Aira membeku. Tangannya yang sedang memegang kuas bumbu turun perlahan. Atensinya tertahan pada sosok Lily yang berdiri di samping Respati dengan senyum manis di wajahnya. Tangan Respati masih melingkar di bahu Lily. Entah kenapa, pemandangan tersebut terasa jauh lebih menyakitkan dibanding bentakan atau kekerasan Respati selama ini. Jantung Aira seperti diremas berulang kali. Untuk pertama kalinya, Aira melihat sisi lain dari suaminya. Hangat, tenang, dan lembut. Namun, sayangnya semua sikap baik itu bukan tertuju padanya. Respati sanggup melakukannya kepada wanita lain. Di depannya tanpa peduli statusnya adalah istri dari pria tersebut. “Aira?” Tersadar, Aira langsung menundukkan wajahnya lebih dalam. “Iya, Non?” Lily tersenyum ramah. “Kamu udah lama di sini?” Aira mengangguk. Tat

