Tepuk tangan masih terdengar, tetapi tidak sehangat tadi. Nada riuhnya berubah jadi canggung ketika Respati berdiri dengan tenang di hadapan Eric.
“Saya juga punya hadiah untukmu, Eric.”
Nada bicaranya datar. Tidak tinggi, tidak rendah. Namun, cukup membuat orang-orang yang mendengarnya jadi diam.
Eric menatapnya tanpa berkedip. Rahangnya mengeras. “Hadiah apa, Tuan?” Ia bertanya singkat.
Respati menyelipkan satu tangan ke saku celana. Senyumnya tipis.
“Mulai besok, kamu resmi jadi manajer di kantor.”
Beberapa tamu langsung berbisik. Ada yang tampak terkejut, ada juga yang mengangguk paham.
Aira menoleh cepat ke arah Eric. Matanya membesar.
“Mas … serius?”
Eric tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap Respati, seolah mencoba membaca maksud di balik ucapan itu.
“Pengangkatannya resminya besok,” lanjut Respati. “Kamu naik jabatan.”
Kini, Sarah yang berdiri di samping mereka langsung tersenyum lebar. “Ya Allah, Eric. Ini kabar bagus!” Ia tersenyum bangga.
Beberapa tamu mulai memberi selamat. Tepuk tangan kembali terdengar, lebih ramai dari sebelumnya.
Aira tidak bisa menahan senyumnya. Ia menatap Eric dengan mata berbinar.
“Selamat, Mas .…”
Tangannya menggenggam lengan Eric pelan. Ada rasa bangga yang tulus di sana.
Berbeda dengan Aira, Eric justru diam. Tidak ada senyum. Tidak ada respons yang benar-benar menunjukkan kebahagiaan.
Hanya tatapan datar dan pikiran yang mulai kacau. Ia tahu, tidak ada yang gratis dari Respati. Tidak pernah.
Bahkan, sekalipun sudah ada perjanjian di atas kertas, Eric paham bahwa Respati cukup berbahaya dalam mengambil kendali. Pria itu bisa melakukan apa pun.
Dan sekarang ... Aira hamil. Hamil yang jelas bukan anaknya. Janin itu ... milik Respati. Pria itu pasti akan mengambilnya. Respati akan merebut Aira darinya.
Ah, bodoh.
Bukankah selama ini Eric memang tak pernah memiliki Aira? Ia hanya pemeran pengganti. Pria yang berlagak sebagai kekasih di depan Aira selama dua tahun, tetapi menjualnya dengan atasannya sendiri menjelang pernikahan.
Hari yang seharusnya sakral bagi semua orang, ia nodai dengan pengkhianatan. Eric bersedia menukar posisinya sebagai suami Aira dengan Respati yang menjanjikan kemegahan duniawi.
Jantung Eric berdetak lebih keras. Tatapannya sekilas bergeser ke arah Aira. Perempuan itu tampak bahagia. Terlalu tulus untuk tahu apa yang sedang bermain di balik semua ini.
Eric menelan ludah susah-payah. Ia tahu satu hal pasti—Respati bisa melakukan apa saja, termasuk … mengambil kembali apa yang menurutnya miliknya.
“Terima kasih,” ucap Eric akhirnya, singkat.
Kesenangan yang ia tunggu nyatanya kini hanya belenggu berat yang mengikatnya. Bukankah dari awal memang ini tujuannya? Namun, setelah mendapatnya, kenapa hanya kekosongan yang dirasakan?
Respati hanya mengangguk. Senyumnya masih sama—tipis, tetapi tajam. Seolah ia sudah menunggu momen ini.
Acara kembali berjalan. Musik ringan diputar. Anak-anak panti mulai makan dengan riang. Para tamu ikut menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
Suasana terlihat normal. Namun, tidak bagi beberapa orang. Aira duduk di samping Eric. Sesekali ia melirik pria tersebut.
Ia menyadari ada sesuatu yang sedang Eric tahan. Sesuatu yang entah apa namanya, tetapi cukup memperlihatkan bagaimana ekspresi kusut pria tersebut .
“Mas … kamu nggak apa-apa?” Aira bertanya lembut. Memastikan.
Eric menoleh. “Kenapa?” Ia menyadari Aira yang sudah mulai curiga.
“Kamu dari tadi diam terus, Mas.”
Tarikan napas panjang terdengar. Eric menunduk ringan. “Cuma capek.”
Aira mengangguk. Namun, jelas ia tidak sepenuhnya percaya. Tangannya refleks menyentuh perutnya sendiri. Hatinya menghangat. Masih sulit untuk ia percaya. Namun, kenyataannya sudah jelas.
Ia hamil. Dan hari ini … seharusnya jadi hari bahagia. Bukankah setiap pasangan memang mengharapkan ini?
“Mas .…” Aira memanggil lagi. Ia menggenggam pergelangan pria tersebut.
“Iya?”
“Aku seneng banget.” Aira mengungkapkan perasaannya. Kebahagiaannya tidak bisa disembunyikan.
Eric menatapnya. Hatinya merasa tercubit melihat kepolosan Aira. Perempuan itu begitu bersyukur ketika tahu dirinya hamil. Bagaimana jika Aira tahu bahwa janin itu bukanlah milik Eric?
“Aku juga.” Eric akhirnya menjawab singkat. Suaranya dibuat meyakinkan.
Aira terdiam. Ia menatap dalam suaminya yang kembali dalam keheningan dan menatap kosong ke arah depan.
Satu jam kemudian ....
Satu per satu tamu mulai pamit. Langit mulai gelap. Lampu-lampu di halaman menyala, memberikan suasana hangat di tengah malam yang mulai turun.
Anak-anak panti sudah masuk ke dalam. Beberapa pengurus membereskan sisa acara. Kini, yang tersisa hanya orang-orang inti.
Sarah berdiri di dekat meja, berbincang dengan salah satu pengurus. Sampai akhirnya,—
“Bu Sarah.”
Suara itu membuat wanita paruh baya tersebut bisa menoleh.
Respati. Pria itu berdiri tidak jauh darinya. Tatapannya serius.
“Ada yang perlu saya bicarakan.” Nada suaranya tidak bisa ditolak.
Sarah mengernyit. “Sekarang, Pak?”
“Iya.” Respati menjawabnya singkat dan tegas.
Sarah sempat diam, sebelum akhirnya mengangguk. “Baik, Pak.” Ia menoleh ke arah Eric dan Aira. “Kalian juga ikut.”
Aira dan Eric saling pandang sekilas, kemudian berdiri. Mereka masuk ke dalam ruangan yang lebih sepi. Pintu ditutup rapat.
Sunyi. Udara mendadak terasa berat. Respati duduk di sofa tunggal. Tangannya terlipat di depan d.a.da.
Sarah duduk di kursi. Wajahnya mulai serius. “Apa yang ingin Pak Respati bicarakan?” Ia langsung bertanya pada inti.
Respati berdeham ringan. Tatapannya jatuh pada Aira. “Aira tidak bisa terus tinggal dengan Eric.”
Kalimat tegas itu jatuh begitu saja, seolah tidka bisa dibantah oleh apa pun.
Aira langsung menegang. Matanya mengerjap bingung. Tangan yang masih menggenggam lengan Eric langsung mengerat.
“Maaf?” Sarah tidak mengerti ucapan itu. “Maksud Pak Respati ... apa, ya?”
Eric diam. Tatapannya langsung berubah.
Respati melanjutkan dengan tenang. “Mereka tidak menikah.”
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Waktu berlalu dengan ketegangan. Tatapan Sarah tajam ke arah Respati.
“Apa maksud Pak Respati?” Suara Sarah naik. Tidak terima.
Aira menatap Eric. “Mas …?” Ia kebingungan.
Eric tidak menjawab. Tangannya mengepal. Sesuatu di dadanya makin bergemuruh panas. Kepalanya terbakar.
Respati menoleh ke arah Aira. Tatapannya dingin. “Sekarang sudah saatnya kamu tahu, Aira.”
Perempuan itu menggeleng pelan. Jantungnya mulai berdebar tidak karuan. Sebenarnya, ada apa? Apa maksud dari kalimat bahwa ia dan Eric tidak menikah?
“Apa yang tidak aku tau, Mas?” Aira berusaha bertanya pada Eric.
Namun, hanya kebisuan yang Eric berikan. Pria itu tidak bisa menjawab. Ia terdiam beberapa saat.
Sarah berdiri. “Pak Respati, tolong jangan main-main.”
“Saya tidak pernah main-main.” Jawaban itu cepat. Respati mengeluarkan ponselnya. Ia menekan sesuatu. “Dengarkan baik-baik.”
Sebuah rekaman diputar. Suara terdengar. Suara Eric yang sedang berbincang dengan seseorang.
[“Kalau itu yang Tuan mau … saya setuju.”]
Suasana langsung hening. Aira membeku. Ia menerka. Menatap bingung Eric yang hanya diam seribu bahasa.
[“Aira … saya serahkan. Kalau memang itu syaratnya untuk naik jabatan.”]
Napas Aira tercekat. Matanya membesar.
[“Tidak masalah jika Tuan Respati yang menggantikan saya untuk menikahi Aira. Saya pastikan semua berkasnya beres. Surat nikah itu … saya pastikan Aira tidak akan melihatnya.”]
Aira makin gelisah. Ia ingat sesaat setelah ijab qobul terucap, Eric datang. Pria itu membawa berkas dan buku nikah yang harus ditandatangani.
Namun, anehnya saat Aira hendak melihatnya sebentar, Eric menolak dengan dalih waktunya yang mepet dan penghulu harus segera pindah tempat.
Dan sejak saat itu, Aira juga tidak diperlihatkan buku nikah atau berkas lainnya. Entah di mana Eric menyimpannya.
[“Silakan Tuan nikmati tubuh Aira. Asal jangan lupa kompensasi saya. Jabatan dan ... uang.”]
Rekaman itu terdengar lagi.
“Cukup!”
Sarah berteriak. Namun, semuanya sudah terlanjur terdengar.
Aira menatap Eric. Kosong. Hatinya benar-benar hancur.
“Apa maksud semua itu, Mas?” Aira mendesak. Suaranya bergetar.
Eric tidak bisa menjawab. Tidak ada kata yang keluar. Ia merutuki kebodohannya karena sudah berani membuat kesepakatan dengan pria berbahaya seperti Respati.
Respati mematikan rekaman. “Sudah jelas?
Sarah mundur satu langkah. Tangannya gemetar. “Ini … tidak mungkin .…” Ia masih belum bisa percaya.
Namun, semuanya belum selesai. Respati kembali menekan layar ponselnya.
“Saya juga punya ini.”
Video diputar. Aira refleks menoleh. Dan dunia seperti runtuh di depan matanya.
Di layar itu ... wajahnya jelas terlihat dalam keadaan yang tidak seharusnya dilihat orang lain.
Gerakan tubuhnya terbatas dalam sensor, tetapi cukup untuk menjelaskan semuanya. Cukup untuk membuat semua yang di sana tahu bahwa ia sedang bersetubuh dengan Respati, bukan Eric.
“Nggak ....” Aira menggeleng tegas. “Nggak mungkin!”
Aira mundur. Tangannya membekap mulut. Air matanya langsung jatuh.
“Matikan itu!” teriak Sarah. “Hentikan semuanya!” Ia tersulut emosi.
Respati mematikan video. Suasana menjadi sunyi. Benar-benar sunyi.
Aira menatap Eric. Matanya penuh luka yang tdiak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
“Mas … kamu tega jual aku?”
Satu kalimat itu lebih tajam dari apa pun. Eric menutup mata sesaat, sebelum akhirnya kembali terbuka dan menatap Aira.
“Aira, dengar—”
“Jangan panggil namaku!” Aira berteriak. Tangannya mendorong d.a.da Eric. “Jangan menyentuhku!”
Napasnya memburu. Dadanya naik turun. “Selama ini … aku itu apa buat kamu?” Suaranya pecah.
Eric diam. Tidak ada jawaban yang cukup.
Aira tertawa kecil, penuh kegetiran. “Pantas saja,” gumamnya. “Pantes kamu nggak pernah mau lihat wajah ataupun menyentuhku setelah malam pertama itu.” Air matanya tidak berhenti. “Aku pikir … kamu pria baik-baik, Mas. Ternyata ....” Ia tercekat. Tidak mampu meneruskan kalimatnya.
Sarah memegang kepalanya yang berat. “Ya Allah .…” Ia tidak menyangka. Sama sekali tidak percaya.
Respati berdiri tenang, seolah semua ini memang bagian dari rencananya.
Aira menatap Eric lagi. Lebih tajam. Lebih dalam. “Jawab aku!” Ia meninggikan suaranya yang parau.
Eric meneguk ludahnya kasar. “Aira … waktu itu—”
“Waktu itu apa?!” potong Aira cepat, tak sabar.
“Situasi—”
“Situasi apa sampai kamu jual calon istri kamu sendiri?!”
Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani bicara. Aira menggeleng. Langkahnya mundur.
“Apa yang kamu lakukan itu buat aku hancur, Mas!” Tangannya melindungi perutnya tanpa sadar.
Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Respati. Senyumnya tipis.
“Aira.”
Perempuan itu menoleh. Matanya merah.
Respati melangkah mendekat. Pelan, tetapi pasti.
“Apa pun yang terjadi,” ucapnya tenang, “kamu tetap milik saya.”
Eric langsung maju. “Jangan berani—”
“Diam.”
Satu kata dari Respati cukup membuat Eric berhenti. Tatapannya tajam. Liar.
Aira menatap keduanya. Kacau. Semuanya hancur.
“Kenapa?” bisiknya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Respati berdiri tepat di depan Aira sekarang. Jarak mereka sangat dekat.
“Cukup. Berhenti di situ!” Aira menegang.
Respati menatapnya lurus. “Semuanya sudah jelas, ‘kan?”
Hening.
Aira masih sesenggukan. Tangannya memegangi dadanya yang sakit.
“Kamu istri saya, Aira.” Respati berkata dingin. “Jadi, tempatmu bukan di sini.”
***