Malam hari .... Brak! Tubuh Aira terhempas hingga menabrak ke daun pintu. Respati terlalu kasar memperlakukannya. Amarah pria tersebut seperti tersiram bensin semenjak pulang dari rumah papanya. Respati maju. Ia mencengkeram leher Aira dan memaksa tubuh perempuan yang terkapar itu berdiri. Mata hitam Aira melotot. Kedua tangannya memegangi pergelangan sang suami. “Mau cari muka kamu? Huh?!” Respati menekan cengkeramannya hingga terasa menyakitkan untuk Aira. Pria tersebut membenci momen makan malam di tempat papanya yang rusak karena kecerobohan sang istri. “A–aku ....” Aira berbicara dengan susah payah. Namun, hanya dalam satu gerakan saja, Respati lembali menghempas tubuh itu ke atas ranjang. Pria tersebut langsung mengungkung tubuh Aira. Kedua kakinya menindih lutut sang is

