Aira menepis semua ucapan Nadia tadi pagi. Ia merasa ragu untuk percaya bahwa dirinya hamil. Malam ini, ia hanya duduk di kursi pantry. Tatapannya kosong.
Eric sudah tidur beberapa menit yang lalu. Kondisinya yang belum benar-benar pulih membuat pria itu harus lebih banyak istirahat.
Secangkir cokelat panas itu disesap pelan. Suhu panasnya terasa membakar bibir. Aira berdesis. Memegangi telinga cangkir dan mengusapnya berulang kali.
“Tapi, aku sama Mas Eric kan, baru sekali melakukannya. Masa langsung hamil.”
“Justru doa itu yang sedang Bunda langitkan, Aira.”
Sahutan dari arah belakang membuat Aira tersadar. Ia menoleh. Tangannya yang memegang cangkir menyingkir. Senyum tipis mengembang di wajahnya yang sedang tidak memakai cadar.
“Bunda?” Aira turun dari kursi. Matanya berbinar menatap ke arah mertuanya yang baru saja datang. “Bunda sama siapa ke sini?”
Ia menggamit tangan kanan Sarah--ibunda Eric. Mengecup bagian punggungnya begitu takzim. Kepalanya yang tertutup jilbab itu mendapat usapan lembut dari mertuanya.
“Dianter sama orang panti, Nak.”
Aira mengangkat wajah. Ia mengedarkan pandangan ke luar rumah. Barangkali orang yang mengantar bundanya masih di sana.
“Dia sudah pergi, Nak. Mau ambil barang buat anak panti.”
Kembali, Aira membawa atensinya pada Sarah. Ia mengangguk paham. “Ayo, Bun. Kita duduk di sana.”
Ia menunjuk ke sebuah ruang sederhana yang ada di samping dapur. Ruang itu hangat, tidak kecil maupun besar, tetapi cukup untuk berkumpul keluarga.
“Eric di mana, Aira? Kok, rumahnya sepi banget?” tanya Sarah setelah duduk di sebuah sofa.
Aira menggigit bibir. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin ia jujur jika Eric sedang sakit dan tubuhnya babak belur.
“Mas Eric sudah tidur, Bunda. Katanya capek. Jadi, istirahat lebih awal.”
“Oh. Syukur, deh.” Sarah memberikan paper bag pada Aira. “Bunda bawa sesuatu buat kamu. Dipakai pas ulang tahu Eric, ya?”
Barang itu Aira terima. Ia melihat sekilas isi di dalamnya. Satu set pakaian berlabel butik langganan Sarah. Perempuan tersebut memandang sang ibu mertua.
“Bund. Ini ....”
“Ah, iya. Mumpung Eric tidur, ada yang mau Bunda bahas ke kamu.”
Sarah menoleh ke kanan dan ke kiri. Ke setiap ruang yang ada di rumah tersebut. Semua pintunya sudah tertutup. Ia yakin, Eric juga pasti pulas dalam tidurnya.
“Sebentar, Bunda.”
Aira meninggalkan Sarah. Ia berjalan ke dapur untuk membuatkan teh hijau hangat. Ia membawanya dengan nampan yang juga berisi sepiring kue lapis buatannya tadi siang.
“Silakan, Bunda.” Aira menyajikan teh dan kue lapis itu ke meja depan mertuanya.
Sarah menatap menantunya lamat-lamat. Ia bersyukur ketika Eric jatuh ke perempuan yang tepat. Meski usia Aira masih terbilang muda, tetapi sosoknya yang lembut dan pengertian menunjukkan sisi dewasanya tersendiri.
Teh yang hangat itu disesap perlahan. Sarah seolah benar-benar menikmati rasa dari minuman tersebut. Cangkir itu kembali diletakkan setelah puas meneguknya sedikit.
“Jadi, lusa adalah ulang tahun Eric, Aira.”
“Oh, iya. Aira hampir lupa, Bunda.” Aira menjawabnya antusias.
“Bunda mau rayakan ulang tahun Eric kali ini. Kita rayakan di panti, bikin seneng anak-anak.” Sarah menjelaskan niatnya yang sudah dipikirkan matang dari jauh-jauh hari. “Ada beberapa donatur dekat juga yang akan Bunda undang.”
Aira mengangguk sepakat. “Boleh banget Bunda. Sekali-kali bikin seneng anak-anak panti.”
Sarah menggenggam tangan Aira. “Tapi, Bunda minta kamu kasih hadiah beda kali ini.”
Dahi Aira mengernyit bingung. Jantungnya berdebar lebih cepat. Ia ragu. Bingung. Kepalanya menebak-nebak hadiah yang dimaksud Sarah.
“Kalau boleh tau ... Bunda minta hadiah apa?”
“Besok ikut Bunda, ya.”
“Iya, Bund.” Aira tidak banyak bertanya, meski rasa penasarannya cukup besar.
Malam ini, keduanya habiskan untuk berbincang tentang rencana hari spesial Eric. Sampai saat jam sudah hampir larut, mobil panti itu menjemput Sarah untuk pulang.
**
Keesokan harinya ....
“Mas, kamu yakin mau ke kantor?”
Aira bertanya setelah melihat Eric yang keluar dari kamar dalam kondisi rapi. Setelan pakaian warna hitam dipakai oleh pria tersebut.
Eric mendekati Aira yang baru saja menyiapkan sarapannya. Ia mengangguk. Tatapannya bertemu dengan mata bulat sang istri.
“Yakin kondisimu sudah lebih baik, Mas?”
“Iya, Ra.” Eric menjawabnya datar. Ia menarik kursi meja makan tempatnya duduk. “Nggak enak libur kelamaan.”
Perempuan itu menghela napas. Ia tidak bisa mencegah jika sudah kemauan Eric. Aira memperhatikan meja makan sejenak.
“Ah, ada yang kelupaan, Mas. Sebentar.”
Aira berbalik. Namun, sialnya kakinya tersandung rok yang dikenakan. Tubuhnya hilang keseimbangan hingga jatuh ke pangkuan Eric.
Pria itu tersentak kecil. Ia terkejut. Matanya tidak berkedip dalam beberapa saat. Napasnya tertahan. Eric tidak bergerak. Tangannya masih menahan pinggul Aira.
Eric bisa melihat jelas bagaimana wajah Aira. Ikatan cadar itu terlepas. Kainnya jatuh, menampilkan wajah Aira yang benar-benar terlihat seluruhnya.
Kulit itu putih bersih. Tidak ada bekas luka maupun noda sekecil apa pun. Hidungnya mancung. Bibirnya benar-benar merah tanpa sentuhan produk kecantikan apa pun.
Bibirnya ranum. Tidak ada garis. Jarak mata dan hidungnya seimbang. Bentuk rahangnya lembut. Ada garis belah di tengah dagunya yang tegas.
Mata yang memandangnya terlihat hidup. Senyumnya manis. Menarik. Wajahnya ... benar-benar hangat. Eric tertegun melihat pemandangan di depan matanya.
Tersadar, Aira langsung berdiri. Ia mengambil cadar yang jatuh. Begitu hendak kembali memasangnya, Eric tiba-tiba mencegahnya.
“Aira, kamu ....”
“Kenapa, Mas?”
Eric menggeleng. Tak mungkin ia bicara bahwa selama ini menduga jika wajah Aira cacat. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada kalimat apa pun yang keluar.
“Kamu sarapan dulu, Mas. Aku juga mau siap-siap sebelum Bunda datang.”
Pria itu tidak menjawab. Ia menatap punggung lurus Aira yang kini mulai hilang di balik pintu kamar. Apa yang Eric lihat pagi ini sunggung menggetarkan hatinya.
Cantik.
Hanya kata itu yang terus berbisik di kepala dan telinganya. Perasaannya seketika luruh. Ia mulai berkecamuk. Pikiran dan hatinya tidak sinkron.
Belum sampai ia menyuap nasi, ponsel di meja berbunyi. Sebuah pesan dari Brian masuk.
[“Sudah ditunggu Tuan Respati di markas.”]
Gegas Eric meninggalkan rumah tersebut tanpa berpamitan dengan Aira. Ia menyambar kunci mobilnya cepat dan pergi begitu saja.
Sementara itu, Aira kini sudah selesai mengganti pakaiannya. Ia keluar dari kamar, membawa tas kecil di tangan.
Perempuan tersebut kebingungan saat mendapati ruang makan yang sudah kosong. Ia menghela napas saat menangkap makanan yang masih utuh di piring Eric.
Aira akhirnya terpaksa menyimpan sisa makanan yang ia masak pagi ini ke dalam kulkas. Ia menyuap satu sendok sup. Namun, belum sampai tertelan, mualnya mendadak datang.
“Aira, kamu sudah siap, Nak?” Sarah yang baru saja datang kini langsung menghampiri Aira. “Mual, Nak?”
Aira mengangguk. Ia meneguk air putih hangat yang sudah sempat diseduh saat menyiapkan sarapan untuk Eric tadi.
“Kita berangkat sekarang, Aira.”
Mengangguk, perempuan itu menyambar tas yang sempat diletakkan di ujung meja pantri. Ia keluar dari rumah dan mengunci pintu.
Kini keduanya masuk ke dalam mobiol. Kendaraan itu melaju ke jalanan yang masih cukup padat. Sesekali Sarah melirik sang menantu, memastikannya baik-baik saja.
Setelah menempuh perjalanan selama seperempat jam, kini mobil Sarah berhenti di sebuah tempat parkir rumah sakit.
“Lho, Bund. Siapa yang sakit?”
Sarah hanya tersenyum. Ia mengajak Aira turun dan berjalan menuju ke sebuah poli obgyn.
“Kamu duduk dulu, Nak. Sebentar lagi nomer antriannya dipanggil. Kemarin Bunda sudah buat janji temu sama temen Bunda yang kerja di sini.”
Aira masih tak paham dengan keinginan mertuanya. Hanya beberapa menit saja, kini namanya dipanggil. Sarah dengan setia menemani menantunya masuk untuk menjalani pemeriksaan.
“Nah, ini yang aku tunggu.” Wanita bersnelli itu langsung tersenyum semringah.
Sarah menarik kursi untuk duduk. Disusul dengan Aira yang duduk di samping kursinya.
“Tolong periksa menantuku, Ren.” Sarah langsung masuk ke inti pembahasan. Ia rupanya tak sabar untuk menimang cucu dari anak semata wayangnya.
“Oke.” Reni tersenyum pada Aira. “Jadi, kapan terakhir kali menstruasi, Aira?”
“Satu minggu sebelum menikah, Dok.”
“Cek urine dulu, ya.”
Ragu, Aira menatap mertuanya. Sarah mengangguk. Satu kali dan mantap. Ia akhirnya mengikuti arahan Reni untuk melakukan pemeriksaan urine di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian ....
Reni kembali membawa menemui Sarah. Ia menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium Aira.
“Selamat, Sarah. Sebentar lagi ... kamu akan mendapatkan cucu.”
“Apa?!”
Suara terkejut Aira membuat Reni dan Sarah menoleh kompak. Mereka menatap perempuan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
***