La Vie berjalan meninggalkan mobilnya dengan langkah terhuyung bak orang mabuk. Aroma telur dan tomat busuk memenuhi penciumannya bagai air got yang sempat membuatnya ingin muntah ketika pertama kali menciumnya.
Namun makin lama ia makin terbiasa pada aroma yang menempel kuat di tubuhnya hingga tak lagi merasa jijik. Ia hanya tak nyaman dengan helai rambutnya yang terasa lengket dan berat.
Ia berpegang pada railing tangga, berusaha menyeimbangkan diri untuk bisa meniti 12 undakan anak tangga agar bisa segera memasuki rumahnya membersihkan diri dan mengistirahatkan kepalanya yang mendadak terasa berat dan sakit seolah habis dipalu dengan keras.
Begitu ia menginjaki anak tangga kelima. Kepalanya makin tertusuk nyeri tak tertahan. Pijakannya makin melemah, sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuatnya makin kesulitan untuk berada dalam posisi tegak.
Ia merasa tubuhnya akan jatuh dan La Vie benar-benar tak bisa lagi menolong dirinya sendiri. Ia pasrah jika masih harus merasakan celaka setelah melewati hari yang panjang dan berat.
Setelah wanita tak dikenal itu menyerangnya, semua kamera malah mengambil gambar. Sebagian bahkan turut mencibir dan menertawainya. Agensi yang ia harapkan bisa melindunginya malah tak berdaya sama sekali. Ia dibiarkan jadi badut bahan tontonan selama beberapa saat.
Tubuhnya oleng ke belakang saat itu. Ia hampir jatuh menggulung di atas tangga kalau saja Aileen Aldari tak segera muncul di saat yang tepat menangkap tubuhnya yang tak berdaya.
"Nona!" suara Esme memekik kencang. La Vie bisa mendengarnya dengan baik, tapi ia bahkan tak punya daya hanya untuk sekedar menengok. Matanya terasa terlalu berat hingga ia tak bisa lagi menahan kantuk.
"Apa yang terjadi pada Nona? Kenapa dia bisa begitu?" rengeknya di samping Aileen Aldari sambil menutup hidungnya tak kuasa menahan aroma yang keluar dari tubuh gadis itu.
"Coba lihat mobilnya dan temukan kunci rumahnya" kata Aileen Aldari menggendong tubuh La Vie. Tak peduli aroma tajam dan noda yang menempel di seragamnya.
Esme bergegas mendekati mobil La Vie yang terparkir di depan pagar, dalam keadaan pintu terbuka dan kunci yang tergeletak di tanah.
Setelah mencari beberapa saat ke seluruh bagian interior mobil itu, ia kembali ke tempat Aileen Aldari.
"Aku tidak menemukan apapun"
"Ambil kunci di saku mantelku dan buka pintu rumahku di seberang!" perintah lelaki itu dengan tegas yang dikerjakan Esme dengan sigap.
Begitu pintu rumahnya terbuka, ia bergegas membawa La Vie yang tak sadarkan diri lebih dulu ke dalam kamar mandi rumahnya. Setelah itu ia mencari Esme lagi karena seseorang harus membersihkan tubuh gadis itu dan Aileen Aldari merasa tak sopan jika harus melakukannya apalagi ada seorang wanita yang bisa dimintai bantuan.
"Masuk dan basuh tubuhnya" perintah lelaki bermata serigala itu sambil menatap seragamnya yang kotor.
Esme tersenyum kecut menggaruki belakang lehernya. Raut wajahnya jelas menunjukkan ia enggan melakukan itu.
"Apa?" kata Aileen Aldari menatapnya tajam karena gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya semula.
"Aku orang yang gampang jijik. Kurasa aku... hanya akan muntah kalau memaksakan diri melakukan itu" ia tertunduk dengan nada memelas.
Bibir Aileen Aldari mengerut. Ia menatap Esme dengan tajam, tapi pada akhirnya tak mengatakan apapun karena tahu sekalipun memarahinya tak akan bisa mengubah gadis itu.
Ia kembali ke dalam, melepas mantel dan jas militernya, lalu menggulung lengan kemejanya dan menghampiri tubuh La Vie yang terbaring dalam bathtub.
Ia melepaskan satu persatu pakaian gadis itu, menyalakan shower membasuh rambut dan kulitnya kemudian mengambil sabun dan mulai menggosok tubuhnya.
Tubuh telanjang La Vie dan situasi yang mengharuskannya menyentuh dan mengusap tiap inci tubuh gadis itu, tak pelak sempat membuat gairah Aileen Aldari muncul. Namun ia berusaha mati-matian menahan diri. Baginya merupakan tindakan pengecut dan tak sopan jika harus melakukan hal itu dalam keadaan seseorang tak sadarkan diri.
Setelah memandikan gadis itu, ia membalutkan handuk di tubuhnya lalu membawanya ke ranjang tidurnya. Ia menunggu hingga kulitnya benar-benar kering lalu memakaikan salah satu kaos longgar yang ia punya.
Wajah La Vie tampak pucat, ia menyentuh keningnya. Kulitnya terasa lebih hangat. Saat ia hendak mengambil kompres untuknya, tiba-tiba sebulir air mata yang panas jatuh dari sudut matanya, beriringan.
Bibir pucat gadis itu bergetar. Ia berbicara terdengar seperti orang merintih sembari menggerakkan jemarinya yang tampak sedikit gemetaran.
"I... bu... bu... aku... sakit"
Aileen Aldari menatapnya dengan iba. Ia bisa mengerti perasaan gadis itu. Sesama orang yang kehilangan ibunya ia tahu seberapa besar kerinduan itu bisa sangat menyakitkan. Namun dibanding dirinya, ia tahu La Vie hidup lebih keras. Ia tak pernah mengenal ibunya. Sejak lahir ia sudah dibawa pergi jauh agar tak mencoreng nama baik istana. Sebuah hukuman sekaligus pengorbanan yang tidak semestinya ia tanggung.
Untuk menenangkan gadis itu, Aileen Aldari menepuk punggung tangannya dengan lembut, menunggu hingga tangisnya sedikit mereda lalu menarik selimut menutup tubuhnya.
Ia kembali ke atas untuk mengambil es dari lemari pendingin dan mengisi ice bag yang ia bawa.
Saat itu Esme segera menerjangnya dengan rasa penasaran.
"Bagaimana keadaan Nona?"
"Dia demam, tapi akan baik-baik saja. Kau bisa pulang sekarang" tukasnya mengambil wadah untuk menadah batuan es dari mulut kulkasnya.
Mata sipit gadis itu memicing heran. Ia sudah meninggalkan istana, jadi tak punya tempat tinggal lain selain rumah La Vie yang awalnya ingin ia tuju mengingat ajakan yang ia dapat sebelumnya.
"Tapi, aku tidak punya rumah di sini. Orangtuaku tinggal di distrik Marloy, itu'kan jauh sekali dari sini. Aku kemari karena aku berharap bisa tinggal di rumah Nona La Vie. Dia berjanji akan mengupahku 600 euro sebulan. Sekarang apa yang harus aku lakukan, aku harus tinggal di mana, aku bingung?"
Rengekan Esme membuat telinga Aileen Aldari sakit. Tanpa ragu ia mengeluarkan 500 euro dari dompetnya lalu menyerahkannya pada Esme.
"Kau bisa cari hotel terdekat dari sini dan masih dapat sisa untuk makan tiga hari. Kembalilah lagi nanti!"
Esme memegang lengan Aileen Aldari. Ia menatapnya sedikit tak percaya, tak menduga lelaki dingin yang tampak b***t sepertinya bisa begitu royal.
"Kau benar-benar memberikan ini untukku?"
Lelaki itu menimpali gumam setengah malas, kemudian menengok padanya.
"Kau bisa memasak?"
Esme melirik sepintas kemudian menghitung uang di tangannya.
"Tentu saja tidak, aku'kan tidak bekerja di dapur, tapi di bagian binatu dan bersih-bersih"
Lelaki itu menghela napas berat. Esme benar-benar tak berguna dan ia tak tahu mengapa La Vie bisa mempekerjakan orang sepertinya. Ia yakin gadis itu memang tidak bisa menilai orang dengan baik, sama dengan saat ia pikir Aloys adalah bocah baik.
"Kalau begitu pergilah, aku sedang sibuk!"
Esme melompat mengerti sambil memberi hormat, "Aku akan datang besok untuk memeriksa keadaan Nona. Terima kasih untuk uang ini" ia berjalan menuju pintu sambil melambaikan tangan padanya.
Aileen Aldari kembali ke kamar membawa kantong es untuk mengompres kening gadis itu sekaligus untuk berganti baju.
Sambil mengamati La Vie ia berencana memesan bubur untuknya, ia pikir gadis itu mungkin lapar setelah bangun nanti.
Namun setelah berpikir agak lama, ia pikir hal itu tidak higienis dan tidak sehat. Bubur yang dibuat di restoran biasanya ditambahkan terlalu banyak bahan makanan yang tak diperlukan, padahal ia pikir saat seseorang sakit mereka membutuhkan makanan yang tak memerlukan terlalu banyak bumbu.
Akhirnya Aileen Aldari bertekad menginjak dapur berbekal resep yang ia dapat di internet.
Ia membuka lemari dapurnya, mencari peralatan yang diperlukan. Namun ia sedikit bingung karena terlalu banyak jenis panci yang tak ia mengerti fungsinya. Ia akhirnya memilih serampangan panci yang setidaknya menurut ia persis dengan gambar di internet.
Setelahnya ia memeriksa sudut dalam lemari dapurnya karena seingatnya ibu tirinya pernah mambawakannya 1 bungkus besar gandum enam bulan lalu, tapi tak pernah ia gunakan sebelumnya.
Setelah mendapatkan gandum itu, ia memeriksa kelayakannya sebelum memasaknya. Setelah yakin bahan itu masih aman, ia segera menyiapkan panci, memasukkan gandum dan air lalu memasaknya dengan api cukup besar.
Sambil menunggu bubur matang, ia berpikir menambah bahan lain untuk membuatnya terasa lebih lezat seperti bubur yang biasa ia santap di restoran mahal.
Perhatiannya segera tertuju pada daun seledri, daun mint dan telur. Ia mengambil dua bahan itu dan mulai memotongnya dengan hati-hati, karena tak biasa memotong bahan sayuran.
Hampir setengah waktu memasaknya habis hanya untuk memotong bahan. Hal ini membuatnya jadi berusaha lebih gesit ketika memecahkan telur, yang langsung ia jatuhkan ke dalam panci. Sialnya hampir separuh kulit telur tercebur ke dalam adonan bubur.
Ia sedikit panik, segera mengambil sendok berusaha mengambil bagian kulit yang tenggelam. Namun karena terlalu sibuk mencari, ia jadi tak memerhatikan kuah gandum mulai menyusut, kering lalu tak lama tercium aroma gosong.
Kembali ia kebingungan apa yang mesti dilakukannya, ia tiba-tiba memegang pegangan panci yang panas membuat kulitnya terbakar. Ia menarik tangannya menjauh, mencuci tangan untuk membuat kulitnya tak kepanasan, namun aroma gandum gosong makin tercium pekat.
Aileen Aldari buru-buru berbalik, ia jadi teringat mematikan kompor. Tapi ia lupa belum memberi bumbu apapun.
Ia mengambil dua buah wadah, berisi gula dan garam dengan bentuk yang hampir sama. Ia jadi bingung harus memilih yang mana karena tak ada nama menempel di wadah itu, tapi ia terlalu malas mencoba salah satunya. Akhirnya ia menurunkan keduanya lalu memasukkan daun seledri dan daun mint ke dalam panci. Setelahnya ia menyeka keringat di dahinya dengan tangan, tampak puas dengan hasil kerjanya yang berantakan.
Aileen Aldari kembali ke kamar memeriksa keadaan La Vie, sekaligus mengambil kotak obat dan memasang plaster di atas tangannya yang merah setelah lebih dulu mengolesnya dengan salep.
**
La Vie membuka mata, cahaya lampu yang agak silau di samping ranjang membuat matanya merasa perih dan kepalanya nyeri lagi.
Ia meraba keningnya yang terasa dingin dan menarik kantong es dari kepalanya. Ia bangkit melihat sekeliling, kamar itu jelas bukan kamarnya. Ia bahkan ingat dengan baik, belum sempat menggapai pintu rumahnya dan sudah roboh lebih dulu.
Pintu berderit pelan. Ia mengarahkan tatapan ke arah pintu. Aileen Aldari baru saja masuk dengan membawa segelas kopi di tangannya yang ia yakini jelas bukan untuknya.
Menyadari seseorang melirik, lelaki itu berpaling mendapati La Vie sedang menatap dirinya. Mereka terdiam saling mengamati beberapa saat.
"Kau sudah bangun?" lelaki tersebut mendekati ranjangnya.
La Vie mengedarkan pandangan ke penjuru kamar itu. Ia masih tampak bingung mengapa bisa berada di sana.
"Kenapa aku di sini?"
"Tadi kau hampir jatuh dari tangga. Karena kau sedang tak sadarkan diri dan aku tidak menemukan kunci akses rumahmu, aku terpaksa membawamu kemari"
La Vie termenung, ia memang mengingat kejadian itu.
"Oh, iya. Aku baru ingat. Terima kasih sudah membantuku. Aku lupa di mana tasku, mungkin tertinggal di suatu tempat"
Aileen Aldari sempat penasaran pada apa yang terjadi pada gadis itu hingga bisa pulang dalam keadaan kotor seolah habis terjerembab ke dalam got. Namun, ia memilih menyimpan pertanyaan itu lebih dulu karena ia pikir apa yang paling dibutuhkan gadis itu sekarang adalah makanan dan obat.
"Tunggu sebentar!" ia meletakkan kopi di atas meja kerjanya yang berada di sudut kamar menghadap ke jendela yang tertutup tirai krem pucat.
5 menit kemudian ia datang membawa nampan berisi semangkuk bubur buatannya dan segelas air untuk meminum obat.
"Makanlah! Kau perlu mengisi perutmu untuk minum obat" ia menyodorkan mangkuk bubur pada gadis itu.
La Vie mengambil makanan yang disodorkan padanya lalu mengamati gumpalan hitam yang memenuhi pinggir bubur itu dan potongan daun seledri yang terlalu besar.
Dari tampilannya, makanan itu terlihat tidak enak namun untuk menghormati Aileen Aldari ia tetap menyantapnya.
Melihat La Vie menyendok bubur itu ke dalam mulutnya, Aileen tertegun menunggu seperti apa reaksinya setelah memakan masakan buatannya.
"Bagaimana?" tanyanya dengan penasaran dan ragu.
Kening La Vie mengerut. Ia menjulurkan lidahnya keluar, lalu mengambi kulit terlur yang menempel di lidahnya
"Rasanya sedikit aneh. Asin dan manis"
Lelaki bermata tembaga itu mengangguk seolah mengerti. Ia tak bisa berharap memasak makanan lezat dengan keterampilan masak buruk. Namun, di sisi lain, ia juga tak mau ketahuan memasak makanan tak enak dan memilih menyalahkan orang lain.
"Aku tau itu pasti buruk. Pelayan wanita itu..."
"Esme?" La Vie menimpali.
"Ya, dia yang membuat makanan itu. Kau tidak perlu memakannya, makanan ini di buang saja. Kau bisa keracunan!"
Ia berusaha mengambil makanan itu dari La Vie namun ia mempertahankannya sekuat tenaga. Meski ia sedang sakit kekuatannya kini nampak mulai sedikit pulih.
"Kau tidak boleh membuang makanan begitu saja. Ada banyak orang kelaparan di seluruh dunia. Kau harus belajar menghargai makanan"
Aileen Aldari berdecak, "Kau berbicara seperti ibu-ibu"