"Ma, Pa, aku akan pergi ke kampung untuk bertemu Diana dan anak-anak. Aku rindu mereka dan akan meminta maaf karena telah menyakitinya," ucapku antusias. Kedua orangtuaku tidak merespon. Mereka hanya saling tatap. "Kenapa, Ma, Pa?" tanyaku heran. "Mereka menatapku sendu, "Semuanya sudah terlambat!" "Terlambat? Apanya?" tanyaku lagi. Tapi mereka kembali diam. Tidak bersuara sama sekali. "Ma, Pa, tidak ada kata terlambat jika kita mau berubah. Aku juga yakin kalau Diana akan memaafkanku dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi di antara kita," jelasku. Meskipun aku sendiri ragu, tapi sifat Diana membuatku kembali yakin kalau dia pasti bisa memaafkanku. Dia bukan wanita picik. Tidak seperti Milla. Tapi sejahat apapun Milla, dia tetap istriku dan sebisa mungkin aku akan mencoba untu

