“Aira usahakan, ya, Bund.” Sarah mengangguk pelan. Saat ini, ia memang hanya bisa menggantungkan harapan pada Aira. Sebab, kondisi panti benar-benar sedang berada di ujung tanduk dan satu-satunya donatur terbesar yang masih tersisa hanyalah Respati. Aira kembali menyuapi sup itu hingga tandas. Setelahnya, ia membantu Sarah meminum obat dan memintanya kembali beristirahat. “Bunda istirahat, ya. Hari ini biar Aira yang handle anak-anak panti sampai jam empat sore nanti.” “Tapi, kerjaanmu gimana, Nak? Gimana kalau suami kamu marah?” Aira menggeleng pelan. Senyum tipis kembali terukir di balik cadarnya. “Nggak apa-apa. Nanti Mas Respati pasti paham, kok.” Meski masih terlihat ragu, Sarah akhirnya mengangguk. Ia membiarkan Aira menyelimutinya sampai sebatas d**a. Perempuan di depannya kin

