Tiga hari kemudian ....
Panti asuhan milik Sarah tampak jauh lebih hidup dari biasanya. Sejak pagi, halaman depan sudah dipenuhi tenda putih dengan rangka besi yang kokoh. Beberapa balon warna-warni terikat di tiap sudut, bergerak pelan tertiup angin.
Anak-anak panti berlarian ke sana kemari. Sebagian mengenakan pakaian terbaik mereka, sebagian lagi sibuk membantu para pengurus menata kursi.
Di sisi kanan halaman, meja panjang dipenuhi hidangan. Kue ulang tahun bertingkat diletakkan di tengah, dihias sederhana, tetapi tetap menarik perhatian. Tulisan ‘Selamat Ulang Tahun, Eric’ tertera rapi di atasnya.
Suasana begitu hangat. Ramai, tetapi tidak berisik. Ada rasa bahagia yang sederhana yang mengalir tanpa dibuat-buat.
Hari ini merupakan momen spesial yang Sarah tunggu-tunggu. Setelah lima tahun lamanya Eric menolak merayakan ulang tahun, ini adalah kali pertamanya mereka melakukannya dengan cara berbagi kehangatan pada anak-anak panti.
Di dalam salah satu ruangan, Aira berdiri di depan cermin. Tangannya merapikan ujung cadar yang menutup wajahnya.
Setelan pakaian yang ia kenakan hari ini berbeda dari biasanya. Warna lembut, bahannya jatuh dan ringan, dan tertutup sempurna.
Itu pemberian Sarah. Aira tersenyum ketika mengingat semua kebaikan sang mertu terhadapnya selama ini.
Aira menarik napas pelan. Jantungnya tidak tenang sejak pagi. Tangannya sempat beberapa kali gemetar, tapi ia paksa stabil.
Pintu di belakangnya terbuka. Derit halus terdengar. Eric. Pria itu masuk. Langkahnya terhenti begitu melihat Aira.
“Aira ....” Panggilan itu lembut. Terlalu lembut daripada biasanya.
Perempuan itu menoleh. Matanya bertemu dengan tatapan Eric yang tiba-tiba diam. Bibir di balik cadar itu mengembangkan senyum hangat.
“Kamu sudah siap, Mas?”
Eric tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Matanya tidak lepas dari Aira. Tatapan itu ... lebih dari sekadar dalam.
Ada jeda di antara keheningan yang merambat. Sesuatu yang aneh di hatinya hadir.
Aira berdiri di sana. Terlihat anggun. Tenang. Sangat cocok dengan sikapnya yang lembut dan penuh perhatian.
Cara perempuan berdiri, caranya membawa diri, berbeda dari yang biasa Eric lihat. Tidak ada yang berlebihan, tetapi justru itu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Dan tanpa sadar, ingatannya kembali ke pagi tiga hari lalu. Saat cadar Aira terlepas. Wajah itu ... jelas. Sangat nyata. Tidak ada setitik pun cela.
Cantik dan bersih. Eric bahkan tidak mampu mendefinisikan lebih banyak keindahan wajah Aira dengan kata-kata.
Eric menelan ludah. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ada perasaan asing yang mengganggu pikirannya.
Selama ini, ia hidup dengan asumsi. Penuh dugaan. Menebak-nebak. Bahkan, akibat semua itu, pikiran buruknya tentang Aira cukup membuatnya membangun jarak yang cukup tinggi.
Namun, kenyataannya ... jauh lebih baik dari apa yang ia pikirkan.
“Kamu ... cantik.” Ucapan Eric terdengar pelan, hampir seperti bisikan yang lolos tanpa izin.
Aira terdiam. Tangannya yang semula memegang ujung jilban, kini jatuh perlahan. Ia tidak menjawab. Wajahnya menunduk sedikit.
“Mas ...?” panggilnya, ragu.
Eric tersadar. Ia menggeleng cepat. Menepis semua ingatan indah itu. “Nggak apa-apa. Ayo.”
Ia berbalik lebih dulu. Seolah butuh jarak. Seolah kekaguman itu langsung hilang dalam dirinya b
Aira mengikutinya dari belakang. Langkahnya pelan, tapi pasti.
Acara sudah dimulai saat mereka keluar. Beberapa tamu penting terlihat duduk di kursi yang sudah disediakan.
Para donatur, relasi Sarah, juga beberapa orang yang jelas bukan orang biasa.
Aira menggamit lengan Eric pelan. Ia berjalan di samping pria itu, mencoba tetap tenang meski matanya sempat menyapu sekitar.
Di sana mungkin ada puluhan orang. Dan semua atensinya jatuh ke depan—ke tempat ia dan Eric berada.
Sarah berdiri di depan. Menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar.
“Perkenalkan, ini dia anak dan menantu saya. Ulang tahun hari ini sengaja saya rayakan dengan suasana berbeda.”
Beberapa tamu langsung berdiri, menyalami Eric. Ucapan selamat ulang tahun terdengar silih berganti.
Aira hanya berdiri di samping pria itu, sesekali membalas sapaan dengan anggukan sopan.
Sampai akhirnya, matanya berhenti pada satu sosok tamu yang duduk di barisan depan.
Pria itu tampak diam penuh wibawa. Rautnya dingin. Sorotnya lurus, tertuju ke arah Eric.
Respati.
Jantung Aira berdegup lebih cepat mengingat siapa sosok itu. Tangannya refleks mencengkeram ujung pakaian.
Ia tidak salah lihat. Pria itu benar-benar ada di sini. Pria yang menolongnya, juga yang ia tantang secara terang-terangan.
Siapa sangka bahwa Respati adalah atasan Eric juga tamu undangan bundanya hari ini.
Sial!
Aira merutuki dirinya sendiri. Kenapa tiap acara ada Respati?
Sosoknya tetap sama. Dingin. Punggungnya tegak. Tatapannya tajam, seolah mampu menembus apa pun yang ada di depannya.
Dan saat mata keduanya tidak sengaja bertemu, Respati tersenyum penuh arti.
Bukan senyum ramah, melainkan senyum yang seolah tengah memberi Aira perhitungan.
Aira cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ia menarik napas, mencoba menenangkan diri.
“Kenapa?” Eric bertanya pelan, menyadari perubahan kecil itu.
“Nggak apa-apa, Mas.” Aira menjawab cepat untuk menutupi kegugupannya.
Penasaran, Eric akhirnya mengikuti arah pandang Aira tadi. Saat itu juga, ia langsung tahu.
Respati. Pria itu berdiri perlahan. Langkahnya tenang saat mendekat.
“Selamat ulang tahun, Eric.”
Suaranya datar. Tidak hangat, juga tidak dingin. Namun, cukup untuk membuat suasana di sekitar terasa berbeda. Atmosfer ketegangan makin terasa.
Eric menatapnya balik. Senyum yang ia tampilkan hanya sebuah formalitas sekaligus menutupi kegugupannya.
“Terima kasih sudah hadir, Tuan Respati.”
Mereka berjabat tangan singkat, tetapi cukup lama untuk menyampaikan sesuatu yang tidak terucap.
Aira berdiri di samping Eric. Ia masih menunduk segan.
“Selamat datang, Tuan Respati.” Aira berujar pelan.
Respati menoleh ke arah Aira. Tatapannya turun-naik, memperhatikan penampilan perempuan itu hari ini.
“Terima kasih, Aira.” Respati melirik ke arah tangan Aira yang menggenggam erat lengan Eric. “Penampilanmu berbeda hari ini.”
Aira tersenyum tipis di balik cadar. “Hanya menyesuaikan acara, Tuan.”
Respati mengangguk pelan. Senyumnya kembali muncul. Senyum tipis dan licik.
Eric diam-diam memperhatikan. Entah kenapa, ada rasa tak suka dengan cara Respati menatap melihat Aira.
Namun, Eric tidak mengatakan apa pun. Ia hanya bisa mengikuti cara Respati bermain. Cara pria itu mengendalikan.
Respati kembali ke tempat duduk. Acara berlanjut. Sarah memberikan sambutan. Suaranya hangat, penuh rasa syukur.
Ia menceritakan sedikit tentang Eric, tentang harapannya, dan tentang rasa terima kasihnya pada semua yang hadir.
Anak-anak panti ikut meramaikan suasana. Ada yang menyanyi, ada yang membacakan doa. Tawa kecil sesekali terdengar. Saling bersahutan.
Aira duduk di samping Eric. Tangannya tiba-tiba dingin. Entah karena gugup atau lainnya.
Eric menyadarinya. Pria itu menyentuh tangan Aira pelan.
“Dingin?”
Aira menggeleng. “Cuma ... gugup aja, Mas.”
Mengangguk, pria tersebut tidak bertanya lagi. Genggaman tangannya tidak dilepas.
Sampai akhirnya, Sarah memanggil, memutus genggaman Eric dari tangan Aira.
“Aira. Sini, Nak.”
Aira menoleh. Ia berdiri perlahan. “Sebentar, Mas.”
Eric mengangguk.
Semua mata kini tertuju pada Aira yang berjalan ke depan. Langkahnya pelan, tapi mantap. Ada keanggunan dari tiap langkah kecil yang berpindah tempat.
Sarah tersenyum. Di tangannya, ada sebuah kotak kecil yang memang sudah dipersiapkan.
“Sekarang, tunjukkan hadiah spesial kamu, Nak.”
Beberapa tamu mulai berbisik kecil. Aira mengambil kotak itu dan berdiri di depan Eric. Jarak mereka hanya satu langkah.
Tangannya sedikit gemetar, tetapi ia mampu menahannya.
“Mas,” panggilnya pelan. Ada sedikit gemetar yang terdengar dari suaranya.
Eric menatapnya. “Iya?”
Aira mengulurkan kotak itu. “Ini ... hadiah dari aku.”
Pria itu menerima ragu. Alisnya sedikit berkerut. “Apa ini?”
“Buka saja.”
Suasana mendadak hening. Eric membuka kotak warna biru itu perlahan. Satu per satu isi di dalamnya terlihat.
Foto hitam putih. Kertas kecil. Dan ... tespek garis dua.
Tangan Eric berhenti. Matanya membeku pada benda-benda itu.
Aira menunduk. Mengusap perutnya yang masih rata. “Ini ... kado spesial buat kamu, Mas. Tahun ini jika Allah mengizinkan, kita akan bertiga.”
Suasana langsung berubah.
Beberapa orang terkejut. Ada yang langsung tersenyum. Ada yang bertepuk tangan pelan.
Sarah menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. Ia turut bahagia karena Aira dan Eric diberi amanah secepat itu.
Eric masih diam. Matanya kembali ke Aira. “Hamil ...?” Ia bertanya skeptis.
Aira mengangguk pelan. Senyum tipis di balik cadar itu memperlihatkan bagaimana bahagianya ia bisa memberi kado terindah pada Eric.
“Iya, Mas.” Aira memberi validasi atas pertanyaan Eric.
Hening.
Beberapa detik yang terasa panjang dna menegangkan. Eric menarik napas dalam. Tangannya menggenggam kotak itu lebih erat.
Ada sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang berkecamuk. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Ia jelas Terkejut. Tidak percaya. Dan ... sakit hati.
Ada ketakutan yang menyelinap. Ketakutan yang tidak bisa pria itu jelaskan dengan kata-kata.
Belum sempat ia bicara lagi, tepuk tangan terdengar. Tepuk tangan yang tidak riuh, tetapi pelan dan berirama.
Kini, satu pria berdiri. Tepuk tangan seketika berhenti. Semua atensi tertuju ke sana.
Respati. Ia berdiri. Tepuk tangannya santai. Senyumnya lebar.
“Selamat.”
Suaranya terdengar jelas. Tatapannya ke Eric. Hangat, tetapi menghanyutkan. Ekspresinya sulit dibaca.
“Hadiah yang menarik, Eric.” Respati berkata lagi. “Dan saya suka melihatnya.”
Eric menatapnya balik. Tatapannya berubah tajam.
Respati melangkah mendekat. “Kalau begitu ....” Ia berhenti tepat di depan Eric. “Saya juga punya hadiah untukmu, Eric.”
Udara di sekitar terasa menegang. Aira menoleh cepat. Perasaannya tidak enaknya tiba-tiba muncul.
Ia bisa melihat mata suami dan Respati yang saling berbalas tajam. Tegang.
***