Respati tidak merespons. Wajahnya tetap datar. Tidak ada ekspresi berarti di sana. Tatapan matanya justru terasa semakin tajam saat mengarah pada Mahendra, cukup untuk membuat adiknya sadar bahwa ia sudah hampir melewati batas bercanda yang tidak disukai Respati. “Bercanda, Bang.” Mahendra langsung mengangkat kedua tangannya kecil, buru-buru menetralisir suasana sebelum benar-benar memantik emosi sang kakak. Ia tahu betul Respati sangat berbeda dengan Kalandra yang masih bisa diajak bercanda ringan tanpa memasang wajah dingin seperti itu. Respati terlalu tenang, terlalu sulit ditebak. Dan justru itu yang membuat Mahendra sering kali kalah nyali kalau sudah ditatap kakaknya terlalu lama. Namun beberapa detik kemudian, Mahendra kembali mengalihkan atensinya pada Aira. Langkah lebarnya me

