Chapter 2. Nathan Yang Manja

1027 Kata
Di kantor ayahnya Nathan tampak heboh saat Nathan keluar dari mobil lalu masuk ke dalam kantor. Begitu juga sekertaris di sana tampak gelagapan saat menyampaikan kedatangan Nathan pada Tn. Presider jika Nathan sedang menunggunya. "Tuan Presider nampaknya ada tuan muda Nathan ingin menemui anda. Ia bersama istrinya di depan." kata sekertaris itu. "Apa benarkah Nathan sudah sadar? Suruh dia masuk." kata ayahnya. "Benar tuan presider, mereka ada di depan." kata Sekertaris itu. "Silahkan mereka masuk." kata Tn. Presider. Setelah itu. "Silahkan tuan muda masuk." kata sekertaris itu. Nathan masuk bersama Ana. "Ayah." panggil Nathan saat ia masuk ke ruang kerja ayahnya. "Nathan? Benarkah kau telah sadar. Ayah kira sudah tidak bisa melihatmu lagi. Setelah lama kau tertidur di kamar. Kini ayah merasa lega. Duduklah." ajak ayahnya. Lalu Nathan melihat ke arah Ana untuk menyuruhnya duduk juga. "Ayah, apakah benar gadis di sebelahku adalah jodoh yang ayah suruh?" tanya Nathan. "Nathan maafkan ayah sebelumnya telah lancang menginginkan keturunan darimu di saat kau koma. Tapi ayah lakukan itu untuk menyelamatkan perusahaan dari stigma negatif di luar sana. Mereka mengira tak ada jaminan penerus setelah dirimu koma. Maka sekarang ayah telah menjodohkanmu dengan Ana." kata ayahnya. "Iya ayah, seharusnya ayah menikahkanku lebih cepat agar ku cepat sadar dari koma. Untunglah aku terbangun saat malam itu." kata Nathan. "Oh benarkah kau tidak keberatan? Ana terima kasih kau telah menyelamatkan Nathan dan membuatnya terbangun dari koma. Kami sangat berterima kasih padamu." kata ayahnya. "Iya tuan presider." jawab Ana. "Tapi ayah kelihatannya menantu ayah sangat malu-malu sekali. Aku sampai mengira ia bukan istri suruhan papa." kata Nathan. "Oh hhha. Begitu rupanya. Tapi Nathan jika dirimu memang telah sembuh. Sebaiknya kau segera membuat anak dari istrimu itu. Papa sudah tidak sabar untuk memiliki cucu. Nampaknya cucu yang banyak akan membantu papa di perusahaan ini. Jadi cepat-cepatlah kalian memiliki keturunan." kata tuan presider. Tuan presider tertawa, sementara Ana. "Apa aku harus cepat-cepat memiliki anak darinya? Yang benar saja. Aku harus melakukannya lagi?" pikir Ana keberatan. "Oh ya pa, mamah mana? Apa mamah sudah tahu tentangku ini." kata Nathan. "Oh ya papa sampai lupa. Papa akan panggilkan mama dahulu." lalu Tn. Presider menelepon nyonya Shine istrinya. "Hallo, mamah ternyata Nathan sudah sadar setelah kemarin kita nikahkan dengan Ana. Mamah bisa ke kantor papa sekarang sekalian kita akan makan di luar." kata papa. "Iya pah, benarkah. Sekarang Nathan sudah sadar. Di mana dia pah? Coba mamah mau bicara dengannya." kata nyonya Shine. "Nathan mama mau bicara padamu. Ambilah." kata papa. "Baik pa. Ya hallo mah." kata Nathan. "Nathan kamu telah sadar? Sekarang kamu lagi sama papa ya. Mamah ke kantor papa ya. Tunggu mamah." kata mamah. Setelahnya mamah datang. Lalu mereka pergi ke restoran. Di sebuah restoran jepang nampak sudah ada bakaran di depan mereka. Mereka telah memesan tempat VVIP di sana. "Nathan, bagaimana bisa kamu sudah sadar. Apa yang menyebabkanmu bangun, sayang? Apa karena ada Ana di sana?" tanya mamah yang membuat Ana malu. "Ya, Ana yang telah membangunkanku malam itu pa, ternyata dia telah lebih dahulu melakukannya." jawab Nathan. Ana hanya tersibak kaget melihat Nathan. "Apa? Aku, bukannya kau yang leboh dahulu terbangun?" kata Ana. "Oh tidak apa-apa Ana, jangan malu-malu. Kini kau bisa melakukannya selagi dia sadar. Dan memperoleh keturunan. Terima kasih sudah membuat Nathan bangun." kata Nyonya Shine. "Tapi, mamah punya ide, jika dirimu dan Nathan melakukan bulan madu ke hotel di pinggir pantai di Eropa atau Amerika, mamah akan menyiapkan semuanya. Hotelnya juga masih milik keluarga. Dengan begitu kau akan cepat memiliki keturunan." kata mamah. "Ehmm bulan madu, hhe." Ana hanya tersenyum malu. "Aku setuju, itu ide yang bagus mah. Hari ini kita rencananya akan pergi keluar untuk kecan." lalu Nathan melingkarkan lengannya di pinggang Ana. Melihat Nathan sangat menyukai Ana, kedua orangtuanya sangat senang. "Baguslah kalau begitu. Kita tidak perlu menyuruh kalian untuk memiliki keturunan. Tapi sepertinya kalian berdua sudah lebih tahu. Ayo kalau begitu silahkan dimakan. Kelihatannya sudah matang." kata mamah. Ana hanya tersenyum kikuk sementara Nathan terus melendotinya. "Begini saja dia sudah terlalu dekat, memangnya apa yang akan ia lakukan nanti malam? Kita akan keluar? Kemana ia ingin membawaku ya. Jangan-jangan ..." lalu pikiran Ana berpikir jika Nathan akan membawanya ke hotel dan melakukannya lagi di sana. "Hhehe, Ana bisakah kau ambilkan itu untukku. Aku ingin kau yang memberikannya. Kalau perlu ..." kata Nathan sembari ingin mencium bibir Ana, tapi Ana keburu menjawab. "Nathan, malu ada orang tuamu di depan." Ana langsung menghindar dan membisikannya di telinga Nathan. "Kenapa kau sungkan, bukankah itu sudah jadi kewajibanmu." kata Nathan. Lalu Ana langsung mengalihkan perhatian Nathan dengan mengambil daging bakar itu. "Ya aku ambilkan yang ini untukmu, satu atau dua?" Ana langsung menghindari bibir Nathan yang begitu dekat dengan mengambilkan daging-dahing itu. Melihat mangsanya lolos ia hanya menjawab. "Berapa saja, ambilkan untukku." jawab Nathan sambil menghela nafas. Kenapa susah sekali untuk merangkul Ana? Pikir Nathan sambil terus memonitori Ana yang sibuk mengambilkannya daging dengan mata Nathan yang sedikit genit. "Ini untukmu." kata Ana. Lalu ingin Nathan mengambilnya tapi ia meminta sesuatu. "Tidak bisakah kau yang menyuapi untukku. Pasti rasanya sangat lezat." pinta Nathan. Nathan sangat manja sekali pada Ana. Sedangkan Ana mau tidak mau harus menuruti keinginan Nathan. "Baiklah." lalu Ana mengambilkan sumpit untuk memasukan daging ke mulut Nathan. "Ini." kata Ana. Sedangkan Nathan memainkan mata genitnya ke arah Ana lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Ana. Matanya terus saja memandangi Ana sambil terus ia mengunyah. Apalagi setelahnya ia tersenyum melihat bagian tubuh Ana yang menonjol dan begitu dekat dengan dirinya. Ia lalu melirik ke bawah sana sambil terus tersenyum pada Ana. Melihat Nathan menengok ke arah dadanya, Ana langsung cepat-cepat mengakhiri suapannya pada Nathan. "Apa yang telah ia lihat? Kenapa Nathan begitu genit padanya?" tanya Ana dalam pikirannya. "Hhaha." Nathan tersenyum sedikit melihat ekspresi tegang Ana yang mendadak berubah memerah di pipinya. Mungkin jika tidak ada orang tuanya, ia akan melakukannya lagi pada Ana. Lalu hingga suapan demi suapan Nathan membalasnya dengan mata genitnya yang manja. "Hari ini, setelah dari restoran. Aku akan membawa Ana pergi ke hotel. Oh ya ayah manah ponsel milikku yang dulu. Apakah kau yang menyimpannya?" tanya Nathan. "Oh iya ponselmu, telah hancur bersama mobil sport yang terbakar waktu lalu. Jadi ayah tidak bisa mengambilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN