Lorong panti terasa jauh lebih sunyi begitu Aira meninggalkan kamar Sarah. Langkahnya pelan, tetapi sangat jelas menjadi tanda bahwa perempuan tersebut menjaga jarak dari Eric yang berjalan di belakangnya. Jemarinya saling menggenggam kuat di balik lengan gamis yang dikenakan. Napasnya ditahan berulang kali supaya emosinya tidak kembali pecah di depan pria itu. Ia ingat bagaimana hidupnya dipermainkan oleh Eric. Pria itu yang melemparnya ke dalam rumah tangga layaknya neraka. Eric yang membuat Aira harus hidup di bawah kendali Respati. “Tunggu, Ra!” Seruan Eric terdengar lagi. Aira tidak langsung menjawab. Ia justru mempercepat langkah menuju dapur belakang panti. Tempat itu selalu menjadi pelariannya sejak dulu. Saat sedih, marah, kecewa, atau sekadar ingin menenangkan diri, perem

