Chapter 3. Kekasihnya Datang

1020 Kata
Sekarang ayah berikan kartu debit ini saja untukmu dan untuk membeli ponsel baru dan keperluan lainnya." kata ayahnya dengam memberikannya kartu kredit. Lalu Nathan mengambilnya. "Terima kasih Ayah." jawab Nathan. "Baiklah sekarang aku ingin pergi dulu, mah pah." kata Nathan. "Ya hati-hatilah Nathan." kata papa dan mamahnya. "Baik ayah." kata Nathan lalu ia menarik tangan Ana untuk mengikutinya. "Permisi om tante." kata Ana saat dirinya ditarik Nathan. "Iya Ana." kata mamahnya. Lalu setelah membawa Ana agak jauh dari restoran itu. "Lepaskan aku, Nathan." kata Ana. Nathan hanya tersenyum ketika Ana melepaskan rangkulannya. "Kenapa? Tadi di depan orang tuaku kau sangat manis sekali. Kau dengar apa kata mereka, kita ini harus memiliki keturunan secepatnya." kata Nathan. "Ah tidak bisa, ini terlalu cepat dan aku juga belum mengenalmu. Bagaimana bisa kita melakukannya tanpa mengenal terlebih dahulu." jawab Ana. "Kau ini, kenapa harus memakai prosedur yang membingungkan. Sekarang kau adalah miliku dan aku ingin kau menurutinya. Aku ingin pergi ke mall membeli ponsel baru. Kau harus menemaniku. Ingat kau adalah istri baruku. Jadi kau harus setia menemaniku." kata Nathan. Lalu di mall. Nathan pergi ke gerai iPhone. Ia pun menginginkan iPhone terbaru dan mengeluarkat kartu debit yang ayahnya berikan padanya. Tak hanya itu ketika ia melewati sebuah gerai pakaian wanita. "Oh iya, siapa namamu?" tanya Nathan yang lupa. "Ana. Anastasia. Kenapa memangnya." kata Ana. "Begini, nanti malam kuingin kau memberikan sesuatu yang special padaku. Ku ingin kau memakai gaun yang kusuka untuk malam ini. Bagaimana jika kita ke toko itu. Ayo." kata Nathan mengajak Ana untuk masuk ke toko itu. "Apa, aku tidak ingin. Nanti malam aku juga tidak ingin melakukan apa pun itu untukmu." kata Ana menolak. Walaupun geretan tangan Nathan lebih kuat darinya. Sehingga ia todak bisa kabur darinya. Mereka pun telah masuk ke toko itu. Dan Nathan mencarikan baju yang seksi untuk dipakai Ana nanti malam untuknya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Nathan yang melihat Ana malah mematung. Sementara kedua tangan Nathan penuh dengan baju. "Coba kau pakai ini semua." kata Nathan. Lalu Ana pergi ke ruang pas. Ana merasa tak cocok dengan pakaian yang dipilih Nathan. Karena semuanya sangat seksi dan transparan. Tapi Nathan tetap memaksa untuk membelinya. Setelah puas mereka berjalan menuju luar toko. Tak disangka dari jauh terlihat, Britney melihat ke arah Nathan. Britney adalah kekasih Nathan. Setelah kecelakaan Britney sudah tak menjenguknya dan pergi meninggalkan Nathan yang koma. Saat itu Britney tak percaya jika Nathan bisa cepat pulih. Makanya ia pergi ke luar negeri untuk menemui kekasihnya. Dan sekarang Britney nampak kaget. Dilihatnya sesosok Nathan yang sangat sehat. "Bukankah itu adalah Nathan? Sang CEO di perusahaannya. Bukankah ia sedang koma? Bagaimana ini bisa terjadi. Apa yang telah kulewatkan. Aku harus mengintipnya." lalu Britney mencoba mengikuti Nathan ke sebuah restoran. "Kita duduk di sini." ajak Nathan ketika mereka menemukan food court. Lalu Nathan celingukan ingin memanggil waiters hampir melihat Britney juga. "Hampir ketawan. Apakah Nathan melihat ke arahku?" tanya Britney lalu sigap menghindari tatapan Nathan. "Pelayan." panggil Nathan. Britney lega Nathan tak melihatnya. Ia pun duduk di seberang sudut food court itu. "Sedang apa Nathan di sana? Siapa wanita di sampingnya itu?" tanya Britney. Britney mengintai Nathan lekat-letak secara sembunyi-sembunyi. Kini setelah melihat Nathan telah sehat lagi seperti dulu. Britney menjadi menginginkan Nathan lagi. "Kalau Natha telah sembuh lebih baik aku kembalisaja padanya lagi dan menggodanya. Ia pasti akan menerimaku sebagai ke kasihnya." kata Britney. Tapi rasa penarasan Britney melihat Nathan bersama wanita lain membuat sangat jealous. Belum lagi pertanyaan dalam pikirannya terjawab Nathan mengambil segelas ice coffe lalu ia pergi dari food court itu. "Mau kemana Nathan? Cepat sekali ia pergi." kata Britney. Nathan pergi dari sana sambil menggandeng istri barunya. "Beberapa hari lagi kita akan pergi untuk berbulan madu. Apa ada tempat yang bagus untuk pergi bulan madu?" tanya Nathan. "Pergi bulan madu?" kata Ana heran. "Tidak, aku tidak mau." katanya lagi. "Ayolah jangan malu-malu. Ayahku butuh seorang pewaris perusahaannya. Malam ini secepat mungkin kita akan membuat anak. Ana hanya diam mendengar perkataan Nathan yang dianggapnya hanya lelucon itu. Malamnya Nathan bersiap untuk kencan dengan istri barunya. "Ana berdandanlah malam ini untukku. Kita akan dinner di garden." kata Nathan. "Harus sekarang. Tapi sepertinya aku sedang tidak siap." kata Ana. "Ayolah hanya sebentar. Pakailah baju yang kubeli tadi untukmu. Sepertinya itu sangat cocok untukmu." kata Nathan. "Baiklah." Ana menghela nafasnya dan pergi untuk menuruti ajakan suaminya itu. "Malam ini, apa yang akan Nathan perbuat padaku. Bisa-bisanya dia." gumam Ana ketika ia sibuk memilih pakaian. Lalu setelah Nathan menunggu agak lama. Terlihatlah Ana dengan dress malamnya. Pakaian transparan itu sangat menyita perhatian sang CEO. "Ana, kau sangat berbeda malam ini. Mari kita pergi ke garden." ajak Nathan lalu merangkul Ana untuk menurutinya ke garden. Di taman yang luas telah tersedia meja dinner dan lilin. "Makanlah yang banyak sebelum malam ini aku ingin bersenang-senang denganmu." kata Nathan. "Ah, apa yang akan kau lakukan padaku nanti?" mendadak istri CEO itu risih. "Hhha. Kenapa kau ini. Memangnya tak boleh." kata sang CEO. "Tentu saja tidak." kata istrinya. "By the way. Harusnya kau bersyukur karena seorang pengusaha sepertiku yang sangat tampan. Susah untuk ditemui." kata Nathan. "Sejak kemarin, kau telah membuatku terbangun dari koma. Kupikir hidupku tak kan lama lagi. Tapi ternyata aku beruntung sekali. Setelah sadar sudah ada seseorang di atas tubuhku. Hmm. Kau nakal sekali." kata Nathan. "Bukan aku yang berada di atasmu. Itu semua karena disuruh oleh orang tuamu. Jika saya keluargaku tak berhutang pada keluargamu. Aku mungkin tak kan sampai seperti itu." kata Ana. "Wah mukamu memerah. Memangnya berapa hutang keluargamu itu?" tanya Nathan. "Aku tidak begitu tahu. Tapi yang jelas banyak sekali. Karena bunganya selalu bertambah." kata Ana. Lalu mata genit Nathan mulai menoleh ke arah benda kenyal milik Ana yang karena gaunya begitu terlihat sampai ke dadanya. Lalu matanya mulai turun ke bawah pahanya. Terlihat sangat mulus dan seksi sekali. Ia pun tertawa melihat istrinya yang membuatnya selalu tergoda padanya. "Malam ini kau harus melayaniku dengan baik." kata Nathan. "Kenapa kau memandangiku seperti itu. Apa yang anda pikirkan?" kata Ana. "Kenapa kau begitu ketakutan sekali. Lihat dirimu sekarang. Kau sedang bersamaku. Tak ada yang bisa membantumu untuk keluar dari sini. Maka baik-baiklah denganku." kata Nathan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN