ada banyak penghinaan, akan ada rahasia terungkap, akan ada pengorbanan. Ceritanya kompleks konfliknya berat. Untuk yg udah baca the queen pasti sudah punya gambaran konfliknya seperti apa. Cm kalau ditanya nyesek mana, ttp nyesek the queen. Ini masih sedikit lebih aman karena Aileen itu nggak sekejam hazal yang kadang bisa manipulatif. JADI AKU MAU MEMPERINGATKAN PADA KALIAN KAUM YG BENCI CERITA SEDIH, NGGAK TERIMA KONFLIK BERAT, UNTUK SEGERA MUNDUR SEBELUM KALIAN PATAH HATI KARENA CERITA TIDAK SESUAI EKSPEKTASI. TAPI KALAU KALIAN SUKA CERITA YG SERU, KONFLIK NAIK TURUN, DIPERSILAHKAN. KARENA AKU NGGAK MAU NANTI KONFLIK UDAH MULAI DAN ADA LAGI PERTANYAAN DAN KELUHAN MENGENAI PLOT, JADI AKU SAMPAIKAN LEBIH DULU DI SINI. TAPI AKU AKAN TERBUKA MENERIMA KRITIKAN SELAMA ITU DIJELASKAN DENGAN BAIK. JUGA DI SINI NGGAK AKAN ADA CERITA CINTA SEGI TIGA, KARENA KONFLIKNYA BUKAN SOAL ITU. PASANGAN YG UDAH OFFICIAL DI AWAL AKAN TETAP SAMA SAMPAI AKHIR. * Ketiga, bagi pembaca yg berharap ini free sampai ending, aku pengen menjelaskan sesuatu pada kalian. Aku suka semua pembacaku, aku menghargai mereka. Alasan kenapa cerita ini masih belum lock karena banyak request seperti itu. Tapi, aku jg pengen sedikit curhat. Jadi aku nulis 1800 sampai 2000 kata untuk satu bab itu, bisa 3 sampai 4 jam. Aku nulis tiap malam karena cm itu waktu free, dan utk fokus aku sampai nggak balas pesan apapun yg masuk ke hp, karena tiap menit itu sangat berharga untuk menyelesaikan satu bab untuk bisa kejar update bab berikutnya on time spy nggak ada pembaca yg kecewa. Aku nulis jam 8 malam bisa selesai jam 4 pagi. Jadi bisa total 8 jam lebih, mata udah perih, jari keriting, punggung udah pegel. Trus aku update black swan, aku suka nulis black swan nggak peduli mau makan berapa jam lamanya karena black swan di lock, yg berarti untuk baca harus beli koin, nah, dr koin yg readers beli aku dpt keuntungan jg dr sana yg tentunya bkn cm buat aku sendiri, tp dibagi dgn platform dream yg udah memberi tempat publis cerita ini. Ngejar koin itu bikin aku semangat nulisnya, karena aku merasa jerih payah nulis, mikir benar2 dihargai. Aku jg jujur mikir nggak ada penulis yg benar2 mau karyanya free, karena nulis itu, apa yg orang baca 4-5 menit dibikinnya itu bisa berjam-jam, berhari-hari, perlu waktu luang yg banyak, waktu mikir konflik dan segala t***k bengeknya. Di satu sisi aku jg mikir kok sbg pembaca, nggak semua orang bisa beli koin karena harganya tentu mahal, uang bisa disimpan buat beli jajan atau keperluan lain. Aku nggak akan maksa pembaca yg nggak bisa, yg ingin aku tekankan setelah penjelasan panjang lebar ini sebenarnya sederhana aja, semoga begitu cerita ini terlock entah kapan, sudah membaca peringatan ini dan tidak ada lagi pertanyaan bernada kekecewaan karena sudah membaca ini lebih dulu. Aku menceritakan ini cm untuk menunjukkan sisi manusiawi sja .. sekaligus mewanti-wanti lebih dulu spy tdk ada yg merasa dikecewakan karena aku menganggap ini sbg ijin lebih dulu spy kalian mengerti alasanku nanti misalnya kalau cerita ini lock.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN