"Ingat janjimu pada Tuan Respati."
Brian memberi peringatan keras setelah mobil itu berhenti tepat di halaman rumah Eric.
"I–iya. Saya paham."
Eric berujar lemah. Pria itu duduk di samping kursi kemudi dengan kondisi yang benar-benar lemah.
"Sekarang turun dan lakukan tugasmu."
Susah payah, Eric membuka pintu mobil. Ia langsung terjatuh ketika kedua kakinya tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Kendaraan itu melaju setelah ia benar-benar keluar. Eric mengatur napas. Dadanya tercekat berulang kali. Tiap tarikan napas seperti sebuah tusukan.
"Mas!"
Teriakan itu terdengar keras, sesaat setelah pintu terbuka. Aira berlari. Ia menghampiri pria tersebut. Tubuhnya langsung bersimpuh di depan Eric.
"Kamu kenapa, Mas? Siapa yang buat kamu seperti ini?"
Dalam kondisi kesadaran yang makin berkurang, Eric bisa melihat air mata Aira turun, membasahi kain cadarnya.
"Mas." Aira terisak. Lembut, ia menepuk sisi pipi yang masih bersih dari lebam. "Siapa yang udah bikin kamu kayak gini?"
Eric tidak mampu menjawab. Kondisinya benar-benar tidak memungkinkan, meski untuk berucap sepenggal kalimat.
Tidak butuh waktu lama, semuanya gelap. Eric tidak sadarkan diri di pelukan Aira.
"Mas!" Teriakan Aira makin histeris.
Entah apa yang terjadi pada Eric, tetapi Aira bisa melihat bagaimana kondisinya yang mendapat luka parah di beberapa bagian tubunya.
**
Aira kembali membasahi kain kompres untuk suaminya. Mengganti perban pada luka bakar di telapak tangan kanan Eric yang masih sedikit basah. Serta memberi salep pada beberapa luka memar di sekujur tubuh.
Sampai sekarang, pria itu masih demam. Aira juga belum menemukan jawaban dari penyebab Eric pulang dalam kondisi demikian setelah pergi tanpa bicara ke mana tujuannya.
Sialnya, Aira juga sampai tidak melihat siapa orang yang mengantar Eric pulang. Malam itu, ia keluar setelah mendengar deru mesin mobil yang menjauh.
Ia menatap prihatin ke arah Eric. Pria itu bahkan harus telanjang d.a.da dan memakai celana pendek supaya lukanya tidak bergesek pada selimut juga kain seprei.
Tok-tok-tok!
Ketukan pintu itu terdengar nyaring. Aira gegas meninggalkan kamar dan berjalan ke arah pintu utama. Ia menarik handle-nya ringan.
“Hai.”
Sapaan itu terdengar hangat. Aira menatap penuh arti pada sosok wanita yang memakai baju formal ala pegawai kantoran. Rambut cokelatnya sepundak. Lipstiknya merah tua, menambah kesan dewasa pada tamunya pagi ini.
“Maaf, cari siapa, ya?”
Wanita itu menampilkan senyumnya. “Ini rumah Eric, ‘kan?”
Air mengangguk. “Anda ....”
“Ah, kenalin,” katanya langsung mengulurkan tangan, tanda meminta berkenalan, “Nadia.”
Meski ragu, Aira menjabat tangan itu. “Aira. Istri Mas Eric.”
Nadia mengangguk. Ia menatap penampilan Aira dari ujung kepala sampai ke kaki. Semuanya tertutup. Hanya sepasang manik mata hitam yang pekat dan telapak tangan putih bersemu merah muda yang terlihat.
“Aku utusan dari kantor. Kantor memintaku mengecek keadaan Eric.”
Dahi Aira mengernyit. “A-ah, iya. Silakan masuk.” Ia menepi, memberi jalan untuk tamunya masuk. “Duduk dulu, Mba. Saya buatkan minum.”
Nadia menggeleng. “Nggak perlu. Aku nggak bisa lama-lama. Jadi, di mana Eric? Kenapa dua hari ini nggak masuk kantor?”
Aira mengembuskan napasnya lesu. “Mas Eric ... sakit, Mba. Dia ada di kamar,” jawabnya sambil melangkah ke arah pintu kamar.
“Sakit?” Nadia bertanya, setengah kaget.
Perempuan berjilbab itu mengangguk. Ia menatap Nadia dengan mata sedih. Satu tangannya tergera, mendorong pintu.
“Mas Eric pulang dalam keadaan babak belur, Mba. Dia langsung demam malam itu juga. Sampai dua hari ini, kondisinya belum juga membaik.”
Nadia terdiam dalam beberapa saat. Alangkah terkejutnya ia melihat kondisi Eric, apalagi dengan wajah babak belurnya bengkak dan pucat.
“Udah panggil dokter?” Nadia bertanya dengan nada panik.
“Sudah, Mba. Demamnya sudah lumayan turun, meski satu angka. Cuma, dia belum sadar sepenuhnya.”
Tidak banyak berpikir, Nadia mendekat. Ia menghampiri Eric dan menatapnya lebih dekat. Ia sempat melirik Aira yang mengawasinya.
Sial.
Keberadaan perempuan itu membuatnya tidak leluasa untuk bicara secara intiim pada Eric. Ia harus memutar otak, mencari cara supaya Aira pergi meninggalkannya dengan Eric.
“A-Aira ....”
Panggilan lirih itu tiba-tiba terdengar. Nadia tercekat. Ia tidak menyangka jika Eric justru menyebut nama perempuan lain dalam kondisi setengah sadar. Padahal, ia adalah kekaishnya. Orang yang menemani Eric selama tiga tahun terakhir.
Mendengar panggilan itu, Aira gegas menghampiri. Ia duduk di sisi ranjang dan mengusap kepala pria tersebut.
“Iya, Mas. Aku di sini.”
Perlahan, mata berat Eric terbuka. ia bisa melihat jelas sosok Aira yang berada di sampingnya. Lantas, pandangannya beralih. Menatap ke samping Aira.
Nadia. Wanita itu ada di sana. Napas Eric mendadak berat. Apa yang dilakukan kekasihnya di sana? Matanya yang baru terbuka beberapa detik lalu langsung terbuka lebar.
“Halo, Ric. Gimana keadaan kamu? Hm?”
Pertanyaan Nadia membuat Eric menegang. Nekat sekali wanita itu mendatangi rumahnya dan bertemu Aira. Atau mungkin ... Nadia sudah bicara semuanya pada Aira?
Suasana di sana mendadak hening. Aira menunggu pria tersebut bicara lagi. Ia genggam pergelangan kiri Eric dan dikecupnya lembut.
“A-aku mau minum, Ra ....” Eric berbicara lirih.
Aira mengangguk. Ia melepas genggaman dan mengambil gelas yang ternyata kosong.
“Aku ambil minuman dulu di dapur, Mas.”
Eric mengangguk singkat. Ia biarkan Aira pergi dari sana. Setelah bayangan itu tak terlihat lagi, pria tersebut menatap Nadia.
“Jangan macam-macam kamu, Nad.”
Nadia tersenyum miring. “Kenapa? Hm? Nggak boleh aku jenguk pacarku sendiri?”
“Aira bisa tau. Aku nggak mau semua yang aku siapkan rusak gara-gara kamu yang nggak sabar.”
Wanita itu mendesah berat. Ia memutar bola matanya malas. “Ya, sampai kapan, Eric?” Nadia menatap Eric. “Lihat. Ini hasil kamu ngelawan Tuan Respati. Kamu gila, ya?! Kamu pikir udah hebat sampai ngelawan Tuan Respati?”
Eric beringsut. Berusaha mengubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk dengan badan tegap yang masih lesu.
“Aku cuma butuh waktu. Aku nggak tega campurin obat itu ke minuman Aira. Efeknya nggak main-main, Nad.”
“Alah. Bodo amat! Jangan bilang kamu udah ada rasa sama Aira, Eric?”
Eric menelan ludahnya kasar. Ia tidak menjawab. Jujur, perasaannya bimbang.
“Sialan kamu, Ric!” Nadia tersulut amarah. “Kamu bakal nyesel karena udah bikin aku kayak gini!”
Nadia langsung keluar tanpa menunggu jawaban Eric. Kemarahan di hatinya meluap. Di dapur, ia sempat melihat Aira. Perempuan itu membungkuk di wastafel. Suara mual dan muntahnya terdengar berulang kali.
“Kamu kenapa, Ra?”
Aira menggeleng. Ia mengangkat tangannya, tanda bahwa tidak bisa menjawab untuk saat ini.
Gerak-gerik perempuan berjilbab itu membuat Nadia makin penasaran. Ia menghampiri Aira. Perempuan bercadar itu mengambil tisu untuk mengusap mulutnya yang basah di balik cadar.
“Kamu mual sama muntah, Aira?”
Beberapa detik lamanya, Aira tak menjawab. Ia berusaha membuat kondisinya senyaman mungkin. Setelah benar-benar membaik, perempua tersebut menatap Nadia.
“Iya, Mba. Sudah ada tiga hari. Kayaknya masuk angin.”
“Coba cek ke Dokter. Kayaknya kamu hamil, deh.”
Ucapan Nadia refleks membuat Aira berpikir. Ia ingat, menstruasi terakhirnya adalah satu minggu sebelum pernikahan.
Nadia tersenyum senang. Ia yakin Aira hamil. Dan hal itu sebuah keuntungan baginya karena Respati pasti tidak akan tinggal diam.
***